<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-470402320472773294</id><updated>2012-01-31T11:13:03.093+01:00</updated><category term='Malay Islam'/><category term='Activities'/><category term='Reflection'/><category term='Book Review'/><category term='Expert&apos;s Articles'/><category term='My Dissertation'/><category term='Manuscripts on News'/><category term='Photos'/><category term='Aceh'/><category term='Pers Archive'/><category term='Book'/><category term='Minangkabau'/><category term='Posting in Bahasa'/><category term='Manassa'/><category term='News'/><category term='Current Research'/><category term='Philology'/><title type='text'>Indonesian Islamic Philology</title><subtitle type='html'>This blog is specifically dedicated to promote studying old Indonesian manuscripts, both in Arabic and local languages, especially those relate to religious issues. It's also to introduce Indonesian Local Islam.</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://naskahkuno.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/470402320472773294/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://naskahkuno.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/470402320472773294/posts/default?start-index=101&amp;max-results=100'/><author><name>Oman Fathurahman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12780420625889202262</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_JmYah9LAc-Y/TLnpONg6PXI/AAAAAAAASPI/COxh9AREd1Y/S220/close+up-OCIS.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>167</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-470402320472773294.post-734839269453654351</id><published>2012-01-16T01:11:00.007+01:00</published><updated>2012-01-16T02:13:03.208+01:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Posting in Bahasa'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Aceh'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Reflection'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pers Archive'/><title type='text'>Gempa, Manuskrip, dan Pemilukada di Aceh</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-saRNfivcmcU/TxNuefJHC-I/AAAAAAAAS5w/WzcH3o3PbDg/s1600/gempa.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 144px; height: 200px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-saRNfivcmcU/TxNuefJHC-I/AAAAAAAAS5w/WzcH3o3PbDg/s200/gempa.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5698019423588649954" /&gt;&lt;/a&gt;Versi lebih ringkas tulisan ini terbit di &lt;a href="http://koran.republika.co.id/koran/24/152147/Gempa_Manuskrip_dan_Pemilukada_di_Aceh"&gt;&lt;i&gt;Koran Republika&lt;/i&gt;&lt;/a&gt;, Sabtu 14 Januari 2012.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:85%;"&gt;Foto oleh Tim TUFS-MANASSA-PKPM: catatan tentang gempa dahsyat kedua di Aceh pada Kamis 9 Jumadil akhir 1248 H/3 November 1832 M, MS Zawiyah Tanoh Abee No. 153/163/Fk-69/TA/2006.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;div&gt;---------------&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Saya baru beberapa puluh menit saja memejamkan mata ketika gempa 7.1 skala Richter dan berpotensi tsunami di Aceh itu mengguncang pada Rabu (11/1-2012) pukul 01.36 WIB, dan membuat saya terbangun. Itu adalah malam pertama para tamu dari dalam dan luar negeri mendarat di Banda Aceh untuk sebuah international workshop bertemakan “From Anatolia to Aceh: Ottomants, Turks, and Southeast Asia” pada  dua hari berikutnya. Workshop ini diselenggarakan oleh International Center for Aceh and India Ocean Studies (ICAIOS), bekerja sama dengan British Institute at Ankara, ASEASUK, dan Pemerintah NAD.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Topik gempa besar di Aceh yang sempat membuat kepanikan, terutama di Meulaboh, itu kemudian menghiasi obrolan kami saat sarapan pagi dan setiap coffee break, mulai dari obrolan ringan belaka sampai dikaitkan dengan kajian akademis. Fiona Kerlogue dari the Horniman Museum, Inggris, mengaku &lt;i&gt;shock&lt;/i&gt; dan tidak bisa tidur sampai malam berikutnya, meski KAWASHIMA Midori dari Sophia University, Tokyo tampak tenang-tenang saja, mungkin karena di Jepang biasa terjadi gempa yang lebih besar…☺&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Anthony Reid, sejarawan senior tentang Asia Tenggara dari Australian National University (ANU), adalah salah seorang yang paling bersemangat membicarakan sejarah dan antropologi gempa, terkait rencananya menulis artikel terkait topik tersebut. Menurutnya, berbeda dengan di Jepang, tradisi pencatatan dan dokumentasi sejarah gempa di Nusantara tidak terlalu baik, sehingga cukup sulit mengetahui siklus gempa yang terjadi di Nusantara ratusan tahun lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya beruntung memiliki sejumlah informasi terkait gempa dari sumber primer berupa manuskrip-manuskrip tulisan tangan abad 18 dan 19, yang tercecer dan terhimpun secara tidak sengaja selama bertahun-tahun menekuni bidang kajian manuskrip Nusantara, dan atas kebaikan kawan-kawan Masyarakat Pernaskahan Nusantara (Manassa) di lapangan, terutama kawan-kawan di Aceh dan Minangkabau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersama Azyumardi Azra dan teman-teman di Pusat Kajian Pendidikan dan Masyarakat (PKPM), saya membincangkan kejayaan plus kekayaan manuskrip Nusantara kita itu di warung kopi Banda Aceh, kaitannya dengan kajian Islam (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Islamic studies&lt;/span&gt;).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari berbagai goresan tangan orang terdahulu di Nusantara, wilayah Nusantara, khususnya Aceh, Minangkabau, dan sekitarnya sepertinya memang menjadi wilayah langganan gempa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sebuah manuskrip asal abad 19 di Zawiyah Tanoh Abee, Aceh Besar, terdapat catatan dalam bahasa Arab berbunyi: “&lt;span style="font-style:italic;"&gt;wa-kanat al-zalzalah al-syadidah al-tsaniyah fajr yawm al-khamis tis’ah ayyam min jumad al-akhir sanah 1248 min hijrah al-nabawiyah&lt;/span&gt;…”. Catatan tersebut menunjukkan pernah terjadi gempa besar untuk kedua kalinya pada pagi hari Kamis 9 Jumadil akhir 1248 H/3 November 1832 M (Fathurahman dkk 2010: xx).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukti lain seringnya terjadi gempa di bumi kita pada masa lalu adalah dijumpainya sejumlah manuskrip tentang “takwil gempa” dalam bahasa Melayu menggunakan aksara Jawi, seperti manuskrip &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Tabir Gempa&lt;/span&gt; di Perpustakaan Ali Hasjmy, Banda Aceh (Fathurahman &amp;amp; Holil 2007: 274-275), &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Ramalan Tentang Gempa&lt;/span&gt; di Perpustakaan Nasional Jakarta (Behrend [ed.] 1998: 291), dan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Takwil Gempa&lt;/span&gt; di Surau Lubuk Ipuh, Padang Pariaman, Sumatra Barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kearifan Lokal Takwil Gempa&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ternyata, menurut orang-orang tua terdahulu, setiap gempa yang terjadi sebetulnya membawa pesan tertentu bagi umat manusia, entah itu pesan menggembirakan atau sebaliknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu bagian dari manuskrip &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Takwil Gempa&lt;/span&gt; asal abad 19 Surau Lubuk Ipuh di atas, yang sudah dikaji oleh Zuriati dkk (2008), misalnya menjelaskan bahwa: “&lt;span style="font-style:italic;"&gt;…dan jika pada bulan Dzulqadah…dan jika pada waktu duha, alamatnya bala [musibah] banyak akan datang ke dalam negeri itu…&lt;/span&gt;”. Seperti kita ketahui, gempa dan tsunami di Aceh, yang menewaskan hampir 200 ribu korban jiwa, terjadi pada Minggu pagi waktu duha, 26 Desember 2004, atau 14 Zulkadah 1425 Hijriah! &lt;/span&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Saya meyakini bahwa itu bukan malapetaka, apalagi azab sang Pencipta, melainkan musibah kemanusiaan akibat peristiwa alam yang terjadi di luar kehendak dan kontrol manusia!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Dengan hati berdebar-debar, saya lalu mencoba menyimak bagian lain “ramalan” gempa dalam manuskrip tersebut, seraya menghubungkannya dengan gempa 7.1 SR pada Rabu, 16 Safar antara waktu Isya dan Subuh lalu di Nanggroe Aceh Darussalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Saya agak gemetaran karena takwil gempa pada bagian itu berbunyi: “&lt;i&gt;…dan bergerak gempa pada bulan Safar…jika pada waktu Isya alamatnya bala [musibah] akan datang ke negeri itu…&lt;/i&gt;”! Apakah itu artinya akan ada bala baru di Aceh dan sekitarnya? Semoga tidak! Peringatan dini datangnya tsunami pun sudah dicabut dua jam setelah gempa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Sekali lagi, semua yang tertulis dalam kertas Eropa berusia ratusan tahun tersebut memang bukan sebuah ramalan ilmiah yang dapat dipertanggung jawabkan. Saya sendiri ingin melihat takwil itu sebagai sebuah kearifan lokal (&lt;i&gt;local wisdom&lt;/i&gt;) leluhur kita saja, yang ingin mengingatkan anak cucunya agar hidup lebih baik, bukan sebagai sesuatu yang niscaya terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi, kawan saya, Jajang Jahroni, mengingatkan bahwa tidak sepatutnya kita selalu menghadapkan secara dikotomis antara kearifan lokal tradisional dengan pengetahuan ilmiah modern (&lt;i&gt;science&lt;/i&gt;) yang menurutnya terkadang juga mengandung &lt;i&gt;pseudo-science&lt;/i&gt;. Ibarat &lt;i&gt;cireng&lt;/i&gt; (Sunda: aci digoreng) yang sekarang ini bisa saja berdampingan dengan &lt;i&gt;sphageti&lt;/i&gt; di Supermarket….!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Takwil Gempa dan Pemilukada Aceh&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Masalahnya, terlepas dari adanya gempa atau tidak, situasi mutakhir menjelang Pemilukada di Aceh pun membuat kita was-was, apa yang akan terjadi jika penembakan misterius terus terjadi dan situasi politik terus memanas?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Mata saya pun terus bergerak mengamati transkripsi teks &lt;i&gt;Takwil Gempa&lt;/i&gt; yang dibuat oleh Yusri Akhimudin, Dosen STAIN Batusangkar yang sedang studi lanjut di konsentrasi Filologi di Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta tersebut, untuk mencari tahu kearifan lokal apa yang mungkin “dititipkan” oleh nenek moyang kita agar terhindar dari bala  yang “diramalkan” itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Sang pengarang ternyata menulis demikian: “&lt;i&gt;…maka haruslah kita memakai pakaian yang suci-suci dan memakai bau-bauan yang harum-harum supaya dijauhkan Allah ta’ala akan bala daripada tubuh kita…&lt;/i&gt;”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Kita bisa menafsirkan sendiri, apa yang tersirat dari “kesucian pakaian dan kebersihan badan” yang dipersyaratkan oleh leluhur kita agar terhindar dari bala yang mungkin terjadi tersebut. Mungkin mereka juga menginginkan agar pakaian dan tubuh kita tidak dikotori oleh pertengkaran, perebutan kekuasaan, korupsi, dan nafsu duniawi belaka. &lt;i&gt;Wallahu a’lam&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="javascript:window.print()"&gt;Print This Page&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;next&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/470402320472773294-734839269453654351?l=naskahkuno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://naskahkuno.blogspot.com/feeds/734839269453654351/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=470402320472773294&amp;postID=734839269453654351&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/470402320472773294/posts/default/734839269453654351'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/470402320472773294/posts/default/734839269453654351'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://naskahkuno.blogspot.com/2012/01/gempa-manuskrip-dan-pemilukada-di-aceh.html' title='Gempa, Manuskrip, dan Pemilukada di Aceh'/><author><name>Oman Fathurahman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12780420625889202262</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_JmYah9LAc-Y/TLnpONg6PXI/AAAAAAAASPI/COxh9AREd1Y/S220/close+up-OCIS.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-saRNfivcmcU/TxNuefJHC-I/AAAAAAAAS5w/WzcH3o3PbDg/s72-c/gempa.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-470402320472773294.post-1966676682842387483</id><published>2011-11-18T02:38:00.005+01:00</published><updated>2011-11-29T03:22:07.370+01:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Current Research'/><title type='text'>Thesaurus of Indonesian Islamic Manuscripts</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://tiim.ppim.or.id/"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 200px; height: 88px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-PQxbBIdaL3Q/TsW4CIUJb-I/AAAAAAAAS5c/W7l-NrNzaJo/s200/Screenshot.png" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5676145252101615586" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;PPIM UIN Jakarta, on behalf of Puslitbang Lektur Keagamaan, Balitbang dan Diklat, Ministry of Religious Affairs proudly presents the 'trial version' of the Thesaurus of Indonesian Islamic Manuscripts (TIIM). The full version will be officially launched by the Ministry soon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The TIIM is an online database designed by the Islamic Manuscript Unit (ILMU), Center for the Study of Islam and Society (PPIM), Syarif Hidayatullah State Islamic University (UIN) under supervision of Dr. Oman Fathurahman, and fully supported by the Center for Research and Development of Religious Literatures (Puslitbang Lektur Keagamaan), Indonesian Ministry of Religious Affairs (MORA).&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;The TIIM gets supports from experts and researchers specializing in Indonesian manuscripts officially affiliated with the Indonesian Association for Nusantara Manuscripts or Masyarakat Pernaskahan Nusantara (MANASSA).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The TIIM is mainly intended to provide information for both public and academic community on Indonesian Islamic manuscripts as complete as possible, written both in Arabic and local languages like Acehnese, Buginese, Javanase, Madurese, Malay, Minangkabau, Sasak, Sundanese, Wolio and others used in a written literary tradition in Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The TIIM also provides some other useful information like the author names with their biographical accounts, number of copies kept in all libraries around the world, catalogues that list the related manuscripts including their pages and summaries, and all the articles and books about them.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The TIIM shows an even greater importance with the availability of information about the conducted, as well as the ongoing, philological works. If possible, these works are digitally available and could be downloaded. It is hoped that not only can it avoid unnecessary repetition in studying these texts but also fill the gaps found in the previous studies.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Considering a huge number of Indonesian Islamic manuscripts kept around the world, mounting to hundred thousand manuscripts or even more, as it is thought, the TIIM is definitely a lifetime project in which all data will be continuously revised and completed in accordance with the research findings in the future.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;If you have any research data and information should be included in the database, please contact Dr. Oman Fathurahman (omanwae@gmail.com). Any comments and advices are welcome.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Here is the link:&lt;br /&gt;http://tiim.ppim.or.id/&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="javascript:window.print()"&gt;Print This Page&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;next&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/470402320472773294-1966676682842387483?l=naskahkuno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://naskahkuno.blogspot.com/feeds/1966676682842387483/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=470402320472773294&amp;postID=1966676682842387483&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/470402320472773294/posts/default/1966676682842387483'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/470402320472773294/posts/default/1966676682842387483'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://naskahkuno.blogspot.com/2011/11/thesaurus-of-indonesian-islamic.html' title='Thesaurus of Indonesian Islamic Manuscripts'/><author><name>Oman Fathurahman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12780420625889202262</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_JmYah9LAc-Y/TLnpONg6PXI/AAAAAAAASPI/COxh9AREd1Y/S220/close+up-OCIS.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-PQxbBIdaL3Q/TsW4CIUJb-I/AAAAAAAAS5c/W7l-NrNzaJo/s72-c/Screenshot.png' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-470402320472773294.post-3231369628942870228</id><published>2011-10-21T14:36:00.004+02:00</published><updated>2011-10-21T15:14:32.470+02:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Posting in Bahasa'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Current Research'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Activities'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Minangkabau'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Manassa'/><title type='text'>Manuskrip dan Penguatan Kajian  Islam Asia Tenggara</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-FnIRuni38Jc/TqFp3RSXYKI/AAAAAAAAS5E/5q7rYJA_sRw/s1600/IMG_2061.JPG" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 134px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-FnIRuni38Jc/TqFp3RSXYKI/AAAAAAAAS5E/5q7rYJA_sRw/s200/IMG_2061.JPG" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5665926204462948514" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;b&gt;Manuskrip: Mozaik Islam Lokal Nusantara yang Terserak dan Terlupakan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Pada tanggal 13 hingga 17 September 2011 lalu, saya bersama sejumlah anggota tim peneliti gabungan dari Kajian Poetika Fakultas Sastra Universitas Andalas, Tokyo University of Foreign Studies (TUFS) Jepang, Masyarakat Pernaskahan Nusantara (Manassa), dan didampingi Tuanku Umar sebagai Buya tarekat Syattariyah Surau setempat, melakukan penelitian manuskrip Islam di Surau Calau, Sijunjung, Sumatra Barat. &lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Sehari sebelumnya, penelitian yang sama juga dilakukan di keluarga ahli waris Surau Tanjung Ampalu yang dengan sangat hangat menyambut kami. Seperti diketahui, Minangkabau dikenal sebagai salah satu wilayah di Nusantara yang menjadi ‘lumbung’ emas kekayaan manuskrip Islam Melayu Nusantara, berkat tradisi intelektual Islam masa lalu yang pernah mengalami masa keemasannya.&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Mulai pagi hingga larut malam, satu persatu manuskrip Surau Calau yang tersimpan di sebuah bilik ‘rahasia’ pun dikeluarkan oleh Buya, untuk kemudian kami identifikasi judul-judul dan pengarangnya, lalu kami bersihkan, kami preservasi melalui digitalisasi, dan akhirnya kami rapihkan kembali ke tempat semula, dengan penataan yang lebih baik. Begitupun sekarung (benar-benar tersimpan dalam sebuah karung) manuskrip Islam lainnya yang semula teronggok di atap Surau, atas izin Tetua Surau diturunkan dan diidentifikasi.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Seperti pernah kami lakukan dalam Koleksi manuskrip Islam di Yayasan Ali Hasjmy dan Zawiyah Tanoh Abee Aceh beberapa tahun lalu, dalam lembar demi lembar setiap manuskrip itu, saya memperhatikan teks-teks yang berbahasa lokal khususnya, untuk mengetahui dan menyelami pengetahuan serta kearifan lokal Islam apa yang terkandung dalam manuskrip-manuskrip Surau Calau tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya meyakini sepenuh hati bahwa manuskrip Islam adalah salah satu mozaik Islam Nusantara yang banyak tercecer di lembaga-lembaga pendidikan Islam tradisional semacam surau di Minangkabau, zawiyah/dayah di Aceh, atau pesantren di Jawa. Bahkan dalam teks-teks berbahasa Arab, yang menggambarkan terbentuknya jaringan keilmuan dengan dunia Islam secara keseluruhan, pun seringkali terselip interpretasi (tafsiran) maupun pun interpolasi (sisipan) dari Muslim setempat sebagai bukti adanya resepsi budaya lokal terhadap unsur-unsur luar, yang pada gilirannya terbentuk sebagai bagian dari mozaik Islam Nusantara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terbukti bahwa dari 99 bundel manuskrip Islam di Surau Calau, Sijunjung Sumatra Barat, sejumlah teks penting berbahasa Melayu Minang, yang beberapa di antaranya sangat lokal dan sulit dijumpai di wilayah lain yang berbeda konteksnya, berhasil kami identifikasi, seperti &lt;i&gt;Nazam Ulakan&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;Silsilah Syattariyah Surau Tinggi di Calau&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;Ajaran Tuanku Abdurrahman al-Syattari&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;Hikayat Sijunjung&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;Kaji Tubuh&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;Syair Johan Perkasa Syah Alam dari Paninjauan&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;Surat Tuanku Pamansiangan&lt;/i&gt;, dan beberapa lainnya, di samping tentu saja teks-teks Melayu asal wilayah lain, terutama Aceh, yang menggambarkan kuatnya jaringan keilmuan Minangkabau dengan para ulama Aceh abad sebelumnya. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Beberapa teks yang dijumpai dalam kategori ini antara lain &lt;i&gt;Syair Dagang&lt;/i&gt; karya Hamzah Fansuri, &lt;i&gt;Jawhar al-Haqa’iq&lt;/i&gt; karya Syamsuddin al-Sumatra’i, &lt;i&gt;Tanbih al-Masyi al-Mansub ila Tariq al-Qusyasyi&lt;/i&gt; karya Abdurrauf ibn ‘Ali al-Jawi al-Fansuri, dan beberapa lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan, lebih dari itu, teks-teks dari Surau warisan Syaikh Abdul Wahab Calau, yang sesungguhnya terletak jauh di pelosok Minangkabau dan terletak di perbatasan Jambi, ini membuktikan ketidakterasingannya dari tradisi intelektual di dunia Islam secara keseluruhan. Sebut saja teks &lt;i&gt;al-Tuhfah al-Mursalah ila Ruh al-Nabi&lt;/i&gt; karya ulama India Fadlullah al-Burhanpuri dan komentarnya, &lt;i&gt;al-Haqiqah al-Muwafiqah li al-Shari’ah&lt;/i&gt; oleh pengarang yang sama. Ajaran martabat tujuh dan wahdat al-wujud dalam teks ini ini pernah menyulut kontroversi tak berkesudahan sejak abad ke-17, mulai dari Aceh zaman al-Raniri, hingga ke Jawa pada masa kemudian seperti tergambar dalam perdebatan antara Syaikh Mutamakkin dan Ketib Anom Kudus dalam &lt;i&gt;Serat Cebolek&lt;/i&gt; karangan Yasadipura I.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tersingkapnya ‘harta karun’ berupa manuskrip kuno warisan peradaban Islam Nusantara masa lalu di Surau Calau Minangkabau sesungguhnya merupakan salah satu saja dari sejumlah bukti peradaban Islam Nusantara berupa manuskrip tulisan tangan yang masih dapat ditemukan terserak di lembaga-lembaga pendidikan Islam tradisional, ataupun di tangan-tangan masyarakat sebagai properti pribadi, karena selain Minangkabau, kita juga dapat menemukan mozaik Islam Nusantara berupa manuskrip tersebut di berbagai wilayah lain di Sumatra, Sulawesi, Jawa, Kalimantan, maupun wilayah lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa waktu sebelumnya, saya bersama tim Masyarakat Pernaskahan Nusantara dan Dosen Fakultas Adab Sunan Ampel Surabaya, juga melakukan penelusuran manuskrip Islam di Kampus Pesantren Sabilil Muttaqien, Takeran Magetan, Jawa Timur. Meski Pesantren ini tergolong cukup muda, yakni didirikan pada paruh pertama abad ke-20, tapi PSM Takeran ternyata juga menyimpan sekitar 60 manuskrip Islam, yang kebanyakan berbahasa Arab dan diberikan terjemah gantung dalam bahasa Jawa setempat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jejak-jejak sejarah intelektual Islam PSM Takeran juga dapat ditemukan dalam sejumlah manuskrip koleksinya, yang semula teronggok begitu saja bersama buku-buku lain di sudut Perpustakaan. Salah satu manuskrip dari Kertas Dluwang yang sudah sangat rapuh misalnya, berjudul &lt;i&gt;Tafsir al-Jalalayn&lt;/i&gt;, mengandung sebuah catatan dalam aksara Latin berbunyi: “&lt;i&gt;Tulisan Kj. Imam Murshid Pendiri “P.S.M.” Diwaktu mereorganiseer Pesantren Takeran. Sajang beliau meninggalkan Pesantren Sedjak Tgl. 19 Sept. 1948&lt;/i&gt;.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, sebuah hasil fotokopi  manuskrip berbahasa Jawa tentang silsilah guru-murid Tarekat Syattariyah membuktikan adanya jaringan guru-murid pendiri PSM Takeran dengan Syaikh Abdul Muhyi di Pamijahan, yang kemudian terhubungkan ke Syaikh Abdurrauf ibn Ali al-Jawi di Aceh, dan Syaikh Ahmad al-Qusyasyi di Madinah. Meski sekarang ini orientasi PSM Takeran tidak lagi mengembangkan tradisi Tarekat, akan tetapi saksi sejarah berupa manuskrip, yang kini sudah tersimpan rapi dalam rak kaca, jelas menjadi petunjuk sejarah afiliasi dan kecenderungan tokoh-tokoh lembaga pendidikan ini di era sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Khazanah manuskrip Islam pesantren lain yang belum terjamah juga terdapat di wilayah Cirebon. Dalam sebuah workshop “Revitalisasi Tradisi Tahqiq di Pesantren” yang diselenggarakan oleh santri-santri Kampus al-Biruni Pesantren Ciwaringin dan sekitarnya di Cirebon, terungkap adanya puluhan manuskrip di Pesantren Ciwaringin dan Pesantren Buntet yang masih teronggok sebagai pusaka kuno belaka. Identifikasi ‘dadakan’ atas sebuah manuskrip, yang ternyata berjudul &lt;i&gt;Sabil al-muhtadin&lt;/i&gt; karya Syaikh Arsyad al-Banjari, telah memberikan stimulus kepada sejumlah santri untuk segera melakukan preservasi dan sekaligus pengkajian secara sistematis terhadap manuskrip-manuskrip lainnya yang tersimpan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penelusuran manuskrip Islam Nusantara yang paling mutakhir, saya lakukan di wilayah Pontianak, Kalimantan Barat. Berdasarkan informasi awal yang telah dihimpun oleh sejumlah dosen dan peneliti muda yang tergabung dalam “Malay Corner” di STAIN Pontianak, wilayah ini ternyata juga menyimpan khazanah mozaik Islam dalam bentuk manuskrip tulisan tangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah manuskrip berbahan kertas Dluwang yang tersimpan, dan awalnya bercampur dengan kitab cetak litograf, di Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional (BPSNT) misalnya, mengandung teks-teks Islam berbahasa Arab yang kemudian diberikan terjemah antarbaris menggunakan aksara Pegon berbahasa Jawa. Digunakannya kertas Dluwang asal Jawa, berikut terjemah Pegon bersama aneka catatan Pegon lain yang “mengotori” manuskrip ini menggiring saya kepada sebuah pertanyaan: “Sejauhmana Jawa berpengaruh dalam tradisi intelektual Islam di Kalimantan Barat?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, manuskrip ‘Jawa’ di Pontianak itu bisa saja tidak ada kaitan apa-apa dengan tradisi intelektual Islam, hanya kajian lebih mendalam yang dapat secara pasti menjawabnya. Tentu ini menjadi sebuah pekerjaan rumah tersendiri, apalagi dalam hal pemetaan serta kajian manuskrip Islam Nusantara, Pontianak dapat dianggap masih relatif tertinggal, terutama dibanding wilayah lain seperti Aceh, Minangkabau, Riau, Palembang, Bima, Surakarta, Jogjakarta, Bandung, serta beberapa wilayah di Jawa lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Manuskrip dan Jaringan ‘Ingatan Kolektif’ Muslim Nusantara&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah, jika di antara kita ada yang mencurahkan dedikasinya untuk terus-menerus melakukan penelusuran dan pengkajian terhadap manuskrip Islam Nusantara yang masih tercecer di tangan-tangan masyarakat, niscaya hal itu dapat memberikan kontribusi terhadap upaya rekonstruksi sejarah sosial intelektual Islam yang pernah berkembang pada masa lalu, yang kemudian diharapkan pula dapat mengetahui karakter asal Muslim di wilayah ini, sebagai cermin untuk membangun peradaban Islam Indonesia dan Asia Tenggara di masa depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sangat yakin, mozaik Islam Nusantara yang berupa manuskrip ini dapat dijumpai secara merata sebagai identitas kultural berbagai kelompok masyarakat etnik besar Nusantara. Dan, jika dirangkai satu persatu melalui sebuah aktifitas riset akademis yang sistematis dan terukur, niscaya mozaik manuskrip tersebut dapat membentuk sebuah jaringan ‘ingatan kolektif’ yang menghubungkan satu dengan yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manuskrip &lt;i&gt;Sabil al-muhtadin&lt;/i&gt; karya Arsyad al-Banjari dari etnis Banjar, misalnya, ditulis atas ‘inspirasi’ dari &lt;i&gt;Sirat al-mustaqim&lt;/i&gt;nya Nuruddin al-Raniri dari etnis Aceh, pun sebuah manuskrip berbahasa Maranao di Filipina menyebut ‘berhutang budi’ pada &lt;i&gt;Mir’at al-tullab&lt;/i&gt; karangan Abdurrauf al-Fansuri di Aceh, &lt;i&gt;Serat Menak&lt;/i&gt; dari etnis Jawa lahir sebagai resepsi atas &lt;i&gt;Hikayat Amir Hamzah&lt;/i&gt; dari etnis Melayu, &lt;i&gt;Serat Tasawuf&lt;/i&gt; di Sunda juga mencantumkan &lt;i&gt;Siyar al-salikin&lt;/i&gt; karya al-Palimbani sebagai rujukannya, manuskrip dalam tradisi Bugis-Makassar pun sering ‘mengingat’ peranan tiga ulama Minangkabau, Minangkabau ingat pada Aceh, Ternate ingat pada Makassar dan Gresik, Patani ingat pada Banjarmasin dan Palembang, Palembang ingat pada Demak, dan demikian seterusnya pola kemunculan manuskrip Nusantara ini terbentuk, transetnis dan transdaerah, sehingga khazanah manuskrip Nusantara layak dilihat sebagai cermin kesatuan dalam keragaman (&lt;i&gt;unity in diversity&lt;/i&gt;) etnis masyarakat yang sebagian besar wilayahnya kini bernama Indonesia!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apalagi jika pengamatan tersebut kita tujukan pada manuskrip-manuskrip silsilah guru-murid dalam sebuah tarekat, seperti yang dijumpai di Surau Calau dan Tanjung Ampalu Minangkabau, di PSM Takeran Magetan, di Zawiyah Tanoh Abee Aceh, di Pamijahan, di Cirebon, dan di tempat-tempat lainnya, niscaya proses merangkai mozaik-mozaik Islam Nusantara tersebut akan lebih mudah dilakukan, karena sebagai sebuah organisasi dalam tasawuf, tarekat menyediakan informasi yang terpercaya sejauh menyangkut hubungan seorang guru dan murid-muridnya, meski terkadang masing-masing antarmereka saling berjauhan, baik dari segi jarak maupun rentang hidupnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Manuskrip Islam Nusantara: Kesinambungan dan Pribumisasi Ajaran Islam&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Secara umum, manuskrip Nusantara, yang ditulis dalam puluhan bahasa lokal, mengandung kekayaan informasi yang berlimpah. Isi manuskrip itu tidak terbatas pada kesusastraan tetapi mencakup berbagai bidang lain seperti agama, sejarah, hukum, adat, obat-obatan, azimat, astronomi, kedokteran, dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal manuskrip Islam Nusantara, tema-tema yang terkandung pun banyak didominasi oleh teks-teks yang sangat menggambarkan adanya pertemuan serta pribumisasi Islam dengan budaya-budaya lokal, di samping mencakup hampir semua bidang keilmuan yang pernah berkembang di dunia Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan infomasi dalam Thesaurus of Indonesian Islamic Manuscripts yang sedang dikembangkan oleh Puslitbang Lektur Keagamaan, Balitbang dan Diklat, Kementerian Agama, bekerja sama dengan Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, dari 2.088 teks yang sudah berhasil dientri, tema hagiografi tradisional menempati urutan teratas sebanyak 442 teks (21%), disusul kemudian lima tema terbanyak berikutnya berturut-turut adalah tasawuf sebanyak 322 teks (15%), tale and folklor sebanyak 266 teks (13%), hadis Nabi sebanyak 206 teks (10%), teologi sebanyak 146 teks (7%), dan tema ethics atau akhlak sebanyak 128 teks (6%).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Manuskrip dan Penguatan Tradisi Riset Islam Indonesia: Peluang dan Tantangan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Dengan memperhatikan peta di atas, manuskrip Islam Nusantara, melalui Filologi sebagai perangkat keilmuan utama untuk mengkajinya, sangat potensial untuk dijadikan sebagai salah satu entri point pengembangan dan penguatan tradisi riset tentang Islam Indonesia khususnya dan Asia Tenggara umumnya, baik secara perorangan oleh dosen dan peneliti, maupun secara kelembagaan oleh perguruan tinggi agama Islam, seperti UIN, IAIN, STAIN, dan perguruan tinggi agama Islam lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Bahkan, mengingat potensinya yang cukup signifikan, manuskrip Islam Nusantara juga dapat menjadi pintu masuk untuk menghidupkan kembali tradisi dan aktifitas keilmuan di lembaga-lembaga pendidikan Islam tradisional, semacam pesantren, yang pada masa lalu memang pernah menjadi center of excellence keilmuan Islam Nusantara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika dirumuskan dan diorganisasi secara lebih sistematis, kajian terhadap manuskrip Islam Nusantara ini memiliki beberapa keuntungan strategis sekaligus:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, dapat menggali kekhasan serta dinamika Islam dan masyarakat Muslim Indonesia dan Asia Tenggara, karena manuskrip Islam Nusantara, selain menggunakan bahasa Arab, ditulis dalam berbagai bahasa lokal seperti Aceh, Bali, Batak, Belanda, Bugis-Makasar-Mandar, Jawa &amp;amp; Jawa Kuna, Madura, Melayu, Minangkabau, Sanskerta, Sasak, Sunda dan Sunda Kuna, Ternate, dan Wolio, sehingga mengkajinya berarti akan menjadi semacam ‘jalan pintas’ untuk mengetahui pola-pola hasil interaksi dan pertemuan Islam dengan budaya-budaya lokal di Asia Tenggara, yang tentunya menjadi kekayaan intelektual tersendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, kajian atas manuskrip-manuskrip Islam Nusantara dengan sendirinya akan menjadi bagian dari upaya pelestarian benda cagar budaya Indonesia demi menjaga identitas kemajemukan, kebangsaan, dan menjamin keberlangsungan transmisi pengetahuan yang telah diwariskan sejak ratusan tahun lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, keberhasilan memetakan kejayaan tradisi intelektual Islam Nusantara pada gilirannya dapat menunjukkan kepada dunia internasional bahwa wilayah ini tidak dapat dianggap sebagai Islam pinggiran (&lt;i&gt;peripheral&lt;/i&gt;), melainkan bagian tak terpisahkan (&lt;i&gt;integral&lt;/i&gt;), dari dunia Islam secara keseluruhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam konteks masyarakat akademik internasional, manuskrip Islam telah mendapatkan perhatian besar, baik untuk bidang pelestariannya sebagai benda cagar budaya, maupun sebagai sumber primer penelitian dan kajian. The Islamic Manuscript Association (TIMA) yang bermarkas di Cambridge University, UK, misalnya, merupakan salah satu asosiasi akademik terkemuka yang menyelenggarakan berbagai aktifitas akademik, seperti konferensi internasional, scholarship, grant, penelitian, penerbitan, dan berbagai aktifitas lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya, manuskrip Islam Nusantara masih sedikit dikenal karakteristik dan kandungan isinya oleh kalangan masyarakat akademik internasional tersebut karena kurangnya informasi dan publikasi internasional berkaitan dengan kekayaan warisan peradaban Islam Nusantara kita. Ada beberapa kemungkinan mengapa hal itu terjadi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, kurangnya penelitian-penelitian yang mendalam tentang kekayaan khasanah manuskrip Islam Nusantara oleh sarjana-sarjana Indonesia sendiri yang sesungguhnya memiliki pengetahuan memadai, baik berkaitan dengan bahasa lokal yang digunakan maupun substansi keilmuan di dalamnya;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, mungkin saja sudah ada sejumlah kajian yang telah dilakukan, namun hasil kajian tersebut tidak dipublikasikan dan kemudian dikomunikaiskan dengan dunia akademik internasional;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, belum adanya sebuah pusat kajian Islam khusus yang memberikan perhatian pada kajian manuskrip Islam Nusantara secara komprehensif, dikelola secara profesional, serta melakukan kajian terus menerus, dan akhirnya dapat dijadikan sebagai rujukan para sarjana dalam mengkaji manuskrip Islam Nusantara;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat, masih minimnya dukungan finansial untuk upaya-upaya pengkajian dan sekaligus pelestarian khasanah manuskrip Islam Nusantara semacam ini, sehingga minat masyarakat akademik untuk menekuninya pun masih rendah dibanding bidang keilmuan lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal ini, civitas akademika di perguruan tinggi Agama Islam (PTAI) di bawah naungan Kementerian Agama, sesungguhnya memiliki potensi untuk masuk dalam kajian Islam Nusantara yang berbasiskan pada manuskrip tersebut, setidaknya karena dua alasan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, PTAI memiliki sumber daya manusia (&lt;i&gt;human resources&lt;/i&gt;) yang memiliki potensi besar dalam memadukan kajian bidang-bidang keislaman dengan bidang umum termasuk Budaya dan Humaniora. Potensi tersebut ditunjang oleh kenyataan bahwa civitas akademika PTAI sebagian besar memiliki akar keilmuan Islam di pesantren-pesantren dan madrasah, sehingga sangat menguasai topik-topik yang dibahas dalam literatur Islam klasik, termasuk dalam manuskrip-manuskrip Islam Nusantara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, PTAI memiliki SDM yang kuat dalam penguasaan bahasa yang banyak digunakan dalam manuskrip, yakni bahasa Arab. Apalagi berbagai manuskrip dalam bahasa daerah pun umumnya ditulis dengan aksara Arab (Jawi dan Pegon), sehingga penguasaan atas aksara dan bahasa tersebut menjadi sangat penting. Sejauh ini, minimnya penguasaan para filolog —yang umumnya berlatar belakang pendidikan umum— terhadap bahasa Arab seringkali menjadi faktor penghambat dilakukannya penelitian atas manuskrip-manuskrip Islam tersebut, sehingga tidak mengherankan jika ribuan manuskrip Nusantara berbahasa Arab lebih banyak “ditelantarkan”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Manuskrip dan Pengembangan Infrastruktur Tradisi Riset Islam Indonesia&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Jika boleh dibandingkan dengan kajian Islam Timur Tengah, para peneliti dalam kajian Islam Asia Tenggara, khususnya dalam konteks ini kajian manuskrip Islam, ibarat masuk ke dalam sebuah hutan belantara yang masih perawan, kaya dengan sumber daya, tetapi kondisinya belum tertata dengan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika dalam konteks tradisi dan kajian Islam Timur Tengah misalnya, yang memang telah berusia jauh lebih tua, seorang peneliti akan dengan mudah bisa mencari dan mengetahui judul sebuah kitab berikut biografi pengarangnya melalui aneka tabaqat, faharis, atau ma’ajim yang telah disusun, maka tidak demikian halnya dengan kajian manuskrip Islam Nusantara. Meski sejumlah katalog (&lt;i&gt;faharis&lt;/i&gt;) telah diterbitkan, akan tetapi kebutuhan terhadap perangkat penelitian semacam tabaqat, faharis, atau ma’ajim, yang menyediakan data-data lengkap dan komprehensif, tentang manuskrip Islam Nusantara, berikut biografi masing-masing pengarangnya, masih belum terpenuhi, sehingga seringkali menyulitkan para peneliti untuk melakukan kajian atasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah lain adalah bahwa hingga saat ini belum ada satu pun referensi komprehensif yang dapat menjadi rujukan tentang manuskrip Islam Nusantara apa saja yang pernah diteliti, baik dalam bentuk skripsi, tesis, disertasi, maupun laporan penelitian biasa. Akibatnya, tidak jarang sebuah penelitian saling tumpang tindih satu dengan yang lain, dan sering terjadi bahwa satu judul teks yang sama dalam naskah Nusantara dikaji oleh dua atau lebih peneliti, tanpa saling merujuk satu dengan yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, jika mimpi-mimpi untuk mengembangkan tradisi riset Islam Indonesia ingin kita wujudkan, dan jika perguruan-perguruan tinggi agama Islam berminat memperkuat tradisi riset dan akademik di kampusnya, maka infrastruktur yang dibutuhkan tersebut sudah seyogyanya dibangun terlebih dahulu. Dalam hal ini, manuskrip sebagai salah satu mozaik Islam Nusantara, merupakan salah satu aset yang sangat potensial dan patut dipertimbangkan untuk dijadikan sebagai pintu masuk penguatan tradisi riset Islam Indonesia dan Asia Tenggara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Seperti pernyataan Anthony Johns yang sering saya kutip, manuskrip Islam, yang ditulis oleh elit Muslim Nusantara sendiri, dan untuk dikonsumsi oleh komunitas lokal setempat, dapat menjadi sumber kajian otentik untuk memahami karakter yang sesungguhnya dari Islam dan Muslim di wilayah ini. Semoga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;-----------&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span"   style="font-family:'times new roman';font-size:100%;"&gt;Tulisan ini pernah dipresentasikan dalam “The 11&lt;sup&gt;th&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:'times new roman';"&gt; Annual Conference on Islamic Studies (ACIS)”, yang diselenggarakan oleh Direktorat Pendidikan Tinggi Islam Ditjen Pendidikan Islam Kementerian Agama RI, bekerja sama dengan STAIN Syaikh Abdurahman Siddiq Bangka Belitung di Bangka Belitung, 10-13 Oktober 2011.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;a href="javascript:window.print()"&gt;Print This Page&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;next&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/470402320472773294-3231369628942870228?l=naskahkuno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://naskahkuno.blogspot.com/feeds/3231369628942870228/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=470402320472773294&amp;postID=3231369628942870228&amp;isPopup=true' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/470402320472773294/posts/default/3231369628942870228'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/470402320472773294/posts/default/3231369628942870228'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://naskahkuno.blogspot.com/2011/10/manuskrip-dan-penguatan-kajian-islam.html' title='Manuskrip dan Penguatan Kajian  Islam Asia Tenggara'/><author><name>Oman Fathurahman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12780420625889202262</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_JmYah9LAc-Y/TLnpONg6PXI/AAAAAAAASPI/COxh9AREd1Y/S220/close+up-OCIS.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-FnIRuni38Jc/TqFp3RSXYKI/AAAAAAAAS5E/5q7rYJA_sRw/s72-c/IMG_2061.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-470402320472773294.post-6170919369636057001</id><published>2011-08-05T05:07:00.004+02:00</published><updated>2011-08-05T05:17:43.182+02:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Posting in Bahasa'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Reflection'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Malay Islam'/><title type='text'>Memahami Islam Nusantara Melalui Manuskrip dan Kitab: Sebuah Refleksi</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-ctButqbptqQ/TjtgAOJB4NI/AAAAAAAAScg/1KrkDsyiBbQ/s1600/naskah-kitab.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-ctButqbptqQ/TjtgAOJB4NI/AAAAAAAAScg/1KrkDsyiBbQ/s200/naskah-kitab.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5637204915496542418" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;-------&lt;br /&gt;Disampaikan dalam saresehan “Penguatan Kajian Islam Nusantara” di Lakpesdam PCINU, Kairo, Mesir, Kamis 21 Juli 2011&lt;br /&gt;------&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;“…It is works such as these that the Muslim elite wrote for themselves and each other. It is from a study of such works in their regional settings that a clearer and perhaps more worthy understanding of Islam in Southeast Asia may be won…” (Johns 1976: 55).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mempertimbangkan perkembangan kajian-kajian Islam Nusantara, hingga kini ada bidang kajian yang sesungguhnya potensial dan menarik tetapi belum mendapat perhatian serius dari kalangan akademisi kajian Islam (Islamic studies). Bidang tersebut adalah kajian Islam yang berbasiskan pada manuskrip-manuskrip Islam Nusantara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan manuskrip di sini adalah semua rekaman informasi yang ditulis tangan oleh seseorang tiga sampai empat ratus tahun yang lalu. Pengertian ‘manuskrip’ dalam konteks ini merupakan lawan kata dokumen yang diproduksi melalui mesin cetak atau alat sejenis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan penelitian awal atas sejumlah koleksi, manuskrip Islam Nusantara memang dijumpai dalam jumlah besar, dan ditulis dalam berbagai bahasa lokal seperti Melayu, Jawa, Sunda, Wolio, dan lainnya, selain tentu saja manuskrip berbahasa Arab. Umumnya, secara fisik manuskrip-manuskrip tersebut kini dalam kondisi memprihatinkan dan sangat rentan mengalami kemusnahan, baik karena faktor alam maupun akibat kecerobohan manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kajian terhadap manuskrip-manuskrip Islam Nusantara mempunyai beberapa keuntungan strategis sekaligus:&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Pertama, dapat menggali kekhasan serta dinamika Islam dan masyarakat Muslim lokal, karena manuskrip Islam Nusantara, selain menggunakan bahasa Arab, ditulis dalam berbagai bahasa lokal seperti Aceh, Bali, Batak, Belanda, Bugis-Makasar-Mandar, Jawa &amp;amp; Jawa Kuna, Madura, Melayu, Minangkabau, Sanskerta, Sasak, Sunda dan Sunda Kuna, Ternate, Wolio, Bahasa-bahasa Indonesia Timur, Bahasa-bahasa Kalimantan, dan Bahasa-bahasa Sumatra Selatan, sehingga mengkajinya berarti akan menjadi semacam ‘jalan pintas’ untuk mengetahui pola-pola hasil interaksi dan pertemuan Islam dengan budaya-budaya lokal di Nusantara, yang tentunya menjadi kekayaan intelektual tersendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, kajian atas manuskrip-manuskrip Islam Nusantara dengan sendirinya akan menjadi bagian dari upaya pelestarian (preservation) benda cagar budaya Indonesia demi menjaga identitas kemajemukan, kebangsaan, dan menjamin keberlangsungan transmisi pengetahuan yang telah diwariskan sejak ratusan tahun lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, keberhasilan memetakan kejayaan tradisi intelektual Islam Nusantara pada gilirannya dapat menunjukkan kepada dunia internasional bahwa Nusantara bukanlah wilayah pinggiran (peripheral part), melainkan bagian tak terpisahkan (integral part), dari dunia Islam secara keseluruhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejarah Kebudayaan Indonesia selama berabad-abad telah mewariskan khazanah tertulis berupa manuskrip-manuskrip Nusantara yang jumlahnya sangat berlimpah. Merujuk pada Undang-undang Cagar Budaya No. 11 Tahun 2010, sebuah manuskrip tulisan tangan dapat dikategorikan sebagai benda cagar budaya bila telah berusia minimal 50 (lima puluh) tahun, serta memiliki arti khusus bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan/atau kebudayaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kandungan isi manuskrip Nusantara sendiri memang sangat luas dan tidak terbatas pada kesusastraan saja, tetapi mencakup berbagai bidang lain seperti agama, sejarah, hukum, politik kesultanan, resolusi konflik, adat istiadat, obat-obatan, teknik, dan lain-lain, sehingga akan sangat relevan sebagai bahan pengetahuan umum dalam dunia pendidikan di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejumlah upaya inventarisasi dan katalogisasi berkaitan dengan dunia pernaskahan Nusantara yang dilakukan belakangan ini menunjukkan bahwa kategori manuskrip keagamaan Islam (Islamic manusripts) terdapat dalam jumlah besar, dan dijumpai dalam berbagai bidang keilmuan Islam, seperti tafsir, hadis, tauhid, fikih, tasawuf, kalam, dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terbukti pula bahwa jaringan lembaga pendidikan Islam tradisional, seperti surau di Minangkabau, dayah di Aceh, dan pesantren di Jawa, ternyata juga menyimpan khasanah manuskrip keagamaan Islam tersebut dalam berbagai bahasa, seperti Arab, Melayu, Jawa, Sunda, dan bahasa-bahasa lokal Indonesia lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam konteks masyarakat akademik internasional, manuskrip Islam telah mendapatkan perhatian besar, baik untuk bidang pelestariannya sebagai benda cagar budaya, maupun sebagai sumber primer penelitian dan kajian. The Islamic Manuscript Association (TIMA) yang bermarkas di Cambridge University, UK, misalnya, merupakan salah satu asosiasi akademik terkemuka yang mendapatkan dukungan finansial penuh dari the Prince Alwaleed Bin Talal Centre of Islamic Studies untuk menyelenggarakan berbagai aktifitas akademik, seperti konferensi internasional, scholarship, grant, penelitian, penerbitan, dan berbagai aktifitas lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya, cakupan aktifitas TIMA tampaknya belum menjangkau khazanah manuskrip Islam Nusantara, yang sesungguhnya diakibatkan oleh kurangnya informasi dan publikasi internasional berkaitan dengan kekayaan warisan peradaban Islam Nusantara tersebut. Ada beberapa kemungkinan mengapa informasi tentang kekayaan khasanah manuskrip Islam Nusantara ini belum banyak diketahui:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, kurangnya penelitian-penelitian yang mendalam tentang kekayaan khazanah manuskrip Islam Nusantara oleh sarjana-sarjana Indonesia sendiri yang sesungguhnya memiliki pengetahuan memadai, baik berkaitan dengan bahasa lokal yang digunakan maupun substansi keilmuan di dalamnya;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, mungkin saja sudah ada sejumlah kajian yang telah dilakukan, namun hasil kajian tersebut tidak dipublikasikan dan kemudian dikomunikasikan menggunakan bahasa dunia akademik internasional;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, belum adanya sebuah pusat kajian Islam yang memberikan perhatian pada kajian manuskrip Islam Nusantara secara komprehensif, dikelola secara profesional, serta melakukan kajian terus menerus, dan akhirnya dapat dijadikan sebagai rujukan para sarjana dalam mengkaji manuskrip Islam Nusantara;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat, masih minimnya dukungan finansial untuk upaya-upaya pelestarian khasanah manuskrip Islam Nusantara semacam ini, sehingga minat masyarakat akademik untuk menekuninya pun sangat rendah dan mengalami kendala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal ini, banyak sarjana Muslim Nusantara yang sesungguhnya memiliki potensi untuk masuk dalam kajian Islam Nusantara yang berbasiskan pada manuskrip tersebut, setidaknya karena dua alasan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, para sarjana Muslim Nusantara merupakan sumber daya manusia (human resources) yang memiliki potensi besar dalam memadukan kajian bidang-bidang keislaman dengan bidang umum termasuk Budaya dan Humaniora. Potensi tersebut ditunjang oleh kenyataan bahwa sebagian mereka berasal dari sebuah komunitas yang memiliki akar keilmuan Islam di pesantren-pesantren dan madrasah, sehingga sangat menguasai topik-topik yang dibahas dalam literatur Islam klasik, termasuk dalam manuskrip-manuskrip Islam Nusantara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, banyak sarjana Muslim Nusantara memiliki kemampuan bahasa yang banyak digunakan dalam manuskrip, yakni bahasa Arab. Apalagi berbagai manuskrip dalam bahasa daerah pun umumnya ditulis dengan aksara Arab (Jawi dan Pegon), sehingga penguasaan atas aksara dan bahasa tersebut menjadi sangat penting. Sejauh ini, minimnya penguasaan para filolog —yang umumnya berlatar belakang pendidikan umum— terhadap bahasa Arab seringkali menjadi faktor penghambat dilakukannya penelitian atas manuskrip-manuskrip Islam tersebut, sehingga tidak mengherankan jika puluhan ribu manuskrip Nusantara berbahasa Arab lebih banyak “ditelantarkan”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karenanya, melalui refleksi ini, sangat besar harapan bahwa di masa mendatang, berbagai hasil inventarisasi yang terbukti berhasil menunjukkan peradaban tinggi Islam Nusantara, dapat memicu dilakukannya berbagai kajian Islam Nusantara melalui manuskrip dan kitab yang pernah ditulis oleh para pengarang masa lalu, sehingga para sarjana pribumi dapat mengembangkan sendiri kesarjanaan berstandar internasional di bidang kajian manuskrip Islam Nusantara tersebut. Semoga!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="javascript:window.print()"&gt;Print This Page&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;next&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/470402320472773294-6170919369636057001?l=naskahkuno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://naskahkuno.blogspot.com/feeds/6170919369636057001/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=470402320472773294&amp;postID=6170919369636057001&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/470402320472773294/posts/default/6170919369636057001'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/470402320472773294/posts/default/6170919369636057001'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://naskahkuno.blogspot.com/2011/08/memahami-islam-nusantara-melalui.html' title='Memahami Islam Nusantara Melalui Manuskrip dan Kitab: Sebuah Refleksi'/><author><name>Oman Fathurahman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12780420625889202262</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_JmYah9LAc-Y/TLnpONg6PXI/AAAAAAAASPI/COxh9AREd1Y/S220/close+up-OCIS.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-ctButqbptqQ/TjtgAOJB4NI/AAAAAAAAScg/1KrkDsyiBbQ/s72-c/naskah-kitab.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-470402320472773294.post-8343293028494669710</id><published>2011-06-24T12:40:00.003+02:00</published><updated>2011-06-24T12:50:38.523+02:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Posting in Bahasa'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Aceh'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Reflection'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Malay Islam'/><title type='text'>Sisi Humanis Manuskrip Kitab Nusantara</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-Ip1WM4GFJG0/TgRr8p0FbfI/AAAAAAAAScY/fSecralDsKg/s1600/resep.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 200px; height: 146px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-Ip1WM4GFJG0/TgRr8p0FbfI/AAAAAAAAScY/fSecralDsKg/s200/resep.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5621736924625858034" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Indonesia masa lalu, ketika itu masih disebut Nusantara, telah mewariskan khazanah manuskrip kitab keagamaan dalam jumlah besar. Hal yang sebetulnya membuat Indonesia patut disebut sebagai salah satu pusat keilmuan Islam dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebut saja kitab tafsir Melayu pertama asal Aceh abad 17, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Tarjuman al-mustafid&lt;/span&gt; karangan Abdurrauf al-Sinkili (1615-1693), atau kitab hadis Melayu pertama, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;al-Fawa'id al-bahiyah fi al-ahadith al-nabawiyah&lt;/span&gt; karangan Nuruddin al-Raniri (w. 1658), kitab masterpiece di bidang tasawuf, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Siar al-salikin&lt;/span&gt; dan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Hidayat al-salikin&lt;/span&gt; karangan Abdussmad al-Palimbani asal Palembang, dan masih banyak lagi kitab-kitab lokal penting lainnya dari berbagai wilayah di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Banyak orang langsung berfikir adanya kesan serius, angker, berat, dan teramat akademis kala mendengar istilah ‘kitab keagamaan’. Tidak salah juga karena yang disebut sebagai ‘kitab keagamaan’ biasanya memang berisi pembahasan ajaran-ajaran fikih, tauhid, tasawuf, tafsir, hadis, dan topik-topik keilmuan Islam lainnya, seperti dicontohkan di atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, jika mengamati manuskrip kitab keagamaan Nusantara yang ditulis tangan tiga atau empat ratus tahun lalu dengan lebih mendalam dan terperinci, kesan demikian tidak selalu sepenuhnya benar. Pasalnya, di samping teks-teks akademis yang tertulis rapi sebagai matan di bagian utama manuskrip tersebut, tidak jarang terselip catatan-catatan yang jauh dari kesan ‘ilmiah’ atau ‘akademis’, melainkan lebih menggambarkan sisi-sisi humanis masyarakat pemiliknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sekelompok manuskrip kitab di Zawiyah (semacam ‘pesantren’ di Jawa) Tanoh Abee Aceh Besar yang kebanyakan ditulis pada kurun waktu abad 19 misalnya, kita bisa menjumpai pernak-pernik informasi tentang aneka peristiwa harian yang dialami oleh komunitas Zawiyah Tanoh Abee kala itu. Biasanya, pernak-pernik yang dibubuhkan menggunakan bahasa Arab atau Arab-Melayu tersebut ditulis tak beraturan arah sebagai catatan pias (marginalia) di sekeliling teks.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tentang Zawiyah Tanoh Abee&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Di Indonesia, bahkan mungkin di Asia Tenggara, Zawiyah Tanoh Abee di Aceh Besar bisa jadi merupakan salah satu lembaga pendidikan Islam tradisional tertua, yang dirintis oleh Syekh Fayrus al-Baghdadi pada sekitar 1627. Selain sebagai tempat mencetak kader-kader ulama, lembaga ini juga pernah menjadi markas perjuangan rakyat Aceh melawan kolonialisme Belanda, yang salah seorang pemimpin generasi keenamnya bernama Syekh Abdul Wahab (w. 1894).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkat jasa tokoh yang terkenal dengan sebutan Teungku Chik Tanoh Abee ini pula, Zawiyah Tanoh Abee menjadi lembaga pendidikan Islam yang menyimpan kitab-kitab keagamaan Islam dalam bentuk manuskrip kuno berbahasa Arab, Melayu, dan Aceh. Konon, jumlahnya pernah mencapai 3.500 an!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jumlah manuskrip yang cukup fantastis itu, ditambah fakta bahwa isinya sering menggambarkan aspek lokal penting kehidupan di Aceh, telah mendorong Zawiyah Tanoh Abee menjadi pusat perhatian dunia sejak zaman Kolonial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin hanya dalam manuskrip Zawiyah Tanoh Abee misalnya, kita bisa menjumpai informasi adanya Sufi perempuan di Aceh abad 19 bernama Hamidah binti Sulayman, yang mendapat ijazah tarekat Syattariyah dari Teungku Chik Tanoh Abee.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Catatan Harian dalam Manuskrip Kitab&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dalam perspektif Mazhab Annales yang dimotori Fernand Braudel (1902-1985), peristiwa harian sekecil apapun (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;daily life&lt;/span&gt;) yang terjadi di sekitar manusia dapat dianggap sebagai ‘bersejarah’, dan karenanya penting diamati untuk mengetahui sejarah masyarakat masa lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejumlah manuskrip kitab asal Zawiyah Tanoh Abee melaporkan aneka peristiwa dan hal ‘remeh-temeh’ lain yang secara sengaja diselipkan sebagai catatan harian oleh para penyalin atau pemilik kitab masa lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah manuskrip kitab berjudul &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sharh al-Sughra ʻala Umm al-barahin&lt;/span&gt; misalnya, mengandung catatan ringan berisi informasi wafatnya seorang bernama Sayyid Abu Bakar di Kampung Jawa pada 14 Ramadan 1196 H/23 Agustus 1782 M.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan tersebut berbunyi: &lt;span style="font-style: italic;"&gt;wa-tuwiffiya sayyid Abu Bakar Kampung Jawa pada Bulan Ramadan empat belas hari bulan pada hijrah seribu seratus sembilan puluh enam tahun sanah 1196&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teks &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sharh al-Sughra&lt;/span&gt; sendiri adalah kitab Tauhid karangan Muhammad ibn Muhammad Mansur al-Hudʹhudi, dan catatan kematian di atas sama sekali bukan bagian dari pembahasan kitab tersebut, melainkan ’tempelan’ belaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi mereka yang membutuhkan informasi tentang gempa dahsyat yang pernah melanda bumi Tanah Rencong pada pertengahan abad 19 juga akan terbantu oleh coretan berbahasa Arab pada manuskrip kitab fikih berjudul &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Fath al-wahhab&lt;/span&gt; karangan Abu Yahya Zakariya al-Ansari (w. 1529).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada lembaran kertas Eropa yang sudah berlubang tersebut dijumpai catatan berbunyi: &lt;span style="font-style: italic;"&gt;wa-kanat al-zalzalah al-syadidah al-tsaniyah fajr yawm al-khamis tis’ah ayyam min jumadi al-akhir sanah 1248…&lt;/span&gt;, yang berarti bahwa sebuah gempa dashyat pernah terjadi untuk kedua kalinya di Aceh pada hari Kamis 9 Jumadil akhir 1248 H, bertepatan dengan 3 November 1832 M.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan, catatan yang berkaitan dengan tema seksual pun tidak luput dari goresan pena sang pemilik manuskrip kitab &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sharh Umm al-Barahin&lt;/span&gt; lain karangan al-Tilimsani (w. 1490), yang membeberkan ‘resep’ supaya seorang laki-laki tidak mengalami ejakulasi dini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘Resep’ berbahasa Melayu itu berbunyi: &lt;span style="font-style: italic;"&gt;bermula sebaik-baik wati [bersetubuh] itu kita ambil buah manok [Aceh: telur ayam] satu, kita keluar daripadanya yang kuning dan kita tinggal daripadanya yang putih, dan kita ambil kulit manis [kayu manis], kita lunak akan dia, dan kita kunyah akan dia pada buah yang putih, kita minum sekali dengan satu buah manok, maka tiada inzal mani hingga rubu’ [seperempat] malam, dan engkau perbuat yang demikian itu dua kali dengan dua buah manok, niscaya tiada inzal mani hingga nisfu [setengah] malam&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbagai kearifan lokal yang diwariskan secara tradisional dan turun temurun juga digoreskan dalam sebuah manuskrip kitab &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bidayat al-mubtadi&lt;/span&gt;, seperti azimat supaya padi jangan dimakan tikus, supaya anak-anak tidak menangis di malam hari, cara menolak penyakit, obat bau mulut, dan beberapa lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan yang tidak kurang pentingnya adalah ’amanat’ dari seseorang bernama Sulayman Cucum bin Abdurrahman agar manuskrip miliknya tidak diperjualbelikan, tidak digadaikan, dan tidak dipinjamkan sembarangan. Catatan tersebut dijumpai dalam manuskrip Kitab Tasawuf abad 18 berjudul &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Hidayat al-Salikin fi Suluk Maslak al-Muttaqin&lt;/span&gt; karangan Abdussamad al-Palimbani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terjemahan amanat sang pemilik naskah tersebut (aslinya dalam bahasa Arab) selengkapnya berbunyi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kitab ini milik hamba yang fakir dan bergantung kepada Allah, Sulayman Cucum bin Abdurrahman; segala puji bagi Allah yang Esa, aku mewakafkan kitab ini kepada pencari ilmu, tidak boleh dijual, tidak boleh digadaikan, tidak boleh disewakan, tidak boleh dipinjamkan, tidak boleh dihibahkan, dan tidak boleh diwariskan hingga Allah sendiri yang mewariskannya ke alam, Dia adalah sebaik-baik yang mewariskan; barangsiapa menyalahi amanat ini niscaya ia akan mendapat laknat Allah, Malaikat, dan semua manusia&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih banyak lagi khazanah keilmuan dan kearifan lokal dalam manuskrip kitab keagamaan Nusantara, karena jumlah manuskripnya sendiri mencapi puluhan ribu, yang tersimpan di dalam dan di luar negeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu khazanah manuskrip keagamaan ini adalah warisan intelektual Islam Indonesia masa lalu yang sangat berharga, serta mencerminkan bagaimana Islam telah menyatu dalam bahasa, budaya, dan karakter masyarakat lokal setempat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-------------&lt;br /&gt;Oman Fathurahman&lt;br /&gt;Peneliti Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Jakarta&lt;br /&gt;Ketua Umum Masyarakat Pernaskahan Nusantara (MANASSA)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="javascript:window.print()"&gt;Print This Page&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;next&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/470402320472773294-8343293028494669710?l=naskahkuno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://naskahkuno.blogspot.com/feeds/8343293028494669710/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=470402320472773294&amp;postID=8343293028494669710&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/470402320472773294/posts/default/8343293028494669710'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/470402320472773294/posts/default/8343293028494669710'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://naskahkuno.blogspot.com/2011/06/sisi-humanis-manuskrip-kitab-nusantara.html' title='Sisi Humanis Manuskrip Kitab Nusantara'/><author><name>Oman Fathurahman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12780420625889202262</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_JmYah9LAc-Y/TLnpONg6PXI/AAAAAAAASPI/COxh9AREd1Y/S220/close+up-OCIS.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-Ip1WM4GFJG0/TgRr8p0FbfI/AAAAAAAAScY/fSecralDsKg/s72-c/resep.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-470402320472773294.post-1965274901625617863</id><published>2011-03-27T08:18:00.003+02:00</published><updated>2011-03-27T08:48:14.879+02:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Posting in Bahasa'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Philology'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Book Review'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Book'/><title type='text'>Filologi dan Islam Indonesia</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-wNkLXptPfys/TY7dM710GvI/AAAAAAAASb4/1u7IJ0GY09A/s1600/filologi%2Bdan%2Bislam.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 128px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-wNkLXptPfys/TY7dM710GvI/AAAAAAAASb4/1u7IJ0GY09A/s200/filologi%2Bdan%2Bislam.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5588647401904937714" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;Filologi dan Islam Indonesia&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;Penyusun: Oman Fathurahman dkk.&lt;br /&gt;Penyunting: Muchlis dkk.&lt;br /&gt;Penerbit: Jakarta: Puslitbang Lektur Keagamaan, Badan Litbang dan Diklat&lt;br /&gt;Kementerian Agama RI, 2010.&lt;br /&gt;Tebal: xii+284 hlm.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;----------------------------&lt;br /&gt;Buku yang baru terbit akhir Desember 2010 lalu ini cukup melegakan, setidaknya bagi mahasiswa yang berminat mengkaji naskah-naskah Nusantara. Dibanding dengan bidang ilmu sosial lain, penulisan buku-buku tentang teori dan metode penelitian filologi di Indonesia tergolong sangat jauh tertinggal, meski bukan tidak ada sama sekali. Padahal, filologi adalah salah satu cabang ilmu yang paling dibutuhkan untuk mengkaji khazanah naskah Nusantara yang jumlahnya termasuk kategori salah satu terbanyak di dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Sejauh ini, publikasi yang berkaitan dengan dunia pernaskahan Nusantara lebih banyak berupa katalog naskah atau hasil penelitian atas sebuah naskah. Adapun buku yang meramu dan mensistematisasi teori dan metode penelitiannya sendiri cenderung ‘jalan di tempat’.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Dalam konteks kajian khazanah keagamaan Islam khususnya, kajian atas naskah-naskah Nusantara tersebut terbukti sangat berguna untuk merekonstruksi sejarah, pemikiran, serta tradisi intelektual Islam Nusantara masa lalu. Karenanya, buku yang dapat menjadi rujukan praktik penelitian naskah-naskah Nusantara tersebut sudah seyogyanya tersedia, apalagi geliat untuk melakukan penelitian naskah-naskah keagamaan Nusantara semakin hari semakin berkembang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Buku ini awalnya dimaksudkan sebagai bahan bacaan bagi mahasiswa filologi di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, baik di tingkat sarjana, terutama pascasarjana, yang mulai tahun 2009 lalu mendapat dukungan beasiswa dari Puslitbang Lektur Keagamaan, Balitbang dan Diklat, Kementerian Agama RI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Akan tetapi, secara umum, buku ini tampaknya dapat dimanfaatkan oleh siapapun yang berminat melakukan kajian pernaskahan, baik naskah keagamaan, naskah sastra, maupun lainnya, karena pembahasan teori dan metode penelitian filologi di dalamnya bersifat umum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Buku ini terdiri dari empat bagian: pertama, tentang Teori dan Metode Penelitian Filologi; kedua, tentang Kodikologi dan Paleografi; ketiga, tentang Filologi dan Kajian Islam Indonesia; dan keempat, Artikel-artikel pilihan. Tiga bagian pertama ditulis sendiri oleh Oman Fathurahman, sedangkan bagian keempat terdiri dari, berturut-turut, artikel Henri Chambert-Loir tentang "Kolofon Melayu", Ali Akbar tentang "Khazanah Mushaf Kuno Nusantara", Tedi Permadi tentang "Asal Usul Pemanfaatan dan Karakteristik Daluang", Pramono tentang "Direktori Penelitian Naskah di Minangkabau", dan Muchlis tentang "Konservasi Naskah Klasik dan Khazanah Budaya Keagamaan Indonesia".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Semoga buku, yang BELUM SEMPURNA, ini akan menjadi investasi jangka panjang, dan akan selalu bermanfaat sepanjang waktu bagi mereka yang berminat menggali berbagai kearifan lokal dalam naskah-naskah Nusantara dalam rangka memelihara warisan kebudayaan nasional, termasuk di dalamnya warisan tertulis para ulama masa lalu kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Buku ini hanyalah sebagai ‘pemandu’ awal belaka bagi para pengkaji naskah, karena kesempurnaan kajian naskah yang sesungguhnya adalah dengan sering mempraktikkan dan membuat sebuah edisi naskah. Tidak tertutup kemungkinan bahwa apa yang tertulis dalam buku ini harus diubah atau setidaknya disempurnakan, manakala seorang sudah melakukan kritik teks atas sejumlah naskah.  &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Wallahu a’lam bissawab&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="javascript:window.print()"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;a href="javascript:window.print()"&gt;Print This Page&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;next&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/470402320472773294-1965274901625617863?l=naskahkuno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://naskahkuno.blogspot.com/feeds/1965274901625617863/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=470402320472773294&amp;postID=1965274901625617863&amp;isPopup=true' title='7 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/470402320472773294/posts/default/1965274901625617863'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/470402320472773294/posts/default/1965274901625617863'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://naskahkuno.blogspot.com/2011/03/filologi-dan-islam-indonesia.html' title='Filologi dan Islam Indonesia'/><author><name>Oman Fathurahman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12780420625889202262</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_JmYah9LAc-Y/TLnpONg6PXI/AAAAAAAASPI/COxh9AREd1Y/S220/close+up-OCIS.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-wNkLXptPfys/TY7dM710GvI/AAAAAAAASb4/1u7IJ0GY09A/s72-c/filologi%2Bdan%2Bislam.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>7</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-470402320472773294.post-4124536847791608287</id><published>2011-03-23T16:40:00.002+01:00</published><updated>2011-03-27T16:47:05.524+02:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Posting in Bahasa'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Book Review'/><title type='text'>A Provisional Catalogue of Southeast Asian Kitabs of Sophia University</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-5JmjCZEdPwA/TY9MuUhZnMI/AAAAAAAAScA/J8WbvbQCAR4/s1600/catalogue%2B001.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 144px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-5JmjCZEdPwA/TY9MuUhZnMI/AAAAAAAAScA/J8WbvbQCAR4/s200/catalogue%2B001.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5588770021256568002" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;A Provisional Catalogue of Southeast Asian Kitabs of Sophia University&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Compiled by: KAWASHIMA Midori (editor in chief), ARAI Kazuhiro, Oman Fathurahman, Ervan Nurtawab, SUGAHARA Yumi, YANAGIYA Ayumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tokyo: Institute  of Asian Cultures-Center for Islamic Studies, Sophia University, 2010.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;x + 513 halaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;----------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asia Tenggara, khususnya Indonesia, lebih dari cukup untuk disebut sebagai salah satu wilayah penting pusat perkembangan intelektual Islam di luar Arab. Wilayah ini tidak saja telah menghasilkan naskah-naskah tulisan tangan (&lt;i&gt;manuscripts&lt;/i&gt;) dalam berbagai bidang keilmuan Islam sejak abad ke 16, melainkan juga kitab-kitab cetak yang diterbitkan sejak abad ke-19 hingga masa kontemporer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, kitab-kitab, yang di kalangan pesantren di Jawa dikenal sebagai kitab kuning, tersebut, sebagian besar di antaranya telah menjadi bagian dari koleksi Perpustakaan the Institute of Asian Cultures, Center for Islamic Studies of Sophia University (SIAS).&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Katalog awal yang dapat menuntun peneliti untuk mengakses koleksi kitab cetak Asia Tenggara tersebut kini juga telah diterbitkan (Kawashima [ed.] 2010) atas prakarsa dari sebuah tim proyek penyusunan katalog kitab cetak Asia Tenggara di Sophia University, bekerja sama dengan The Toyo Bunko (Oriental Library), di Tokyo, dan melibatkan peneliti tentang Islam Asia Tenggara dari Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Katalog ini memuat 1.229 judul kitab, yang dihimpun dari berbagai wilayah di Asia Tenggara, seperti Indonesia, Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, dan Filipina. Kategori kitab Fiqh dijumpai dalam jumlah terbanyak (20%), menyusul berikutnya Sufism and Ethics (17%), Language and Literature (17%), Theology (14%), Prayer and Primbon (8%), History, Tale, and Biography (7%), Quranic Science (4%), Hadith (4%), Quranic Exegesis (2%), Philosophy and Logic (1%), dan Hadith Science (1%).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari segi bahasa, kitab-kitab dalam Koleksi ini sebagian besar adalah bahasa Arab (43%), menyusul kemudian Melayu dan Bahasa (24%), Jawa (19%), Madura (6%), Sunda (6%), Iranon (3%), dan satu judul di antaranya berbahasa Tausug (0%).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain para pengarang Arab, kitab-kitab yang berada dalam Koleksi Sophia University ini juga merupakan karya tulis, atau karya terjemahan, para ulama lokal Nusantara, dan yang terbanyak di antaranya adalah karangan Ahmad Makki ibn ‘Abd Allah Mahfuz (27%), Ahmad Samit (21%), ‘Abd al-Majid Tamim Pamekasan (16%), Nawawi ibn ‘Umar al-Jawi al-Bantani (12%), Bishri Mustafa Rembang (21%), dan Dawud ibn ‘Abd Allah al-Fatani (12%).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari urutan enam terbesar penulis kitab di atas saja, tampak bahwa para pengarang asal Indonesia memang sangat berpengaruh dalam pembentukan tradisi intelektual Islam di Asia Tenggara secara keseluruhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya, Katalog ini memang tidak dijual bebas, meski sejumlah sarjana dan perpustakaan terkait di berbagai negara telah dikirimi oleh Tim di Sophia University.&lt;/span&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;a href="javascript:window.print()"&gt;Print This Page&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;next&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/470402320472773294-4124536847791608287?l=naskahkuno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://naskahkuno.blogspot.com/feeds/4124536847791608287/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=470402320472773294&amp;postID=4124536847791608287&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/470402320472773294/posts/default/4124536847791608287'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/470402320472773294/posts/default/4124536847791608287'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://naskahkuno.blogspot.com/2011/03/provisional-catalogue-of-southeast.html' title='A Provisional Catalogue of Southeast Asian Kitabs of Sophia University'/><author><name>Oman Fathurahman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12780420625889202262</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_JmYah9LAc-Y/TLnpONg6PXI/AAAAAAAASPI/COxh9AREd1Y/S220/close+up-OCIS.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-5JmjCZEdPwA/TY9MuUhZnMI/AAAAAAAAScA/J8WbvbQCAR4/s72-c/catalogue%2B001.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-470402320472773294.post-8053273438196948644</id><published>2011-03-22T04:35:00.004+01:00</published><updated>2011-03-22T05:53:24.294+01:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Aceh'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Book Review'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Book'/><title type='text'>Catalogue of Dayah Tanoh Abee Manuscripts</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-_LJWENqprz0/TYgfJSXfZHI/AAAAAAAASbo/691_S5bZ610/s1600/Cover%2B200710.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 141px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-_LJWENqprz0/TYgfJSXfZHI/AAAAAAAASbo/691_S5bZ610/s200/Cover%2B200710.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5586749582162748530" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;In the last July 2010, the book "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Katalog Naskah Dayah Tanoh Abee, Aceh Besar" (Catalogue of Dayah Tanoh Abee, Aceh Besar Manuscripts)&lt;/span&gt;" has been published by Komunitas Bambu, in collaboration with the Tokyo University of Foreign Studies (TUFS), Masyarakat Pernaskahan Nusantara (Manassa), Pusat Kajian Pendidikan dan Masyarakat (PKPM) Aceh, Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM)  Syarif Hidayatullah State Islamic University Jakarta, and Zawiyah Tanoh Abee itself.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;This catalogue includes 280 manuscripts or 367 texts, which are categorized according to the field as following:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a.     Ilmu al-Quran (Quranic science), which is marked as IQ, including 7 texts;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b.     Hadis (The Prophetic tradition), which is marked as Hd, including 14 texts;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c.     Tafsir (Quranic Exegesis), which is marked as Tf, including 16 texts;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d.     Tauhid (Theology), which is marked as Th, including 54 texts;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e.     Fikih (Islamic Jurisprudence), which is marked as Fk, including 99 texts;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;f.      Tasawuf (Sufism), which is marked as Ts, including 55 texts;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;g.     Tatabahasa (Arabic Grammar), which is marked as TB, including 78 texts;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;h.     Logika (Logic), which is marked as Lg, including 4 texts;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;i.      Ushul Fikih (Fundamentals of the Fiqh), which is marked as UF, including 2 texts;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;j.      Sejarah (History), which is marked as Sj, including 10 texts;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;k.     Zikir dan Doa (Dhikr and Prayer), which is marked as ZD, including 17 texts;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;l.      Lain-lain (Miscellaneous), which is marked as LL, including  11 texts.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;We thank to all our dedicated colleagues involved in the Project and publication of this book.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The introduction of the editor can be downloaded &lt;a href="http://manassa.org/pengantar%20oman.pdf"&gt;here&lt;/a&gt;, while the foreword of Henri Chambert-Loir, please click &lt;a href="http://manassa.org/pengantar%20Henri.pdf"&gt;here&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;a href="javascript:window.print()"&gt;Print This Page&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;next&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/470402320472773294-8053273438196948644?l=naskahkuno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://naskahkuno.blogspot.com/feeds/8053273438196948644/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=470402320472773294&amp;postID=8053273438196948644&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/470402320472773294/posts/default/8053273438196948644'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/470402320472773294/posts/default/8053273438196948644'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://naskahkuno.blogspot.com/2011/03/in-last-july-2010-book-katalog-naskah.html' title='Catalogue of Dayah Tanoh Abee Manuscripts'/><author><name>Oman Fathurahman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12780420625889202262</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_JmYah9LAc-Y/TLnpONg6PXI/AAAAAAAASPI/COxh9AREd1Y/S220/close+up-OCIS.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-_LJWENqprz0/TYgfJSXfZHI/AAAAAAAASbo/691_S5bZ610/s72-c/Cover%2B200710.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-470402320472773294.post-4607598759653013722</id><published>2011-03-20T05:04:00.001+01:00</published><updated>2011-03-22T05:52:41.234+01:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Malay Islam'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Book Review'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Book'/><title type='text'>Islam dan Diplomasi</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-nOTE1EVuZjo/TYgp71Ki8XI/AAAAAAAASbw/OsyT90FzB6U/s1600/bukuIman0.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 133px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-nOTE1EVuZjo/TYgp71Ki8XI/AAAAAAAASbw/OsyT90FzB6U/s200/bukuIman0.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5586761445613433202" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Book information&lt;/span&gt;:&lt;br /&gt;Henri Chambert-Loir, Massir Q. Abdullah, Suryadi, Oman Fathurahman, H. Siti Maryam Salahuddin, &lt;em&gt;Iman dan Diplomasi: Serpihan Sejarah Kerajaan Bima&lt;/em&gt;, Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia (KPG), in collaboration with École française d'Extrême-Orient (EFEO), and Direktorat Jenderal Sejarah dan Purbakala, Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata, Maret 2010, 222 pages.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;_______________________&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Some scholars on Indonesian manuscript studies have contributed to publish a book related to the Bima Sultanate, entitled &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Iman dan Diplomasi: Serpihan Sejarah Kerajaan Bima (The Faith and Dicplomacy: Fragments of the History of Bima Sultanate&lt;/span&gt;). They are Henri Chambert-Loir, Massir Q. Abdullah, Suryadi, Oman Fathurahman, and H. Siti Maryam Salahuddin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;This book presents three articles on manuscripts originated from the Bima Sultanate. Those manuscripts were written between 1775 until 1882.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;The cover of this book shows an illustration of the signature of Sultan Abdul Hamid Muhammad Syah, which is taken from the manuscript "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Perjanjian antara Kerajaan Bima dan Kompeni Belanda" (the agreement between the Bima Sultanate and the Dutch Collonial)&lt;/span&gt;", dated on 26 May 1792.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Henri Chambert-Loir's article, in collaboration with Massir Q. Abdullah deals with a fragment of Bo', namely a daily notes from Bima, entitled &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bumi Luma Rasanae&lt;/span&gt;, which was written in the residence of the Bima noble between 1765-1790. This article shows an excellent portrait of the Bima Sultanate under the Sultan Abdul Hamid Muhammad Syah (pp. 53-104).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The second article, written by a Minangkabau scholar, Suryadi, presents a transcription and analysis of 10 diplomatic letters by Sultan Abdul Hamid in the later periode (1790-1818). All those letters were addressed to the Dutch General Governor, but one of them to Syahbandar in Batavia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The letters indicate diplomatic efforts and strategies of the Sultan Abdul Hamid to develop a relationship between the Sultanate and the Dutch administration. Contrary to what the text &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bumi Luma Rasanae&lt;/span&gt; described, this article shows a general portrait of the economical decline of the Sultanate at that time.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lastly, Oman Fathurahman, made an edition of &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Jawhar al-ma'arif&lt;/span&gt;, a Malay text by a Bima noble origin, Haji Nur Hidayatullah al-Mansur Muhammad Syuja'uddin. The text contains two main discussions: the first one is on the Sultanate ethics, and the second one is on the occult sciences should be learnt by any Bima rulers. The text mentions that the occult sciences discussed here are taken from the Ahmad ibn ‘Ali al-Buni's &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Shams al-ma'arif al-kubra&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The editors of the book, Henri Chambert-Loir and H. Siti Maryam Slahuddin hope that philologists and historians should collaborate to make such an inventory of any local sources in Indonesia and study them to get a comprehensive portrait of the sultanates in the past and place them in the context of history of Indonesia as a whole (h. 16).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="javascript:window.print()"&gt;Print This Page&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;next&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/470402320472773294-4607598759653013722?l=naskahkuno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://naskahkuno.blogspot.com/feeds/4607598759653013722/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=470402320472773294&amp;postID=4607598759653013722&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/470402320472773294/posts/default/4607598759653013722'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/470402320472773294/posts/default/4607598759653013722'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://naskahkuno.blogspot.com/2011/03/some-scholars-on-indonesian-manuscript.html' title='Islam dan Diplomasi'/><author><name>Oman Fathurahman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12780420625889202262</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_JmYah9LAc-Y/TLnpONg6PXI/AAAAAAAASPI/COxh9AREd1Y/S220/close+up-OCIS.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-nOTE1EVuZjo/TYgp71Ki8XI/AAAAAAAASbw/OsyT90FzB6U/s72-c/bukuIman0.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-470402320472773294.post-3344501814920760174</id><published>2011-02-25T05:22:00.004+01:00</published><updated>2011-02-25T05:31:12.878+01:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='News'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Activities'/><title type='text'>Humboldt Kolleg</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-VVUwm5bgKOI/TWcwF35diII/AAAAAAAASak/dSONiHR5IQo/s1600/humboldt.png"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 38px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-VVUwm5bgKOI/TWcwF35diII/AAAAAAAASak/dSONiHR5IQo/s200/humboldt.png" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5577479540984088706" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;"Synergy, Networking and the Role of Fundamental Research Development in Asian"&lt;br /&gt;in conjunction with the International Conference on Natural Sciences (ICONS 2011)&lt;br /&gt;July 9-11, 2011, Malang-Indonesia&lt;br /&gt;Website: &lt;a href="http://humboldt-icons.machung.ac.id/index.php"&gt;http://humboldt-icons.machung.ac.id/index.php&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;We proudly present the first Humboldt Kolleg activity in Indonesia. This activity is the result of collaboration between Ma Chung University and Humboldt Club Indonesia supported by The Alexander von Humboldt Foundation.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The activity designed specifically for Humboldtians in South East Asia can be followed by general participants as one of the aims to introduce the useful programs of the Alexander von Humboldt Foundation. It is organized by scientists from various fields of study who received a Humboldt Fellowship, a very prestigious grant from the Alexander von Humboldt Foundation for those who excel in their respective fields (http://www.humboldt-foundation.de).&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;The Humboldt Kolleg activities will be held in conjunction with The International Conference on Natural Sciences (ICONS) 2011 which will be open to public, but especially targeted at Humboldtians, graduate students, researchers, and lecturers. The theme selected for Humboldt Kolleg is intended to strengthen synergy, networking, and the role of scientists in Indonesia and South East Asia in developing basic sciences and their application for the advancement of South East Asia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The themes selected for ICONS 2011 are (1) the role of natural sciences in conserving natural resources, (2) the role of natural sciences in overcoming global warming, (3) the role of natural sciences in developing science and technology, and (4) the role of natural sciences in improving human welfare. Representatives of The Alexander von Humboldt Foundation will present Alexander von Humboldt programs and other programs from their partners such as DAAD and APD. The programs will be presented in such a way as to draw the interest of graduate students and researchers who have not known The Alexander von Humboldt Foundation.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Through this program there are many benefits to be gained, including the opportunity for oral and poster presentations to the Humboldtians which will be published in an ISBN/ISSN book entitled Humboldtians in South East Asia: Research interests and future prospects. Meanwhile, through ICONS 2011, both public participants and Humboldtians can publish the result of oral and poster presentations through proceedings published by Shaker-Verlag (being explored).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;We look forward to seeing you in July.&lt;br /&gt;&lt;a href="javascript:window.print()"&gt;Print This Page&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;next&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/470402320472773294-3344501814920760174?l=naskahkuno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://naskahkuno.blogspot.com/feeds/3344501814920760174/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=470402320472773294&amp;postID=3344501814920760174&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/470402320472773294/posts/default/3344501814920760174'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/470402320472773294/posts/default/3344501814920760174'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://naskahkuno.blogspot.com/2011/02/humboldt-kolleg.html' title='Humboldt Kolleg'/><author><name>Oman Fathurahman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12780420625889202262</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_JmYah9LAc-Y/TLnpONg6PXI/AAAAAAAASPI/COxh9AREd1Y/S220/close+up-OCIS.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-VVUwm5bgKOI/TWcwF35diII/AAAAAAAASak/dSONiHR5IQo/s72-c/humboldt.png' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-470402320472773294.post-1855398652467208050</id><published>2010-11-22T11:52:00.014+01:00</published><updated>2011-02-16T06:41:43.908+01:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Posting in Bahasa'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Aceh'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Reflection'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Manuscripts on News'/><title type='text'>Manuskrip Aceh di London</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_JmYah9LAc-Y/TO9Zru_BxNI/AAAAAAAASTI/M6DJ9cMp2_4/s1600/IMG_0134.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 134px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_JmYah9LAc-Y/TO9Zru_BxNI/AAAAAAAASTI/M6DJ9cMp2_4/s200/IMG_0134.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5543748274198004946" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Saya tidak tahu harus bersuka cita atau malah berduka ketika beberapa waktu lalu berkunjung dan membaca sekitar lima belas manuskrip di salah satu perpustakaan terbesar di London, the British Library.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya ‘dipertemukan' oleh Annabel Teh Gallop, kepala koleksi Asia Tenggara, dengan belasan manuskrip asal Aceh yang baru dibeli tahun 2004 lalu oleh the British Library dari sebuah toko buku antik di London, Arthur Probsthain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;British Library sendiri sebetulnya sangat ketat dan selektif dalam hal pembelian manuskrip, karena  Inggris adalah salah satu negara yang terikat perjanjian dalam "&lt;a href="http://www.culture.gov.uk/images/publications/GuideDealersAuction.pdf"&gt;The 1970 UNESCO Convention&lt;/a&gt;", yang tidak memperbolehkan anggotanya untuk membeli benda cagar budaya negara lain, kecuali benda cagar budaya tersebut sudah ada di Inggris sebelum tahun 1970.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan sejumlah catatan yang ditemukan, belasan manuskrip koleksi Probsthain itu sendiri memang sudah berada di Eropa setidaknya lebih dari 80 tahun yang lalu; mungkin dibawa pada masa kolonial dari Aceh (entah siapa yang membawanya), dan kemudian diperjual belikan sampai akhirnya mampir di London!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingatan saya tiba-tiba melayang pada isu tentang perdagangan manuskrip Nusantara di Indonesia ke Mancanegara! Meski tidak terlihat di permukaan, tidak dapat dibantah bahwa lalu lintas jual beli manuskrip Nusantara memang terjadi sampai sekarang, baik melalui cara konvensional maupun dengan memanfaatkan media jual beli online. Saya beberapa kali menyaksikan sendiri sejumlah manuskrip itu berpindah tangan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah email bahkan pernah mampir di inbox saya yang meminta dihubungkan kepada siapapun di Eropa yang bisa membeli manuskrip mushaf al-Quran miliknya. Tentu saja saya menolak baik-baik, meski sepertinya tawaran serupa ke inbox kawan lain tetap mengalir. Dalam beberapa kasus, harga manuskrip Nusantara memang cukup menggiurkan. Sebuah mushaf al-Quran beriluminasi indah asal Bone, konon pernah terjual seharga 7000 Poundsterling (nyaris Rp. 100jt!).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi sejumlah kawan yang saya ajak bicara, aktifitas jual beli manuskrip-manuskrip kuno bukan lagi sebuah berita istimewa. Sebagian mereka malah bergumam datar: "itu kan sudah biasa". Meski begitu, saya tetap saja terkejut ketika membuka lembaran manuskrip-manuskrip tua asal abad ke-19 koleksi Probsthain yang beberapa di antaranya cukup penting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu manuskrip itu berjudul &lt;i&gt;al-haqiqah al-muwafaqah lil-syariah&lt;/i&gt; (ilmu tasawuf yang selaras dengan syariat), karangan seorang ulama India, Fadlullah al-Hindi al-Burhanpuri (w. 1620). Karya ini merupakan komentar atas kitab goresan pengarang yang sama, &lt;i&gt;al-Tuhfah al-mursalah ila ruh al-nabi&lt;/i&gt; (persembahan untuk ruh nabi). Berdasar informasi awal dari kawan baik saya, Amiq, diketahui bahwa salinan naskah ini terdapat di Leiden dengan nomor Or. 7022 (1) dan Or. 7059 (1), tapi tidak terdapat di Perpustakaan Nasional Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kitab ini memang bukan karangan ulama Aceh, tidak pula berbahasa Nusantara, melainkan Arab, tapi bagi mereka yang faham sejarah Aceh, teks yang disebut kedua itu pernah menyebabkan tragedi intelektual, dan bahkan kemanusiaan, di kesultanan Aceh abad ke-17, karena menimbulkan polemik keagamaan antara Nuruddin al-Raniri dengan para pengikut faham wujudiyah Hamzah Fansuri dan Syamsuddin al-Sumatra’i, sehingga al-Raniri mengeluarkan fatwa sesat serta membakar kitab-kitab berisi faham tersebut di depan masjid Baiturrahman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam koleksi tersebut juga terdapat sebuah manuskrip berjudul &lt;i&gt;al-risalah al-syattariyah&lt;/i&gt;, dan silsilah mata rantai tarekat Syattariyah berbahasa melayu yang menghubungkan murid Aceh dengan ulama terkemuka di Madinah abad ke-17, tapi tidak melalui jalur khalifah utamanya, Abdurrauf al-Sinkili, seperti sering disebut oleh para sarjana (Azra 1994).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lembaran manuskrip lainnya yang tidak kurang bernilai, berisi ‘catatan harian’ seorang pimpinan Dayah terkemuka di Aceh awal abad ke-19 berbahasa Melayu, yang antara lain menulis hari, tanggal, bulan, dan tahun kelahiran anak laki-lakinya, yang kelak hingga awal abad ke-19 menggantikan posisinya sebagai pimpinan tertinggi Dayah tersebut dan turut berjuang melawan kolonialisme Belanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pandangan sejarawan mazhab &lt;i&gt;Annales&lt;/i&gt;, catatan-catatan ‘ringan bersejarah’ semisal ini jelas cukup penting untuk merekonstruksi aneka aktifitas kehidupan masyarakat sehari-hari pada masa lalu. Dan Aceh memiliki kekhasan tersendiri karena menyimpan kategori manuskrip seperti itu yang sepertinya masih banyak tercecer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zawiyah Tanoh Abee di Seulimeum Aceh besar misalnya. Sejumlah koleksi manuskrip yang pernah kami deskripsikan (Fathurahman dkk. 2010) memuat informasi sejenis, dan syukurnya sampai saat ini, setahu saya, manuskripnya masih tersimpan dengan baik di tempatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa saya perlu bersuka cita? Karena saya seorang peneliti. Tidak ada kepuasan tertinggi selain menjumpai sumber data otentik yang berguna buat penelitian, dan kemudian menerbitkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi mengapa saya perlu berduka? Karena kita masih juga tidak berdaya melindungi benda-benda cagar budaya semacam itu untuk tidak beranjak dari bumi pertiwi!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita tidak bisa menyalahkan lembaga atau negara, seperti the British Library, atau Perpustakaan Negara Malaysia misalnya, yang dengan sah membeli manuskrip-manuskrip Nusantara itu dari tangan penjual, atau toko buku yang jelas-jelas memiliki izin usaha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan mungkin kita patut berterima kasih karena manuskrip-manuskrip itu kemudian dirawat dengan baik, ‘naik pangkat’ menjadi bagian dari koleksi perpustakaan ternama dunia, dan yang penting: aksesnya terbuka untuk umum. Ini belum tentu dilakukan jika manuskrip itu berada di ‘kampung halamannya’ sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita juga tidak bisa menghardik belaka para pedagang benda antik yang menjajakan manuskrip kepada pembeli Mancanegara, karena mereka tidak punya pilihan pembeli pribumi yang berani menawar dengan harga sepadan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pun kita tidak berhak menyudutkan para ahli waris yang terpaksa melego manuskrip miliknya sebagai barang dagangan, selama kita tidak melakukan penghargaan dan perhatian apapun untuk membantu melestarikan dan merawatnya. Apalagi biasanya mereka harus bergulat dengan kebutuhan dasar yang belum tersantuni dengan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang harus difikirkan adalah mengapa kita belum punya sistem yang efektif agar masyarakat lebih memilih menjual manuskripnya ke museum atau perpustakaan di negeri sendiri? Saya yakin haqqul yakin, para pemilik manuskrip itu masih punya rasa nasionalisme, jika mereka punya pilihan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah kita belum mampu bersaing dengan harga yang ditawarkan pedagang luar? Saya tidak terlalu yakin! Buktinya beberapa tahun pasca Tsunami lalu, melalui Badan Rehabilitisi dan Rekonstruksi (BRR), Museum Negeri Aceh mampu membeli sejumlah manuskrip dari masyarakat dengan harga yang cukup tinggi, dan kini menjadi tambahan koleksinya. Tentu kita tidak perlu menunggu datangnya tsunami untuk menjadi sebuah bangsa yang beradab! Ini soal political will saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita sudah beruntung mewarisi budaya tulis yang mahakaya, yang mencirikan sebagai masyarakat beradab (&lt;i&gt;civilized&lt;/i&gt;) pada masa lalu. Tapi itu tidak berarti apa-apa, jika secara perlahan kita sendiri ‘menghancurkannya’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="javascript:window.print()"&gt;Print This Page&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;next&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/470402320472773294-1855398652467208050?l=naskahkuno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://naskahkuno.blogspot.com/feeds/1855398652467208050/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=470402320472773294&amp;postID=1855398652467208050&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/470402320472773294/posts/default/1855398652467208050'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/470402320472773294/posts/default/1855398652467208050'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://naskahkuno.blogspot.com/2010/11/manukrip-aceh-di-london.html' title='Manuskrip Aceh di London'/><author><name>Oman Fathurahman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12780420625889202262</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_JmYah9LAc-Y/TLnpONg6PXI/AAAAAAAASPI/COxh9AREd1Y/S220/close+up-OCIS.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_JmYah9LAc-Y/TO9Zru_BxNI/AAAAAAAASTI/M6DJ9cMp2_4/s72-c/IMG_0134.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-470402320472773294.post-6487153276141924924</id><published>2010-10-14T06:44:00.004+02:00</published><updated>2010-10-14T06:50:48.055+02:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='News'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Philology'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Manassa'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pers Archive'/><title type='text'>Saving Indonesia’s Cultural Heritage: The Jakarta Globe</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_JmYah9LAc-Y/TLaLab9KP9I/AAAAAAAASPA/mCwpmpRpwt0/s1600/20101013180259211.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 132px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_JmYah9LAc-Y/TLaLab9KP9I/AAAAAAAASPA/mCwpmpRpwt0/s200/20101013180259211.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5527758878941003730" /&gt;&lt;/a&gt;Source: &lt;a href="http://www.thejakartaglobe.com/lifeandtimes/saving-indonesias-cultural-heritage/401140"&gt;The Jakarta Globe&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: sans-serif, Arial; font-size: 13px; line-height: 17px; "&gt;&lt;span class="caption" style="list-style-type: none; list-style-position: outside; list-style-image: none; margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; font-size: 9pt; font-family: Arial, sans-serif; color: rgb(128, 128, 128); "&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: sans-serif, Arial; font-size: 13px; line-height: 17px; "&gt;&lt;span class="caption" style="list-style-type: none; list-style-position: outside; list-style-image: none; margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; font-size: 9pt; font-family: Arial, sans-serif; color: rgb(128, 128, 128); "&gt;Caption: Through his work with the Manassa organization, over 1,000 priceless historical texts have been photographed and added to an online database accessible by anyone.  (JG Photo/Dewi Pertiwi, courtesy of www.wdl.org)&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;-----------------&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Dr. Oman Fathurahman, a senior researcher at the Syarif Hidayatullah State Islamic University in Jakarta, spends his days tracking down and deciphering Indonesia’s many ancient texts and manuscripts. He thinks it is a job that is not only critical to understanding the country’s cultural and historical past, but also where it is headed in the future.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Unfortunately, the lack of a proper centralized storage facility for these documents makes his job a difficult one, and leaves many of these priceless texts in danger of being lost or destroyed forever.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;It’s critical that these texts should be stored in a secure place, like a museum or national library, said Oman, an expert on the study of ancient manuscripts, a science known as philology.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;He is one of the few people in Indonesia fighting to acknowledge the significance the manuscripts have for society.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Oman believes that history repeats itself, explaining that many events that occurred in the past happen again hundreds of years later.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Interpreting these manuscripts will give us that awareness so that, in the future, we can make better decisions for society,” Oman said.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Every page tells a story that reflects a situation or event of the past. From these stories, we can observe how our ancestors handled domestic, social, religious, economic, even political issues hundreds of years ago,” Oman explained.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;This information is priceless, it is evidence of our earliest communal existence, he said.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;But unlike other, less fortunate countries, when it comes to ancient texts and manuscripts, Indonesia has a lot to lose.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“This country has a wealth of ancient manuscripts with different languages and letters — possibly millions,” said the 43-year-old researcher.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“In Sumatra alone, we have thousands of Malay and Islamic scripts that tell stories from as far back as four centuries ago.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In addition to his work at the university, Oman also acts as chairman for the Indonesian Association for Nusantara Manuscripts (Manassa), an organization that works to preserve the nation’s cultural heritage.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Its mantra is guarding the past in order to brighten the future.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;However, despite clearly doing important work for the nation, Manassa rarely gets assistance from the government.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Most of our funding comes from abroad. Sadly, they have a higher appreciation for our historical manuscripts than our own government. I guess they think there are other issues that are more important than preserving a link to our past,” Oman said.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;When it comes to protecting these manuscripts, it’s not all bad news. In 2005, Unesco suggested that every country in the world start preserving their written cultural heritage.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Last year in Paris, the institution launched the World Digital Library, a Web site that features unique cultural material from libraries and archives located around the world.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Visitors to www.wdl.org have free access to manuscripts, maps, books, journals, prints, photos and sound recordings from all over the globe.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dozens of countries have been involved in the project, which uses the Internet like a storage data bank, putting the world’s documented heritage at your fingertips.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Upon hearing of the project, Oman and Manassa launched a similar project of their own, which can be found at www.manassa.org.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;They have started documenting all the texts in their possession using digital photographs which are then uploaded to the Internet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“To date approximately 1,200 manuscripts have been digitized with thousands more waiting to be processed,” he said. Having it online allows people outside of Indonesia to also access these cultural riches.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;But the problem of safeguarding the actual texts and manuscripts still remains.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In July, Manassa held their 13th biennial international symposium on national manuscripts at Sebelas Maret University Surakarta in West Java.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;One of the key ideas put forth by attendees was a recommendation for the government to build a national manuscript preservation and research center.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“This would give us a safe place to store the manuscripts and coordinate research,” Oman said.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;There has been no response yet to the request, but Oman said he will not stop trying.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;He believes the manuscripts are part of the nation’s identity.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“If we let them get ruined, or sell them to a country trying to claim our history as their own, then we will have nothing left.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"As a researcher and teacher, I have a duty to raise the younger generation’s national identity and make them proud of their cultural heritage.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"They should have sense of ownership for these treasures and be willing to do something to keep them safe. It’s critical to understanding who we are as a people and where we are headed in the future,” Oman said.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="javascript:window.print()"&gt;Print This Page&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;next&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/470402320472773294-6487153276141924924?l=naskahkuno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://naskahkuno.blogspot.com/feeds/6487153276141924924/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=470402320472773294&amp;postID=6487153276141924924&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/470402320472773294/posts/default/6487153276141924924'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/470402320472773294/posts/default/6487153276141924924'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://naskahkuno.blogspot.com/2010/10/saving-indonesias-cultural-heritage.html' title='Saving Indonesia’s Cultural Heritage: The Jakarta Globe'/><author><name>Oman Fathurahman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12780420625889202262</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_JmYah9LAc-Y/TLnpONg6PXI/AAAAAAAASPI/COxh9AREd1Y/S220/close+up-OCIS.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_JmYah9LAc-Y/TLaLab9KP9I/AAAAAAAASPA/mCwpmpRpwt0/s72-c/20101013180259211.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-470402320472773294.post-3115884238660796815</id><published>2010-09-03T18:29:00.004+02:00</published><updated>2010-09-03T18:39:46.806+02:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Posting in Bahasa'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='News'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Philology'/><title type='text'>Naskah Sunda di EFEO</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_JmYah9LAc-Y/TIEjfckcKgI/AAAAAAAAR6Q/DUcky0I7pqA/s1600/Aksara-Sunda.gif"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 194px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_JmYah9LAc-Y/TIEjfckcKgI/AAAAAAAAR6Q/DUcky0I7pqA/s200/Aksara-Sunda.gif" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5512726442030148098" /&gt;&lt;/a&gt;PRESS RELEASE DARI EFEO...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;Foto: http://sundanet.com&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;---------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Katalog Induk Naskah-naskah Nusantara, jil. 5A, Jawa Barat: Koleksi Lima Lembaga, yang disusun oleh Edi S. Ekadjati dan Undang A. Darsa (Jakarta, Yayasan Obor Indonesia - EFEO, 1999), disebut bahwa salah satu lembaga yang naskahnya diperikan dalam katalog tersebut adalah "EFEO Bandung", disertai keterangan tambahan berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penting dikemukakan bahwa lembaga yang disebutkan terakhir ini sudah tidak ada lagi, sedangkan sebagian naskahnya tersimpan di Yayasan Pemeliharaan Naskah (YAPENA) Bandung dan beberapa lainnya tersimpan dalam bentuk fotokopi di EFEO Jakarta. (hlm. 5).&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Buat kami sendiri riwayat naskah-naskah tersebut tidak jelas. Lembaga penelitian Prancis EFEO (École française d'Extrême-Orient) pernah mempunyai sebuah kantor di Bandung mulai tahun 1960-an sampai tahun 1990. Kantor itu diketuai oleh Ibu Viviane Sukanda-Tessier, yang pernah meneliti dan menginventarisasi naskah-naskah di Tatar Sunda, antara lain bersama Bpk. Edi Ekadjati dan Bpk. Hasan M. Ambary, keduanya sudah almarhum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai lembaga penelitian asing, EFEO mempunyai kebijakan tidak pernah membeli naskah asli di Indonesia, dengan pertimbangan naskah-naskah yang terjual oleh masyarakat ataupun oleh pedagang semestinya dibeli oleh instansi Indonesia saja. Namun demikian, dalam rangka penelitian mantan anggota EFEO tersebut, sejumlah besar naskah pernah dikumpulkan oleh Yayasan Yapena di atas, sedangkan sejumlah fotokopi naskah (entahlah apakah fotokopi dari naskah milik Yapena atau dari naskah lain) masuk inventaris EFEO. Perlu digarisbawahi bahwa EFEO tidak mempunyai hubungan apa pun dengan Yayasan Yapena.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fotokopi naskah yang kini tersimpan di kantor EFEO di Jakarta boleh diperiksa dan dibaca oleh siapa pun yang berminat. Meskipun hanya mengandung fotokopi, koleksi itu rupanya cukup berharga dan patut dimanfaatkan. Jumlah itemnya 239. Di antaranya, 215 buah telah diidentifikasi berdasarkan katalog (stensilan) yang disusun oleh Ibu Sukanda-Tessier, sedangkan 24 buah lagi belum berhasil diidentifikasi. Daftar ke-215 item itu dapat &lt;a href="http://manassa.org/naskah%20sunda%20efeo.pdf"&gt;diunduh di sini&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Informasi ini disebarkan agar kalangan pencinta naskah Indonesia tidak beranggapan bahwa lembaga EFEO memiliki naskah asli, juga supaya fotokopi yang memang ada dapat diakses oleh yang berkepentingan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Henri Chambert-Loir, Daniel Perret, Arlo Griffiths&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;EFEO&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jl. Ampera III no. 26&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta 12550&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tlp. 021-781 1476&lt;br /&gt;&lt;a href="javascript:window.print()"&gt;Print This Page&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;next&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/470402320472773294-3115884238660796815?l=naskahkuno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://naskahkuno.blogspot.com/feeds/3115884238660796815/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=470402320472773294&amp;postID=3115884238660796815&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/470402320472773294/posts/default/3115884238660796815'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/470402320472773294/posts/default/3115884238660796815'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://naskahkuno.blogspot.com/2010/09/naskah-sunda-di-efeo.html' title='Naskah Sunda di EFEO'/><author><name>Oman Fathurahman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12780420625889202262</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_JmYah9LAc-Y/TLnpONg6PXI/AAAAAAAASPI/COxh9AREd1Y/S220/close+up-OCIS.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_JmYah9LAc-Y/TIEjfckcKgI/AAAAAAAAR6Q/DUcky0I7pqA/s72-c/Aksara-Sunda.gif' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-470402320472773294.post-7514614614614630241</id><published>2010-07-21T09:25:00.004+02:00</published><updated>2010-07-21T09:53:14.252+02:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Aceh'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Malay Islam'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pers Archive'/><title type='text'>Tulisan 'Jadul': ABDURRAUF SINGKEL, Ulama Santun dari Serambi Mekkah</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_JmYah9LAc-Y/TEamwzY5jXI/AAAAAAAAR6I/cwWZj09G5nY/s1600/masjid+aceh.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 139px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_JmYah9LAc-Y/TEamwzY5jXI/AAAAAAAAR6I/cwWZj09G5nY/s200/masjid+aceh.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5496263752610844018" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;Tulisan ini merupakan artikel yang diterbitkan oleh &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;Kompas&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;, dalam edisi Mileniumnya (2000). Saya tidak melakukan perubahan apapun, sehingga beberapa ungkapan kalimatnya harus difahami dalam konteks saat itu. Saya tampilkan kembali hitung-hitung menyimpan arsip.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;--------------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“There is an interesting difference in personality between ‘Abdu ‘l-Ra’ûf and al-Rânîrî. Al-Rânîrî was a fiery polemist; he hurled anathemas at the Wujûdiyya, calling them arch-heretics without the least idea of Sufism had their books burnt and their followers executed. ‘Abdu ‘l-Ra’ûf, on the other hand was a man of remarkable tolerance and piety…”&lt;/span&gt; (A.H. Johns, 1955)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harus diakui, Aceh —kendati hingga tulisan ini dibuat, sebagian masyarakatnya sedang “ngambek” atas berbagai ketidakadilan yang dideritanya— sejak awal telah menjadi salah satu wilayah Nusantara yang banyak memberikan kontribusi besar terhadap perkembangan dan kemajuan negeri ini. Tidak berlebihan jika Aceh, meminjam istilah Amin Rais, disebut memiliki saham besar atas berdirinya Republik ini.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Bukan hanya dalam bidang sosial politik, di mana pada pertengahan abad ke-16, negeri yang mendapat julukan sebagai “Serambi Mekkah” ini telah menjadi salah satu kerajaan terpenting di Nusantara yang sangat intens merintis hubungan politik dan diplomatik dengan dunia internasional, seperti dengan dinasti Utsmani, negara paling kuat di Timur Tengah dan wilayah Laut Tengah saat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih dari itu, Aceh —seperti ditunjukkan dengan baik oleh Azra (1992)— juga dianggap sebagai wilayah yang paling awal menjalin hubungan intelektual keagamaan dengan pusat pengetahuan Islam di Timur Tengah, khususnya Mekkah dan Madinah (baca: Haramayn). Hal ini didukung pula oleh posisi Aceh saat itu sebagai tempat transit terpenting bagi para jamaah Melayu-Indonesia dalam perjalanan mereka pergi menuju, dan kembali dari, Haramayn. Tidak berlebihan kalau Nurcholis Madjid menganggap Aceh, dengan sendirinya, mempunyai hak sejarah atas bumi pertiwi ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai implikasi dari kiprahnya, Aceh tentu saja telah melahirkan dan mewariskan banyak hal berharga untuk bangsa ini. Dalam konteks pemikiran keagamaan Islam misalnya, sejak pertengahan abad ke-16 hingga akhir abad ke-17, di sana telah dikenal sejumlah ulama besar yang sangat produktif, seperti Syaikh Hamzah Fansuri, Syamsuddin Sumatrani, Nuruddin ar-Raniri, dan Abdurrauf Singkel. Melalui kepakaran para ulama tersebut telah lahir sejumlah karya berbobot di bidang fikih (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;jurisprudence&lt;/span&gt;), tafsir (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;exegesis&lt;/span&gt;), hadis (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;tradition&lt;/span&gt;), dan terutama tasawuf (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;islamic mysticism&lt;/span&gt;). Karya-karya mereka tidak hanya memiliki fungsi sosial, politik, dan keagamaan pada masanya, tapi di kemudian hari juga sering kali menjadi sumber rujukan dalam tradisi intelektual keislaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan ini dimaksudkan, antara lain, untuk mengapresiasi khazanah intelektual Islam hasil pemikiran salah seorang ulama terkemuka Aceh, Abdurrauf Singkel, yang sedikit banyak turut menentukan arah perjalanan bangsa ini, khususnya dalam bidang pemikiran keagamaan. Ada beberapa pertanyaan penting yang dapat dikemukakan berkaitan dengannya; siapa dan tokoh macam apa sesungguhnya Abdurrauf Singkel? Bagaimana kiprahnya dalam bidang sosial politik kegamaan di Aceh? Di mana kita dapat menempatkan pemikirannya dalam konteks sosial masyarakat Aceh saat itu? Dan sumbangsih macam apa yang telah dipersembahkannya untuk masyarakat Melayu-Indonesia?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Abdurrauf Singkel: Mutiara dari Aceh&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sekedar menyegarkan kembali ingatan kita, Abdurrauf Singkel adalah salah seorang ulama besar Aceh yang menurut D.A. Rinkes (1909) lahir pada 1615, dan berkarir di Aceh sejak pertengahan hingga akhir abad ke-17. Kematangannya sebagai seorang ulama dicapai terutama setelah selama 19 tahun di Mekkah dan Madinah, Abdurrauf mempelajari apa yang disebutnya sebagai ilmu lahir, seperti tafsir, fikih, hadis, dan bidang-bidang ilmu eksoteris lainnya, kemudian menggabungkannya dengan ilmu-ilmu esoteris, seperti tasawuf dan kalam, yang disebutnya sebagai ilmu batin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penguasaan terhadap dua bidang ilmu —yang dalam beberapa kasus sering saling berhadapan, khususnya antara fikih dan tasawuf— ini, jelas sangat mempengaruhi sikap keilmuan Abdurrauf kelak, yang lebih menekankan perpaduan antara praktek-praktek tasawuf dan kewajiban-kewajiban syariah. Hal ini kemudian memunculkan sikap kompromistis dalam menghadapi ketegangan akibat pertentangan antara keduanya. Bahkan lebih jauh lagi, seperti akan kita lihat, membentuk watak Abdurrauf yang sangat toleran terhadap berbagai persoalan atau konflik yang dihadapinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama berada di Haramayn, Abdurrauf berhasil membangun jaringan keilmuan yang sangat luas dengan tokoh-tokoh ulama penting, yang berpusat pada guru utamanya, Ahmad al-Qusyasyi (w. 1660) dan Ibrahim al-Kurani (1614-1690). Dibanding dengan ulama Jawi lainnya yang pernah belajar di Haramayn, semisal Nuruddin ar-Raniri, atau Muhammad Yusuf al-Makasari, mata rantai hubungan Abdurrauf dengan inti jaringan ulama di Haramayn ini jauh lebih kuat, langsung dan kokoh, sehingga pada gilirannya mempermudah Abdurrauf dalam mengembangkan Islam dan gagasan-gagasan keagamaannya sendiri (baca: tarekat syatariyyah) di tanah Melayu, khususnya di wilayah Aceh. Saling silang jaringan keilmuan Abdurrauf dengan para ulama di pusat pengetahuan Islam ini tentu saja sangat membanggakan kaum Muslim Melayu-Indonesia yang berada di suatu wilayah pinggiran dunia Muslim, karena salah seorang alimnya mampu "bersaing" dan bersanding dengan para tokoh ulama terkemuka di Haramayn.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Peran Sosial Politik Keagamaan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Untuk mengetahui sejauh mana peranan Abdurrauf Singkel dalam wacana sosial politik keagamaan di Aceh, kita dapat menelusurinya dari masa awal kepulangan Abdurrauf setelah menuntut ilmu di Haramayn. Seperti diketahui, sepulangnya dari Arabia pada 1661, pandangan-pandangan keagamaan Abdurrauf yang “menyejukkan”, dengan serta merta mampu memikat hati kalangan istana Aceh. Sultanah Safiyatuddin yang tengah berkuasa segera menjadikan Abdurrauf sebagai patron keilmuannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pola hubungan penguasa dengan tokoh intelektual keagamaan di Aceh, sejak awal memang menarik, karena “hubungan mesra” itu —seperti diisyaratkan A. Hasjmy (1977)— telah mendarah daging, menjadi bagian dari filsafat hidup dan filsafat politik. Di satu pihak, ulama memainkan peranan sebagai pemegang kekuasaan hukum (yudikatif), dan Sultan atau Sultanah, di pihak lain, sebagai pemegang kekuasaan politik (eksekutif). Pola hubungan istana-ulama semacam inilah yang menjadikan penyebaran Islam pada masa-masa awal, khususnya di Aceh, menjadi fenomena istana; Istana kerajaan menjadi pusat pengembangan intelektual Islam atas perlindungan resmi para Sultan atau Sultanah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karir keilmuan Abdurrauf Singkel pada masa-masa berikutnya, oleh karenanya, tidak dapat dipisahkan dari dukungan kuat kalangan istana. Antara 1661 hingga 1690-an, Abdurrauf bahkan dipercaya oleh Sultanah untuk memegang jabatan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Qadhi Malik Al-‘Adil&lt;/span&gt;. Setidaknya menurut A. Hasjmy (1975), jabatan ini dalam struktur kerajaan Aceh saat itu merupakan posisi terpenting kedua setelah kepala negara sendiri yang bergelar &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Sultan Imam ‘Adil&lt;/span&gt;. Mungkin agak sulit jika kita mencoba menganalogikan jabatan ini dengan struktur kenegaraan kita sekarang, karena selain sebagai “wakil Presiden”, Qadhi Malik Al-‘Adil adalah juga semacam ketua Mahkamah Agung. Yang jelas, dengan jabatan ini, Abdurrauf memiliki wilayah pengaruh yang relatif luas, khususnya dalam masalah-masalah keagamaan, dan bahkan lebih dari itu, dapat turut menentukan arah kebijakan politik kenegaraan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abdurrauf boleh dibilang the right man in the right time. Sebab saat ia tiba di Aceh, penguasa istana tengah dihadapkan pada berbagai konflik keagamaan yang tentu saja sangat membutuhkan figur kompromistis semacam dirinya. Salah satu konflik keagamaan yang terekam baik oleh sejarah, dan —jangan lupa!— meletus beberapa tahun sebelum Abdurrauf  berangkat ke tanah Arab, adalah pertentangan sengit antara para penganut doktrin &lt;span style="font-style:italic;"&gt;wujûdiyyah&lt;/span&gt; di satu pihak, dengan ulama ortodoks yang menuduhnya sebagai sesat di pihak lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kasus Aceh, kelompok pertama direpresentasikan oleh murid-murid Syaikh Hamzah Fansuri dan Syamsuddin Sumatrani, sedangkan kelompok kedua dimotori oleh Nuruddin ar-Raniri. Seperti kita maklumi, dalam konflik tersebut ar-Raniri dengan sengit menuduh para pengikut wujûdiyyah sebagai sesat (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;heretical&lt;/span&gt;), menyimpang (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;heterodox&lt;/span&gt;), bahkan mempercayai banyak Tuhan (politeis), dan oleh sebab itu mereka patut diganjar hukuman mati jika tidak mau “insaf” dan bertaubat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa hebatnya konflik itu, ujung-ujungnya mengakibatkan pembakaran karya-karya masterpiece Syaikh Hamzah Fansuri tentang wujûdiyyah, khazanah keilmuan yang sangat berharga, disusul pengejaran dan pembunuhan terhadap para pengikutnya. Peristiwa “tragis” ini niscaya diketahui dengan baik oleh Abdurrauf, dan karenanya telah menjadi semacam “PR” baginya selama “rihlah ilmiah” di tanah Arab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehadiran Abdurrauf di Aceh, tak pelak lagi memberikan harapan baru bagi kalangan istana untuk keluar dari situasi yang diliputi persengketaan antardua kelompok tersebut. Dan upaya kerasnya menjadi penengah —yang diimplementasikan melalui berbagai tulisannya— merupakan kontribusi besar yang tak bakal dilupakan sejarah dalam hal kebijakan politik keagamaan di Aceh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abdurrauf, yang sebetulnya turut mempropagandakan ajaran &lt;span style="font-style:italic;"&gt;wahdatul wujud&lt;/span&gt;, mencoba menjaga jarak dengan ekstrimitas yang dianggap —terutama oleh ar-Raniri— terlalu menonjol pada ajaran-ajaran wujûdiyyah Syaikh Hamzah Fansuri. Oleh sebab itu, dalam hampir semua karya-karyanya, baik yang ditulis dalam bahasa Arab, seperti &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Tanbih al-Masyi&lt;/span&gt;, atau bahasa Melayu seperti &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Daqa’iq al-Huruf&lt;/span&gt;, dalam bentuk prosa maupun puisi, terdapat semacam reinterpretasi terhadap ajaran tersebut, selain juga diiringi dengan sikap hati-hati dalam menjelaskannya. Simak saja, misalnya, kutipan puisi Abdurrauf dalam salah satu karyanya, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Syair Ma’rifah&lt;/span&gt; ketika menjelaskan makna &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Man ‘Arafa Nafsahu Fa qad ‘Arafa Rabbahu&lt;/span&gt; (barang siapa mengenal dirinya, ia akan mengenal Tuhannya), sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Jika tuan menuntut ilmu,&lt;br /&gt;ketahui dahulu keadaanmu,&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Man ‘arafa nafsahu&lt;/span&gt; kenal dirimu,&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Fa-qad ‘arafa Rabbahu&lt;/span&gt; kenal Tuhanmu.&lt;br /&gt;Kenal dirimu muhadas semata,&lt;br /&gt;Kenal Tuhanmu kadim Zat-Nya,&lt;br /&gt;Tiada bersamaan itu keduanya,&lt;br /&gt;Tiada semisal seumpamanya”&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Untuk merasakan “kehati-hatian” Abdurrauf dalam Syair di atas, bandingkan misalnya dengan puisi yang ditulis oleh Syaikh Hamzah Fansuri ketika menjelaskan makna ungkapan —yang di kalangan para sufi disebut sebagai hadis— itu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Sabda Rasul Allah: Man ‘arafa nafsahu,&lt;br /&gt;Bahwasanya mengenal akan Rabbahu,&lt;br /&gt;Jika sungguh engkau ‘abdahu,&lt;br /&gt;Jangan kau cari illa Wajhahu,&lt;br /&gt;Wajah Allah itulah yang asal kata,&lt;br /&gt;Pada wujudmu lengkap sekalian rata…”&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau dalam puisinya yang lain:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Tuhan kita itu tiada bermakan&lt;br /&gt;Zahirnya nyata dengan rupa insan,&lt;br /&gt;Man ‘arafa nafsahu suatu burhan,&lt;br /&gt;Fa-qad ‘arafa Rabbahu terlalu bayan”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan membandingkan kedua gaya puisi di atas, tidak bisa lain kita merasakan betapa Abdurrauf lebih menegaskan tentang sifat kekekalan (kadim) Tuhan di satu pihak, dan sifat kamakhlukan (muhadas) manusia di pihak lain, yang menyebabkan adanya perbedaan mutlak di antara keduanya. Sedangkan Syaikh Hamzah Fansuri terlihat lebih “lantang” menyatakan Tuhan sebagai: Pada wujudmu lengkap sekalian rata… dan Zahirnya nyata dengan rupa insan, meskipun ia tidak sama sekali mengabaikan sisi transendensi-Nya dengan menyatakan: Tuhan kita itu tiada bermakan. Dalam konteks Aceh saat itu, di mana ekstrimitas tasawuf sedang dipersoalkan —meskipun bisa jadi hal itu lebih diakibatkan oleh ketidakmengertian yang sungguh-sungguh atas ajaran-ajarannya yang memang pelik—, gaya Abdurrauf ini menjadi semacam “rem pengendali” dan cerminan dari sikap hati-hatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa pun demikian, dengan menganggap gaya penafsiran Abdurrauf sebagai “hati-hati”, kita tidak bisa begitu saja menilai gaya Syaikh Hamzah Fansuri sebagai sebaliknya, karena penilaian sebuah karya harus didudukkan dalam konteksnya masing-masing. Syaikh Hamzah Fansuri, yang memang merupakan pendukung terkemuka penafsiran mistiko-filosofis wahdatul wujud dari tasawuf, saat menulis karya-karyanya berada pada masa di mana Islam mistik, terutama dari aliran wujûdiyyah, berjaya bukan hanya di Aceh, tetapi juga di banyak bagian wilayah Nusantara. Bahkan dalam skala global, periode Syaikh Hamzah Fansuri (paruh kedua abad ke-16) ditandai oleh menghangatnya pertentangan kaum ortodoks dengan heterodoks, seperti yang terjadi di Moghul, India. Sementara Abdurrauf Singkel, justru memulai karir intelektual dan menulis karya-karyanya setelah penentangan terhadap doktrin wujûdiyyah tersebut merajalela dan bahkan di Aceh cenderung mengakibatkan situasi chaos. Apalagi, kapasitas Abdurrauf saat itu sebagai ulama istana yang berkepentingan menjaga stabilitas negara. Karuan saja situasi tersebut mengkondisikannya menjadi seorang yang kompromistis, santun, bijak, hati-hati, dan dapat mengakomodasi pihak-pihak yang bertikai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sikap hati-hati Abdurrauf tidak hanya tampak dalam upayanya mengurangi kesan ekstrim ajaran tasawuf, tindakan yang tentunya dibidikkan kepada para pengikut ajaran &lt;span style="font-style:italic;"&gt;wujûdiyyah&lt;/span&gt;. Ia juga mengimbau, terutama kepada Nuruddin ar-Raniri, untuk tidak sembarangan menuduh orang lain —termasuk mereka yang menganut ajaran &lt;span style="font-style:italic;"&gt;wujûdiyyah&lt;/span&gt;— sebagai sesat dan kafir. Yang menarik, meskipun dapat dipastikan bahwa Abdurrauf bermaksud mengkritik, baik atas ekstrimitas para pengikut ajaran &lt;span style="font-style:italic;"&gt;wujûdiyyah&lt;/span&gt; Syaikh Hamzah Fansuri maupun sikap radikal Nuruddin ar-Raniri, ternyata dalam hampir semua karangannya, tidak ditemukan satu ungkapan pun yang menyebut nama-nama mereka secara ekspilit. Abdurrauf selalu menggunakan kata-kata yang samar dan bersifat umum. Memang, atas hal ini tidak tertutup kemungkinan munculnya pandangan bahwa Abdurrauf Singkel adalah sosok ulama yang “malu-malu”, tidak berani bersikap tegas. Tetapi dalam konteks Aceh saat itu, sikap tersebut kiranya lebih tepat dianggap sebagai wujud “sopan santun” dan toleransi Abdurrauf yang sangat tinggi, seperti diisyaratkan oleh A.H. Johns dalam kutipan di awal tulisan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sikap santun Abdurrauf atas ar-Raniri sendiri sepertinya merupakan rangkaian dari ajarannya yang sarat muatan moral. Dalam sebuah karyanya yang berbahasa Arab, Tanbih al-Masyi, dikemukakan bagaimana misalnya seorang mukmin harus membantu sesamanya, tidak saling mencaci maki, tidak saling mengutuk dan menghujat, tidak menganiaya dan menelantarkannya, tidak melanggar hak-haknya, dan tidak mudah menyebutnya sebagai kafir. Sungguh, Abdurrauf merujuk tauladan Nabi Saw. sebagai wa innahu la ‘alâ khuluqin ‘azîm.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Rekonsiliasi Tasawuf dan Syariat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dalam perkembangannya, tasawuf kerap kali dipersepsikan atau bahkan dipraktekkan sebagai ajaran dengan ciri serta kandungan ekstatik dan metafisik belaka, sehingga yang muncul dari praktek tasawuf hanyalah pencapaian kepuasan spiritual yang bersifat individual, tanpa harus bersentuhan dengan masyarakat. Kesan ini sama sekali tidak muncul dalam tasawuf yang diajarkan Abdurrauf Singkel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ajaran mistisnya penuh dengan dalil-dalil ortodoksi Islam, dan pada bagian-bagian tertentu menekankan serta memperbarui faktor moral asli dan kontrol diri yang puritan dalam tasawuf dengan mengorbankan ciri-ciri berlebihan dari tasawuf populer yang dianggap menyimpang (unorthodox sufism). Abdurrauf “rajin” mengurangi secara substansial ciri-ciri ekstatik yang berlebih-lebihan (extravagant) dari ajaran tasawuf, serta menekankan kepatuhan pada syariat, kendati pada saat yang sama ia juga tetap mempertahankan kaitan-kaitan doktrinalnya dengan, misalnya, Ibnu Arabi. Tidak heran jika ajaran tasawuf yang dikembangkan Abdurrauf segera menawan perhatian Sultanah penguasa Aceh secara emosional, spiritual dan intelektual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan model keilmuan yang dikembangkannya, seluruh tulisan Abdurrauf menunjukkan bahwa perhatian utamanya adalah rekonsiliasi antara tasawuf dan syariat, atau dalam istilahnya sendiri, antara ilmu batin dan ilmu lahir. Kecenderungan ini juga terlihat dari “kemauan” Abdurrauf menulis sebuah karya penting di bidang fikih (syariat), yaitu Mir’at at-Tullab. Berbeda dengan, misalnya, kitab fikih Shirat al-Mustaqim karya Nuruddin ar-Raniri, karya “pesanan” Sultanah Safiyatuddin yang rampung pada 1663 ini, tidak hanya membahas topik-topik ibadah mahdhah belaka, melainkan juga menyentuh persoalan-persoalan sosial, politik, ekonomi dan aspek keagamaan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kitab ini, antara lain, menyertakan pembahasan tentang kriteria atau syarat-syarat calon hakim (secara lebih luas, penguasa), meskipun dalam penjelasannya, Abdurrauf sedikit banyak dapat “dituduh” mengkompromikan integritas intelektualnya, lantaran ia tidak berusaha menerjemahkan kata dzakar (laki-laki) sebagai salah satu syarat menjadi penguasa, hanya karena saat itu pemerintahan dipegang oleh seorang perempuan. Padahal, pertanyaan mengenai boleh tidaknya seorang perempuan menjadi penguasa, di kalangan orang Aceh telah lama tak terpecahkan. “Tuduhan” ini tentu saja akan sedikit terbantahkan jika menyimak kebiasaan Abdurrauf —seperti halnya ulama Melayu lain, termasuk Syaikh Hamzah Fansuri dan ar-Raniri— memakai kata-kata asli bahasa Arab dalam setiap ungkapannya. Dalam &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Mir’at at-Tullab&lt;/span&gt;, misalnya, Abdurrauf tetap menggunakan kata sikkin (pisau), muhtaj (perlu),  mubarak (diberkati), mursal (yang diutus), dll. tanpa menerjemahkannya ke dalam bahasa Melayu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, sepanjang karirnya Abdurrauf “berdampingan” dengan empat penguasa perempuan: Sultanah Safiyatuddin, Sultanah Nurul ‘Alam Naqiyatuddin, Sultanah Zakiyatuddin, dan Sultanah Kamalatuddin. Tapi terlalu terburu-buru kalau penerimaan Abdurrauf atas kepemimpinan perempuan ini dikaitkan dengan integritas intelektualnya. Benar, apa pun alasannya, literatur fikih Islam, tak terkecuali Mir’at at-Tullab, lebih memandang perempuan sebagai, meminjam istilah Simone de Beauvoir, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;secondary creation&lt;/span&gt;. Yang tidak boleh dilupakan, Abdurrauf adalah juga seorang sufi. Berbeda dengan perspektif fikih, tasawuf —seperti diulas tuntas oleh Sachiko Murata (1992)— lebih memandang laki-laki dan perempuan, atau maskulitas dan feminitas, pada tataran yang sama, dengan sisi positif dan negatifnya yang saling melengkapi. Dengan pendekatan ini, tidak terlalu sulit memahami “hubungan mesra” Abdurrauf dengan penguasa perempuan, patron keilmuannya, selama empat periode, terlebih lagi jika dikaitkan dengan sikap toleran Abdurrauf, wataknya yang paling mencolok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlepas dari itu semua,  dalam konteks Melayu-Indonesia, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Mir’at at-Tullab&lt;/span&gt; merupakan kitab fiqh mu’amalat pertama yang berusaha menunjukkan kepada kaum Muslim Melayu, bahwa doktrin hukum Islam tidak terbatas pada ibadah saja, tapi mencakup seluruh aspek kehidupan sehari-hari. Meskipun kini tidak lagi digunakan, di masa lampau karya ini beredar luas, bahkan pada pertengahan abad ke-19, menjadi salah satu acuan utama hukum Islam di Maquidanao, Filipina. Untuk seorang tokoh sufi yang turut mempropagandakan ajaran wahdatul wujud, kecenderungan kuat terhadap persoalan-persoalan sosial kemasyarakatan ini memberikan “kredit poin” tersendiri. Ini menepis anggapan bahwa mempelajari nilai-nilai spiritual tasawuf berarti mengarahkan diri pada penyatuan mistis dengan Tuhan belaka, tanpa menghiraukan carut marut kehidupan di dunia fana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;“Belajar” dari Masa Lalu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Inilah sekelumit pengalaman dari khazanah keilmuan Islam di Tanah Rencong. Kita percaya, tidak setiap khazanah masa lalu lebih baik dari apa yang ada sekarang,  tapi kita pun yakin, tidak sedikit nilai berharga dari sana yang dapat menjadi sumber inspirasi masa kini dan masa depan yang lebih baik.  Bisa jadi, yang paling bijak adalah —seperti sering dikutip oleh Nurcholis Madjid— &lt;span style="font-style:italic;"&gt;al-muhâfazah ‘alâ al-qadîm ash-shâlih, wa al-akhzu bi al-jadîd al-ashlah&lt;/span&gt;. Ya, sembari menggali nilai-nilai baru yang lebih baik, kita tidak harus melupakan nilai-nilai berharga dari masa lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, "pengalaman" Abdurrauf adalah salah satu di antara sekian khazanah masa lalu kita. Tidak mustahil jika beberapa "mutiara" yang tercecer darinya dapat dimanfaatkan saat kita memasuki dan merambah dunia baru; milenium ketiga, saat kita kembali berhadapan dengan berbagai persoalan: konflik dan kekerasan yang berlatar belakang keagamaan, kekeliruan mengolah perbedaan, serta berbagai persoalan moral. Memang banyak cara untuk menemukan solusinya, siapa tahu salah satunya melalui refleksi atas nilai-nilai budaya masa lalu kita. Apalagi, wacana keilmuan semisal tasawuf yang ditawarkan Abdurrauf, kerap kali menawarkan "air" di saat dahaga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa bermaksud "mengkultuskan" khazanah masa lalu, tidak berlebihan kiranya jika imbauan, ajakan, atau seruan untuk menengok dan merefleksikan kembali nilai-nilai luhur budaya kita, harus semakin dipedulikan. Imbauan, yang oleh Abdul Hadi W.M. (1999) dirumuskan kembali sebagai Kembali ke Akar Kembali ke Sumber ini terutama seiring dengan semakin dirasakan meruyaknya nilai-nilai destruktif yang berkembang dan berpotensi merusak tatanan moral bangsa ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="javascript:window.print()"&gt;Print This Page&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;next&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/470402320472773294-7514614614614630241?l=naskahkuno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://naskahkuno.blogspot.com/feeds/7514614614614630241/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=470402320472773294&amp;postID=7514614614614630241&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/470402320472773294/posts/default/7514614614614630241'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/470402320472773294/posts/default/7514614614614630241'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://naskahkuno.blogspot.com/2010/07/tulisan-jadul-abdurrauf-singkel-ulama.html' title='Tulisan &apos;Jadul&apos;: ABDURRAUF SINGKEL, Ulama Santun dari Serambi Mekkah'/><author><name>Oman Fathurahman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12780420625889202262</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_JmYah9LAc-Y/TLnpONg6PXI/AAAAAAAASPI/COxh9AREd1Y/S220/close+up-OCIS.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_JmYah9LAc-Y/TEamwzY5jXI/AAAAAAAAR6I/cwWZj09G5nY/s72-c/masjid+aceh.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-470402320472773294.post-854995099608209044</id><published>2010-05-31T05:46:00.005+02:00</published><updated>2010-06-01T02:44:00.274+02:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Activities'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Reflection'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Manassa'/><title type='text'>Manuskrip Islam dan Nasionalisme di Abad 21</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_JmYah9LAc-Y/TAM1sDO6TzI/AAAAAAAAR6A/w6HTNprTAu0/s1600/2010-05-20-Gus-Dur-Memorial.gif"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 133px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_JmYah9LAc-Y/TAM1sDO6TzI/AAAAAAAAR6A/w6HTNprTAu0/s200/2010-05-20-Gus-Dur-Memorial.gif" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5477280602711019314" /&gt;&lt;/a&gt;Oman Fathurahman&lt;br /&gt;(Peneliti &lt;a href="http://www.ppim.or.id/"&gt;PPIM&lt;/a&gt; UIN Jakarta, Ketum &lt;a href="http://www.manassa.org/"&gt;MANASSA&lt;/a&gt;)&lt;br /&gt;---------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada 20 Mei 2010, The Wahid Institute menggelar Gus Dur Memorial Lecture (GDML) Seri ke-3, dengan tema “Islam dan Nasionalisme Abad ke-21 di Asia Tenggara”. Hadir sebagai narasumber: Taufik Abdullah, Ahmad Suaedy, dan Oman Fathurahman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di bawah ini adalah makalah yang saya presentasikan, dan versi pendeknya telah terbit di harian &lt;a href="http://koran.republika.co.id/koran/0/112014/Manuskrip_Islam"&gt;&lt;i&gt;Republika&lt;/i&gt;&lt;/a&gt;, Sabtu, 29 Mei 2010.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;---------&lt;br /&gt;Saat masih menjabat Ketua Umum Nahdlatul Ulama (NU) di awal tahun 1993, Alm. K.H. Abdurrahman Wahid, alias Gus Dur, yang difasilitasi Martin van Bruinessen dan Tim Behrend, sempat menitipkan 67 manuskrip asal pesantren-pesantren di Jawa Timur ke Perpustakaan Nasional (Perpusnas). Koleksi manuskrip Gus Dur, yang  kemudian diberi kode AW dalam katalog Tim Behrend dkk. (1998) itu, kini menjadi salah satu di antara 18 koleksi naskah Perpusnas yang ditulis dalam beragam bahasa dan aksara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu, Gus Dur menganggap bahwa Perpusnas adalah lembaga representasi Negara yang memiliki infrastruktur memadai guna pelestarian dan pemeliharaan naskah kuno. Dan saya sangat yakin bahwa di balik tindakan penitipan itu ada alasan yang dilandasi oleh sebuah kesadaran plus harapan; kesadaran bahwa naskah-naskah kuno itu perlu dilestarikan, dan harapan agar kandungan isinya dapat diakes serta dimanfaatkan oleh rakyat Indonesia, sebagai ‘ahli waris’nya, secara luas (Behrend dkk., 1998: xvi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau tidak punya ‘kesadaran’ dan ‘harapan’ seperti yang saya sebut tadi, Gus Dur bisa saja membiarkan tumpukan naskah itu di kantornya, PBNU, atau di rumahnya, seperti yang kebanyakan, kalau tidak disebut selalu, dilakukan oleh para pemilik naskah, dengan tanpa perawatan yang semestinya dilakukan terhadap benda cagar budaya rentan semisal naskah. Tapi, kalau begitu, apa gunanya untuk khalayak umum? Dan apa yang dapat dibanggakan untuk kepentingan nasional?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, soal ‘manfaat’ dan ‘kebanggaan’ itulah yang ingin saya jadikan dua kata kunci dalam diskusi tentang naskah Islam dan nasionalisme Abad ke-21 di Asia Tenggara ini, meski saya akan lebih memperdalamnya dalam konteks Indonesia saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Manuskrip dan Islam di Asia Tenggara&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Kekayaan manuskrip Nusantara, kini Asia Tenggara, pernah dilukiskan oleh Taufik Abdullah (2001: 14) sebagai buah dari ‘kegelisahan intelektual’ para cerdik cendikia masa lalu. Sebagian besar dari para penulis teks-teks Nusantara itu juga adalah dari kalangan ahli-ahli agama, guru sufi, kyai, dan para mubaligh, selain para sastrawan tentunya, yang memiliki kepedulian untuk menerjemahkan Islam dalam konteks dan bingkai budaya lokal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pun terjemah yang dimaksud di sini bukan semata alih bahasa satu teks menjadi teks baru dalam bahasa lain, melainkan lebih dari itu penerjemahan ide, gagasan, dan bahkan ideologi dari sumbernya yang dianggap ‘asing’ menjadi sumber yang diyakini sebagai ‘milik sendiri’ (lihat Chambert-Loir [peny.] 2009: …). Karenanya, khazanah manuskrip Nusantara yang kini kita miliki, dan terhubungkan dengan Islam, sedemikian dinamis dan merepresentasikan beragam ‘tafsiran’ ---dari mereka yang oleh Taufik Abdullah disebut sebagai brokers of ideas (1987: 239)--- terhadap ideologi-ideologi yang lahir dari konteks pemikiran dan budaya lain, seperti Arab, Persia, India, dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari ‘model rahim’ seperti itulah lahir apa yang dapat kita sebut sebagai manuskrip Islam Nusantara dalam jumlah yang sangat besar! Kita bisa menyebut sejumlah kelompok bahasa lokal dari berbagai etnis yang digunakan untuk menulis manuskrip-manuskrip tersebut, seperti Aceh, Bugis-Makassar Mandar, Jawa, Madura, Melayu, Minangkabau, Sasak, Sunda, Wolio, dan beberapa bahasa lainnya, di samping tentu saja bahasa Arab yang menjadi ‘induknya’ (gambaran tentang keragaman khazanah naskah Nusantara secara umum, lihat Chambert-Loir &amp;amp; Fathurahman 1999).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahasa Melayu tentu perlu disebut tersendiri, karena pada masanya digunakan sebagai lingua franca, dan menjadi penghubung antartradisi berbagai wilayah yang saat itu bagian dari kawasan Nusantara, seperti Malaysia, Patani di Thailand Selatan, Filipina, Brunei Darussalam, dan Singapura. Tak heran kemudian jika para pemimpin nasional memilih bahasa Melayu, yang kemudian ‘bermetamorfosis’ menjadi bahasa Indonesia, sebagai bahasa persatuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, tampaklah betapa manuskrip-manuskrip kita itu menggambarkan sebuah proses pribumisasi Islam pada masa lalu, mempertontonkan proses adaptasi teks-teks Arab atau Parsi menjadi teks-teks lokal, serta terkadang membuktikan adanya proses peralihan atau perubahan ide dari sumber aslinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adaptasi, peralihan, dan perubahan gagasan-gagasan dalam proses pribumisasi Islam di Nusantara itu tampaknya memang tak terelakkan: sebagian menunjukkan harmoni gagasan Islam dalam budaya lokal, terutama seperti tercermin dalam tradisi manuskrip Melayu, tetapi sebagian lain menunjukkan adanya ‘pergulatan’, kalau tidak ‘perlawanan’, seperti tampak dalam tradisi manuskrip Jawa. Kita bisa menyebut beberapa contoh seperti &lt;i&gt;Serat Cebolek&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;Serat Gotoloco&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;Serat Centini&lt;/i&gt;, dan lain-lain yang tidak hanya menggambarkan adanya islamisasi Jawa, tapi juga ‘Jawanisasi’ Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah barangkali apa yang disebut oleh Taufik Abdullah (1987: 240) sebagai ‘proses kimiawi’ islamisasi Nusantara, perpaduan antara Islam normatif dan Islam empirik yang turut menentukan diterima atau tidaknya ideologi Islam dalam sistem nilai yang telah ada sebelumnya, baik nilai agama, dalam hal ini Hindu-Budha, maupun nilai-nilai adat setempat. Sebagian dari ‘proses kimiawi’ itu tercermin dalam banyak manuskrip Nusantara, sehingga teks-teks yang terkandung di dalamnya nyaris selalu menggambarkan dinamika Islam lokal di berbagai wilayah tempat Islam berkembang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itulah saya sering menganjurkan kepada para mahasiswa dan peneliti tentang Islam Asia Tenggara umumnya, dan Indonesia khususnya, agar sering-sering melirik khazanah manuskrip Islam dalam beragam tradisi dan bahasa itu sebagai salah satu sumber kajiannya, meski tidak selalu harus menjadi filolog yang bersusah payah menyiapkan edisi teks, atau bahkan menelusuri otentisitas dan berurusan dengan hal remeh temeh lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Jaringan Ingatan Kolektif Manuskrip&lt;br /&gt;dan Nasionalisme Kultural Kita&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Kemunculan manuskrip-manuskrip Nusantara secara merata sebagai identitas kultural berbagai kelompok masyarakat etnik besar Nusantara telah membentuk sebuah jaringan ‘ingatan kolektif’ yang menghubungkan satu dengan yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manuskrip&lt;i&gt; Sabil al-muhtadin&lt;/i&gt; karya Arsyad al-Banjari dari etnis Banjar, misalnya, ditulis atas ‘inspirasi’ dari&lt;i&gt; Sirat al-mustaqim&lt;/i&gt;nya Nuruddin al-Raniri dari etnis Aceh, pun sebuah manuskrip berbahasa Maranao di Filipina menyebut ‘berhutang budi’ pada &lt;i&gt;Mir’at al-tullab&lt;/i&gt; karangan Abdurrauf al-Jawi al-Fansuri di Aceh, &lt;i&gt;Serat Menak&lt;/i&gt; dari etnis Jawa lahir sebagai resepsi atas &lt;i&gt;Hikayat Amir Hamzah&lt;/i&gt; dari etnis Melayu, manuskrip dalam tradisi Bugis-Makassar ‘mengingat’ peranan tiga ulama Minangkabau, Minangkabau ingat pada Aceh, Ternate ingat pada Makassar dan Gresik, Patani ingat pada Banjarmasin dan Palembang, Palembang ingat pada Demak, dan demikian seterusnya pola kemunculan manuskrip Nusantara ini terbentuk, transetnis dan transdaerah, sehingga khazanah manuskrip Nusantara layak dilihat sebagai cermin kesatuan dalam keragaman (&lt;i&gt;unity in diversity&lt;/i&gt;) etnis masyarakat yang sebagian besar wilayahnya kini bernama Indonesia!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manuskrip (&lt;i&gt;manuscripts&lt;/i&gt;) adalah peninggalan tertulis masa lalu yang tidak dimiliki semua negara. Beruntung bahwa Indonesia mewarisi khazanah manuskrip yang termasuk salah satu terkaya di dunia, dengan ragam bahasa dan aksara lokal yang menjadi identitas etnis masyarakat pemiliknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, rasa memiliki bangsa ini terhadap berbagai benda cagar budaya, termasuk manuskrip, sepertinya ‘masih terpendam’ jauh di bawah sadar sana. Alih-alih memikirkan pelestarian dan pengelolaannya dengan baik, ratusan ribu keping ‘harta karun’ dari perut bumi kita di Cirebon belakangan ini misalnya, malah dilelang. Jangan ditanya berapa puluh ribu manuskrip yang sudah raib berpindah tangan akibat ketidakpedulian kita, pasti tak terhitung lagi jumlahnya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasa kepemilikan itu biasanya baru terusik ketika ada pihak lain yang mengklaim hak kekayaan intelektual benda cagar budaya kita. Saat itulah nasionalisme serasa bergelora. Sayangnya tidak berlangsung lama, setelah Malaysia mengkalim Tari Pendet, setelah Pers mengekspos raibnya arca asli dari Museum Radya Pustaka dan hilangnya puluhan naskah dari Koleksi ini misalnya, apa action kita? Larut lagi dalam ketidakpedulian itu, dan bahkan memperparahnya dengan melelang 271 ribu lebih artefak budaya asal perut laut Cirebon!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal, di berbagai negara lain, kebanggaan atas artefak budaya sering dianggap sebagai pencapaian puncak peradaban, dan menjadi bagian dari aset pariwisata budaya. Miris rasanya menyaksikan pengunjung Museum di Eropa berduyun-duyun dan rela merogoh kocek Euro-nya, sekedar untuk melihat-lihat artefak budaya, yang sebagiannya justru berasal dari Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal manuskrip, seiring dengan kemajuan teknologi digital, sejumlah lembaga, universitas, dan bahkan negara, kini banyak yang menjadikan kekayaan manuskrip kunonya sebagai sarana pencitraan kredit dan identitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perpustakaan Universitas Tokyo di Jepang, Harvard, Princeton, dan Michigan di Amerika, Uni Leipzig di Jerman, serta British Library di London, adalah beberapa saja contoh kampus atau lembaga yang mendapat keuntungan kredit dan identitas akademik berkat koleksi manuskripnya yang dirawat dengan baik serta membuka akses publik melalui perpustakaan digital online. Padahal, sebagian besar koleksi mereka justru berasal dari Timur, termasuk Indonesia!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tugas yang cukup berat adalah bagaimana membangkitkan rasa kepemilikan dan kebanggaan masyarakat masa kini terhadap manuskrip Nusantara itu. Perlu ada rumusan strategi kebudayaan secara utuh yang bisa menempatkan khazanah manuskrip sebagai salah satu artefak budaya pembentuk citra dan identitas kultural yang dapat dibanggakan, mulai dari strategi pelestariannya, advokasi nilai pentingnya sebagai benda cagar budaya, hingga strategi ‘pemasarannya’ agar dikenal luas oleh dunia internasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teknologi digital dan perkembangan dunia internet sesungguhnya bisa menjadi salah satu solusi. Masyarakat dan lembaga-lembaga penyimpan naskah bisa didorong untuk melakukan preservasi digital dengan mengalihmediakan koleksi manuskripnya, dan kemudian mengelolanya dalam sebuah perpustakaan manuskrip digital (&lt;i&gt;digital manuscript library&lt;/i&gt;) yang dapat diakses secara online whenever, wherever. The World Digital Library (WDL) yang dicanangkan UNESCO pada 2009 dapat menjadi ukuran betapa masyarakat internasional akan sangat mengapresiasi adanya saling pertukaran budaya melalui ‘artefak digital’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, di satu sisi, mata dunia dapat melihat dan mengenal kekayaan khazanah keilmuan yang pernah dihasilkan oleh bangsa ini, dan di sisi lain, kita bisa sedikit mendongakkan kepala karena mampu menunjukkan harga diri sebagai bangsa berperadaban tinggi yang turut memberikan kontribusi bagi dunia kebudayaan dan keilmuan, bukan semata menjadi ‘pedagang artefak’ untuk kepentingan sesaat!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Toh sebagian manuskrip kuno kita itu juga masih banyak yang mengandung local wisdom dan mungkin berguna buat kemaslahatan khalayak. Manuskrip&lt;i&gt; Takbir gempa&lt;/i&gt; asal abad 18 yang ditemukan di Aceh atau Minangkabau misalnya, mengabarkan prakiraan-prakiraan akibat terjadinya gempa di wilayah yang memang rawan bencana ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini, akibat sejarah masa lalu, kita sudah kehilangan sejumlah besar khazanah manuskrip yang dibawa oleh orang-orang seperti Raffless yang begitu rakusnya memboyong berpeti-peti manuskrip Nusantara, kendati akhirnya terbakar dan karam di lautan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita pun seolah ‘tak berhak’ memperoleh kredit atau kebanggaan atas ribuan manuskrip Nusantara yang kini dikelola dengan sangat baik oleh lembaga-lembaga semisal Perpustakan Universitas Leiden, sehingga mendongkrak citra lembaga itu di mata internasional. Berkat manuskrip kita!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlepas dari soal keuntungan masih terawatnya manuskrip-manuskrip itu karena keunggulan teknologi dan peradaban Eropa, kini mahasiswa-mahasiswa kita terpaksa harus merogoh dana besar sekedar untuk bisa membaca bahasa dan kebudayaan mereka sendiri!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh saya tersentak ketika beberapa waktu lalu mendengar Pejabat Menteri kita malah melelang benda cagar Budaya Nasional yang disebutnya sebagai ‘tidak penting’, dan malah menganjurkan agar anak-anak kita nanti memang sebaiknya pergi ke museum-museum di Eropa saja untuk mengetahui tinggalan bersejarah itu. Pak Menteri mungkin tidak pernah mendengar keluhan mahasiswa pengkaji manuskrip, yang untuk membayar Rp. 3000,- per halaman foto kopi manuskrip, atau Rp. 35.000,- per file digital manuskrip di Perpustakaan Nasional Jakarta saja sudah merasa keberatan, apalagi untuk memburunya ke luar negeri!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita sepakat, lahirnya Budi Utomo pada 20 Mei 1908 lebih dari seabad lalu sudah menjadi mitos nasionalisme kita bersama. Tapi nasionalisme itu tidak cukup hanya dibangun bersandar pada tiang-tiang politik dan ekonomi belaka, melainkan juga di atas ‘puing-puing’ budaya yang tersisa. Kita masih perlu mengingat yang perlu diingat, melupakan yang bisa dilupakan, dari sejarah dan peradaban yang pernah kita miliki!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, manuskrip Nusantara, tidak hanya yang berisi keislaman, sesungguhnya bisa menjadi salah satu wahana kita untuk memberikan manfaat bagi khalayak, selain memupuk kebanggaan dan nasionalisme kultural kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, secara umum, memikirkan manuskrip kuno masih sering dianggap sebagai hal yang tidak menarik, tidak ‘seksis’, dan tidak populis. Meminjam ungkapan Jaya Suprana (Kompas, 24 April 2010, hlm. 7) tentang istilah sa bo dalam bahasa dialek China, manuskrip itu mungkin &lt;i&gt;bo cwan&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;bo lui&lt;/i&gt;, dan &lt;i&gt;bo jai&lt;/i&gt;, yang berarti: tidak menguntungkan, tidak komersil, dan bahkan tidak berguna alias mubazir!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, mari kita belajar dari negara-negara maju. Bangunan-bangunan tua yang dilestarikan, artefak-artefak budaya yang terawat, membawa pesan kepada kita betapa ‘onggokan benda tua’ terkadang menyimpan pesona!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teladan Gus Dur yang menitipkan khazanah manuskrip Islam pesantren ke Perpustakaan Nasional, seperti diceritakan di muka, tentu bukan tanpa cita-cita yang perlu kita wujudkan bersama. Gus Dur mungkin belum ‘tersenyum’ karena bukan saja teladannya dalam bidang yang satu ini belum terlalu digemakan, bahkan oleh kalangan pesantren atau komunitasnya di Nahdlatul Ulama (NU) sekalipun. Lebih dari itu, katalog Tim Behrend [ed.] 1998 yang mendaftarkan manuskrip-manuskrip titipannya itu pun masih belum maksimal bisa membantu mereka yang ingin menelusurinya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-----------------&lt;br /&gt;Oman Fathurahman, Koordinator ILMU (Islamic Manusript Unit), Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Jakarta; dan Ketua Umum Masyarakat Pernaskahan Nusantara (Manassa).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="javascript:window.print()"&gt;Print This Page&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;next&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/470402320472773294-854995099608209044?l=naskahkuno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://naskahkuno.blogspot.com/feeds/854995099608209044/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=470402320472773294&amp;postID=854995099608209044&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/470402320472773294/posts/default/854995099608209044'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/470402320472773294/posts/default/854995099608209044'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://naskahkuno.blogspot.com/2010/05/manuskrip-islam-dan-nasionalisme-di.html' title='Manuskrip Islam dan Nasionalisme di Abad 21'/><author><name>Oman Fathurahman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12780420625889202262</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_JmYah9LAc-Y/TLnpONg6PXI/AAAAAAAASPI/COxh9AREd1Y/S220/close+up-OCIS.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_JmYah9LAc-Y/TAM1sDO6TzI/AAAAAAAAR6A/w6HTNprTAu0/s72-c/2010-05-20-Gus-Dur-Memorial.gif' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-470402320472773294.post-8857701037336748284</id><published>2010-04-28T03:55:00.004+02:00</published><updated>2010-04-28T04:03:17.159+02:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='News'/><title type='text'>Pembroke College, Cambridge The Thesaurus Islamicus Foundation Summer Visiting Scholarship</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_JmYah9LAc-Y/S9eWBA0KTOI/AAAAAAAAR4g/Au5DquIot2E/s1600/pembroke_maknaz_crests.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 57px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_JmYah9LAc-Y/S9eWBA0KTOI/AAAAAAAAR4g/Au5DquIot2E/s200/pembroke_maknaz_crests.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5465001616980200674" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Source: &lt;a href="http://islamicmanuscript.org/grants/Scholarship.html"&gt;TIMA&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembroke College, Cambridge and the Thesaurus Islamicus Foundation invite applications from rising and established scholars of Islamic studies, with particular interests in Islamic manuscripts or art, for a Visiting Scholarship tenable at Pembroke College in the summer of 2010.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;The Visiting Scholar, who will be expected to arrive in Cambridge to attend the Sixth Islamic Manuscript Association Conference (8-10 July 2010) and annual codicology workshop, will be provided with ten weeks’ accommodation, use of a study in College and a Fellow’s social rights and privileges, including seven meals per week at High Table at Pembroke College, and full access to Cambridge’s excellent library and computing resources, as well as benefiting from contact with Cambridge’s community of scholars of Islamic literature, history and culture. The cost of international economy travel expenses to and from Cambridge are also covered by the scholarship.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Applications for the Visiting Scholarship, which should include a c.v., a statement of current research interests, a description of the research topic proposed for the period of the Visiting Scholarship, and the names of two academic referees, should be sent to Pembroke College, Cambridge, CB2 1RF (sts.staff@pem.cam.ac.uk) by 20 April 2010; informal inquiries may be addressed to Professor Charles Melville (cpm1000@cam.ac.uk).&lt;br /&gt;&lt;a href="javascript:window.print()"&gt;Print This Page&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;next&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/470402320472773294-8857701037336748284?l=naskahkuno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://naskahkuno.blogspot.com/feeds/8857701037336748284/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=470402320472773294&amp;postID=8857701037336748284&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/470402320472773294/posts/default/8857701037336748284'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/470402320472773294/posts/default/8857701037336748284'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://naskahkuno.blogspot.com/2010/04/pembroke-college-cambridge-thesaurus.html' title='Pembroke College, Cambridge The Thesaurus Islamicus Foundation Summer Visiting Scholarship'/><author><name>Oman Fathurahman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12780420625889202262</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_JmYah9LAc-Y/TLnpONg6PXI/AAAAAAAASPI/COxh9AREd1Y/S220/close+up-OCIS.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_JmYah9LAc-Y/S9eWBA0KTOI/AAAAAAAAR4g/Au5DquIot2E/s72-c/pembroke_maknaz_crests.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-470402320472773294.post-1295357802967055057</id><published>2010-04-09T05:01:00.009+02:00</published><updated>2010-04-09T06:23:42.196+02:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Posting in Bahasa'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Reflection'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Manassa'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pers Archive'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Manuscripts on News'/><title type='text'>NU dan Manuskrip Islam Pesantren</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_JmYah9LAc-Y/S76b_zLfbvI/AAAAAAAAR4Y/cTJ6hlq9dMI/s1600/IMG_2746.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 134px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_JmYah9LAc-Y/S76b_zLfbvI/AAAAAAAAR4Y/cTJ6hlq9dMI/s200/IMG_2746.JPG" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5457971318792089330" /&gt;&lt;/a&gt;Oman Fathurahman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan ini terbit di Harian &lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;a href="http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/316503/"&gt;Seputar Indonesia&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;, Jumat, 9 April 2010.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Sumber: http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/316503/&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-----------------&lt;br /&gt;Tampilnya KH Said Aqil Siradj sebagai Ketua Tanfidziyah NU dalam Muktamar di Makassar lalu memberikan harapan baru pemberdayaan dan penguatan kembali pesantren sebagai aset kultural bangsa Indonesia. Pada hari KH Said Aqil Siradj terpilih, saya kebetulan sedang berada jauh dari Makassar, tepatnya di Pesantren Sabilil Muttaqin (PSM) Takeran, Magetan, Jawa Timur. Saya, bersama-sama tim dari Masyarakat Pernaskahan Nusantara (&lt;a href="http://manassa.org/"&gt;MANASSA&lt;/a&gt;) dan Islamic Manuscript Unit (ILMU) &lt;a href="http://www.ppim.or.id/"&gt;PPIM UIN Jakarta&lt;/a&gt;, sedang ‘bercengkerama’ dengan tidak kurang dari 50an bundel tebal naskah kuno tulisan tangan (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;manuscript&lt;/span&gt;) koleksi Pesantren, yang berisi hampir seratusan teks.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Selama tiga malam kami membersihkan dan kemudian mengalihmedia digitalkan naskah-naskah kuno berusia ratusan tahun tersebut yang kondisinya sudah sangat memprihatinkan. Harapannya, teks-teks digital tersebut kelak dapat membantu ‘memperpanjang’ usia teks yang terkandung di dalamnya, kendati mungkin fisik naskahnya tidak dapat diselamatkan lagi!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beruntung, dalam waktu yang sangat pendek itu kami dapat memastikan bahwa koleksi naskah kuno PSM Takeran merupakan warisan berharga leluhur dan pendiri Pesantren sendiri, sebagian adalah buah tangan pendirinya, KH Imam Mursyid, yang ironisnya belum mendapatkan perhatian sepatutnya, bahkan dari keluarga ahli warisnya sekalipun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agenda ‘kembali ke pesantren’ yang diusung KH Said Agil Siradj tiba-tiba mengingatkan saya betapa pesantren sesungguhnya mewarisi dan memiliki khazanah naskah tulisan tangan, yang menurut Undang-undang no. 5 tahun 1992, dapat dikategorikan sebagai benda cagar budaya! Hanya orang memang lebih sering menyebut, pasti karena ketidaktahuannya, arca, masjid, makam, atau artefak lain belaka ketimbang naskah kuno, ketika menyebut soal benda cagar budaya nasional itu. Padahal, dari segi jumlah saja, naskah kuno, yang berisi rekam jejak berbagai aspek kehidupan dan tradisi masa lalu kita itu, berlipat-lipat jauh lebih banyak dalam beragam bahasa dan aksara, serta lebih rentan musnah karena bahan kertas yang digunakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum PSM Takeran, tiga pesantren lain di Jawa Timur, yakni Pesantren Langitan Tuban, Pesantren Tarbiyyah al-Talabah Lamongan, dan Pesantren Tegalsari Ponorogo juga diketahui menyimpan sekitar 300an bundel naskah, yang telah dialihmediakan oleh Tim MIPES dari Lembaga Pengkajian Agama dan Masyarakat (LPAM) Surabaya pimpinan Amiq Ahyad. Umumnya, naskah-naskah koleksi pesantren ini ditulis dalam bahasa Arab dengan terjemah antarbaris dalam bahasa Jawa dan aksara Pegon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya merasa sangat yakin, jika terus ditelusuri, masih banyak lagi pesantren-pesantren salafiyah, termasuk di luar pulau Jawa, yang menjadi ‘gudang’ penyimpanan naskah-naskah kuno bernafaskan keagamaan. Masalahnya, siapa yang peduli? Salah satunya harusnya adalah NU.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Mengapa NU? &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Tradisi tulis di kalangan masyarakat Nusantara telah terbentuk sejak ratusan tahun lalu. Kedatangan Islam telah memperkaya peradaban tulis menulis, terutama karena adanya kebutuhan pengadaan bahan ajar agama. Dan, pilihan paling mungkin saat itu adalah dengan menyalin tangan kitab-kitab rujukan berbahasa Arab, serta menyadur atau menerjemahkannya ke dalam bahasa lokal setempat. Tidak heran kemudian jika kitab-kitab, yang belakangan dikenal sebagai ‘kitab kuning’, tersebut kini banyak dijumpai dalam versi tulisan tangannya, baik sebagai milik perorangan maupun lembaga semisal pesantren.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, keluarga besar NU jelas mewarisi tradisi ini. Kitab kuning adalah pilar utama yang tidak dapat dipisahkan sebagai identitas Jamaah Nahdliyin, dan sejumlah besar substansi dari kitab kuning, khususnya dalam bahasa-bahasa lokal, seperti Melayu, Jawa, atau Sunda, terdapat dalam bentuk naskah-naskah kuno tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam konteks keilmuan Humaniora, naskah kuno adalah objek utama kajian filologi dan kodikologi. Telaah atas satu atau sekumpulan naskah sering ditempatkan dalam konteks upaya preservasi, yakni pemeliharaan dan pelestarian artefak budaya, baik preservasi fisik naskahnya maupun kandungan isinya. Seiring dengan era digital, upaya preservasi teks naskah kuno itu dilakukan melalui digitisasi, yang kemudian dilanjutkan dengan pengolahannya dalam sebuah perpustakaan naskah digital (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;digital manuscript library&lt;/span&gt;).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Trend perpustakaan digital jelas telah memikat hasrat masyarakat internasional, hingga UNESCO pun meluncurkan Program &lt;a href="http://www.wdl.org/"&gt;The World Digital Library&lt;/a&gt; (WDL) pada 2009 untuk mempromosikan sikap saling memahami dan empati terhadap budaya masing-masing suku bangsa (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;international and intercultural understanding&lt;/span&gt;) melalui teknologi digital.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sinilah salah satu agenda pemberdayaan pesantren oleh NU dapat diletakkan. Pesantren, sebagai salah satu kekuatan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;civil society&lt;/span&gt;, dapat memberikan kontribusi besar terhadap dunia akademik khususnya dengan unjuk kekayaan khazanah intelektualnya, dan memfasilitasi tersedianya akses digital tak terbatas melalui pengembangan perpustakaan naskah digital.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belakangan, di kalangan facebookers bahkan telah muncul sebuah account dengan nama ‘Nahdlatul Ulama Manuskrip’, yang secara sporadis menampilkan penggalan-penggalan foto manuskrip asal komunitas ini. Tentu saja, upaya lebih serius dan terorganisasi perlu dilakukan, bukankah santri NU mengenal ajaran &lt;span style="font-style:italic;"&gt;al-haqq bila nizam sayuglabu bil bathil ma’an nizam&lt;/span&gt; (kebaikan yang tidak terorganisasi akan kalah pamor oleh keburukan yang terorganisasi)?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya yakin, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;haqqul yaqin&lt;/span&gt;, dengan semakin terbukanya akses terhadap pesantren, terhadap khazanah keilmuannya, dan terhadap karakteristik keragaman mazhabnya, maka gagasan-gagasan multikulturalisme dan pluralisme yang memang menjadi karakter utama pesantren akan semakin dikenal khalayak nasional dan internasional, sehingga pesantren tak melulu dicurigai sebagai sarang terorisme yang mengajarkan kekerasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja NU bukan satu-satunya ahli waris pesantren salafiyah yang mewarisi khazanah naskah kuno tulisan tangan. Masih ada lembaga-lembaga pendidikan Islam tradisional lain yang memiliki kemiripan tradisi dan ideologi. Pesantren Sabilil Muttaqin Takeran di atas adalah salah satunya. Konon, PSM, yang mengaku mengembangkan penggabungan ideologi tradisionalisme dan modernisme Islam ini, memiliki sekitar 99 cabang di seluruh Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam jamuan makan siang menjelang keberangkatan kami kembali ke Jakarta, Pimpinan PSM Takeran, Ir. H. Miratul Mukminin, MM, atau yang lebih akrab dipanggil ‘Pak Amik’, berbisik bahwa ia sebetulnya masih menyimpan lebih banyak lagi naskah-naskah kuno yang sengaja dipisahkan di kamar pribadinya, karena khawatir dipelajari sembarang orang. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Tuh, kan&lt;/span&gt;!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-----------------&lt;br /&gt;Oman Fathurahman, Dosen UIN Jakarta, Ketua Umum Masyarakat Pernaskahan Nusantara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="javascript:window.print()"&gt;Print This Page&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;next&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/470402320472773294-1295357802967055057?l=naskahkuno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://naskahkuno.blogspot.com/feeds/1295357802967055057/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=470402320472773294&amp;postID=1295357802967055057&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/470402320472773294/posts/default/1295357802967055057'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/470402320472773294/posts/default/1295357802967055057'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://naskahkuno.blogspot.com/2010/04/nu-dan-manuskrip-islam-pesantren.html' title='NU dan Manuskrip Islam Pesantren'/><author><name>Oman Fathurahman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12780420625889202262</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_JmYah9LAc-Y/TLnpONg6PXI/AAAAAAAASPI/COxh9AREd1Y/S220/close+up-OCIS.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_JmYah9LAc-Y/S76b_zLfbvI/AAAAAAAAR4Y/cTJ6hlq9dMI/s72-c/IMG_2746.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-470402320472773294.post-4096100924249661756</id><published>2009-12-29T10:17:00.004+01:00</published><updated>2009-12-29T10:48:10.313+01:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Posting in Bahasa'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='News'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Activities'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Manassa'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pers Archive'/><title type='text'>Draft Wawancara dengan Republika</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_JmYah9LAc-Y/SznPEz5-T9I/AAAAAAAARPA/7Uveoc9WoLM/s1600-h/Foto+Oman.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 163px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_JmYah9LAc-Y/SznPEz5-T9I/AAAAAAAARPA/7Uveoc9WoLM/s200/Foto+Oman.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5420591308076896210" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Pada Minggu, 27 Desember 2009 lalu, Harian Republika menerbitkan transkrip wawancara tertulis dengan saya tentang naskah Nusantara (lihat &lt;a href="http://republika.co.id/koran/0/98288/DR_OMAN_FATHURAHMAN_Nasib_Manuskrip_Islam_Nusantara_Memprihatinkan"&gt;di sini&lt;/a&gt;). Saya sudah mencoba menjawab semua pertanyaan yang diajukan melalui email, karena kebetulan saya waktu itu sedang di luar kota. Mengingat keterbatasan ruang, tidak semua jawaban saya dapat dimuat di Harian tersebut. Dan karena saya terlanjur menuliskan apa yang ada dalam benak saya, saya fikir tidak ada salahnya kalau saya berbagi di sini versi aslinya yang lengkap, semoga bermanfaat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sekarang ini banyak pemerhati sejarah dan budaya Indonesia yang membincangkan warisan naskah Nusantara. Apa yang dimaksud dengan naskah Nusantara itu?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Kalau di kalangan pemerhati sejarah dan budaya, sebetulnya perbincangan tentang naskah Nusantara itu sudah lama. Mereka meyakini nilai pentingnya naskah sebagai warisan budaya. Justru yang disayangkan adalah bahwa kesadaran itu belum menjadi memori kolektif, termasuk masyarakat pemilik naskah sendiri, dan bahkan sebagian para pengambil kebijakan, sehingga upaya pelestariannya semakin jauh tertinggal dibanding negara-negara lain. Tapi saya optimis ke depan kita bisa lebih baik, apalagi mengingat berbagai advokasi yang telah dan sedang terus digiatkan oleh kawan-kawan yang tergabung dalam asosiasi Masyarakat Pernaskahan Nusantara (Manassa).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sendiri pernah membuat sebuah batasan tentang naskah Nusantara, yang oleh sebagian sarjana dianggap terlalu longgar. Tapi pertama, saya ingin sedikit menjelaskan dulu bahwa yang dimaksud naskah dalam konteks ini adalah semua karya lama yang ditulis tangan, atau yang kita kenal sebagai manuscript, handschriften, bukan naskah cetak, sedangkan Nusantara bisa merujuk pada wilayah yang sekarang ini disebut Asia Tenggara. Identitas ke-Nusantara-an bisa diketahui melalui banyak hal, pengarang, penyalin, bahasa dan aksara yang digunakan, dan lain-lain yang biasanya, meski tidak selalu, tersimpan dalam kolofon (catatan akhir) sebuah naskah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut saya, naskah Nusantara bisa mencakup 3 kategori: pertama, semua naskah yang ditulis oleh pengarang asal Nusantara, baik menggunakan bahasa-bahasa lokal Nusantara, seperti Melayu, Jawa, Sunda, Bugis, Aceh, Batak, Bali, Wolio, dll, maupun bahasa asing, seperti Arab dan Belanda; kedua, naskah karangan penulis asing, tapi disalin oleh penyalin lokal dan naskahnya banyak digunakan oleh masyarakat Nusantara; ketiga, naskah karya penulis asing, dengan bahasa asing pula, tetapi ditulis dalam konteks Nusantara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, kategori terakhir inilah yang oleh sebagian sarjana dianggap terlalu longgar. Tapi saya punya contohnya, seperti naskah Arab berjudul Ithaf al-dhaki bi-sharh al-tuhfah al-mursalah ila al-nabi karangan Ibrahim al-Kurani. Pengarangnya adalah orang Kurdi, tidak pernah singgah di Nusantara, salinan naskahnya pun tidak dijumpai di Nusantara, tapi ia menulis karya untuk merespon konflik sosial keagamaan di dunia Melayu-Nusantara atas permintaan salah seorang muridnya di Aceh pada abad ke-17, Syaikh Abdurrauf ibn Ali al-Jawi al-Fansuri (1615-1693). Bukan tidak mungkin ada beberapa naskah sejenis, mengingat hubungan kuat dunia Melayu-Nusantara masa lalu dengan dunia Islam khususnya, seperti ditunjukkan dalam tesis Azyumardi Azra tentang Jaringan Ulama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Disiplin apa saja yang termuat dalam naskah Nusantara?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Beragam sekali. Bayangkan bahwa naskah Nusantara adalah rekaman kehidupan sehari-hari masyarakat masa lalu, jadi semuanya serba ada, mulai dari yang ‘biasa-biasa’ saja sampai yang dianggap akademis. Ada adat istiadat, hukum, aktifitas sosial, ekonomi, politik, agama, hingga primbon dan mujarobat, bahkan ada juga naskah tentang takwil gempa. Naskah kan lahir pada masa transisi antara tradisi lisan dan tradisi cetak masyarakat Nusantara, jadi hanya naskah media setiap orang berekspresi saat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam konteks keagamaan (baca: Islam), kita bisa menjumpai naskah-naskah al-Quran, tafsir, hadis, fikih, tauhid, tasawuf, bahasa, sastra, yang beberapa di antaranya bisa disebut sebagai ‘yang pertama’, tafsir Melayu pertama, hadis Melayu pertama, fikih Melayu pertama, dan seterusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kira-kira berapa persen jumlah naskah yang termaktub dengan tulisan Arab Jawi dibandingkan dengan yang tertulis dalam huruf Jawa atau lainnya?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Saya tidak bisa menyebut angka pasti, tapi jelas sangat dominan, karena tulisan Arab Jawi, dan juga Arab Pegon (untuk bahasa Jawa dan Sunda), atau Arab Serang (untuk bahasa Bugis-Makassar) dalam banyak hal telah menggantikan peran aksara-aksara Nusantara lainnya sejak abad ke-14, dan semakin berpengaruh di seantero Nusantara seiring dengan proses islamisasi. Aksara Jawi datang bersama ideologi Islam masa itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu bukan berarti aksara Nusantara lain sudah tidak dipakai sama sekali, tapi perbandingannya mungkin bisa 70:30. Tapi ini baru prakiraan saja, kita belum bisa menghitungnya dengan pasti. Saat ini Puslitbang Lektur Keagamaan Depag, bekerja sama dengan Islamic Manuscript Unit (ILMU) PPIM UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan Manassa sedang menyusun sebuah database lengkap untuk naskah-naskah Islam Nusantara, saya yakin kelak kita akan bisa tahu, berapa prosen jenis aksara atau bahasa tertentu digunakan, dan masih banyak info lain akan kita dapatkan melalui database ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Siapa yang mempelopori penulisan huruf Arab Jawi di Nusantara?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Kalau siapa dalam pengertian orang, agak sulit diketahui. Sejauh ini berbagai kajian tentang aksara Jawi belum sampai pada kesimpulan siapa tokoh yang memulai, bahkan bagaimana ceritanya sampai ada tambahan enam huruf selain huruf Arab pun masih belum terlalu jelas, mungkin ada pengaruh Persia juga. Tapi hampir semua sepakat bahwa perkembangan awalnya tidak dapat dilepaskan dari tumbuhnya komunitas Muslim Melayu Nusantara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Bisa Anda ceritakan bagaimana proses peralihan penulisan dari teks-teks berbahasa Sanskerta ke bahasa-bahasa yang menggunakan huruf Arab Jawi?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Saya kira ini ada kaitannya dengan sejarah budaya terjemahan di Nusantara. Terjemahan yang saya maksud bukan sekedar peralihan dari satu bahasa ke bahasa lain, aksara ke aksara lain, melainkan juga diiringi peralihan agama ke agama lain. Tentang hal ini saya banyak terinspirasi sebuah buku baru berjudul Sadur, tentang sejarah terjemahan di Indonesia dan Malaysia, buah suntingan Henri Chambert-Loir (2009).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menjelaskan bahwa gelombang pertama sejarah terjemahan adalah ketika teks-teks India berbahasa Sanskerta membuka dan memulai lembaran sejarah terjemahan di Nusantara, lebih dari seribu tahun lalu (tahun 900-an). Pada masa ini, Hindu-Budha pun menjadi agama mayoritas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada gelombang kedua, tradisi tulis dan terjemahan di Nusantara dipengaruhi teks-teks asing Islam berbahasa Arab, dan mulai saat itulah masyarakat Nusantara lebih gemar menulis dengan aksara Arab, yang kemudian dimodifikasi menjadi Jawi dan Pegon untuk menyesuaikan dengan bunyi vokal bahasa lokal setempat. Kegemaran ini muncul seiring peralihan agama mayoritas, dari Hindu-Budha ke Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uniknya, ketika pada abad ke-19 aksara Jawi mulai tergantikan oleh aksara Latin akibat derasnya desakan Kolonialisme dan misionaris Kristen, pola lama tidak terjadi, peralihan aksara itu, misalnya, tidak diiringi dengan peralihan agama secara masif dari Islam ke Kristen yang banyak dianut oleh masyarakat Barat. Justru agama Islam semakin terkonsolidasi dalam melakukan perlawanan, meski aksara Jawi tetap semakin terpingirkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Seberapa luas persebaran naskah-naskah Islam Nusantara? Dan bagaimana pengaruhnya terhadap pengetahuan dan perilaku keagamaan pada waktu itu?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; Sangat luas, dari ujung Barat sampai Timur Nusantara. Ini terkait dengan persebaran Islam itu sendiri. Sebuah teks Islam tertentu bahkan diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa, mulai dari Arab, Melayu, Jawa, Sunda, Wolio, dan lainnya. Dan dalam setiap proses penerjemahan itu selalu ada unsur lokal yang tersimpan, sehingga naskah-naskah tersebut menjadi sumber lokal unik untuk merekonstruksi sejarah sosial intelektual Islam di wilayah yang melahirkannya. Ini tentu menggambarkan seberapa jauh pengaruhnya terhadap pengetahuan dan perilaku keagamaan saat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sebagian naskah termaktub dalam tulisan Arab Jawi dan Pegon. Mengapa ulama atau intelektual Muslim Nusantara masa lalu lebih memilih huruf Arab Jawi dan Pegon ketimbang huruf Jawa atau huruf lain dalam menyampaikan ide-idenya?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Salah satunya karena aksara Jawi dan Pegon dianggap lebih efektif dan lebih mudah dibaca oleh masyarakat Muslim saat itu. Bukankah semua umat Islam, anak kecil sekalipun, diajarkan untuk bisa membaca al-Quran yang beraksara Arab? Meski harus saya katakan bahwa tidak semua mereka yang bisa membaca aksara Arab otomatis mampu membaca aksara Jawi, atau sebaliknya, tapi setidaknya pasti akan lebih mudah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Peralihan tradisi tulis dengan huruf Jawa/bahasa Sanskerta menjadi huruf Arab Jawi tentu saja menyebabkan terjadinya perubahan pola pikir masyarakat (dari pola pikir yang bercirikan Hindu Buddha menjadi Islam). Bagaimana ciri-ciri perubahan itu?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Salah satu cirinya mungkin dari karya-karya yang dihasilkan. Jika sebelumnya banyak karya bercirikan doktrin dan semangat teologi Hindu-Budha, maka seiring peralihan tradisi tulis ke aksara Jawi itu, banyak karya, seperti hikayat dan babad, yang “di-Islam-kan”. Tapi hebatnya masyarakat Nusantara, peralihan pola fikir itu juga tidak terjadi secara radikal, melainkan lebih kultural, tak heran jika karakter masyarakat Muslim Indonesia cenderung lebih akomodatif dan adaptif terhadap tradisi lokal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tradisi penulisan dengan huruf Jawi sendiri akhirnya nyaris punah, akibat dari lemahnya kesadaran untuk melestarikan warisan budaya Indonesia. Pendapat Anda? &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Saya kira banyak faktor yang menyebabkannya. Pada masa Kolonialisme, Islam kan diidentikkan dengan perlawanan, sementara aksara Jawi kadung dianggap sebagai bagian dari identitas tradisi dan budaya masyarakat Muslimnya. Karenanya, saat itu, Kolonialisme cenderung mengurangi apapun yang  berbau Islam, termasuk pengaruh penggunaan aksara Jawi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faktor lain adalah globalisasi, yang menyebabkan aksara Jawi tidak lagi fungsional. Siapa sekarang ini yang mau berkirim surat dalam aksara Jawi?&lt;br /&gt;Bahwa perlu ada kesadaran untuk melestarikan aksara Jawi sebagai warisan budaya Indonesia, itu hal lain. Salah satu rekomendasi Simposium Internasional Manassa ke-12 di Bandung, Agustus 2008 lalu adalah juga himbauan agar ada gerakan  budaya Nasional untuk melestarikan aksara-aksara lokal termasuk Jawi dan Pegon. Tapi ini perlu dukungan Pemerintah yang memiliki infrastruktur tentunya. Kalau tidak, tidak lama lagi aksara Jawi akan asing sama sekali di telinga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Jepang dan China adalah dua bangsa dari beberapa bangsa yang mampu mempertahankan warisan budayanya, termasuk warisan tulisannya. Hingga sekarang karakter budaya mereka begitu kuat. Ini berbeda dengan bangsa Indonesia yang mengubah tulisannya dengan huruf latin. Nah, apakah ada keterputusan pengetahuan dan budaya, dari masa perkembangan Islam ke era modern, akibat dari pergantian tulisan itu?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Saya kira kasus China dan Jepang berbeda dengan Nusantara. Mereka memang konsisten dan bisa sangat nasionalis dengan aksaranya. Tapi jangan lupa, Jepang hanya punya aksara Kanji, yang berkembang menjadi Hiragana dan Katakana saja. Itu pun memiliki akar yang sama dengan aksara China. Sementara masyarakat Nusantara, yang terdiri dari berbagai etnis, pada masa lalu memiliki ratusan jenis aksara: Pallawa, Jawi, Pegon, Hanacaraka, Cacarakan, Rejang, Rencong, Serang, KaGaNga, dll. Bayangkan, jenis aksara mana dan milik etnis siapa yang bisa dipilih atas nama nasionalisme dan pertahanan warisan budaya? Sama halnya dalam hal bahasa, pilihan bangsa ini untuk menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu, dan meninggalkan salah satu dari dua puluhan bahasa etnis yang ada, adalah satu pilihan dengan latar belakang kultural dan konteks politik yang tak terhindarkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Bagaimana nasib naskah-naskah Nusantara sekarang ini? &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Nah, ini yang memprihatinkan. Sebagai orang lapangan, saya tahu persis bagaimana kondisi fisik naskah-naskah Nusantara kita itu terabaikan dan bertambah rusak, bahkan pada setiap detik saat kita membicarakannya. Ini terjadi terutama dalam kasus naskah-naskah yang tersimpan di tangan masyarakat. Mengapa? Karena itu tadi, tingkat kesadaran masyarakat akan nilai pentingnya benda cagar budaya tersebut masih sangat rendah, termasuk jika dibandingkan dengan tingkat kesadaran terhadap artefak-artefak arkeologis seperti arca, makam, prasasti, dan lain-lain. Kondisi ini diperparah oleh infrastruktur konservasi dan restorasi yang belum maksimal, termasuk di lembaga-lembaga Pemerintah, seperti Perpustakaan dan Museum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi saya tetap optimis bahwa ke depan akan lebih baik, karena sebetulnya kita juga tidak tinggal diam sama sekali. Perpusnas juga sangat berperan besar dalam hal pemeliharaan naskah Nusantara. Ditambah bahwa dalam lima tahun belakangan ini, asosiasi Manassa sendiri banyak melakukan kerja sama dengan lembaga-lembaga internasional, seperti C-DATS Tokyo University of Foreign Studies (TUFS) atau Leipzig University, Jerman, serta lembaga-lembaga lokal lain untuk melakukan upaya penyelamatan naskah Nusantara. Umumnya ada dua pola pelestarian yang kami lakukan: pertama, pelestarian fisik naskahnya melalui konservasi dan restorasi; kedua, pelestarian teks-teksnya melalui upaya alih media digital.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu contoh terbaik adalah Program Restorasi dan Digitalisasi Naskah Aceh, hasil kerja sama Museum Aceh, Yayasan Ali Hasjmy, PKPM Aceh, Manassa, dan Leipzig University. Sejak 2007 sampai akhir 2009 ini sudah lebih dari 1.989 naskah yang direstorasi, dan 1.223 naskah yang didigitalisasi. Lebih dari itu, kelak semua halaman naskah Aceh tersebut akan dapat dibaca dan dimanfaatkan untuk kepentingan akademis dan penelitian melalui sebuah portal online. Menurut informasi dari Dr. Thoralf Hanstein, Koordinator Program dari Leipzig University, Jerman, upaya pelestarian naskah Nusantara tersebut akan merambah ke koleksi Kraton Jogjakarta, Museum Sonobudoyo, dan koleksi-koleksi lain di Surakarta mulai 2010.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini berarti bahwa meskipun pada suatu saat fisik naskah-naskah Nusantara itu secara alami akan musnah, setidaknya teks-teks yang terkandung di dalamnya akan tetap dapat diwariskan dari generasi ke generasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Apa upaya-upaya yang telah dilakukan atau strategi apa yang sebaiknya dilaksanakan, baik oleh pemerintah, akademisi, peneliti, maupun LSM, untuk menyelamatkan naskah-naskah Nusantara?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Saya kira kita harus menyamakan persepsi dulu bahwa naskah Nusantara, yang sudah dijamin oleh Undang-undang Cagar Budaya nomor 5 tahun 1992 ini adalah artefak budaya yang penting dilestarikan, karena menyangkut bagian dari sejarah peradaban dan kebudayaan masa lalu kita. Kalau ini sudah disadari, action nya lebih gampang. Tidak akan terjadi lagi heboh jual beli naskah ke luar Negeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khusus bagi Pemerintah, saya kira masih perlu memfasilitasi berbagai fasilitas preservasi naskah Nusantara. Saya sering bermimpi bahwa di level Nasional, mestinya ada semacam Pusat Penelitian Naskah Nusantara, semacam Pusat Arkeologi Nasional yang sudah kita miliki. Memang sudah ada Perpusnas dan Arsip Nasional, tapi kedua lembaga ini kan lebih menonjol aspek preservasi fisik naskahnya, tidak pada aspek pengkajian dan penelitiannya, meski dalam level tertentu dua hal yang disebut terakhir juga dilakukan. Saya yakin, lembaga semacam Puslit Arkenas itu bisa mempercepat dan mengejar ketertinggalan kita dalam hal upaya pelestarian naskah-naskah Nusantara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi kalangan akademisi, naskah Nusantara sudah seyogyanya dijadikan sebagai salah satu sumber primer kajian, dalam disiplin ilmu apapun, bahkan termasuk kedokteran misalnya, karena kandungan isi naskah Nusantara sungguh sangat beragam. Jika sudah demikian, pasti masyarakat akan dapat merasakan manfaat naskah kuno tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Apa pengaruh naskah-naskah Nusantara itu bagi kehidupan sosial dan keagamaan masyarakat Indonesia modern?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Konon, sejarah katanya kan tidak pernah mati, siklus kehidupan seringkali berputar dan berulang-ulang. Nah, saya kira kita bisa banyak belajar dari kearifan lokal masa lalu yang terkandung dalam naskah-naskah tersebut, dari apa yang pernah terjadi pada, mungkin menyangkut resolusi konflik, penyelesaian masalah adat, masalah sosial keagamaan, dll. Itu memang tergantung pada kemampuan kita menarik benang merah antara masa lalu dan masa kini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Apa kendala dan tantangan untuk merevitalisasi naskah Nusantara?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Saya kira yang paling menantang adalah bagaimana kita bisa menghubungkan pentingnya kandungan isi naskah Nusantara itu dengan konteks kekinian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Bagaimana kepedulian generasi muda terhadap naskah-naskah Islam Nusantara?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Tergantung ukurannya. Secara keseluruhan memang masih jauh dari memuaskan. Tapi sebetulnya dalam beberapa tahun belakangan sudah terjadi banyak kemajuan, terutama di kalangan perguruan tinggi semacam UIN atau IAIN yang mulai menjadikan naskah Nusantara keagamaan sebagai bahan primer penelitiannya. Di Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta misalnya, saat ini sudah ada konsentrasi filologi Islam, beasiswa hasil kerja sama dari Puslitbang Lektur Keagamaan, Badan Litbang dan Diklat, Departemen Agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Apa pentingnya, bagi suatu bangsa menyelamatkan dan mengenalkan naskah-naskah kuno?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Naskah kuno kan salah satu bagian dari identitas setiap bangsa. Bukan kita saja yang mewarisi artefak semisal naskah kuno ini. Jika kita tidak peduli menyelamatkannya, kita akan kehilangan salah satu identitas budaya sendiri. Bahkan kalau melihat trend internasional saat ini, penyelamatan dan pengenalan naskah kuno sebetulnya sudah menjadi kesadaran kolektif masyarakat dunia, terutama melalui teknologi digital yang berkembang sedemikian pesat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Seberapa banyak naskah-naskah Islam Nusantara yang punah dan dapat terselamatkan?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Wah, itu pertanyaan sulit. Dan masalahnya bukan hanya naskah Islam saja yang musnah. Penyebab kerusakan naskah kan bermacam-macam. Sebagian karena kelembaban udara, terendam air, kebakaran, gigitan serangga, atau bencana alam. Tapi penyebab paling dahsyat tentu akibat ketidakpedulian manusia itu sendiri. Bayangkan ketika terjadinya Tsunami di Aceh, gempa di Jogjakarta, Jawa Barat, Minangkabau. Semua wilayah itu kan kantong-kantong naskah Nusantara, di mana masyarakat banyak menyimpan naskah sebagai properti pribadi atau komunitas. Di Aceh, ratusan koleksi Pusat Dokumentasi dan Informasi Aceh (PDIA) bahkan dipastikan musnah tak tersisa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Bagaimana perhatian Pemerintah terhadap keberadaan naskah-naskah Islam Nusantara?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Saya kira banyak kemajuan. Perpusnas juga sudah melakukan banyak program, meski masih terus harus disempurnakan. Sejak tahun 2003, Puslitbang Lektur Keagamaan, Badan Litbang dan Diklat Departemen Agama juga telah mejadikan program pernaskahan keagamaan Nusantara sebagai bagian dari program melekatnya. Cuma, sesuai dengan kapasitasnya, Lembaga ini kan hanya bisa fokus pada aspek penelitian teks-teksnya saja, tidak sampai pada upaya konservasi dan restorasi yang memang bukan bidangnya. Itu pun fokus hanya naskah-naskah keagamaan, padahal naskah Nusantara bukan hanya identik dengan keagamaan saja, terlalu banyak dan penting bidang pengetahuan lainnya yang juga perlu diperhatikan.&lt;br /&gt;---------------------&lt;br /&gt;Oman Fathurahman, Ketua Umum Masyarakat Pernaskahan Nusantara (Manassa), dan Peneliti di PPIM UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Dapat dihubungi melalui email: omanwae@yahoo.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="javascript:window.print()"&gt;Print This Page&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;next&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/470402320472773294-4096100924249661756?l=naskahkuno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://naskahkuno.blogspot.com/feeds/4096100924249661756/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=470402320472773294&amp;postID=4096100924249661756&amp;isPopup=true' title='5 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/470402320472773294/posts/default/4096100924249661756'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/470402320472773294/posts/default/4096100924249661756'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://naskahkuno.blogspot.com/2009/12/draft-wawancara-dengan-republika.html' title='Draft Wawancara dengan Republika'/><author><name>Oman Fathurahman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12780420625889202262</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_JmYah9LAc-Y/TLnpONg6PXI/AAAAAAAASPI/COxh9AREd1Y/S220/close+up-OCIS.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_JmYah9LAc-Y/SznPEz5-T9I/AAAAAAAARPA/7Uveoc9WoLM/s72-c/Foto+Oman.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-470402320472773294.post-8829413472214281319</id><published>2009-11-04T23:47:00.007+01:00</published><updated>2009-11-08T23:44:04.524+01:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='News'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Activities'/><title type='text'>The Significance of Printed Kitabs Catalogue for Strenghtening Southeast Asian Islamic Studies</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_JmYah9LAc-Y/SvILIQDJ3WI/AAAAAAAAROk/NS3a-1Q_oYw/s1600-h/cover+kitab+Sophia+collection.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 140px; height: 200px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_JmYah9LAc-Y/SvILIQDJ3WI/AAAAAAAAROk/NS3a-1Q_oYw/s200/cover+kitab+Sophia+collection.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5400391139545701730" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Southeast Asian Islamic Studies is certainly a very interesting and of course important field of study especially due to the large number of Moslems living in the region. To some extent, however, Islam in Southeast Asia is still considered as peripheral because, empirically speaking, it is very much different from the phenomena of Islam in the Arabian Peninsula, North Africa and Iran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Referring to the existing databases for Islamic world, one is impressed that Southeast Asian countries like Indonesia are not yet considered as one of important Islamic regions in the world. In fact, rarely known is the fact that Southeast Asian Muslims inherited such a great writing tradition established since the 17th century that the region is called the cradle of Islam. The written treasury (manuscripts and printed &lt;span style="font-style: italic;"&gt;kitab&lt;/span&gt;s) made by the ulamas and Muslim authors in the past are undoubtedly strong evidences that Southeast Asia can definitely be considered as one of world centers for Islamic studies.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;The kitab printing and publishing activities in the Middle East and then in Southeast Asia greatly contributed to wide spreading of the kitabs in pesantrens in the late nineteenth century, substantiating the established ‘ulama network of the period (Burhanudin 2007: 83).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;There is no doubt, then, that printed &lt;span style="font-style: italic;"&gt;kita&lt;/span&gt;bs written by those ulamas are one of the important variables for doing research on Southeast Asian Islam. The problem is that the printed &lt;span style="font-style: italic;"&gt;kitab&lt;/span&gt;s themselves are thousands in number, and not so easy to locate and investigate by students and scholars. A comprehensive catalogue is highly needed. Information of printed &lt;span style="font-style: italic;"&gt;kitab&lt;/span&gt;s made by Berg (1886) and Bruinessen (1990) are no longer sufficient.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The catalogue of Southeast Asian printed &lt;span style="font-style: italic;"&gt;kitab&lt;/span&gt;s being developed by the Sophia University will play an important role in the context of study of Islam in the region. The Catalogue would be certainly a first “gateway” for all scholars of Southeast Asian Islamic Studies who are keen to see the characteristics of local Islam through the exploration of ulamas’ works in the past. It is due to the fact that this Catalogue includes thousands printed &lt;span style="font-style: italic;"&gt;kitab&lt;/span&gt;s used by Muslim community in the region. Some of the printed &lt;span style="font-style: italic;"&gt;kitab&lt;/span&gt;s are originated from manuscripts written since 17th century. Hopefully, in the future, this Catalogue could be accessed online by the public anytime and anywhere, so that the Catalogue will significantly contribute to strengthening studies on Southeast Asian Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Considering a huge number of Southeast Asian printed &lt;span style="font-style: italic;"&gt;kitab&lt;/span&gt;s, the Project of developing this Catalogue should be carried out continuously, and may be published in several volumes.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="javascript:window.print()"&gt;Print This Page&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;next&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/470402320472773294-8829413472214281319?l=naskahkuno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://naskahkuno.blogspot.com/feeds/8829413472214281319/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=470402320472773294&amp;postID=8829413472214281319&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/470402320472773294/posts/default/8829413472214281319'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/470402320472773294/posts/default/8829413472214281319'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://naskahkuno.blogspot.com/2009/11/significance-of-catalogue-of-southeast.html' title='The Significance of Printed Kitabs Catalogue for Strenghtening Southeast Asian Islamic Studies'/><author><name>Oman Fathurahman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12780420625889202262</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_JmYah9LAc-Y/TLnpONg6PXI/AAAAAAAASPI/COxh9AREd1Y/S220/close+up-OCIS.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_JmYah9LAc-Y/SvILIQDJ3WI/AAAAAAAAROk/NS3a-1Q_oYw/s72-c/cover+kitab+Sophia+collection.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-470402320472773294.post-759413189876442572</id><published>2009-10-23T05:33:00.001+02:00</published><updated>2009-10-23T05:36:20.496+02:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='News'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Book'/><title type='text'>Catalogue of Arabic Manuscripts</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_JmYah9LAc-Y/SuEkkiwtMzI/AAAAAAAAROc/gwmJaZLA8is/s1600-h/Perho_sample.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 113px; height: 179px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_JmYah9LAc-Y/SuEkkiwtMzI/AAAAAAAAROc/gwmJaZLA8is/s200/Perho_sample.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5395634038791549746" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;This latest set of 3 books, cataloging the Arabic material at the Royal Library, Copenhagen, describes 356 manuscripts including the latest acquisitions.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;47 manuscripts are here described for the first time, whereas 309 manuscripts have been described in a Latin catalogue printed in 1851. In the new catalogue the mss are described in English and with more detailed information.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;The acquisition history of the collection reaches from the 17th century to the present day and the manuscripts reflect the interests of both scholars and book collectors. The oldest manuscripts are Qur’an fragments written on parchment in Kufi script, dating from the 9th century and the most recent manuscript is a collection of Sufi texts copied in 1905.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="javascript:window.print()"&gt;Print This Page&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;next&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/470402320472773294-759413189876442572?l=naskahkuno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://naskahkuno.blogspot.com/feeds/759413189876442572/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=470402320472773294&amp;postID=759413189876442572&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/470402320472773294/posts/default/759413189876442572'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/470402320472773294/posts/default/759413189876442572'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://naskahkuno.blogspot.com/2009/10/catalogue-of-arabic-manuscripts.html' title='Catalogue of Arabic Manuscripts'/><author><name>Oman Fathurahman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12780420625889202262</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_JmYah9LAc-Y/TLnpONg6PXI/AAAAAAAASPI/COxh9AREd1Y/S220/close+up-OCIS.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_JmYah9LAc-Y/SuEkkiwtMzI/AAAAAAAAROc/gwmJaZLA8is/s72-c/Perho_sample.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-470402320472773294.post-7212490173585097481</id><published>2009-10-16T09:36:00.002+02:00</published><updated>2009-10-16T09:40:40.680+02:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='News'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Activities'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Manassa'/><title type='text'>Simposium Internasional Pernaskahan Nusantara ke-13: Call for Papers</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_JmYah9LAc-Y/StgjRnRDSOI/AAAAAAAAROU/DYvWXfGcA6Y/s1600-h/logo%2Bmanassa.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 147px; height: 103px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_JmYah9LAc-Y/StgjRnRDSOI/AAAAAAAAROU/DYvWXfGcA6Y/s200/logo%2Bmanassa.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5393099339281418466" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Call for Papers&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Simposium Internasional Pernaskahan Nusantara ke-13&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AKSES DAN IDENTITAS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masyarakat Pernaskahan Nusantara (Manassa)&lt;br /&gt;Bekerja sama dengan&lt;br /&gt;Fakultas Sastra dan Seni Rupa, Universitas Sebelas Maret&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Solo, 27-29 Juli 2010&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masyarakat Pernaskahan Nusantara (Manassa), bekerja sama dengan Fakultas Sastra dan Seni Rupa, Universitas Sebelas Maret, akan menyelenggarakan Simposium Internasional Pernaskahan Nusantara ke-13. Kegiatan tersebut akan diselenggarakan di Solo, Jawa Tengah pada tanggal 27-29 Juli 2010.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami mengundang para peneliti, pengkaji, dan pemerhati naskah Nusantara untuk menjadi pemakalah dalam kegiatan tersebut dengan mengirimkan abstraknya terlebih dahulu. Semua abstrak yang masuk akan diseleksi oleh tim akademik Manassa, dan dipilih sejumlah makalah yang sesuai dengan tema Simposium, yakni AKSES dan IDENTITAS.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Abstrak makalah dapat dikirim ke email Manassa dengan alamat: manassapusat@yahoo.com, dan harus sudah diterima paling lambat tanggal 26 Maret 2010. Semua abstrak yang masuk akan diseleksi oleh tim akademik Manassa, dan hasilnya diumumkan 1 (satu) bulan berikutnya, atau tanggal 26 April 2010.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi mereka yang diterima sebagai calon pemakalah diharuskan mengirimkan makalah lengkapnya paling lambat sebulan sebelum Simposium, yakni tanggal 26 Juni 2010, dan akan mendapatkan fasilitas akomodasi serta konsumsi selama kegiatan berlangsung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENJELASAN TEMA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AKSES, merupakan kata kunci yang akan mencakup topik-topik upaya penelusuran, pencatatan, bacaan, kajian, dan upaya pelestarian naskah-naskah Nusantara. Dengan sendirinya, hal-hal yang meniscayakan terciptanya akses tersebut perlu diupayakan dan terus dilakukan, seperti digitalisasi dan restorasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;IDENTITAS, merupakan kata kunci yang akan mencakup topik-topik tentang berbagai upaya membangkitkan kesadaran kolektif bangsa Indonesia bahwa naskah-naskah kuno adalah benda cagar budaya yang perlu dijaga, dilestarikan, dan diwariskan dari generasi ke generasi, untuk memberikan kontribusi terhadap pengembangan wacana dan keilmuan masyarakat Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui dua tema di atas, diharapkan bahwa kandungan isi naskah-naskah kuno Nusantara tersebut dapat selalu turut memberikan respon terhadap kebutuhan keilmuan masyarakat kekinian, dan tidak terisolir sebagai “benda tak berharga”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MAKSUD DAN TUJUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Simposium ke-13 Solo ini bertujuan, antara lain, untuk:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Mendiskusikan dan merumuskan berbagai teknik pemeliharaan dan pelestarian naskah-naskah Nusantara, termasuk restorasi dan konservasi, baik melalui teknologi modern maupun tradisional, yang dihubungkan dengan sifat serta kelembaban alam di Asia Tenggara;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Mencari solusi agar upaya restorasi dan konservasi naskah-naskah Nusantara dapat dilakukan dengan mudah, tidak selalu tergantung pada bahan-bahan dari luar negeri;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Merumuskan strategi dan teknik digitalisasi naskah Nusantara, baik yang dilakukan di lembaga penyimpanan naskah maupun di masyarakat;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Memetakan serta menghimpun informasi mutakhir dan menyeluruh tentang berbagai aktifitas, di Indonesia khususnya, dan di Mancanegara umumnya, yang berkaitan dengan naskah-naskah Nusantara;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Mendorong berbagai kajian atas naskah-naskah Nusantara yang dapat memberikan kontribusi terhadap wacana dan pengetahuan keilmuan masyarakat dalam konteks kekinian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Membangun kesadaran di kalangan masyarakat bahwa naskah-naskah Nusantara merupakan benda cagar budaya dan identitas bangsa yang perlu dilestarikan, serta kandungan pengetahuan dan kearifan di dalamnya perlu disosialisasikan kepada, serta dapat diakses oleh, dunia keilmuan secara terbuka;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;INFORMASI LAIN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua informasi lain berkaitan dengan Simposium ke-13 ini, termasuk hal yang berkaitan dengan syarat keikutsertaannya, akan diinformasikan kemudian melalui situs Manassa di http://www.manassa.org.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="javascript:window.print()"&gt;Print This Page&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;next&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/470402320472773294-7212490173585097481?l=naskahkuno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://naskahkuno.blogspot.com/feeds/7212490173585097481/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=470402320472773294&amp;postID=7212490173585097481&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/470402320472773294/posts/default/7212490173585097481'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/470402320472773294/posts/default/7212490173585097481'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://naskahkuno.blogspot.com/2009/10/simposium-internasional-pernaskahan.html' title='Simposium Internasional Pernaskahan Nusantara ke-13: Call for Papers'/><author><name>Oman Fathurahman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12780420625889202262</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_JmYah9LAc-Y/TLnpONg6PXI/AAAAAAAASPI/COxh9AREd1Y/S220/close+up-OCIS.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_JmYah9LAc-Y/StgjRnRDSOI/AAAAAAAAROU/DYvWXfGcA6Y/s72-c/logo%2Bmanassa.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-470402320472773294.post-3339892157437565400</id><published>2009-10-15T09:01:00.005+02:00</published><updated>2009-10-15T09:08:06.805+02:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='News'/><title type='text'>The Sixth Islamic Manuscript Conference</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_JmYah9LAc-Y/StbJ9HKZ-HI/AAAAAAAARIo/iNohOWq2_LA/s1600-h/tima-logo.png"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 242px; height: 78px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_JmYah9LAc-Y/StbJ9HKZ-HI/AAAAAAAARIo/iNohOWq2_LA/s200/tima-logo.png" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5392719655554644082" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Source: &lt;a href="http://www.islamicmanuscript.org/conferences/2010conference/SixthIslamicManuscriptConference.html"&gt;TIMA&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The Sixth Islamic Manuscript Conference&lt;br /&gt;Central Asian Islamic Manuscripts &amp;amp; Manuscript Collections&lt;br /&gt;8-10 July 2010, Queens' College, University of Cambridge&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The Islamic Manuscript Association is pleased to announce that the Sixth Islamic Manuscript Conference will be held at Queens' College, University of Cambridge from 8-10 July 2010.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The Conference will be hosted by the Thesaurus Islamicus Foundation, the Cambridge Central Asia Forum, and the Prince Alwaleed Bin Talal Centre of Islamic Studies, University of Cambridge.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;The theme of the Conference will be Central Asian Islamic manuscripts and manuscript collections.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The Islamic Manuscript Association is now accepting abstract submissions for this conference. The deadline for abstract submissions is 31 January 2010.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="javascript:window.print()"&gt;Print This Page&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;next&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/470402320472773294-3339892157437565400?l=naskahkuno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://naskahkuno.blogspot.com/feeds/3339892157437565400/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=470402320472773294&amp;postID=3339892157437565400&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/470402320472773294/posts/default/3339892157437565400'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/470402320472773294/posts/default/3339892157437565400'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://naskahkuno.blogspot.com/2009/10/sixth-islamic-manuscript-conference.html' title='The Sixth Islamic Manuscript Conference'/><author><name>Oman Fathurahman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12780420625889202262</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_JmYah9LAc-Y/TLnpONg6PXI/AAAAAAAASPI/COxh9AREd1Y/S220/close+up-OCIS.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_JmYah9LAc-Y/StbJ9HKZ-HI/AAAAAAAARIo/iNohOWq2_LA/s72-c/tima-logo.png' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-470402320472773294.post-3234584535186545396</id><published>2009-10-15T05:19:00.003+02:00</published><updated>2009-10-15T05:29:10.632+02:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='News'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Activities'/><title type='text'>Towards the Comparative Study of Kitabs in Southeast Asia</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_JmYah9LAc-Y/StaW00IkMxI/AAAAAAAARIg/OWQZHXacqlY/s1600-h/kitab.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 150px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_JmYah9LAc-Y/StaW00IkMxI/AAAAAAAARIg/OWQZHXacqlY/s200/kitab.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5392663437914682130" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;NIHU Program Islamic Area Studies International Workshop&lt;br /&gt;Towards the Comparative Study of Kitabs in Southeast Asia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jointly Organized by&lt;br /&gt;1. Group 2 (Development of Islam in Southeast Asia), Section for Islamic Area Studies, Institute of Asian Cultures, Sophia University (SIAS)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Documentation Center for Islamic Area Studies, the Toyo Bunko (TBIAS)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;We are happy to announce that the International Workshop entitled, "Towards the Comparative Study of Kitabs in Southeast Asia" will be held on Sunday, November 8, 2009, at Sophia University in Tokyo. The workshop will deal with the progress of catalog-making of Southeast Asian kitabs collected by Sophia University, the significance of the collection and the catalog, the findings on the kitabs in the collection, and the publication of kitabs in Southeast Asia. Problems and prospects of catalog-making and potentials of studies utilizing the collection, will also be discussed. Researchers, scholars, librarians, and graduate students who are interested, are welcome to attend the workshop.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Those who wish to attend are requested to contact Professor Kawashima Midori at midori-k@sophia.ac.jp or the SIAS Secretariat at ias-iac@sophia.ac.jp.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Date and Time   :November 8, 2009 (Sun.), 10:00 AM-18:30 PM&lt;br /&gt;Place           :Room L-911, Main Library, Sophia University, Yotsuya Campus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Language        : English&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Program&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Morning Session 10:00 AM-12:30 PM&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Chairperson: Aoyama Toru (Tokyo University of Foreign Studies)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Oman Fathurahman (Syarif Hidayatullah State Islamic University, Jakarta): "Significance of the Catalogue of Southeast Asian Kitabs in Strengthening Islamic Studies in the Region".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Arai Kazuhiro (Keio University) and Yanagiya Ayumi (Oriental Library): "An Interim Report on the Catalog-making of the Sophia Collection of Southeast Asian Kitabs"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Afternoon Session 13:30-18:30 PM&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Chairperson: Kobayashi Yasuko (Nanzan University)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Ervan Nurtawab (Syarif Hidayatullah State Islamic University, Jakarta): "An Interim Analysis of the Sophia Collection of Southeast Asian Kitabs"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Sugahara Yumi (Tenri University): "Publications of Kitabs in Southeast Asia".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Kawashima Midori (Sophia University): "Publications in Muslim-dominated Areas of Southern Philippines from the 1920s to the 1970s"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Discussants&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Tonaga Yasushi (Kyoto University) and Hattori Mina (Nagoya University)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;For further information:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Professor Kawashima at midori-k@sophia.ac.jp&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SIAS Secretariat at ias-iac@sophia.ac.jp&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="javascript:window.print()"&gt;Print This Page&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;next&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/470402320472773294-3234584535186545396?l=naskahkuno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://naskahkuno.blogspot.com/feeds/3234584535186545396/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=470402320472773294&amp;postID=3234584535186545396&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/470402320472773294/posts/default/3234584535186545396'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/470402320472773294/posts/default/3234584535186545396'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://naskahkuno.blogspot.com/2009/10/towards-comparative-study-of-kitabs-in.html' title='Towards the Comparative Study of Kitabs in Southeast Asia'/><author><name>Oman Fathurahman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12780420625889202262</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_JmYah9LAc-Y/TLnpONg6PXI/AAAAAAAASPI/COxh9AREd1Y/S220/close+up-OCIS.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_JmYah9LAc-Y/StaW00IkMxI/AAAAAAAARIg/OWQZHXacqlY/s72-c/kitab.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-470402320472773294.post-9042826003419081563</id><published>2009-10-02T04:35:00.004+02:00</published><updated>2009-10-02T12:44:13.596+02:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Activities'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Reflection'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Minangkabau'/><title type='text'>Selamatkan Minangkabau!</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_JmYah9LAc-Y/SsXWnsstFoI/AAAAAAAAQ3M/bZ1qqZpGjI4/s1600-h/surau+sumani.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 160px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_JmYah9LAc-Y/SsXWnsstFoI/AAAAAAAAQ3M/bZ1qqZpGjI4/s200/surau+sumani.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5387948506720573058" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Foto: M. Yusuf dkk.&lt;br /&gt;------------------------&lt;br /&gt;Minangkabau menangis! Gempa berkekuatan 7.6 skala Richter mengguncang wilayah  bagian Barat Sumatra ini. Kerusakan akibat gempa Minangkabau ini dipastikan lebih besar dari musibah gempa di Jawa Barat beberapa waktu sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami, atas nama keluarga besar Masyarakat Pernaskahan Nusantara (Manassa) menyatakan duka yang sebesar-besarnya, semoga keluarga korban diberi kesabaran, dan situasi dapat segera pulih kembali.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Dalam konteks kelimuan, Minangkabau sangat kaya. Wilayah ini seakan tak pernah berhenti memberikan inspirasi dilakukannya berbagai penelitian oleh sarjana, baik di dalam maupun di luar negeri. Minangkabau telah menghantarkan puluhan mahasiswa meraih gelar magister dan doktrornya melalui penelitian atas kekayaan kearifan dan khazanah lokal Minangkabau. Pun Minangkabau telah menghantarkan para peneliti dari dalam dan luar negeri menyelesaikan tugas dan proyek penelitiannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian pula dalam bidang pernaskahan Nusantara. Minangkabau adalah salah satu kantong naskah terbesar di Indonesia yang telah memberikan banyak kontribusi terhadap perkembangan kajian khazanah naskah Nusantara, khususnya yang bernuansa keagamaan. Melalui kekayaan surau-suraunya yang tersebar di hampir semua pelosok jalur daerah pantai pesisir sampai ke darek atau luhak nan tigo, Minangkabau menyimpan "harta karun" berupa naskah-naskah kuno yang tak ternilai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para peneliti dan dosen di sejumlah perguruan tinggi di Minangkabau pun, khususnya Universitas Andalas Padang, IAIN Imam Bonjol, dan STAIN Batusangkar, telah sejak lama menjadi aktivis Manassa yang berdiri di garda terdepan menjaga kelestarian khazanah tertulis milik budaya bangsa Indonesia tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui Kelompok Kajian Poetika Fakultas Sastra Universitas Andalas yang dikomandani Muhammad Yusuf, Adriyetti Amir, Zuriati, Bahren, Pramono, dan sederet pasukan lainnya, sebuah proyek "Search and Save" telah lama digulirkan. Tujuannya hanya satu, cari dan selamatkan benda cagar budaya berupa naskah-naskah kuno yang telah menjadi identitas kultural bangsa ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka memang tidak pernah disebut sebagai pahlawan, tapi kalau mau jujur, kita, bangsa ini, jelas telah berhutang budi kepada mereka, dan kepada Minangkabau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, Minangkabau menangis! Kolega-kolega Manassa, yang sebagian besar tinggal di Padang pun turut menjadi bagian dari mereka yang menangis. Sebagian surau yang merupakan skriptorium naskah pun tak luput dari bencana, masyarakat yang selama ini menjadi "kuncen" pemeliharaan naskah-naskah kuno warisan leluhur mereka pun kehilangan harta dan sebagian anggota keluarganya, kesulitan berlindung dari hujan dan panas, kekurangan makanan karena tidak ada bahan bakar minyak, bahkan Museum Adityawarman, yang merupakan representasi institusi Negara pemelihara khazanah budaya Minangkabau, juga rusak berat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syukur Alhamdulillah, sebagian telah berhasil melakukan kontak dan memberi kabar bahwa mereka "hanya" kehilangan rumah tinggalnya, tapi sebagian lagi masih belum berhasil mengetahui nasib anggota keluarganya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demi untuk meringankan beban penderitaan saudara-saudara kita di Minangkabau, Manassa mencoba memberanikan diri membuka saluran bantuan untuk korban bencana alam gempa di Minangkabau. Donasi untuk program "Selamatkan Minangkabau" dapat dikirim melalui rekening Manassa di BNI Cabang UI Depok, nomor rekening 0162139710, atas nama Amyrna Leandra Saleh (Bendahara Manassa). Mohon kirimkan konfirmasi transfer melalui email ke: manassapusat@yahoo.com, atau melalui pesan singkat sms ke nomor 0878-8538-0334 (Oman Fathurahman/Ketua Umum) dan nomor 0812-9287534 (Amyrna Leandra Saleh/Bendahara).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bantuan sekecil apapun akan sangat berharga, dan kami akan segera menyalurkannya melalui Ketua Manassa cabang Padang, Adriyetti Amir, M.Hum. Kami mengucapkan terima kasih yang setinggi-tingginya atas donasi dan bantuan yang telah diberikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="javascript:window.print()"&gt;Print This Page&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;next&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/470402320472773294-9042826003419081563?l=naskahkuno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://naskahkuno.blogspot.com/feeds/9042826003419081563/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=470402320472773294&amp;postID=9042826003419081563&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/470402320472773294/posts/default/9042826003419081563'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/470402320472773294/posts/default/9042826003419081563'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://naskahkuno.blogspot.com/2009/10/selamatkan-minangkabau.html' title='Selamatkan Minangkabau!'/><author><name>Oman Fathurahman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12780420625889202262</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_JmYah9LAc-Y/TLnpONg6PXI/AAAAAAAASPI/COxh9AREd1Y/S220/close+up-OCIS.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_JmYah9LAc-Y/SsXWnsstFoI/AAAAAAAAQ3M/bZ1qqZpGjI4/s72-c/surau+sumani.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-470402320472773294.post-8067292742855048499</id><published>2009-08-27T06:25:00.006+02:00</published><updated>2009-09-21T04:59:00.862+02:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Posting in Bahasa'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Reflection'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Malay Islam'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pers Archive'/><title type='text'>Ulah Malaysia dan Ketidakpedulian Kita</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_JmYah9LAc-Y/SpYL8QIs4MI/AAAAAAAAQr8/K2bJJ-eyzl4/s1600-h/%2810%29-compressed.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 134px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_JmYah9LAc-Y/SpYL8QIs4MI/AAAAAAAAQr8/K2bJJ-eyzl4/s200/%2810%29-compressed.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5374496335064785090" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Ini adalah versi awal tulisan yang diterbitkan di Koran Nasional &lt;a href="http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/265714/"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Seputar Indonesia&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;, Kamis 27 Agustus 2009&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:85%;" &gt;Keterangan foto: Tim "Search and Save" dari Kajian Poetika Unand, Padang, yang juga aktivis MANASSA, sedang melakukan penyelamatan naskah di Minangkabau.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;----------&lt;br /&gt;Lagi-lagi kita tersentak! Malaysia mengusik rasa kepemilikan kita atas berbagai khazanah budaya yang sudah kita warisi secara turun temurun, dan kali ini, Tari Pendet Bali yang menjadi pemicunya. Malaysia diyakini telah mengutil tarian itu dalam iklan Visit Year mereka. Meski sudah ada permintaan maaf dari Production House yang membuat iklan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Enigmatic Malaysia &lt;/span&gt;itu, kita, kawan-kawan di Bali khususnya, terlanjut sakit hati!&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Tak urung Menteri Kebudayaan dan Pariwisata, Jero Wacik, yang notabene orang Bali, meradang dibuatnya. Budayawan Mohammad Sobari bahkan menyerukan diambilnya protes keras dan aksi diplomatik nyata oleh Pemerintah RI!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benarkah Malaysia telah mengklaim tarian itu sebagai miliknya? Itu bukan hal yang ingin saya katakan. Biarlah kita tunggu masing-masing pihak berwenang mengklarifikasinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang ingin saya ingatkan adalah bahwa salah satu akar masalah sesungguhnya ada pada diri kita sendiri sebagai bangsa yang tidak terlalu peduli dengan pemeliharaan aset kebudayaannya. Angklung, Reog Ponorogo, Batik, Hombo Batu, dan Tari Folaya, adalah hanya beberapa ragam budaya yang sering disebut orang telah dikalim oleh Malaysia, tapi orang banyak yang lupa bahwa khazanah budaya dalam bentuk artefak kuno tulisan tangan, atau yang dikenal sebagai naskah-naskah kuno (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;manuscripts&lt;/span&gt;), jauh lebih banyak yang telah berpindah tangan ke Malaysia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai orang lapangan, saya tahu persis puluhan, dan bahkan mungkin ratusan naskah kuno dari berbagai daerah, seperti Aceh, Minangkabau, Riau, dan wilayah Melayu lainnya, yang telah diborong oleh pembeli ilegal asal Malaysia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya katakan ilegal karena jual beli itu memang terjadi “di bawah tangan”, tidak pernah terang-terangan. Maklum, semua mungkin tahu, menurut UU Cagar Budaya No. 5 1992, naskah kuno termasuk benda yang harus dilindungi dan tidak boleh diperjual belikan, kecuali atas campur tangan Negara. Itu teorinya, Mas!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa Malaysia begitu kebelet dengan naskah-naskah kuno kita, khususnya yang berbahasa Melayu dan berkaitan dengan Islam, sampai berani membeli naskah-naskah kuno itu seharga ratusan juta rupiah? Mungkin karena artefak semacam itu berkaitan dengan identitas ke-Melayu-an dan ke-Islam-an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama-nama seperti Hamzah Fansuri, Bukhari al-Jawhari, Nuruddin al-Raniri, Syamsuddin al-Sumatra’i, Abdurrauf al-Sinkili, Syaikh Yusuf al-Makassari, Muhammad Arsyad al-Banjari, Abdussamad al-Palimbani, Raja Ali Haji, adalah merupakan simbol-simbol kebesaran Melayu Islam masa lalu yang terekam dalam naskah-naskah kuno. Dan, semua nama itu berasal dari wilayah yang kini menjadi bagian dari Indonesia, dan pernah menjadi poros utama peradaban Islam Melayu!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang, tengoklah Perpustakaan Negara Malaysia (PNM) atau Muzeum Islam Malaysia, atau berbagai koleksi pribadi, yang menyimpan puluhan ribu naskah Melayu Nusantara, niscaya nama-nama ulama kita itu akan mendominasi berbagai katalognya. Bagi seorang filolog atau kodikolog, tidak susah juga mengidentifikasi dari mana asal naskah-naskah tersebut karena umumnya &lt;span style="font-style: italic;"&gt;kolofon &lt;/span&gt;(catatan akhir) di belakang teks menyediakan informasi waktu dan tempat penyalinan serta identitas penyalinnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saya tidak ingin mengatakan bahwa semua naskah-naskah itu diperoleh secara ilegal, tapi berbagai kasus di lapangan membuat saya miris. Masyarakat kita sering “tidak kuat iman” melihat gepokan ratus juta rupiah untuk ditukar dengan naskah-nakah kuno miliknya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi apa daya? Mereka dibiarkan oleh Negara untuk merawat sendirian warisan nenek moyangnya itu, padahal perut mereka sering kelaparan. Giliran diusik, meradanglah kita ramai-ramai!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal ini, Malaysia jelas sangat ingin menjadi pusat bagi peradaban Melayu Islam di wilayah Asia Tenggara. Tentu tidak salah! Masalahnya Malaysia memang tidak memiliki khazanah naskah Melayu sekaya kita, sama halnya dengan kenyataan bahwa Malaysia mungkin tidak memiliki tarian seindah Tari Pendet, sehingga perlu “meminjamnya” dari Bali untuk promosi wisatanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Celakanya, kita sebagai “pemilik sah” berbagai kebudayaan Melayu itu, bermimpi pun mungkin tidak pernah untuk menjadi pusat peradaban Melayu!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai peneliti, saya dan kawan-kawan di Kampus sering menggerutu saat sumber primer lokal yang sangat dibutuhkan tidak bisa dijumpai satu pun di Negeri sendiri, kecuali di Negeri orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kitab hadis Melayu pertama, yang berjudul &lt;span style="font-style: italic;"&gt;al-Fawa'id al-bahiyah fi al-ahadith al-nabawiyah&lt;/span&gt; karangan Nuruddin al-Raniri (w.1658) misalnya, sejauh ini tidak satu pun dijumpai di perpustakaan-perpustakaan Negeri ini. Hanya ada satu di PNM Kuala Lumpur, tercatat dengan kode MS 1042! Padahal, kitab yang memuat 831 buah hadis sahih itu merupakan salah satu sumber primer pertama di bidang hadis dalam konteks sejarah Islam Melayu. Ah, siapa peduli?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ketidakpedulian Kita&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Mari coba bertanya, sejauh mana upaya yang sudah kita lakukan untuk melestarikan khazanah kebudayaan itu? Seperti yang Budayawan Radhar Panca Dahana katakan, tidak banyak! Kita lebih sering merasa kebakaran jenggot saat orang lain dirasa mengusik “milik” kita. Kalau tidak, kita cuek-cuek saja. “Hanya peduli pada olahraga dan program lainnya,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seiring perkembangan teknologi digital ini misalnya, salah satu trend pelestarian naskah-naskah kuno adalah melalui program digitalisasi. Sejak 2006, The Brisith Library secara rutin mendanai sejumlah program digitalisasi naskah kuno koleksi Masyarakat di Surabaya (Ahyad 2006), Kerinci (Kozok 2007), Riau (Putten 2007), Minangkabau (Zuriati 2007, Katkova 2008), Aceh (Fakhriati 2008), Buton (Suryadi 2008), Garut (Acri 2009).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pun demikian dengan Leipzig University. Sejak 2007 lalu, Universitas di Jerman ini telah melakukan program restorasi dan digitalisasi naskah-naskah di Museum Aceh, Yayasan Ali Hasjmy, dan sejumlah koleksi masyarakat, bekerja sama dengan Pusat Kajian Pendidikan dan Masyarakat (PKPM).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah ribuan naskah yang berhasil diselamatkan, setidaknya teks-teks digitalnya, dan tentu saja, sudah puluhan ribu halaman naskah yang ditambahkan pada koleksi perpustakaan asing semisal The British Library, tapi tidak selalu menjadi tambahan koleksi Perpustakaan Nasional, karena institusi yang mewakili Negara ini tidak terlibat, bahkan tahu ada program-program itu pun seringkali tidak!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih mending ada Puslitbang Lektur Keagamaan, Departemen Agama, yang kini banyak mengagendakan kegiatannya di bidang pelestarian naskah-naskah Nusantara, khususnya yang bernuansa keagamaan. Mestinya bukan Departemen Agama, toh? Seharusnya Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, atau Perpustakaan Nasional, menjadi lembaga Negara terdepan yang menaungi kita semua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, layakkah kita merasa memiliki, jika kita belum berfikir maksimal menjaganya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="javascript:window.print()"&gt;Print This Page&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;next&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/470402320472773294-8067292742855048499?l=naskahkuno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://naskahkuno.blogspot.com/feeds/8067292742855048499/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=470402320472773294&amp;postID=8067292742855048499&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/470402320472773294/posts/default/8067292742855048499'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/470402320472773294/posts/default/8067292742855048499'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://naskahkuno.blogspot.com/2009/08/ulah-malaysia-dan-ketidakpedulian-kita_27.html' title='Ulah Malaysia dan Ketidakpedulian Kita'/><author><name>Oman Fathurahman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12780420625889202262</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_JmYah9LAc-Y/TLnpONg6PXI/AAAAAAAASPI/COxh9AREd1Y/S220/close+up-OCIS.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_JmYah9LAc-Y/SpYL8QIs4MI/AAAAAAAAQr8/K2bJJ-eyzl4/s72-c/%2810%29-compressed.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-470402320472773294.post-124826791942990628</id><published>2009-08-05T03:49:00.004+02:00</published><updated>2009-08-05T03:54:35.298+02:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='News'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Book'/><title type='text'>Malay society examined</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_JmYah9LAc-Y/SnjlwkTx6zI/AAAAAAAAQqM/UDY0EjkF6xM/s1600-h/roff.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 133px; height: 200px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_JmYah9LAc-Y/SnjlwkTx6zI/AAAAAAAAQqM/UDY0EjkF6xM/s200/roff.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5366291578555067186" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Source:&lt;br /&gt;http://thestar.com.my/lifestyle/story.asp?file=/2009/8/2/lifebookshelf/4420499&amp;amp;sec=lifebookshelf&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Important essays by the pre-eminent historian of 20th century Malay society on Peninsular Malaysia has been brought together into an engaging book.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;STUDIES ON ISLAM AND SOCIETY IN SOUTHEAST ASIA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;By William R. Roff&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Publisher: NUS Press, 354 pages&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ISBN: 978-9971694890&lt;br /&gt;--------------------&lt;br /&gt;IS the saliva of dogs unclean? Is contact with dogs defiling and, accordingly, prohibited among Muslims, especially of the Shafi’i school? Controversy over this question split the Kelantan royal family in the late 1930s and divided Kelantanese society, from top to bottom, between religious modernists and traditionalists.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;After heated disagreement and an impressive and well-attended majlis muzakarah (formal public debate), the question was eventually referred to the very highest of authorities, Sheikh-ul-Islam at Al-Azhar in Cairo, for authoritative adjudication.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;This dramatic confrontation is the subject of one of 15 essays by William R. Roff that were originally published between 1964 and 2007; the essays have been collected in a handsomely-produced book that was launched at Universiti Malaya on Thursday.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The front dust jacket of this notable collection of essays by the preeminent historian of 20th century Peninsular Malay society is telling. It is emblazoned with a picture of the Raja Muda of Kelantan’s splendid Dalmatian hound seated obediently beside the leading Islamic modernist Haji Abbas Taha who was prominently involved in the debate.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(The rear cover offers a picture of Roff in Malay kampung company at the outset of his distinguished research career in this country in 1959.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The specifically focused but substantial essays brought together in this new book, published by Singapore’s NUS Press, are companion pieces to Roff’s great masterpiece, The Origins of Malay Nationalism (Yale University Press), long recognised internationally as the single most important book for the understanding of modern Peninsular Malay history and contemporary Malaysian society.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;These essays range across a variety of different but intimately interconnected themes and topics. Their subjects cover the richly cosmopolitan Muslim world of late 19th century Singapore and the role of Muslims of Arab Hadrami (from the Hadramaut region in the Middle East) origins in Malay cultural, intellectual, and journalistic life, and the modern Malay cultural renaissance.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The essays explore the experiences of Malay and Indonesian students in Cairo in the 1920s, in a time of anticolonial ferment and exciting religious polemics, and their subsequent religious role and political influence in this region.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The essays also trace the sources and pathways of some key long-term processes of Malaysia’s more recent Islamisation initiatives.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;They reveal some changing patterns yet underlying continuities: in the “production” and recognition, or social authentication, of religious scholars (ulama); in the publication and diffusion of ideas of correct Islamic doctrine and action; and in the management and supervision, including political policing, of the haj (the pilgrimage to Mecca that is one of Islam’s cardinal obligations).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Above all, these essays highlight the fundamental importance of two powerful dynamics in the strengthening of Malay, and Malaysian, Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The first has been the centralisation and streamlining, under modern bureaucracies, of the management and everyday administration of Malay religious life. The second has been recourse to derivatively modern Western procedures for the enactment of statute law, and the issuing of related government regulations, to promote orthodox views of correct Islamic practice and to expand the social reach of those eager that such views be made to prevail.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Together these measures have been crucial in the rectification and consolidation of officially desirable Islamic practices, and in entrenching the power and position of their duly appointed custodians.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Other essays probe such subjects as the nature of Islamic social movements and their driving ideas; the interplay, as understood or misunderstood by the great Dutch historians of a century ago, between adat and hukum (between local Malay custom and Islamic Syariah law); Islamic naming practices and what they may reveal about the long-term processes of the Islamisation of society and culture; and the beginnings of modern Malay popular and didactic literature in the translation and publication in the 1920s of a Nick Carter-type detective story.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Among these 15 essays, some will be of special appeal and interest to many readers here in Malaysia – and not just those from the scholarly community, either.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;One essay stands out especially. It probes an intriguing story, the notoriously unsolved murder of a prominent Hadrami Arab, Syed Abdul Kadir Alsagoff, in Singapore in 1908. Was the reason business rivalry, personal jealousy, doctrinal disagreement over the propriety of marriages on a basis of equality between higher- and lower-ranked Hadrami Arabs?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The truth of the matter? We will never know. We may now only wonder and speculate. As Roff wisely concludes, Wa Allahu’alam ... God alone knows.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;History, among its best observers and recorders, is not about definitive answers but about good questions and perennial issues. The Alsagoff murder is such a question. The various issues that Roff opens up to his readers in these essays are issues of continuing significance. And Roff does them justice. He has written a book that is as readable and engaging as it is important.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Clive S. Kessler is Emeritus Professor of Sociology and Anthropology at the University of New South Wales, Sydney, Australia. He has been researching and writing about Malay society, culture, and politics for over 40 years.&lt;br /&gt;&lt;a href="javascript:window.print()"&gt;Print This Page&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;next&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/470402320472773294-124826791942990628?l=naskahkuno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://naskahkuno.blogspot.com/feeds/124826791942990628/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=470402320472773294&amp;postID=124826791942990628&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/470402320472773294/posts/default/124826791942990628'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/470402320472773294/posts/default/124826791942990628'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://naskahkuno.blogspot.com/2009/08/malay-society-examined.html' title='Malay society examined'/><author><name>Oman Fathurahman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12780420625889202262</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_JmYah9LAc-Y/TLnpONg6PXI/AAAAAAAASPI/COxh9AREd1Y/S220/close+up-OCIS.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_JmYah9LAc-Y/SnjlwkTx6zI/AAAAAAAAQqM/UDY0EjkF6xM/s72-c/roff.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-470402320472773294.post-682402506997623787</id><published>2009-07-26T06:19:00.011+02:00</published><updated>2009-07-26T07:54:22.232+02:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Current Research'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Activities'/><title type='text'>Thesaurus of Indonesian Islamic Manuscripts (T2IM): An effort to develop a comprehensive database for academic purposes</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_JmYah9LAc-Y/SmvddFwlytI/AAAAAAAAQHY/iwCtWE5_Sss/s1600-h/Cambridge+074-blog.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 134px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_JmYah9LAc-Y/SmvddFwlytI/AAAAAAAAQHY/iwCtWE5_Sss/s200/Cambridge+074-blog.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5362623273146632914" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Oman Fathurahman&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;(the short version of this paper has been presented at "&lt;a href="http://www.islamicmanuscript.org/conferences/ConferenceProgramme2.html#top"&gt;the Fifth Islamic Manuscript Conference&lt;/a&gt;", held by The Islamic Manuscript Association or TIMA, at the University of Cambridge, UK, 25th July 2009)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Within the last two decades, there have been increasingly growing activities, including preservation, cataloguing, digitizing, and research of Indonesian manuscripts. Both national and international institutions dedicating to this field apparently strive themselves to lead and to gain access to the Indonesian manuscripts.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In the end of 1990s, the Ford Foundation is certainly considered as a leading international funding agency greatly contributing to the preservation of Indonesian manuscripts mainly through microfilm and microfiche projects and scholarship.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Since the early 2000s, a Japanese agency, Tokyo University of Foreign Studies (TUFS) represented by the Center for Documentation of Area-Trans Cultural Studies (C-DATS), and supported by the Toyota Foundation, has involved in the digitizing and cataloguing projects of Indonesian manuscripts kept in such areas as Palembang (Ikram [ed.] 2004), Minangkabau (Yusuf [ed.] 2006), and Aceh (Fathurahman &amp;amp; Holil 2007). Their publications have undoubtedly a great contribution to the increasing research interests in the study of the local historical documents among Indonesian researchers and students. Prof. Dr. Toru Aoyama, Prof. Dr. Koji Miyazaki, Dr. Yumi Sugahara, and Dr. Kazuhiro Arai are among them who have dedicated his academic activities for the Project.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Since the early 2008, Leipzig University --collaborating with such institutions as Aceh State Museum, Ali Hasjmy Foundation, Research Centre for Education and Society (PKPM), and &lt;a href="http://manassa.org/"&gt;the Indonesian Association for Nusantara Manuscripts (Manassa)&lt;/a&gt;-- has conducted the digitising project and the development of &lt;a href="http://acehms.dl.uni-leipzig.de/content/below/index.xml?XSL.lastPage.SESSION=/content/below/index.xml"&gt;online digital library&lt;/a&gt; of Indonesian, particularly the Acehnese, manuscripts. We have to thank to Dr. Thoralf Hanstein for his full support of this Project.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ecole Française d’Extrême-Orient (EFEO) in Jakarta, especially thanks to my respected teacher, Prof. Dr. Henri Chambert-Loir, also plays a vital role in facilitating the publication of research products on Indonesian manuscripts. Likewise, all of them have greatly motivated many researchers to do more research and to make old-local documents easily accessible to the public, an easy open access which is previously very difficult to find.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Considering the characteristics of Indonesian manuscripts, which are greatly influenced by Islam, the manuscripts studies have positively affected the development and trends of Indonesian Islamic studies. Previously, many researchers on Indonesian Islam merely relied on foreign ethnographies (Middle East and West/Europe). But now, they have other alternative sources which are even more authentic, important, and mostly untouchable.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;What encouraging is the fact that some state institutions responsible for Islamic studies and religious affairs have recently made important initiatives. The Center for Research and Development of Religious Literatures (Puslitbang Lektur Keagamaan), Indonesian Ministry of Religious Affairs (MORA), for instance, is now standing on the top position in conducting variety of projects related to Indonesian manuscripts, including workshops, trainings, manuscripts inventory, research, etc. Prof. Dr. Atho Mudzhar and Prof. Dr. Maidir Harun are the key persons, who are responsible for this fascinating support.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;It is also the case with higher Islamic education systems, including State Islamic University (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta. Previously, we found the growing trend of research on Islam in global and contemporary issues. But now, there is an increasing number of academic works, in the forms of BA, MA, and Ph.D. theses, on local Islam, using manuscripts as primary sources. Moreover, UIN Syarif  Hidayatullah Jakarta plans to open graduate studies of Indonesian Islamic philological studies.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Here, however, a big problem emerges. Imagine that large number of manuscript researchers entering a very rich “virgin forest” are lost due to its poor inventory management. Compared to the Middle East Islamic area studies --much older, where the existence of works such as &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ṭabaqāt&lt;/span&gt;, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;fah&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;" class="fullpost"&gt;ā&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;ris&lt;/span&gt; and &lt;span style="font-style: italic;"&gt;maʻājim&lt;/span&gt; have been extremely helpful in identifying books, authors, names of place, etc.-- the Southeast Asian studies is a nightmare.&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; One can possibly spend weeks to find a clue of something mentioned in a manuscript with no success. This of course discourages researchers and students to go into Indonesian Islamic manuscripts.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Another problem is that up to now there is no comprehensive work considered as authoritative reference on any Indonesian Islamic manuscripts which have been, or being, studied by any scholars in any forms, both academic and non-academic. Accordingly, there has been no cross communication among researchers in the field. Sometimes it happens that two researchers working on the same manuscript without knowing each other.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The above problem certainly needs some solutions, one of which is making a database, which not only identifies all Indonesian Islamic texts produced since the 16th century, but also provides their author names, languages, scripts, places of collection, related catalogues, and relevant researches done so far. Hence, such a database would be certainly very useful for philologists, historians, and researchers in the field of Indonesian Islamic studies.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;To make it more useful for broader academic communities, the database will be available in English version and called Thesaurus of Indonesian Islamic Manuscripts (T2IM). Although it uses the term “Indonesian”, the database includes not only Indonesian Islamic manuscripts but also Southeast Asian region (Nusantara) covering the areas of Pattani in South Thailand, Malaysia, the Philippines, Brunei Darussalam, and others. The word “Indonesian” is chosen on the ground that most of the manuscripts are actually produced in, and come from, Indonesia albeit the copies are now kept in diverse institutions and libraries abroad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Thesaurus of Indonesian Islamic Manuscripts (T2IM)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Religious manuscripts [read: Islamic] constitute the major categories of the Indonesian manuscripts. Based on all catalogues compiled and researches conducted, Islamic manuscripts are very significance in number, containing the history of Southeast Asian Islam, including biographies of ulamas and/or prolific authors of religious texts in their lifetime periods.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;These manuscripts are predominantly categorized as—using Braginsky’s words (1998: 275-276)—“Sastra Kitab,” religious texts which can be classified into Qur’anic exegesis (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;tafsīr&lt;/span&gt;), prophetic tradition (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;ḥadīth&lt;/span&gt;), Islamic jurisprudence (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;fiqh&lt;/span&gt;), sufism, theology, etc.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The T2IM is a database designed by the Center for Research and Development of Religious Literatures (Puslitbang Lektur Keagamaan), Indonesian Ministry of Religious Affairs (MORA), and &lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;the Center for the Study of Islam and Society (PPIM), Syarif Hidayatullah State Islamic University (UIN)&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Jakarta. In its development, the T2IM get supports from experts and researchers specializing in Indonesian manuscripts officially affiliated with &lt;a href="http://manassa.org/"&gt;the Indonesian Association for Nusantara Manuscripts or MANASSA&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The T2IM is mainly intended to provide information for both public and academic community on Indonesian Islamic manuscripts as complete as possible, written both in Arabic and local languages like Acehnese, Buginese, Javanase, Madurese, Malay, Minangkabau, Sasak, Sundanese, Wolio and others used in a written literary tradition in Indonesia. The T2IM also provides some other useful information like the author names with their biographical accounts, number of copies kept in all libraries around the world, catalogues that list the related manuscripts including their pages and summaries, and all the articles and books about them.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The T2IM will show an even greater importance with the availability of information about the conducted, as well as the ongoing, philological works. If possible, these works are digitally available and could be downloaded. It is hoped that not only can it avoid unnecessary repetition in studying these texts but also fill the gaps found in the previous studies.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;The Significance of T2IM in the Development of Intellectual Islamic Tradition in Southeast Asia&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Southeast Asian Islamic Studies is certainly a very interesting and of course important field of study especially due to the large number of Moslems living in the region. To some extent, however, Islam in Southeast Asia is still considered as peripheral because it is very much different from Islam in the Arabian Peninsula, North Africa and Iran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Referring to the existing databases for Islamic world, one is impressed that Southeast Asian countries like Indonesia are not yet considered as one of important Islamic regions in the world. In fact, rarely known is the fact that Southeast Asian Muslims inherited such a great writing tradition established since the 17th century that the region is called the cradle of Islam. The written treasury made by the ulamas and Muslim authors in the past are undoubtedly strong evident that Southeast Asia can definitely be considered as one of world centers for Islamic studies.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;There are some factors that make Southeast Asian Islam less important in global Islamic discourse. Firstly, there is a dichotomy between central Islam developed in the Arab world and peripheral Islam which is frequently considered as pseudo Islam. Secondly, Southeast Asian Muslims have not much explored and provided information about their intensive research to the international community, without which Southeast Asian Islam would not be fully understood.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Some other factors of course might also be blamed as being responsible for discouraging scholars to study Southeast Asian intellectual heritage. But one thing is clear, there is no satisfactory research instrument available for scholars and researchers to go further to the realm of Indonesian religious manuscripts, the complicated and not stimulating realm.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;From this perspective, the T2IM database will play an important role. The T2IM would be certainly a vital source for philologists, historians, and scholars of Southeast Asian Islamic Studies who are keen to see the characteristics of local Islam through the exploration of ulamas’ works in the past. It is due to the fact that T2IM provides related information, as complete as possible, about the existence of Indonesian religious manuscripts that it serves as a “gateway” for all scholars of Southeast Asian Islamic Studies before an actual research is started. The T2IM is not merely a catalogue. It constitutes a catalogue of catalogues of Indonesian Islamic manuscripts in a recent form, which is an open-access for the public anytime and anywhere.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Considering a huge number of Indonesian Islamic manuscripts kept around the world, mounting to hundred thousand manuscripts or even more, as it is thought, the T2IM is definitely a lifetime project in which all data will be continuously revised and completed in accordance with the research findings in the future.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;The Logics and Organization of T2IM&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;As stated above, one of the main objectives of T2IM is to provide information and data as complete as possible concerning Indonesian religious manuscripts. In order to achieve this target, T2IM needs to be systematically improved.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Until now, Indonesian manuscripts are by and large kept in both private collections and public institutions including libraries, museums, and foundations, both in Indonesia and foreign countries. Some manuscripts collections have been catalogued. Yet, most of them have not.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In the initial establishment, the T2IM would be drawn upon printed catalogues as well as other manuscripts lists and documentations. All publications containing the lists of Indonesian religious manuscripts, whether they provide complete information or titles only, would be read and further developed and included in the T2IM database.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In this regard, the work entitled &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Khazanah Naskah: Panduan Koleksi Naskah- Indonesia Sedunia (World Guide to Indonesian Manuscript Collections)&lt;/span&gt; by Henri Chambert-Loir and Oman Fathurahman (1999) would be the first important reference since it is considered as the most recent catalogue of catalogues of Indonesian manuscripts ever compiled up to the present. Using this work, hundreds of manuscripts catalogues as well as manuscripts lists and documentations written since the 19th century can be easily traced.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;It should be noted that after the publication of &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Khazanah Naskah&lt;/span&gt;, we still find a number of catalogues of Indonesian manuscripts kept in some collections, such as &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Katalog Naskah Buton Koleksi Abdul Mulku Zahari&lt;/span&gt; (Catalogue of Buton Manuscripts collected by Abdul Mulku Zahari) by Achadiati Ikram, et.al. (2002), &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Katalog Naskah Palembang &lt;/span&gt;(Catalogue of Palembang Manuscripts) by Achadiati Ikram, (ed.) (2004), &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Katalog Naskah-naskah Perpustakaan Pura Pakualaman &lt;/span&gt;(Catalogue of Pakualaman Manuscript Library) by Sri Ratna Saktimulya (ed.) (2005), &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Katalogus Manuskrip dan Skriptorium Minangkabau &lt;/span&gt;(Catalogue of Minangkabau Manuscripts and Scriptorium) by M. Yusuf (ed.) (2006), &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Katalog Naskah Ali Hasjmy Aceh (&lt;/span&gt;Catalogue of Aceh Manuscripts: Ali Hasjmy Collection) by Oman Fathurahman and Munawar Holil (eds.) (2007), &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Catalogue of Malay and Minangkabau Manuscripts in the Library of Leidein University and other collections in the Netherlands&lt;/span&gt;. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Volume Two, comprising the H.N. van der Tuuk bequest acquired by the Leiden University in 1896 &lt;/span&gt;by Edwin Wieringa (2007), &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Katalog naskah: Koleksi Masyarakat Keturunan Indonesia di Afrika Selatan &lt;/span&gt;(Catalogue of Manuscripts collected by the Indonesian Descendents in South Africa) by Ahmad Rahman and Syahrial (2008), and &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Katalog Naskah Tanoh Abee Aceh Besar&lt;/span&gt; (Catalogue of Tanoh Abee Manuscripts in Aceh Besar)  (forthcoming in 2010). All these new catalogues can be definitely used as authoritative and therefore important references for the making of T2IM.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The T2IM project will also trace academic works using Indonesian Islamic manuscripts as primary sources. The project will give the priority to the academic works, including B.A., M.A. and Ph.D. theses and other works using philological approach or philological research using interdisciplinary approaches. All these findings would be included in the description section of the related texts in the T2IM database. For this reason, all libraries in all Indonesian universities in particular, and around the world in general, would be certainly the main targeted locations for this tracing effort. Apart from this, the project will trace them through the publication of both national and international journals on related subjects.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A number of researches have identified the existence of Indonesian Islamic manuscripts in private collections. If possible, all information concerning the manuscripts kept in such collection would also be included in the T2IM database. In the long run their existence cannot be guaranteed since, badly kept, they are vulnerable to theft, lose or even destruction.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Last but not least, all these collected data will be an online database using well-designed software through which anyone will be able to access anytime and anywhere. It's expected that T2IM will be accessible for a public on early next year. So, please keep contact with us.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--------------&lt;br /&gt;My Debt is to my colleagues, Ervan Nurtawab, M.A., who has translated the initial draft of this paper, and to Dr. Fuad Jabali, who has spent his busy time to review and give valuable comments of the draft.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Please look at also some pictures of the Conference, &lt;a href="http://picasaweb.google.com/omanwae/TheFifthIslamicManuscriptConferenceCambridgeUK24th26thJuly2009?feat=directlink"&gt;here&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="javascript:window.print()"&gt;Print This Page&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;next&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/470402320472773294-682402506997623787?l=naskahkuno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://naskahkuno.blogspot.com/feeds/682402506997623787/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=470402320472773294&amp;postID=682402506997623787&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/470402320472773294/posts/default/682402506997623787'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/470402320472773294/posts/default/682402506997623787'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://naskahkuno.blogspot.com/2009/07/thesaurus-of-indonesian-islamic.html' title='Thesaurus of Indonesian Islamic Manuscripts (T2IM): An effort to develop a comprehensive database for academic purposes'/><author><name>Oman Fathurahman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12780420625889202262</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_JmYah9LAc-Y/TLnpONg6PXI/AAAAAAAASPI/COxh9AREd1Y/S220/close+up-OCIS.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_JmYah9LAc-Y/SmvddFwlytI/AAAAAAAAQHY/iwCtWE5_Sss/s72-c/Cambridge+074-blog.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-470402320472773294.post-2343497225815186277</id><published>2009-07-13T08:11:00.003+02:00</published><updated>2009-07-13T09:02:50.180+02:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Posting in Bahasa'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='News'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Activities'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Reflection'/><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_JmYah9LAc-Y/Slrb4oKo_-I/AAAAAAAAQAQ/HtYGx4IHDpI/s1600-h/tima-logo.png"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 326px; height: 80px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_JmYah9LAc-Y/Slrb4oKo_-I/AAAAAAAAQAQ/HtYGx4IHDpI/s200/tima-logo.png" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5357836472611831778" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Seperti yang pernah saya tulis di blog ini &lt;a href="http://naskahkuno.blogspot.com/2009/01/fifth-islamic-manuscript-conference.html"&gt;sebelumnya&lt;/a&gt;, The Islamic Manuscript Association (TIMA) akan menggelar konferensi internasional kelima tentang naskah-naskah Islam, dan bertempat di Christ's College, University of Cambridge, United Kingdom, mulai 24 hingga 26 Juli 2009. Kini, semua persiapan tampaknya telah selesai dilakukan, dan jadwal serta pembicara selengkapnya pun telah dipublikasikan (silahkan klik &lt;a href="http://www.islamicmanuscript.org/conferences/ConferenceProgramme2.html#top"&gt;di sini&lt;/a&gt;).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi dunia pernaskahan Nusantara, forum-forum internasional semacam TIMA ini sesungguhnya sangat penting untuk dicermati, syukur-syukur jika bisa selalu berpartisipasi di dalamnya, karena pengaruh ke-Islam-an dalam naskah-naskah Nusantara jelas sangat besar, dan jumlah naskah kategori keagamaan Islam pun sangat signifikan, sehingga topik-topik yang ditawarkan niscaya akan sering bersinggungan dengan dunia pernaskahan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penting, karena melalui forum semacam TIMA ini, kita bisa menempatkan kekayaan khazanah pernaskahan kita dalam konteks yang lebih besar, tidak sekedar dunia Islam Melayu-Indonesia atau Nusantara, melainkan, lebih dari itu, dunia Islam secara keseluruhan. Bukan rahasia lagi bahwa para penulis naskah ke-Islam-an Nusantara jelas sangat terpengaruh oleh para ulama dan penulis yang berasal dari dunia Islam lainnya, baik menyangkut substansi maupun bahasanya.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Dengan semakin terbukanya informasi tentang khazanah naskah Nusantara, dalam hal ini naskah ke-Islam-annya yang ditulis oleh para penulis dan ulama lokal, ke dunia luar, maka akan semakin terbuka pula mata dunia bahwa, sejauh menyangkut tradisi intelektualnya, Islam Indonesia tidak sekedar menjadi konsumen saja, melainkan juga telah berperan sebagai produsen, bahkan sejak abad 16 lalu. Hal ini penting ditegaskan mengingat bahwa selama ini, Islam Indonesia, atau lebih jauh Asia Tenggara, masih sering dianggap sebagai pinggiran  (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;peripheral&lt;/span&gt;) dan bertindak sebagai konsumen saja, berbeda dari Islam yang ada di Timur Tengah, khususnya Makkah dan Madinah, yang dianggap sebagai pusatnya (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;center&lt;/span&gt;) yang telah memproduksi khazanah keilmuan Islam dalam skala besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beruntung bahwa dalam konferensi kelima TIMA yang bertemakan "Access and Right" ini, saya berkesempatan menjadi salah seorang yang diundang sebagai pemrasaran, salah satu dari tiga pemrasaran asal Asia Tenggara (2 lainnya dari Malaysia), atau satu-satunya perwakilan dari Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui paper saya berjudul "Thesaurus of Indonesian Islamic Manuscripts (T2IM): An Effort to Develop A Comprehensive Database for Academic Purposes", saya ingin menunjukkan kepada dunia betapa tradisi intelektual Islam Indonesia masa lalu, sesungguhnya tidak kalah penting dari wilayah Islam lain selain Makkah dan Madinah, seperti Afrika, Asia Selatan, Turki, dan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paper ini akan menjelaskan soal Program penyusunan database naskah Islam Indonesia yang sedang dikembangkan oleh Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) dan Puslitbang Lektur Keagamaan, Badan Litbang dan Diklat, Departemen Agama RI, bekerja sama dengan Masyarakat Pernaskahan Nusantara (Manassa).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelak, database, yang lebih praktis disebut T2IM ini, akan mendaftarkan semua judul naskah Islam Nusantara yang pernah diketahui keberadaannya di dalam dan di luar Negeri, di lembaga maupun di masyarakat, baik fisik naskahnya masih ada atau sudah lenyap, serta dilengkapi dengan informasi kodikologis tentang pengarang, bahasa, aksara, kategori keilmuan, lembaga yang menyimpan, katalog yang menyebut, dan hasil-hasil penelitian yang pernah dilakukan atasnya, baik oleh penulis lokal maupun asing, dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya berharap bahwa suatu saat dunia akademik, khususnya para pengkaji Islam Nusantara, baik filologis, sejarawan, antropolog, sosiolog, atau lainnya, akan menjadikan T2IM ini sebagai sumber rujukan utama dalam aktivitas penelitiannya. Apalagi, database ini akan terus menerus diperbaharui dari waktu ke waktu, dan akan senantiasa mendaftarkan hasil-hasil penelitian sekecil apapun tingkatannya, sehingga tidak akan ada lagi tumpang tindih penelitian, karena semua hasil penelitian yang pernah dilakukan atas sebuah naskah akan dapat diketahui melalui T2IM ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, jadi, jika anda merasa pernah menulis sebuah karya yang mendasarkan pada naskah-naskah Islam Nusantara, khususnya jika terbit dalam skala terbatas, atau tidak pernah terbit sama sekali, silahkan informasikan kepada kami untuk didaftarkan, dan agar diketahui oleh khalayak banyak, siapa tahu kami belum mengetahuinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, saya berjanji untuk berbagi kembali setelah selesai mengikuti konferensi TIMA tersebut, siapa tahu ada sejumlah makalah yang bermanfaat buat kita semua. Salam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="javascript:window.print()"&gt;Print This Page&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;next&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/470402320472773294-2343497225815186277?l=naskahkuno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://naskahkuno.blogspot.com/feeds/2343497225815186277/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=470402320472773294&amp;postID=2343497225815186277&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/470402320472773294/posts/default/2343497225815186277'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/470402320472773294/posts/default/2343497225815186277'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://naskahkuno.blogspot.com/2009/07/seperti-yang-pernah-saya-tulis-di-blog.html' title=''/><author><name>Oman Fathurahman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12780420625889202262</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_JmYah9LAc-Y/TLnpONg6PXI/AAAAAAAASPI/COxh9AREd1Y/S220/close+up-OCIS.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_JmYah9LAc-Y/Slrb4oKo_-I/AAAAAAAAQAQ/HtYGx4IHDpI/s72-c/tima-logo.png' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-470402320472773294.post-5840048467505231211</id><published>2009-05-18T13:59:00.002+02:00</published><updated>2009-05-18T14:02:58.973+02:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Posting in Bahasa'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='News'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Activities'/><title type='text'>Pelatihan Digitalisasi Naskah di Solo</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_JmYah9LAc-Y/ShFOYjFzX3I/AAAAAAAAPfU/iXyyD6hDdfs/s1600-h/shoot.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 150px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_JmYah9LAc-Y/ShFOYjFzX3I/AAAAAAAAPfU/iXyyD6hDdfs/s200/shoot.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5337133217054154610" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Sumber:&lt;br /&gt;http://www.manassa.org/main/berita/index.php?detail=20090518182633&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Solo, 24-27 Juni 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan hasil penelitian yang pernah dilakukan, diketahui bahwa naskah-naskah tertulis (manuscripts) Nusantara terdapat dalam jumlah yang sangat besar, mencapai angka puluhan ribu, baik yang tersimpan di dalam maupun di luar negeri. Naskah-naskah tersebut ditulis dalam berbagai bahasa, seperti Arab, Melayu, Jawa, Sunda, Sasak, Bali, Wolio, dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Mengingat bahan kertasnya yang rentan, dan usianya yang telah mencapai ratusan tahun, maka pada umumnya kondisi fisik naskah-naskah tersebut sangat mengkhawatirkan, sehingga jika tidak segera dilakukan upaya-upaya pemeliharaan (preservasi), bukan tidak mungkin kalau suatu saat naskah-naskah berserta kandungan pengetahuan yang terdapat di dalamnya itu hilang dimakan zaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemeliharaan naskah sendiri dapat dikategorikan menjadi dua jenis: pertama, pemeliharaan fisik naskahnya; dan kedua, pemeliharaan teks-teks yang terdapat di dalamnya. Jenis pemeliharaan model pertama dapat dilakukan melalui restorasi, yakni merawat dan mengembalikan keutuhan kertas dan jilidannya sehingga diharapkan bisa bertahan lebih lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun jenis pemeliharaan kedua adalah berupaya melestarikan teks-teks yang terkandung di dalamnya melalui pembuatan salinan (backup) dalam media lain, sehingga paling tidak kandungan isi khazanah naskah itu tetap dapat dilestarikan meskipun seandainya fisik naskahnya musnah akibat rusak atau bencana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada masa lalu, hingga tahun 80-an, pembuatan salinan teks-teks tersebut dilakukan melalui teknologi mikrofilm. Akan tetapi, saat ini, teknologi tersebut jelas sudah tidak tepat lagi digunakan. Bahkan, teknologi mikrofilm terbukti telah tidak efisien lagi dalam hal pemanfaatannya oleh para pembaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, pilihan yang paling mungkin adalah memanfaatkan teknologi digital, baik dalam bentuk kamera maupun mesin scanner. Melalui teknologi digitalisasi ini, kandungan isi puluhan ribu naskah akan dapat dibuatkan salinannya, sebagai cadangan jika naskah aslinya sudah tidak dapat dipergunakan lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang menjadi tantangan adalah belum banyak tersedianya tenaga-tenaga yang memiliki keterampilan melakukan digitalisasi naskah secara profesional, dan sekaligus mengelolanya dalam sebuah portal naskah Nusantara, padahal, jika portal naskah Nusantara tersebut bisa terwujud, maka akan banyak pihak-pihak yang dapat merasakan manfaatnya untuk berbagai penelitian, termasuk penelitian masalah-masalah keagamaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itulah, Puslitbang Lektur Keagamaan, Depag RI, bekerja sama dengan Masyarakat Pernaskahan Nusantara (Manassa), berinisiatif menyelenggarakan kegiatan Pelatihan Digitalisasi Naskah dan Pengembangan Portal Naskah Nusantara. Dalam pelaksanaan program ini, Manassa Pusat melibatkan  teman-teman dari Manassa Cabang Solo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara umum, pelatihan ini bertujuan untuk:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Mensosialisasikan pentingnya pemeliharaan naskah-naskah tertulis (manuscritps) Nusantara;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Memperluas wawasan pengetahuan tentang digitalisasi naskah dan pengembangan perpustakaan digital.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun tujuan khusus yang ingin dicapai adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Melatih peserta agar memiliki keterampilan praktik digitalisasi naskah tulisan tangan (manuscripts) Nusantara;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Melatih peserta agar mampu mengelola teks-teks digital menjadi sebuah koleksi perpustakaan naskah digital yang bersifat online.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai bagian dari upaya mencapai tujuan di atas, Pelatihan ini juga akan mensosialisasikan sebuah open source software untuk mengelola portal naskah Nusantara, yang disiapkan oleh tim ahli dari Leipzig University.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu dan Tempat Kegiatan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelatihan ini akan diselenggarakan pada tanggal 24-27 Juni 2009 di Hotel Sahid Jaya, Solo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Narasumber&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Narasumber Pelatihan ini melibatkan para praktisi di bidang digitalisasi naskah, dari luar negeri, yakni: Dr. Thoralf Hanstein (Kepala Program digitalisasi Naskah Nusantara, Leipzig University); Ir. Jens Kupferschmidt (Ahli Informatika dan Komputer, Leipzig University); Joerg Graf (Ahli Restorasi, Leipzig University); Johns Paterson (Konsultan digitalisasi naskah Jawa) di Yayasan Sastra Solo); dan para pakar pernaskahan dari dalam negeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kriteria Peserta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peserta  Pelatihan ini berasal dari berbagai daerah yang dipilih berdasarkan sejumlah kriteria yang ditentukan, yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Memiliki pengetahuan dasar tentang khazanah naskah Nusantara;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Memiliki pengetahuan dasar teknologi fotografi dan internet;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Memiliki akses yang baik terhadap koleksi naskah di daerah asalnya, baik koleksi pribadi maupun koleksi lembaga;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. Memiliki visi untuk mengembangkan perpustakaan digital naskah Nusantara;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e. Diutamakan telah, sedang, atau berencana menyelenggarakan program digitalisasi naskah di daerah asalnya;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Target dan Sasaran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Target utama Kegiatan Pelatihan ini, antara lain, adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Terhimpunnya sejumlah peserta yang memiliki wawasan dan keterampilan tentang tata cara digitalisasi naskah yang berstandar internasional;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Terhimpunnya sejumlah peserta yang mampu menjalankan program pengembangan perpustakaan naskah digital;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Terkoordinasinya kegiatan digitalisasi naskah Nusantara melalui Portal Naskah Nusantara yang akan dikelola oleh Manassa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mudah-mudahan kegiatan ini bisa berlangsung dengan lancar dan sukses sehingga bisa melahirkan tenaga-tenaga terampil sekaligus profesional dalam bidang digitalisasi naskah dan pengelolaan portal naskah Nusantara. Harapannya, di masa depan naskah-naskah Nusantara bisa terselamatkan dan para peneliti naskah Nusantara bisa dengan mudah mengakses dengan mudah bahan-bahan penelitiannya yang berupa naskah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="javascript:window.print()"&gt;Print This Page&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;next&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/470402320472773294-5840048467505231211?l=naskahkuno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://naskahkuno.blogspot.com/feeds/5840048467505231211/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=470402320472773294&amp;postID=5840048467505231211&amp;isPopup=true' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/470402320472773294/posts/default/5840048467505231211'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/470402320472773294/posts/default/5840048467505231211'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://naskahkuno.blogspot.com/2009/05/pelatihan-digitalisasi-naskah-di-solo.html' title='Pelatihan Digitalisasi Naskah di Solo'/><author><name>Oman Fathurahman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12780420625889202262</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_JmYah9LAc-Y/TLnpONg6PXI/AAAAAAAASPI/COxh9AREd1Y/S220/close+up-OCIS.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_JmYah9LAc-Y/ShFOYjFzX3I/AAAAAAAAPfU/iXyyD6hDdfs/s72-c/shoot.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-470402320472773294.post-3659566253433347597</id><published>2009-04-06T03:38:00.003+02:00</published><updated>2009-04-06T03:49:51.829+02:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Posting in Bahasa'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='News'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Activities'/><title type='text'>ForumOnline Manassa</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_JmYah9LAc-Y/SdleejyKhAI/AAAAAAAAPe0/fNbBBHMCDoY/s1600-h/forummanassa.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 151px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_JmYah9LAc-Y/SdleejyKhAI/AAAAAAAAPe0/fNbBBHMCDoY/s200/forummanassa.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5321388313809683458" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Masyarakat Pernaskahan Nusantara (Manassa), melalui Pengurus Pusatnya, kini telah menyediakan sebuah ForumOnline untuk memfasilitasi terjalinnya komunikasi antar peminat kajian naskah Nusantara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ForumOnline Manassa ini tidak terbatas bagi para pengurus atau anggota Manassa saja, juga tidak hanya untuk para filolog atau pengkaji naskah saja, melainkan untuk semua kalangan yang ingin urun rembug dalam pengembangan, pelestarian, dan pengkajian naskah-naskah Nusantara, baik sarjana, pelajar, wartawan, birokrat, budayawan, ekonom, atau apa saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Forum tersebut dapat diakses melalui menu Forum di situs &lt;a href="http://www.manassa.org/"&gt;Manassa&lt;/a&gt;, dan diperlukan &lt;a href="http://manassa.org/forum/index.php?action=register"&gt;pendaftaran&lt;/a&gt; terlebih dahulu sebelum dapat terlibat aktiv berdiskusi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu pertimbangan disediakannya ForumOnline Manassa tersebut adalah karena saat ini berbagai program yang berkaitan dengan dunia pernaskahan Nusantara sesungguhnya banyak dilakukan oleh berbagai pihak, baik dalam maupun luar negeri. Tapi, sayangnya seringkali terjadi tumpang tindih, dan atau bahkan pengulangan dari apa yang sudah dilakukan sebelumnya oleh pihak lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui ForumOnline Manassa ini diharapkan bahwa upaya-upaya pemeliharaan, pelestarian, dan pengkajian naskah-naskah Nusantara dapat dilakukan secara efisien, simultan, berkesinambungan, dan memberikan manfaat yang lebih besar terhadap pelestarian dan pengembangan khazanah budaya bangsa Indonesia. Selain itu, informasi tentang berbagai kegiatan tersebut, berikut informasi tentang biaya penelitian dan beasiswa kuliah, juga bisa lebih tersosialisasi.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Setidaknya dari perkembangan yang saya ikuti, minat dan perhatian terhadap kajian naskah-naskah (manuscripts) Nusantara saat ini, baik dari dalam maupun luar negeri, sudah lebih semarak, meski tentu saja belum maksimal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejumlah lembaga maupun perorangan mulai memberikan perhatian khusus pada upaya-upaya pemeliharaan, pelestarian, dan pengkajian manuskrip Indonesia yang seyogyanya dianggap sebagai benda cagar budaya ini. Perkembangan teknologi digital pun tak ayal mempengaruhi bentuk-bentuk pelestarian naskah-naskah kuno. Jika dulu bentuk pelestariannya melalui pembuatan mikofilm, kini beralih melalui mesin scanner atau kamera digital.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari luar negeri, setidaknya Tokyo University of Foreign Studies dan Leipzig University, sejak beberapa tahun lalu telah bekerja sama dengan lembaga-lembaga pemerhati naskah kuno di dalam negeri, untuk bersama-sama melakukan berbagai program pelestarian tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam negeri sendiri, selain Perpustakaan Nasional yang mulai membangun perpustakaan manuskrip digitalnya, Lektur Keagamaan Balitbang Departemen Agama termasuk lembaga Departemen yang memberikan perhatian besar terhadap upaya penelitian naskah-naskah kuno tersebut, khususnya yang bernuansa keagamaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja, selain lembaga-lembaga di atas, kini ternyata banyak juga lembaga-lembaga penelitian di kampus-kampus, termasuk di kampus perguruan tinggi Islam (UIN/IAIN/STAIN), yang memfokuskan pada kajian naskah-naskah Nusantara. Tentu saja ini perkembangan yang sangat positif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Bahkan, daerah-daerah yang mengajukan pembentukan cabang Manassa pun kini semakin bertambah, sehingga sudah saatnya dilakukan koordinasi antarberbagai lembaga dan organisasi tersebut.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Selamat bergabung dan berdiskusi. Mari maju bersama khazanah budaya kita!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="javascript:window.print()"&gt;Print This Page&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;next&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/470402320472773294-3659566253433347597?l=naskahkuno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://naskahkuno.blogspot.com/feeds/3659566253433347597/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=470402320472773294&amp;postID=3659566253433347597&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/470402320472773294/posts/default/3659566253433347597'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/470402320472773294/posts/default/3659566253433347597'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://naskahkuno.blogspot.com/2009/04/forumonline-manassa.html' title='ForumOnline Manassa'/><author><name>Oman Fathurahman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12780420625889202262</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_JmYah9LAc-Y/TLnpONg6PXI/AAAAAAAASPI/COxh9AREd1Y/S220/close+up-OCIS.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_JmYah9LAc-Y/SdleejyKhAI/AAAAAAAAPe0/fNbBBHMCDoY/s72-c/forummanassa.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-470402320472773294.post-4059022277415572504</id><published>2009-03-22T04:34:00.006+01:00</published><updated>2009-03-22T05:34:24.726+01:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Posting in Bahasa'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='News'/><title type='text'>Islam dan Barat dalam Lirik-lirik Goethe: Acara di FAH UIN Jakarta</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_JmYah9LAc-Y/ScWyeXXj4BI/AAAAAAAAPd8/ZaW2RMc8gM4/s1600-h/goethe.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 140px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_JmYah9LAc-Y/ScWyeXXj4BI/AAAAAAAAPd8/ZaW2RMc8gM4/s200/goethe.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5315851169919393810" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Pemberitahuan dan Undangan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fakultas Adab dan Humaniora (FAH) UIN Jakarta&lt;br /&gt;bekerja sama dengan&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.goethe.de/ins/id/jak/ver/id4262792v.htm"&gt;Goethe Institut Jakarta&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Majalah Sastra Horison, dan&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.csrc.or.id/"&gt;Center for the Study of Religion and Culture&lt;/a&gt; (CSRC) UIN Jakarta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;menyelenggarakan seminar dan pembacaan sajak-sajak Johann Wolfgang von Goethe, dengan tema: "Islam dan Barat dalam Lirik-lirik Goethe", pada Selasa, 24 Maret 2009, pukul 10.00 - 12.30.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Narasumber:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berthold Damshäuser (Penerjemah dan Pengamat Sastra, Universitas Bonn, Jerman)&lt;br /&gt;Agus Sarjono (Redaktur Majalah Sastra &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Horison&lt;/span&gt;)&lt;br /&gt;Mulyadhi Kartanegara (Guru Besar Filsafat Islam, UIN Jakarta)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Moderator:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Oman Fathurahman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;lihat juga informasi singkatnya di sini dalam website Goethe-Insitut &lt;a href="http://www.goethe.de/ins/id/jak/ver/id4262792v.htm"&gt;di sini&lt;/a&gt;:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan:&lt;br /&gt;Buku terjemahan Sajak-sajak Goethe yang menggambarkan pikiran2nya tentang Barat dan Timur (Islam) memang telah lama terbit (2007), tapi temanya mudah2an masih relevan, terutama bagi komunitas mahasiswa Sastra UIN yang belum mengenalpikiran-pikiran "sufistis" Goethe.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pernah menulis ulasan ringan tentang buku tersebut pada 2007, di sini:&lt;br /&gt;&lt;a href="http://naskahkuno.blogspot.com/2007/12/belajar-tasawuf-dari-von-goethe.html"&gt;"Memungut Kearifan Johann Wolfgang von Goethe"&lt;/a&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;a href="http://naskahkuno.blogspot.com/2007/12/belajar-tasawuf-dari-von-goethe.html"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="javascript:window.print()"&gt;Print This Page&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;next&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/470402320472773294-4059022277415572504?l=naskahkuno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://naskahkuno.blogspot.com/feeds/4059022277415572504/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=470402320472773294&amp;postID=4059022277415572504&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/470402320472773294/posts/default/4059022277415572504'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/470402320472773294/posts/default/4059022277415572504'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://naskahkuno.blogspot.com/2009/03/islam-dan-barat-dalam-lirik-lirik.html' title='Islam dan Barat dalam Lirik-lirik Goethe: Acara di FAH UIN Jakarta'/><author><name>Oman Fathurahman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12780420625889202262</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_JmYah9LAc-Y/TLnpONg6PXI/AAAAAAAASPI/COxh9AREd1Y/S220/close+up-OCIS.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_JmYah9LAc-Y/ScWyeXXj4BI/AAAAAAAAPd8/ZaW2RMc8gM4/s72-c/goethe.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-470402320472773294.post-1666094220145254579</id><published>2009-03-18T05:03:00.003+01:00</published><updated>2009-03-18T05:08:21.824+01:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='News'/><title type='text'>New digital library of Islamic manuscripts online</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://www.princeton.edu/main/news/archive/S23/71/54K21/index.xml?sectio"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 188px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_JmYah9LAc-Y/ScBzYy3Y5BI/AAAAAAAAPd0/Px0URht6WUw/s200/princeton.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5314374430105330706" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Princeton University has placed a new digital library of 200 Islamic manuscripts online for scholars to consult and study.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;These manuscripts were selected from some 9,500 volumes of Islamic manuscripts in Arabic, Persian, Ottoman Turkish and other languages of the Muslim world in the University Library's Department of Rare Books and Special Collections. Princeton's extraordinary holdings constitute the premier collection in the Western Hemisphere and among the finest in the world, according to Don Skemer, curator of manuscripts.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;The digital library is a major component of the Islamic Manuscripts Cataloging and Digitization Project, begun in 2005 with the generous support of the David A. Gardner '69 Magic Project. Eventually, all of the manuscripts will be cataloged online, which involves creating bibliographic records containing basic descriptive information that helps researchers decide whether to order microform copies or to visit the library in person.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"The Islamic Manuscripts Cataloging and Digitization Project was conceived specifically as a way for the library to improve access to these rich collections and share them worldwide through digital technology," Skemer said. "It is hoped that the project will make a contribution to international understanding and serve as a gesture of good will to a critical part of the world."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Michael Cook, the Class of 1943 University Professor of Near Eastern Studies and one of the leading Islamicists in America, said, "Princeton has 9,500 Islamic manuscripts in Arabic and other languages in a location that is very convenient for scholars based in North America, but far less so for those based in the Islamic world or Europe. Most of the collection is described in printed catalogs, and scholars can always obtain microfilms of the manuscripts. But the printed catalogs are old and not available everywhere, while microfilms often provide images of poor quality. The online digital library thus marks a major advance in providing up-to-date descriptions of the manuscripts to anyone who can log onto the Web, and in making at least some of the manuscripts available online in fine-quality digital images."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The digital library includes this Arabic botanical manuscript from the 15th century that is from the Robert Garrett Collection donated to the University in 1942.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Approximately two-thirds of the manuscripts were donated to the University in 1942 by Robert Garrett, a member of Princeton's class of 1897. But the library has continued to build this collection since then.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The digitized manuscripts date from the early centuries of Islam until the fall of the Ottoman Empire. They originated in all parts of the Islamic world, from Moorish Spain and northern Africa in the West, through the Middle East, and to India and Indonesia in the East. Subject coverage is fairly encyclopedic, including history, biography, philosophy and logic, theology (based both on the Quran and tradition), law and jurisprudence, language, literature, book arts and illustration, magic and occult sciences, astrology, astronomy, mathematics, medicine, and other aspects of the spiritual and intellectual life of the Islamic world.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;While the digital library emphasizes rare or unique texts of academic research interest, it also includes a selection of Persian illuminated manuscripts and Mughal miniatures, such as a magnificent 18th-century Indian album of miniatures and calligraphy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Princeton expects to add more manuscripts to the digital library in the future, besides producing the online bibliographic descriptions.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Click here for access to the digitized manuscripts. From this webpage, click on "View the Digital Library" and select any of the 200 manuscripts, which are listed both alphabetically and by subject and genre.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;For more information about the project, contact Skemer at dcskemer@princeton.edu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="javascript:window.print()"&gt;Print This Page&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;next&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/470402320472773294-1666094220145254579?l=naskahkuno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://naskahkuno.blogspot.com/feeds/1666094220145254579/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=470402320472773294&amp;postID=1666094220145254579&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/470402320472773294/posts/default/1666094220145254579'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/470402320472773294/posts/default/1666094220145254579'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://naskahkuno.blogspot.com/2009/03/new-digital-library-of-islamic.html' title='New digital library of Islamic manuscripts online'/><author><name>Oman Fathurahman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12780420625889202262</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_JmYah9LAc-Y/TLnpONg6PXI/AAAAAAAASPI/COxh9AREd1Y/S220/close+up-OCIS.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_JmYah9LAc-Y/ScBzYy3Y5BI/AAAAAAAAPd0/Px0URht6WUw/s72-c/princeton.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-470402320472773294.post-8129739499858777751</id><published>2009-03-03T06:37:00.012+01:00</published><updated>2009-03-03T13:38:32.851+01:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Book Review'/><title type='text'>Manuskrip Islam dalam Kancah Akademis</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_JmYah9LAc-Y/SazFjpnmcyI/AAAAAAAAPc8/2m3N8A6adSI/s1600-h/scan0001.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 140px; height: 200px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_JmYah9LAc-Y/SazFjpnmcyI/AAAAAAAAPc8/2m3N8A6adSI/s200/scan0001.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5308835277021016866" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Stefanie Brinkmann &amp;amp; Beate Wiesmueller (eds.), &lt;span style="font-style: italic;"&gt;From Codicology to Technology: Islamic Manuscripts and their Place in Scholarship&lt;/span&gt;, Berlin: Frank &amp;amp; Timme GmbH, 2009.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;------------------------------&lt;br /&gt;Jejak-jejak peradaban dan kegemilangan Islam masa lalu banyak terekam dalam bentuk naskah tulisan tangan (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;manuscript&lt;/span&gt;). Kini, manuskrip-manuskrip tersebut dijumpai, dan tersebar di berbagai belahan dunia, tidak hanya di wilayah-wilayah yang pada masanya merupakan pusat peradaban Islam, melainkan juga di negara-negara lain yang tidak pernah menjadi pusat keislaman, tetapi saat ini secara akademis memberikan perhatian besar terhadap tradisi pernaskahan Islam itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eropa adalah salah satu wilayah yang memiliki tradisi akademis sedemikian kuat di bidang teks dan pernaskahan keislaman. Sejumlah universitas dan perpustakaan di Eropa, sebut saja misalnya Staatsbibliothek zu Berlin, Leipzig University Library, dan Leiden University Library, dikenal sebagai gudang penyimpan naskah-naskah Islam (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Islamic manuscripts&lt;/span&gt;) berbahasa Arab, Persia, dan Turki, yang berasal dari periode Islam awal, dan termasuk di antaranya naskah-naskah keislaman Nusantara dalam bahasa-bahasa lokal, seperti Jawa dan Melayu.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Sarjana-sarjana Eropa khususnya, sadar betapa naskah-naskah Islam tersebut memiliki posisi signifikan sebagai bukti tertulis otentik berkaitan dengan sejarah peradaban Islam masa lalu. Karenanya, tidak sedikit sarjana Eropa yang meletakkan dasar-dasar kesarjanaannya pada manuskrip-manuskrip Islam, termasuk yang berasal dari Nusantara. Berbagai kajian terhadap aspek-aspek pernaskahan Islam pun terus dilakukan, sehingga semakin tampaklah betapa pentingnya manuskrip-manuskrip tersebut dalam konteks akademis internasional, hal yang seringkali dibaikan oleh dunia akademis di negeri sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku yang disunting oleh Stefanie Brinkmann dan Beate Wiesmueller ini merupakan salah satu bukti atas pentingnya manuskrip Islam dalam konteks keilmuan, seperti yang saya kemukakan di atas. Sejumlah artikel yang ditulis oleh sarjana-sarjana pemerhati manuskrip menunjukkan bahwa manuskrip Islam merupakan sumber tak ternilai bagi tumbuhnya tradisi akademis dalam berbagai bidang, seperti sejarah, filsafat, kodikologi, kepustakaan, katalogisasi, dan bahkan yang paling belakangan adalah bagi perkembangan teknologi presentasi perpustakaan digital online.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ini diawali oleh pengantar yang sangat baik dari kedua penyunting. Lebih dari sekedar sebuah pengantar terhadap artikel-artikel yang dikemukakan, kedua penyunting menyuguhkan informasi yang sangat berharga berkaitan dengan situs-situs di seantero jagat yang menyediakan berbagai fasilitas online berkaitan dengan katalog dan naskah-naskah keislaman, termasuk di dalamnya situs &lt;a href="http://www.manuscripts-aceh.org/content/below/index.xml"&gt;naskah-naskah Aceh&lt;/a&gt;, yang dihasilkan melalui kerja sama antara Museum Negeri Aceh, Leipzig University, Yayasan dan Museum Ali Hasjmy Banda Aceh, Pusat Kajian Pendidikan dan Kemasyarakatan (PKPM) Aceh, dan Masyarakat Pernaskahan Nusantara (Manassa).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikutnya, kumpulan artikel dalam buku ini dikelompokkan menjadi tiga bagian besar, yakni "Scholars and Manuscripts", yang memuat tulisan, secara berturut-turut, Rosemarie Quiring-Zoche berjudul &lt;span style="font-style: italic;"&gt;an early manuscript of al-Baydawi's &lt;/span&gt;Anwar al-tanzil&lt;span style="font-style: italic;"&gt; and the model it has been copied from&lt;/span&gt;; Oman Fathurahman, berjudul &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Further research on &lt;/span&gt;Ithaf al-dhaki &lt;span style="font-style: italic;"&gt;manuscripts by Ibrahim al-Kurani&lt;/span&gt;; dan Arnoud Vrolijk, berjudul &lt;span style="font-style: italic;"&gt;"entirely free from the urge to publish" - the 18th century attempts at an edition of the Arabic proverbs of al-Maydani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Bagian kedua adalah "Codicology", yang memuat tulisan Francois Deroche berjudul &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Inks and page setting in early Qur'anic manuscipts&lt;/span&gt;; Edwin P. Wieringa, berjudul &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Some Javanese characteristics of a Qur'an manuscript from Surakarta&lt;/span&gt;; dan Nikolaj Serikoff, berjudul &lt;span style="font-style: italic;"&gt;An Arabic "&lt;/span&gt;Book of Dream&lt;span style="font-style: italic;"&gt;"&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;from an Ottoman imperial collection&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagian terakhir adalah "Collections, Cataloguing, and New Technologies", yang berisi artikel Avihai Shivtiel berjudul &lt;span style="font-style: italic;"&gt;The Arabic manuscripts at the University of Cambridge and the position of the Cairo Genizah documents among other collections&lt;/span&gt;; Michaela Hoffmann-Ruf, berjudul &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Private documents from Oman: the archive of the 'Abriyin of al-Hamra&lt;/span&gt;; Marijana Kavcic, berjudul &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Arabic manuscripts of the National and University library "St. Kliment Ohridski", Skopje, Republic of Macedonia&lt;/span&gt;; dan artikel bersama oleh Stefannie Brinkmann, Thoralf Hanstein, Verena Klemm dan Jens Kupferschmidt, berjudul &lt;span style="font-style: italic;"&gt;From the past to present: Islamic manuscripts in Leipzig&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sangat berbangga hati menjadi bagian dari para penulis dalam buku ini, meski jujur saya merasa masih jauh dari sejajar dengan nama-nama lain di sana. Saya hanya berharap bahwa kontribusi kecil saya dalam buku ini dapat mendorong minat sarjana-sarjana Indonesia lainnya untuk turut melirik kajian dan pemeliharaan manuskrip Indonesia khususnya, yang sementara ini masih banyak terbengkalai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk penerbitan artikel saya dalam buku ini, saya ingin menyampaikan terima kasih sebesar-besarnya untuk kedua editor, &lt;span class="fullpost"&gt;Stefanie Brinkmann dan Beate Wiesm&lt;/span&gt;ue&lt;span class="fullpost"&gt;ller&lt;/span&gt;, yang terus-menerus mengingatkan saya untuk menyelesaikan tulisan, yang awalnya merupakan paper dalam "the 30th German Congress of Oriental Studies (&lt;a href="http://webdoc.urz.uni-halle.de/dot2007/index2.php?art=20&amp;amp;sprache=2"&gt;&lt;i&gt;Deutscher Orientalistentag&lt;/i&gt;&lt;/a&gt;)" pada 24-28 September 2007 lalu, tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terima kasih khususnya saya sampaikan buat &lt;a href="http://www.uni-koeln.de/phil-fak/orient/indo/wieringa/"&gt;Prof. Edwin P. Wieringa&lt;/a&gt; di Malaiologie Institut, Cologne University, yang telah mengundang saya untuk melakukan penelitian pada Agustus 2006-April 2008, sehingga saya memiliki bahan yang sangat berharga untuk menulis sebuah karya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja, penelitian saya itu juga tidak mungkin terlaksana tanpa beasiswa penuh dari &lt;a href="http://www.avh.de/en/index.htm"&gt;The Alexander von Humboldt-Stiftung&lt;/a&gt;, untuk itu saya mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang setulus-tulusnya.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="javascript:window.print()"&gt;Print This Page&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;next&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/470402320472773294-8129739499858777751?l=naskahkuno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://naskahkuno.blogspot.com/feeds/8129739499858777751/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=470402320472773294&amp;postID=8129739499858777751&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/470402320472773294/posts/default/8129739499858777751'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/470402320472773294/posts/default/8129739499858777751'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://naskahkuno.blogspot.com/2009/03/manuskrip-islam-dalam-kancah-akademis.html' title='Manuskrip Islam dalam Kancah Akademis'/><author><name>Oman Fathurahman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12780420625889202262</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_JmYah9LAc-Y/TLnpONg6PXI/AAAAAAAASPI/COxh9AREd1Y/S220/close+up-OCIS.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_JmYah9LAc-Y/SazFjpnmcyI/AAAAAAAAPc8/2m3N8A6adSI/s72-c/scan0001.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-470402320472773294.post-2154769621851462908</id><published>2009-01-06T14:45:00.006+01:00</published><updated>2009-01-06T15:09:36.932+01:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='News'/><title type='text'>The Fifth Islamic Manuscript Conference, Cambridge 24-26 July 2009: ACCESS AND RIGHTS</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_JmYah9LAc-Y/SWNl6Qy-XLI/AAAAAAAAOrg/78xuzHQAjrI/s1600-h/tima.png"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 242px; height: 33px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_JmYah9LAc-Y/SWNl6Qy-XLI/AAAAAAAAOrg/78xuzHQAjrI/s200/tima.png" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5288182439078681778" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Forwarded is the announcement of the Fifth Islamic Manuscript Conference on July 2009 at Christ's College, University of Cambridge, UK.  Dr. Annabel Teh Gallop has kindly forwarded this information for us, many thanks to her, I am really interested to submit a paper proposal, hope you too...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;Dear Colleagues,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.islamicmanuscript.org/conferences/FifthIslamicManuscriptConference.html"&gt;The Islamic Manuscript Association&lt;/a&gt; is pleased to announce that the Fifth Islamic Manuscript Conference will be held at Christ's College, University of Cambridge, UK from 24-26 July 2009. It will be hosted by the Thesaurus Islamicus Foundation and the Centre of Middle Eastern and&lt;br /&gt;Islamic Studies, University of Cambridge.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The Association invites submissions of papers for its annual conference on topics related to the care, management, and study of Islamic manuscripts. In 2009, the Conference will specifically address the issue of access to manuscripts.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Improving access to manuscripts through digitisation and electronic ordering and delivery systems whilst ensuring their proper long-term preservation is fundamental to the successful future study of the Islamic heritage. Presently, technologies are available that have the potential to transform the way manuscripts are studied; however, the access these technologies can allow is counterbalanced by collection holders' concerns regarding their legal rights and the financial sustainability of their organisations. During the Fifth Islamic Manuscript Conference these vital issues will be discussed by our invited speakers and selected paper presenters.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;As in previous years, the Conference will be organised around the Association's four main interest groups: cataloguing, conservation, digitisation, and publishing and research. Papers on access naturally falling into these broad categories will be included in the relevant panels, so please make clear to which interest group your submission relates.  We will also accept submissions related to topics that do not fall directly under the purviews of the interest groups. These may be papers about specific manuscript projects, library collections, research on a particular manuscript, etc.  Please note that the total number of papers accepted will not exceed 25 and preference will be given to speakers who have not presented papers at the Association's previous conferences.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;This invitation is open to members and non-members of the Association. The Conference will be bilingual in Arabic and English and submissions will be accepted in both languages. The title of your paper must be included in your submission. The deadline for submissions is 13 February 2009. Late proposals will not be considered. The duration of each conference paper is 30 minutes inclusive of ten minutes of questions and answers.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Please send your abstract (maximum 500 words) along with a brief CV mentioning at least one relevant publication and a cover sheet to the Executive Committee by email (tima@islamicmanuscript.org), by fax to +44 (0)1223 302218 or by post to the address below:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The Islamic Manuscript Association&lt;br /&gt;c/o 33 Trumpington Street&lt;br /&gt;Cambridge CB2 1QY, United Kingdom&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;We look forward to welcoming you to Cambridge this coming summer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yours sincerely,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Davidson MacLaren&lt;br /&gt;Executive Director&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="javascript:window.print()"&gt;Print This Page&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;next&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/470402320472773294-2154769621851462908?l=naskahkuno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://naskahkuno.blogspot.com/feeds/2154769621851462908/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=470402320472773294&amp;postID=2154769621851462908&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/470402320472773294/posts/default/2154769621851462908'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/470402320472773294/posts/default/2154769621851462908'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://naskahkuno.blogspot.com/2009/01/fifth-islamic-manuscript-conference.html' title='The Fifth Islamic Manuscript Conference, Cambridge 24-26 July 2009: ACCESS AND RIGHTS'/><author><name>Oman Fathurahman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12780420625889202262</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_JmYah9LAc-Y/TLnpONg6PXI/AAAAAAAASPI/COxh9AREd1Y/S220/close+up-OCIS.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_JmYah9LAc-Y/SWNl6Qy-XLI/AAAAAAAAOrg/78xuzHQAjrI/s72-c/tima.png' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-470402320472773294.post-5672769919461078268</id><published>2008-12-16T22:47:00.005+01:00</published><updated>2008-12-17T04:05:04.187+01:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Expert&apos;s Articles'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Book Review'/><title type='text'>Recent Catalogues of Indonesian Manuscripts : A Review</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_JmYah9LAc-Y/SUglCzEhv5I/AAAAAAAAOrQ/loB8PPnIv48/s1600-h/hasjmy.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 142px; height: 200px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_JmYah9LAc-Y/SUglCzEhv5I/AAAAAAAAOrQ/loB8PPnIv48/s200/hasjmy.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5280511293091069842" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Published in &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bidjdragen, tot de Taal-, Land- en Volkenkunde&lt;/span&gt; 164.2/3 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Sri Ratna Saktimulya (ed.), &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Katalog Naskah-naskah Perpustakaan Pura Pakualaman&lt;/span&gt;. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia and the Toyota Foundation, 2005, xix + 314 pp. ISBN 9794615234. Paperback.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Achadiati Ikram (ed.), &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Katalog Naskah Palembang/Catalogue of Palembang Manuscripts&lt;/span&gt;. Tokyo: Centre for Documentation and Area-Transcultural Studies, Tokyo University of Foreign Studies, 2004, 324 pp. ISBN 492524308X. Paperback.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;M. Yusuf (ed.), &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Katalogus Manuskrip dan Skriptorium Minangkabau&lt;/span&gt;. Tokyo: Centre for Documentation and Area-Transcultural Studies, Tokyo University of Foreign Studies, 2006, ix + 295 pp. ISBN 4925243209. Paperback.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oman Fathurahman and Munawar Holil (eds), &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Katalog Naskah Ali Hasjmy Aceh/Catalogue of Aceh Manuscripts: Ali Hasjmy Collection&lt;/span&gt;. Tokyo: Centre for Documentation and Area-Transcultural Studies, Tokyo University of Foreign Studies, 2007, xv + 304 pp. ISBN 4925243285. Paperback.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dick van der Meij&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dickvdm2005@yahoo.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indonesian manuscript collections are scattered over libraries and museums around the globe and a good number of them have been catalogued in the past or are in the process of being catalogued.1 Manuscripts in many Indonesian public libraries and semi-public collections have also been catalogued, some of them through an extensive project funded by the Ford Foundation in the 1980s and 1990s. As for collections outside Indonesia, catalogues have in many cases been published by well-known publishers, making them easy to come by. Catalogues published in Indonesia, though, are usually available for only a short time in local bookshops and thereafter disappear from bookstore shelves forever. It is therefore advisable to purchase these catalogues as soon as they see the light.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In addition to catalogues, many small collections and at times even single manuscripts have been described in scholarly journals. Sometimes they appear in unexpected journals and are therefore in danger of escaping the notice of researchers (for instance: Yamamoto and Lingga 1990).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In the last couple of years four catalogues of semi-public and private col­lections in Java and Sumatra have been published with grants from Japan. The Pakualaman catalogue was sponsored by the Toyota Foundation, whereas the other three on Sumatran collections were sponsored by the 21st Century Centre of Excellence Programme of the Centre for Documentation and Area-Transcultural Studies of Tokyo University of Foreign Studies. It is easy to see that Indonesian catalogue productions are indeed international matters: after the Dutch took the first steps during the Dutch East Indies era and well beyond, other Europeans followed; the task was subsequently taken up by Americans, mostly through the Ford Foundation, while at present efforts are increasingly undertaken by Japanese institutions. The catalogues produced in all these projects more and more often result from intensive cooperation between Indonesian and foreign experts.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;It is extremely important to have semi-public and private collections catalogued and their contents made available to a wide audience of scholars and interested students of culture and literature. Many conclusions about manuscripts and literary competencies in Indonesian areas are based on studies restricted to public manuscript collections (whether outside or inside Indonesia). These conclusions are sometimes highly speculative, as the situa­tion in which, in many areas, manuscripts are/were made and how they are/ were used is often unknown due to lack of in-depth research into the matter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The importance of the fact that many manuscripts are kept in collections by people in their own private surroundings cannot be underestimated. Knowledge about these private collections adds enormously to our under­standing of the significance and popularity of texts now and in the past. Taking private collections into consideration adds to our quantitative knowl­edge about the materials collected and preserved in public collections.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Another issue is that browsing public collections alone may provide a distorted picture of the manuscript reality in Indonesian areas. It is very hard to tell whether or not a collection is representative of the local situation. Scholars have insufficient information at their disposal as to why people who donated their collections to public libraries themselves collected the manuscripts they had and when and how they were acquired. We also have little understanding of the purchasing dynamics of libraries and the reasons why certain manuscripts were deemed fit for acquisition and not others. It is not hard to predict what will be purchased when a library is faced with the choice between a beautifully written, probably complete manuscript and an ugly and seemingly incomplete one. Even though the second may be much more interesting for scholars than the first, few libraries will be able to resist buying the first instead of the second, especially if no in-depth research on the texts contained in them has been conducted. Personal relationships and preferences may have been more decisive in the buying process than the care­ful building up of a representative collection. In the past, when conservators of manuscripts were themselves scholars, they of course brought their own preferences to the job and tended to acquire those manuscripts they wanted to study themselves or those that reflected their scholarly tastes. Tastes and interests, however, change over time and we usually do not have adequate insight into particular purchases or, much more interesting, the number and kind of manuscripts that were rejected by individuals and institutions and therefore returned to obscurity.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Private collections abound all over Indonesia. This is the case in Bali, where manuscripts continue to be written to this day and important col­lections are preserved in the palaces and houses of nobles and high priests, not to mention smaller and larger collections belonging to other private individuals. This is also the case among the Sasak and Balinese communities in Lombok (Van der Meij 1994; 2002:166-170); in South Sulawesi among the Buginese and Makassarese (Mukhlis Paeni 2003); in Buton (Achadiati Ikram 2002); and among the various peoples of Sumatra; while on Java and Madura manuscripts in palace and private hands are preserved in great numbers as well. Unlike the situation in other parts of the world, it may very well be that in Indonesia significantly more manuscripts are privately owned rather than kept in public and semi-public collections, the most important of which are the Perpustakaan Nasional in Jakarta, Universitas Indonesia, British and other European collections, the various palaces and residences of princes and nobles in Java and Bali, and the Leiden collections, which for many Indonesians have attained legendary status.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Before going into detail about each of the catalogues under review, some remarks pertaining to all the catalogues may be useful. Firstly, all the catalogues contain many photos of manuscripts. However, why these par­ticular photos are included and not photos of other manuscripts is nowhere explained. Sometimes this leads to such questions as: on page 144 of the Palembang catalogue, why was the sword not portrayed? I was surprised to see a sword being considered a manuscript, so it would have interested me to see an illustration of it. The notion of 'manuscript' in this collection evidently extends to artefacts that are not usually regarded as manuscripts at all. Secondly, the physical condition of the manuscripts is described in a vari­ety of terms ranging from 'good' to 'extremely bad'. Indonesian codicology needs to explain terms more carefully, and to use standardized terminology to describe physical conditions so that these may be more accurately gleaned from the description. For instance, in the Aceh catalogue, manuscripts that have been eaten by woodworm, contain holes, or have suffered wear and tear are variously called tidak terlalu baik (not too good, p. 77), kurang baik (poor, pp. 39, 43), rusak (damaged, p. 29), or rusak parah (extremely damaged, p. 16), even though the general descriptions of the condition of the manuscripts do not differ much. The Minangkabau catalogue uses slightly different vocabu­lary for this (apart from rusak, which is found in all the catalogues), such as cukup baik (reasonably good, p. 57), mulai rusak (starting to get damaged, p. 61), sangat buruk (very bad, p. 35), rusak berat (extremely damaged, p. 70), and, the most revealing designations, masih bagus (still OK, p. 80), masih cukup baik (still reasonably good, p. 73), and masih baik (still good, p. 87). By using the word masih (still), the editor seems to suggest that deterioration may happen at any time, and since the other catalogues also use the expression they evi­dently share this point of view. Curiously, the catalogue of the Pakualaman collection does not mention the condition of manuscripts at all, probably for diplomatic and deferential reasons. It is a pity, though, that the condition of the manuscripts at the palace, where one would expect standards of preserva­tion to be higher, cannot be compared to that of manuscripts preserved in far less favourable conditions.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The evaluation of the condition of a manuscript is of course subjective and may depend on one's mood and one's overall assessment of a collection. It may moreover change over time, as one gains more experience in a specific kind of manuscript and as one becomes more tolerant. A better idea might be to indicate the consequences of the extent of damage and deterioration in terms of the manuscript's suitability for a possible text edition. If an indica­tion could be given of the amount of text that has become illegible or lost, a prospective editor would have some idea as to whether it is worthwhile to take the trouble of consulting the manuscript at all. A more standardized and less impressionistic assessment of condition might also be useful for restora­tion purposes and result in suggestions for improved preservation, an issue not addressed in any of the catalogues discussed here.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The editors of the Aceh catalogue seem to see a relationship between the physical condition of a manuscript and the number of empty pages found in it (for example, pp. 34, 63, 101) which I fail to see. We do not know precisely how manuscripts were made, so the empty pages may be there for a reason we do not yet grasp and may therefore have no relevance for an assessment of the manuscript's condition. The editor of the Palembang catalogue confuses the condition of a manuscript and the loss of pages. A manuscript may be in excellent condition even though half of it is gone. And a manuscript may be crucial for an understanding of codicological and other scriptorial features while being completely worthless for a text edition.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Since collections and scriptoria have become more and more of a focus in manuscript studies, it is a pity that so little information about the owners and the way they collected their manuscripts, and how they preserve and use them, is offered in the present books. Only minimal information is provided about the scriptoria in Minangkabau and the surau (prayer houses) in which they are preserved up to the present, and information is completely lacking about the owners of the manuscripts catalogued. The fifty manuscripts found, for example, in surau Paseban in Kecamatan Koto Tangah, Kota Padang, are mentioned, but only the number of manuscripts preserved there is indicated, and none of their titles, so that the information is rather useless at this stage. The same holds for the other surau mentioned. No biographical information is given about Ali Hasjmy, even though he was himself interested in manu­scripts and wrote about Acehnese and Malay literature (for example: Hasjmy 1976, 1977,1984). He was, moreover, a member of the Pujangga Baru literary circle, and has no fewer than forty titles to his name. Information about the owners in Palembang is minimal. The Pura Pakualaman is apparently consid­ered to be so well known that no information on it is provided. I think this is a missed opportunity, and may be due to too little time spent on reflecting on the projects' expected outcomes.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perpustakaan Pura Pakualaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In 1931, Ki Hadjar Dewantara wrote the following about literature and the literary tradition in the Pakualaman court:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;If up to now the general public has been left unaware of this beautiful tradition, this has to be understood, in my view, as reflecting the high level of religious de­votion among the people belonging to the Pakualaman court. They would have considered it profane to publish the texts passed down to them, and none would have dared to take responsibility for this.2&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apparently the people of the Pakualaman palace have subsequently shed their shyness, and opened up their literary heritage for the benefit of the interested public.3&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;When Girardet (1983) inventoried the manuscripts in the library of the Pakualaman palace in Yogyakarta in the 1980s, he encountered 195 manu­scripts. The present catalogue of the same collection contains not 195, but 251 manuscripts, since many that were in the hands of the extended Pakualaman family have since been deposited in the library. However, other manuscripts he found have not been rediscovered and are therefore not included in the present catalogue, the material for which was assembled between December 2002 and November 2003. This phenomenon - a listed manuscript that is no longer to be found in a private or semi-public collection - is a recurrent one in Indonesia. It is usually seen as negative (as if outsiders have any right to make demands on private collections to begin with!), but I suggest viewing it from a different angle. Perhaps the manuscript is not lost at all, but was not present in the collection at the time the catalogue was compiled because it was being used. This would point to a continuation of a living text tradition, and should therefore be viewed positively.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In the catalogue the manuscripts have been categorized as follows: Babad (historical and legendary texts), Islam, Piwulang (suluk and texts containing lessons and instruction), Primbon (divination), Sastra (stories derived from Islamic and pre-Islamic times), and Lain-lain (others, including texts on dance and music, customs and language, and so on). The catalogue follows a tested scheme and mentions title, shelf number, language and script, prose or poetry, number of pages and lines per page, dimensions, and writing materi­als used. If a manuscript contains a poetic text, the names of the verse forms and the first two lines of each verse form are provided. Each description also offers a summary of the content, and information about the time of writing and the history of the manuscript, if available.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The catalogue is a sound piece of work, offers photos of stunningly beautiful manuscripts, and provides researchers with the initial information required for planning a future study. It also gives a useful overview of the contents of the collection as a whole. What is unfortunately lacking is some information about how the collection was put together over the years.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The C-DATS-TUFS catalogues&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The three catalogues that follow are the result of projects by the Centre for Documentation and Area-Transcultural Studies of the Tokyo University of Foreign Studies (C-DATS-TUFS), founded in 2002. TUFS has the largest collection of historical materials in Asian and African languages in Japan. It aspires to collect and preserve materials in Asian and African languages and to make them available to the whole world through computer networks. In preparing catalogues of Indonesian collections it cooperates with the Yayasan Naskah Nusantara (YANASSA) and the Masyarakat Naskah Nusantara (MAN ASS A). Apart from cataloguing efforts, the manuscripts are also digitalized. The website (www.tufs.ac.jp/21coe/area) mentions that the digitalization has resulted in 175 CD-ROMS. In addition to the Indonesian title, the catalogues have also been provided with an English title, even though the books are written in Indonesian without accompanying English translation.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Katalog Naskah Palembang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;This is the first catalogue to be published in the framework of the C-DATS-TUFS projects. Its main editor is Achadiati Ikram, one of Indonesia's outstanding philologists and chairperson of YANASSA. In this project she was assisted by no fewer than thirteen people, all of whom are involved in manuscript studies at various universities and at the Indonesian National Library.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The catalogue proper is preceded by an introduction that mentions that the core team members of the project visited Palembang in July 2003 to con­sult the collections that had been selected for inclusion in the project before their arrival. Apparently more collections are available than the ones chosen. What other collections there are and why some collections were chosen and not others are not explained, unfortunately.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The book gives some information about the individuals who own the man­uscripts. Three of them are related to descendants of the Palembang Sultans; one of them, R.H. Mas Syafei Prabu Diraja, is the inheritor of the Sultanate. Owners of religious manuscripts are usually of Arab descent, work as religious instructors (guru mengaji), and have very few resources to properly store man­uscripts. The names and addresses of thirteen owners are mentioned, leaving the reader to imagine who the others - who are only referred to as 'lain-lain', 'others' - might be. This is followed by brief information on the personalities and collections of ten of the thirteen individuals. Unfortunately, here again, the reader is left to wonder who the others are and what their collections are about. Some photos showing how manuscripts are stored, and portraits of thirteen of the owners, enliven the catalogue and provide the collections with a human face: manuscripts are human-made and human-owned.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;For each manuscript is listed: title, language and script, prose or poetry, number of pages and number of lines per page, dimensions, and kind of paper used. Each manuscript has been given two codes. One code indicates the collection and the number of the manuscript in that collection. The manu­scripts are not listed by owner but rather by category. The second code thus starts with an abbreviation of the category of the manuscript, the number in that category, and an abbreviation of the name of the owner. Seventeen cate­gories have been used: Astronomi (astronomy, As), Bahasa (language, Bh), Doa (prayers, Do), Fikih (jurisprudence, Fk), Hadis (Hadith, Hd), Hikayat (prose fiction, Hk), Ilmu Kalam (theology, IK), Lain-lain (others, LL), Obat-Obatan (medicine, OB), Primbon (divination, Pr), Qur'an (Qr), Sejarah (history, Sj), Silsilah (genealogy, SI), Surat (letters, Sy), Syair (poetry, Sr), Tasawuf (Sufism, Ts), and Wayang (shadow theatre, Wy). In the catalogue individual letters have been treated as full manuscripts. Because of this rather complicated system, putting together the collections of each individual owner is a puzzle, since no lists are provided of manuscripts preserved in the same collection. This makes the catalogue inconvenient for scholars interested in collections rather than in specific manuscripts.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The last part of the introduction deals with writers, scribes and scriptoria and is a useful place to start. As with so many writing traditions in the archi­pelago, we still have enormous gaps in our knowledge, so that any informa­tion is welcome.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Katalogus manuskrip dan skriptorium Minangkabau&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In West Sumatra there are still hundreds of manuscripts in private hands, and no fewer than 26 private and semi-private collections are catalogued in this book. Some general information about ownership and ways of transmission is provided.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Previously it was thought that the literary tradition of Minangkabau was overwhelmingly oral and that there were only 371 extant manuscripts, which were kept in Europe (mainly in Leiden) and in the Indonesian National Library (p. 3), and that no others existed. In the present book 280 more manuscripts have been added to that number, letters being regarded as full manuscripts. Most of the letters are in the possession of private individuals, whereas other manuscripts are usually owned by descendants of princely families in the Minangkabau area. The manuscripts are usually written by people connected to prayer houses or by teachers of mystic brotherhoods, tarekat (p. 21). The manuscripts in the collections catalogued are overwhelm­ingly of an Islamic nature (90 per cent of them are in the hands of religious teachers and prayer houses of mystic brotherhoods, p. 21) and the manu­scripts have been categorized as follows: Qur'an, Tafsir Qur'an (Quranic exe­gesis), Kitab Tasaufdan Tauhid (Sufism and doctrine of the unity of God), Fiqih (jurisprudence), Undang-undang (Tambo Adat) Minangkabau (Minangkabau laws and regulations), Sejarah dan Silsilah (history and genealogy), Surat-surat (letters), Perobatan, Adzimat, dan Ramalan (medicine, amulets and divination), Bahasa Arab (Arabic language), and Khotbah (sermons). Apparently, nowadays manuscripts of a religious nature are seldom opened again, whereas letters and lists of genealogies still are, and the number of people still engaged in copying and writing manuscripts can be counted on the fingers of one hand.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Photos of Surau Paseban, Surau Bintungan Tinggi, Surau Batang Kapet, and the Istana Made Rubiah di Lunang are included, in addition to a very long manuscript from Inderapura and its owner. Many manuscripts have been photographed as well, and many photos illustrate the descriptions. Unfortunately, there are no photos of the owners.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The listing of manuscripts uses a numbering system devised specifi­cally for this catalogue. The numbers contain the code MM for Manuskrip Minangkabau, a code for the classification of the manuscripts as mentioned above, the name of the owner, and a number indicating the place of the man­uscript in the collection. For each manuscript is given: title, content, owner, scribe, colophon, watermark, and the beginning and end of the text.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Katalog naskah All Hasjmy Aceh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;If the Leiden collections are legendary among Indonesians, it is safe to say that the collection put together by Prof. Tengku H. Ali Hasjmy (1914-1998) is legendary among Acehnese. The collection is preserved in the Yayasan Pendidikan dan Museum Ali Hasjmy (YPAH) in Banda Aceh. 314 manuscripts were collected in a very short time, between 1992 and 1995 (p. vii).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The editors' introduction discusses the effect the 26 December 2004 earth­quake and subsequent tsunami had on the manuscript collections preserved in Aceh. The collections of the Pusat Dokumentasi dan Informasi Aceh (PDIA) and the Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional and those kept in private col­lections in the area destroyed by the tsunami were completely and irretriev­ably lost. This means that the collections of the Museum Negeri Propinsi and the YPAH are still extant. How many manuscripts were lost due to this single catastrophic event is anyone's guess, but I fear they are many. This tragic event shows clearly and unequivocally that manuscripts are vulnerable. Certainly a large part of the written Acehnese tradition has been lost.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;As a result of the tsunami, the TUFS Aceh Project for the Preservation of Cultural Heritage was set up in March 2005 to catalogue private collections of manuscripts in Aceh which were not easily accessible to a wider public. The present catalogue is the first catalogue of Acehnese manuscripts to see the light and others are planned.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The manuscripts are categorized as follows: Qur'an, Hadis, Tafsir (exege­sis), Tauhid (doctrine of God's unity), Fikih (jurisprudence), Tasawuf (Sufism), Tatabahasa (grammar), Zikir dan Doa (prayers), Hikayat (prose fiction), and Lain-lain (others), and are grouped in this way in the catalogue. The intro­duction is excellent and provides a detailed description of how the catalogue was put together. The information provided for each manuscript is: title, shelf number, language, number of pages, kind of paper used, prose or poetry, dimensions, and number of lines per page. Information on condition and authorship is sometimes given, and for a number of manuscripts content summaries are added. The book ends with photos of the late Mr Ali Hasjmy and his institute.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;One thing I find curious is unfortunately not explained. All the manu­scripts have been assigned a new code to replace the code they had in the YPAH. Why? In general I am not in favour of replacing an existing number­ing system. It usually gives rise to enormous problems of identification, for instance, when numbers are lost in the manuscript for whatever reason, when lists of old numbers and corresponding new ones are lost, or when the new numbers do not adequately match up with the old numbering system. This has been catastrophic, for instance, for the collection in the Museum NTB (Nusa Tenggara Barat) in Ampenan-Mataram, Lombok, and there are other instances as well. Luckily, in the present catalogue, both numbers have been included so that matching should not be a problem. In the case of the YPAH collection, many manuscripts apparently had no number at all (curiously, none of the Quranic ones had) and it would be interesting to know why.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Another point of interest not addressed is how the collection was acquired. The editors note that most of the manuscripts are of a religious nature, but may this perhaps simply be due to the fact that Mr Hasjmy was more inter­ested in those? The reader is left with many questions unanswered, whereas answers might have been found if the right questions had been posed during the investigative part of the cataloguing process.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jajat Burhanudin provided the chapter 'Naskah dan Tradisi Intelektual-Keagamaan di Aceh' ('Manuscripts and the religio-intellectual tradition in Aceh'). It is a useful initial introduction, but I fear he has downplayed the role of fiction and other texts in favour of those of a religious character. I cannot believe that the entire Acehnese literary corpus was solely Islamic inspired, which is more or less suggested here. Much more research is needed to understand the exact nature of this literary tradition.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Conclusion&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The catalogues reviewed here are useful and beautifully produced tools for further research in philology, codicology, and of course textual studies. They show admirably that many manuscripts are still 'out there' and that the knowledge we have of collections, collectors, and scriptoria is still in its infancy. If similar catalogues of manuscripts in private hands in Bali and Lombok, for instance, were to be compiled, they would need to be printed in multiple volumes, because thousands and thousands of manuscripts in hundreds and hundreds of collections are there waiting to be covered. For Bali alone, we need only think of the valuable information provided in the transliterations of Balinese manuscripts in the famous 'Proyek Tik' collection initiated by C. Hooykaas and continued by Hedi Hinzler in close cooperation with the late I Gusti Ngurah Ketut Sangka and presently with I Dewa Cede Catra. The number of collections and owners covered in this project is astounding, yet it forms only a small part of the collections existing on the island. It makes one ponder once more the richness of Indonesia's literary traditions.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The descriptions of the manuscripts are interesting for a number of rea­sons apart from the obvious ones. They reveal the way manuscripts are treat­ed and preserved, and indicate most alarmingly that many of the manuscripts are seriously damaged or otherwise in very poor condition and are preserved in unfavourable circumstances. This means that action is needed to ensure that the manuscripts survive. Edwin Wieringa's remark, in the introduction to the Aceh catalogue (p. v), that the next step should be to photograph the manuscripts in their entirety is therefore pertinent and ought to be taken up by the Indonesian and international community as a priority. However, in all our efforts to catalogue, preserve and conserve manuscripts, we should not forget to edit, translate, and explain them as well. This too should be a prior­ity for the Indonesian and international communities.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The fact that in the compilation of these catalogues many local scholars, from Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, Universitas Sriwijaya (Palembang), Universitas Andalas (Padang, Minangkabau), IAIN Imam Bonjol (Padang, Minangkabau) and LAIN Al-Raniri (Aceh), cooperated with scholars from the Universitas Indonesia and the Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) Universitas Islam Negeri Syarif Hidayarullah, and from MANASSA and YANASSA, offers hope for increasing understanding and appreciation of the Indonesian scriptural heritage, and for future text editions.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;References&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Chambert-Loir, Henri and Oman Fathurahman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1999                Khazanah naskah; Panduan koleksi naskah Indonesia sedunia/World guide to&lt;br /&gt;Indonesian manuscript collections. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia and&lt;br /&gt;EFEO.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dewantara, Ki Hadjar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1967                'Beoefening van letteren en kunst in het Pakoealamsche geslacht', in:&lt;br /&gt;Karya Ki Hadjar Dewantara, bagian II A: Kebudajaan. Jogjakarta: Madjelis-&lt;br /&gt;Luhur Persatuan Taman-Siswa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Girardet, N.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1983                Descriptive catalogue of the Javanese manuscripts and printed books in the&lt;br /&gt;main libraries ofSurakarta and 'Yogyakarta. Wiesbaden: Franz Steiner.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasjmy, A.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1976       Syarah Ruba'i Hamzah Fansuri oleh Syamsuddin al-Sumatrani. Kuala Lum­&lt;br /&gt;pur: Dewan Bahasa dan Pustaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1977                Apa sebab rakyat Aceh sanggup berperang puluhan tahun melawan agressi&lt;br /&gt;Belanda. Jakarta: Bulan Bintang. [Edition of the Acehnese Syair Perang&lt;br /&gt;Sabil.]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1984                'Hamzah Fansuri sastrawan Sufi abad XVII', in: Abdul Hadi W.M. and&lt;br /&gt;L.K. Ara (eds), Hamzah Fansuri penyair Sufi Aceh; Buku peringatan Malam&lt;br /&gt;Hamzah Fansuri 22 Ogos di Taman Ismail Marzuki, pp. 5-11. Jakarta: Lot-&lt;br /&gt;kala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ikram, Achadiati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2002                Katalog naskah Buton koleksi Abdul Mulku Zahari. Jakarta: Manassa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meij, Th.C. van der&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1994                Troyek pendataan/pemetaan keberadaan naskah Lontar Lombok; Gen­&lt;br /&gt;eral report'. Unpublished report for the Indonesian National Library.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2002                Puspakrema; A Javanese romance from Lombok. Leiden: Research School of&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asian, African, and Amerindian Studies, Universiteit Leiden. Mukhlis Paeni&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2003                Katalog induk naskah-naskah Nusantara: Sulawesi Selatan. Jakarta: Arsip&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yamamoto, Haruki, and Andareas S. Lingga&lt;br /&gt;1990                'Catalogue of the Batak manuscripts in the Simalungun Museum', Nam-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;po-Bunka; Tenri Bulletin of South Asian Studies 17 (November):l-18.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Notes&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1 For a detailed overview of collections of Indonesian manuscripts in the world, see Chamber-Loir and Fathurahman 1999.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2 Dewantara 1967:284. Translated from the Dutch; originally published in an anniversary bro­chure dedicated to H.H. Kangjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Paku Alam VII.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3 The present catalogue does not describe all the manuscripts belonging to the Pakualaman library. The reasons for selecting some for cataloguing, and not others, are not mentioned.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="javascript:window.print()"&gt;Print This Page&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;next&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/470402320472773294-5672769919461078268?l=naskahkuno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://naskahkuno.blogspot.com/feeds/5672769919461078268/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=470402320472773294&amp;postID=5672769919461078268&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/470402320472773294/posts/default/5672769919461078268'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/470402320472773294/posts/default/5672769919461078268'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://naskahkuno.blogspot.com/2008/12/recent-catalogues-of-indonesian.html' title='Recent Catalogues of Indonesian Manuscripts : A Review'/><author><name>Oman Fathurahman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12780420625889202262</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_JmYah9LAc-Y/TLnpONg6PXI/AAAAAAAASPI/COxh9AREd1Y/S220/close+up-OCIS.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_JmYah9LAc-Y/SUglCzEhv5I/AAAAAAAAOrQ/loB8PPnIv48/s72-c/hasjmy.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-470402320472773294.post-7749176161663133643</id><published>2008-10-28T22:35:00.019+01:00</published><updated>2008-10-30T14:58:12.824+01:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Current Research'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='My Dissertation'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Minangkabau'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Book'/><title type='text'>Shattariyah in Minangkabau: A Newly Published Book</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_JmYah9LAc-Y/SQeTupeBLEI/AAAAAAAANAI/fNErAVM4kwA/s1600-h/cover.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 257px; height: 182px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_JmYah9LAc-Y/SQeTupeBLEI/AAAAAAAANAI/fNErAVM4kwA/s200/cover.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5262337119220739138" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Oman Fathurahman, &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:85%;" &gt;Tarekat Syattariyah di Minangkabau: Teks dan Konteks&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;, Jakarta: EFEO and Prenada Media Group, in collaboration with PPIM UIN Jakarta, KITLV Jakarta, and Total Indonésie.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Finally, the book originated from my doctoral thesis at the University of Indonesia (UI) Depok (2003) comes to the readers, thanks to Prof. Henri Chambert-Loir of EFEO Jakarta, who has supported me to publish this book and invited other institutions, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;viz&lt;/span&gt; &lt;a href="http://www.kitlv.nl/home/Jakarta_Library"&gt;KITLV Jakarta&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://ppim.or.id/"&gt;PPIM UIN Syarif Hidayatullah Jakarta&lt;/a&gt;, Total Indonésie, and the Publisher &lt;a href="http://www.prenadamedia.com/"&gt;Prenada Media Group&lt;/a&gt;, to join for publication.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I have titled this book as "Tarekat Syattariyah di Minangkabau: Teks dan Konteks" (Shattariyah Order in Minangkabau: Text and Context).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Compared to the initial form of thesis, I have made a significant revision, and the important one is by including the more expanded sources of Shattariyyah manuscripts, not only those from Minangkabau West Sumatra, but also from West Java (Kuningan and Cirebon) and Giriloyo Jogjakarta. This revision has been completed, especially when I was a research fellow of &lt;a href="http://www.humboldt-foundation.de/pls/web/wt_show.text_page?p_text_id=1592"&gt;the Alexander von Humboldt Foundation&lt;/a&gt;, Germany (August 2006-April 2008), at &lt;a href="http://www.uni-koeln.de/phil-fak/orient/indo/inst.html"&gt;Malaiologischer Apparat am Orientalischen Seminar, Universität zu Köln&lt;/a&gt;, under supervision of &lt;a href="http://www.uni-koeln.de/phil-fak/orient/indo/wieringa/"&gt;Prof. Dr. Edwin Wieringa&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I sincerely want to present this book to my parents, H. M. Harun BA, and the late Ny Hj. Sukesih, who have cultivated the most important basic principles of education since my young age, and my beloved family, who always accompany me at any time with their love: my wife, Ida, my children: Fadli Husnurrahman (1997), Alif Alfaini Rahman (2000), and Jiddane Ashkura Rahman (2004). All your love has been manifested within this book, and my love will be with you all forever.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Below is the abstract of the book, and you can find my acknowledgment for those I am indebted to, &lt;a href="http://encepkuningan.blogspot.com/2008/10/tarekat-syattariyah-di-minangkabau-buku.html"&gt;here&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;THIS BOOK focuses on efforts to reveal meaning in religious manuscripts, in this case the manuscripts about Shattariyyah order that emerged in West Sumatra. Ten Shattariyyah manuscripts, written by three Shattariyyah ulama in Minangkabau —Imam Maulana Abdul Manaf Amin, H. K. Deram, and Tuanku Bagindo Abbas Ulakan— were primary sources for the discussion.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Besides, in order to measure the dynamics of the teachings of Shattariyyah order in West Sumatra, two Arabic sources related to Shattariyyah, which are considered to be reference sources for teaching Shattariyyah order in the Malay-Indonesian Islamic world, were consulted. The first is  &lt;span style="font-style: italic;"&gt;al-Simt al-Majid &lt;/span&gt;by Shaikh Ahmad al-Qushashi, and the second is &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ithaf al-Dhaki bi Sharh al-Tuhfah al-Mursalah Ila Ruh al-Nabi &lt;/span&gt;by Ibrahim al-Kurani. As a result of an analysis of these two manuscripts, we know that the Shattariyyah manuscripts in West Sumatra were an important intellectual link between the writers, starting with Ahmad al-Qushashi, Ibrahim al-Kurani, Abdurrauf bin Ali al-Jawi al-Fansuri, and reaching the writers in West Sumatra by way of Burhanuddin Ulakan, an eminent student of Abdurrauf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;As can be seen from the manuscripts, the teachings of Shattariyyah order in West Sumatra generally carried on the traditions that had been previously formulated by the prominent figures of Shattariyyah in H{aramayn, represented by al-Qushashi, and also by the Shattariyyah ulama in Aceh, especially Abdurrauf. These teachings are mainly related to the practices of &lt;span style="font-style: italic;"&gt;dhikr &lt;/span&gt;(religious recitation), behaviour and good manners in &lt;span style="font-style: italic;"&gt;dhikr&lt;/span&gt;, and the formulation of &lt;span style="font-style: italic;"&gt;dhikr&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;However, there are noticeable differences, particularly in relation to the concepts of &lt;span style="font-style: italic;"&gt;haqiqat &lt;/span&gt;(religious truth) and the ultimate objectives of &lt;span style="font-style: italic;"&gt;dhikr &lt;/span&gt;in Shattariyyah order. In Shattariyyah in West Sumatra, the formulation of these concepts was more moderate than in the earlier teachings of al-Qushashi and Abdurrauf. The Shattariyyah manuscripts of al-Qushashi and Abdurrauf discuss the concept of &lt;span style="font-style: italic;"&gt;fana &lt;/span&gt;—the negation of self or the loss of individual limitations, and becoming one with Allah, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;fana ‘an al-fana &lt;/span&gt;or &lt;span style="font-style: italic;"&gt;fana ‘an fanaih&lt;/span&gt;, that is  &lt;span style="font-style: italic;"&gt;fana &lt;/span&gt;from &lt;span style="font-style: italic;"&gt;fana &lt;/span&gt;itself— as religious truth and the ultimate objective of &lt;span style="font-style: italic;"&gt;dhikr&lt;/span&gt;. The Shattariyyah manuscripts of West Sumatra explain that religious truth and &lt;span style="font-style: italic;"&gt;dhikr &lt;/span&gt;are “sufficient” to cleanse the soul, which allows nearness with God, and to produce the feelings that allow for certainty and evidence of religious truth and His Being (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Wujud&lt;/span&gt;).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;This inclination towards moderation is even clearer in the formulation of mystico-philosophy doctrine. As is evident in the manuscripts written by al-Kurani and Abdurrauf, they were still teaching the &lt;span style="font-style: italic;"&gt;wahdat al-wujud &lt;/span&gt;doctrine, though it was adapted to theories of orthodox Islam, and thus this doctrine —which met with strong opposition from the orthodox ulama— was more widely accepted.  In the Shattariyyah manuscripts of West Sumatra, the teachings of &lt;span style="font-style: italic;"&gt;wahdat al-wujud &lt;/span&gt;were not just more flexible, they were in fact removed from all the teachings of Shattariyyah order, as they were considered to be in conflict with the teachings of &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ahlussunnah wal jama’ah&lt;/span&gt;, and a deviation from the practices of &lt;span style="font-style: italic;"&gt;shari’at&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;As a result, particularly since the 19th century, the teaching of Shattariyyah order in West Sumatra without the &lt;span style="font-style: italic;"&gt;wahdat al-wujud &lt;/span&gt;doctrine is just one of this order’s unique characteristics and tendencies. This is relatively different from those in other areas as represented by the Sundanese and Javanese manuscripts from Kuningan, Cirebon, and Giriloyo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;After having contact with several local traditions and cultures, the teaching style of Shattariyyah order was laden with local nuances. Teachings about the relationship between the external body and the internal self, for example, were formulated in what was known as “&lt;span style="font-style: italic;"&gt;pengajian tubuh&lt;/span&gt;” (teachings of body). Shattariyyah teachings, apart from via conventional methods such as the recitation of al-Qur’an, were also delivered through traditions that included local characteristics, such as &lt;span style="font-style: italic;"&gt;salawat dulang&lt;/span&gt;. Followers of Shattariyyah order in West Sumatra also developed what is known as “&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Basapa&lt;/span&gt;”, a Shattariyyah order ritual in Ulakan each Safar month (2nd month of the Arabic calendar), a tradition that was strongly influenced by local culture.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="javascript:window.print()"&gt;Print This Page&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;next&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/470402320472773294-7749176161663133643?l=naskahkuno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://naskahkuno.blogspot.com/feeds/7749176161663133643/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=470402320472773294&amp;postID=7749176161663133643&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/470402320472773294/posts/default/7749176161663133643'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/470402320472773294/posts/default/7749176161663133643'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://naskahkuno.blogspot.com/2008/10/finally-book-originated-from-my.html' title='Shattariyah in Minangkabau: A Newly Published Book'/><author><name>Oman Fathurahman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12780420625889202262</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_JmYah9LAc-Y/TLnpONg6PXI/AAAAAAAASPI/COxh9AREd1Y/S220/close+up-OCIS.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_JmYah9LAc-Y/SQeTupeBLEI/AAAAAAAANAI/fNErAVM4kwA/s72-c/cover.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-470402320472773294.post-3611248451121981771</id><published>2008-09-16T07:51:00.005+02:00</published><updated>2008-09-16T08:13:07.476+02:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Posting in Bahasa'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pers Archive'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Manuscripts on News'/><title type='text'>Letusan Krakatau di Mata Pribumi: Kompas</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_JmYah9LAc-Y/SM9NJPFg3JI/AAAAAAAAMrI/dOjabKc2yFI/s1600-h/syair+lampung+karam.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_JmYah9LAc-Y/SM9NJPFg3JI/AAAAAAAAMrI/dOjabKc2yFI/s200/syair+lampung+karam.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5246496911973735570" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Sumber: &lt;a href="http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/09/12/00480765/letusan.krakatau.di.mata.pribumi"&gt;Kompas&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Repro Suryadi / Kompas Images&lt;br /&gt;Halaman penutup &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Syair Lampung Karam&lt;/span&gt;, yang ditulis Muhammad Saleh, tentang kesaksian meletusnya Gunung Krakatau pada tahun 1883. Letusan gunung tersebut menimbulkan tsunami dan gelombang laut setinggi 40 meter, serta mengakibatkan setidaknya 36.000 orang tewas.&lt;br /&gt;Jumat, 12 September 2008 | 03:00 WIB&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;YURNALDI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Orang banyak nyatalah tentu, Bilangan lebih daripada seribu, Mati&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;sekalian orangnya itu, Ditimpa lumpur, api, dan abu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Pulau Sebuku dikata orang, Ada seribu lebih dan kurang, Orangnya habis&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;nyatalah terang, Tiadalah hidup barang seorang.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Rupanya mayat tidak dikatakan, Hamba melihat rasanya pingsan, Apalah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;lagi yang punya badan, Harapkan rahmat Allah balaskan&lt;/span&gt;.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berita ditemukannya satu-satunya sumber pribumi tertulis yang memuat&lt;br /&gt;kesaksian mengenai letusan Gunung Krakatau pada tahun 1883,&lt;br /&gt;mengejutkan banyak orang. Dalam tempo 48 jam, berita yang dimuat&lt;br /&gt;pertama kali di &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kompas&lt;/span&gt; online (www.kompas.com) itu diunduh sekitar&lt;br /&gt;14.000 orang dari berbagai belahan dunia. Kemudian berita itu dikutip&lt;br /&gt;berbagai media.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menariknya, tidak hanya ditemukan 125 tahun setelah gunung tersebut&lt;br /&gt;meletus, tetapi ditemukan terpisah-pisah dalam bentuk naskah kuno,&lt;br /&gt;yang tersimpan di enam negara, yakni Inggris, Belanda, Jerman, Rusia,&lt;br /&gt;Malaysia, dan Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Adalah ahli filologi dan dosen/peneliti di Leiden University, Suryadi,&lt;br /&gt;yang mengungkapkan semua itu, setelah melakukan penelitian&lt;br /&gt;komprehensif selama lebih kurang dua tahun. Setelah ia alihaksarakan&lt;br /&gt;naskah kuno tersebut, ternyata catatan saksi mata dalam bentuk syair&lt;br /&gt;itu mengungkapkan banyak hal secara humanis, bagai laporan seorang&lt;br /&gt;jurnalis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Laporan orang asing yang selama ini ada tentang letusan Gunung&lt;br /&gt;Krakatau tahun 1883 itu lebih menekankan aspek geologisnya. Letusan&lt;br /&gt;itu menewaskan lebih dari 36.000 orang. Adapun laporan Muhammad Saleh&lt;br /&gt;lebih pada aspek humanis, kemanusiaan, akibat letusan itu," kata&lt;br /&gt;Suryadi, yang sebelumnya juga menemukan bagian sejarah dinasti&lt;br /&gt;Kerajaan Gowa yang hilang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kesaksian langka&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Jauh sebelum peneliti asing menulis tentang meletusnya Gunung Krakatau&lt;br /&gt;(Krakatoa, Carcata) tanggal 26, 27, dan 28 Agustus 1883, seorang&lt;br /&gt;pribumi telah menuliskan kesaksian yang amat langka dan menarik, tiga&lt;br /&gt;bulan pascameletusnya Krakatau, melalui &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Syair Lampung Karam&lt;/span&gt;, yang tiga&lt;br /&gt;bait di antaranya telah dikutipkan di atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Suryadi, kajian-kajian ilmiah dan bibliografi mengenai&lt;br /&gt;Krakatau hampir-hampir luput mencantumkan satu-satunya sumber pribumi&lt;br /&gt;tertulis, yang mencatat kesaksian mengenai letusan Krakatau di tahun&lt;br /&gt;1883 itu. "Dua tahun penelitian, saya menemukan satu-satunya kesaksian&lt;br /&gt;pribumi dalam bentuk tertulis," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum meletus tanggal 26, 27, dan 28 Agustus 1883, gunung Krakatau&lt;br /&gt;telah batuk-batuk sejak 20 Mei 1883. Letusan dahsyat Krakatau&lt;br /&gt;menimbulkan awan panas setinggi 70 kilometer dan tsunami setinggi 40&lt;br /&gt;meter dan menewaskan sekitar 36.000 orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum meletus pada 1883, Gunung Krakatau di Selat Sunda pernah&lt;br /&gt;meletus sekitar tahun 1680. Letusan itu memunculkan tiga pulau yang&lt;br /&gt;saling berdekatan; Pulau Sertung, Pulau Rakata Kecil, dan Pulau Rakata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suryadi menjelaskan, selama ini yang menjadi bacaan tentang letusan&lt;br /&gt;Gunung Krakatau adalah laporan penelitian lengkap GJ Symons dkk, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;The&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Eruption of Krakatoa and Subsequent Phenomena: Report of the Krakatoa&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Committee of the Royal Society&lt;/span&gt; (London, 1888).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun sumber tertulis pribumi terbit di Singapura dalam bentuk cetak&lt;br /&gt;batu (litography) tahun 1883/1884. Kolofonnya mencatat 1301 H&lt;br /&gt;(November 1883-Oktober 1884). Edisi pertama ini berjudul &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Syair Negeri&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Lampung yang Dinaiki oleh Air dan Hujan Abu&lt;/span&gt; (42 halaman).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tak lama kemudian muncul edisi kedua syair ini dengan judul &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Inilah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Syair Lampung Dinaiki Air Laut&lt;/span&gt; (42 halaman). Edisi kedua ini juga&lt;br /&gt;diterbitkan di Singapura pada 2 Safar 1302 H (21 November 1884),"&lt;br /&gt;paparnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Edisi ketiga berjudul &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Syair Lampung dan Anyer dan Tanjung Karang Naik&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Air Laut&lt;/span&gt; (49 halaman), yang diterbitkan oleh Haji Said. Edisi ketiga&lt;br /&gt;ini juga diterbitkan di Singapura, bertarikh 27 Rabiulawal 1301 H (3&lt;br /&gt;Januari 1886). Dalam beberapa iklan, edisi ketiga ini disebut &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Syair&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Negeri Anyer Tenggelam&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Edisi keempat syair ini, edisi terakhir sejauh yang saya ketahui,&lt;br /&gt;berjudul &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Inilah Syair Lampung Karam Adanya&lt;/span&gt; (36 halaman). Edisi keempat&lt;br /&gt;ini juga diterbitkan di Singapura, bertarikh 10 Safar 1306 Hijriah (16&lt;br /&gt;Oktober 1888)," ungkap Suryadi, yang puluhan hasil penelitiannya telah&lt;br /&gt;dimuat di berbagai jurnal internasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Terdapat variasi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Suryadi, khusus teks keempat edisi syair itu ditulis dalam&lt;br /&gt;bahasa Melayu dan memakai aksara Arab-Melayu (Jawi). Dari perbandingan&lt;br /&gt;teks yang ia lakukan terdapat variasi yang cukup signifikan antara&lt;br /&gt;masing-masing edisi. Ini mengindikasikan pengaruh kelisanan yang masih&lt;br /&gt;kuat dalam tradisi keberaksaraan yang mulai tumbuh di Nusantara pada&lt;br /&gt;paruh kedua abad ke-19.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suryadi yang berhasil mengidentifikasi tempat penyimpanan eksemplar&lt;br /&gt;seluruh edisi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Syair Lampung Karam&lt;/span&gt; yang masih ada di dunia sampai saat&lt;br /&gt;ini menyebutkan, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Syair Lampung Karam&lt;/span&gt; ditulis Muhammad Saleh. Ia&lt;br /&gt;mengaku menulis syair itu di Kampung Bangkahulu (kemudian bernama&lt;br /&gt;Bencoolen Street) di Singapura.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Muhammad Saleh mengaku berada di Tanjung Karang ketika letusan&lt;br /&gt;Krakatau terjadi dan menyaksikan akibat bencana alam yang hebat itu&lt;br /&gt;dengan mata kepalanya sendiri. Sangat mungkin si penulis syair itu&lt;br /&gt;adalah seorang korban letusan Krakatau yang pergi mengungsi ke&lt;br /&gt;Singapura dan membawa kenangan menakutkan tentang bencana alam yang&lt;br /&gt;mahadahsyat itu," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Revitalisasi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suryadi berpendapat, &lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Syair Lampung Karam&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; dapat dikategorikan sebagai&lt;br /&gt;"syair kewartawanan" karena lebih kuat menonjolkan nuansa jurnalistik.&lt;br /&gt;Dalam &lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Syair Lampung Karam&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; yang panjangnya 38 halaman dan 374 bait itu,&lt;br /&gt;Muhammad Saleh secara dramatis menggambarkan bencana hebat yang&lt;br /&gt;menyusul letusan Gunung Krakatau pada tahun 1883.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menceritakan kehancuran desa-desa dan kematian massal akibat&lt;br /&gt;letusan itu. Daerah-daerah seperti Bumi, Kitambang, Talang, Kupang,&lt;br /&gt;Lampasing, Umbulbatu, Benawang, Badak, Limau, Lutung, Gunung Basa,&lt;br /&gt;Gunung Sari, Minanga, Kuala, Rajabasa, Tanjung Karang, juga Pulau&lt;br /&gt;Sebesi, Sebuku, dan Merak luluh lantak dilanda tsunami, lumpur, serta&lt;br /&gt;hujan abu dan batu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengarang menceritakan betapa dalam keadaan yang memilukan dan&lt;br /&gt;kacau-balau itu orang masih mau saling menolong satu sama lain. Namun,&lt;br /&gt;tak sedikit pula yang mengambil kesempatan untuk memperkaya diri&lt;br /&gt;sendiri dengan mengambil harta benda dan uang orang lain yang ditimpa&lt;br /&gt;musibah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain menelusuri edisi-edisi terbitan &lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Syair Lampung Karam&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; yang masih&lt;br /&gt;tersisa di dunia sampai sekarang, penelitian Suryadi juga menyajikan&lt;br /&gt;transliterasi (alih aksara) teks syair ini dalam aksara Latin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya berharap &lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Syair Lampung Karam&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; dapat dibaca oleh pembaca masa kini&lt;br /&gt;yang tidak bisa lagi membaca aksara Arab-Melayu (Jawi). Lebih jauh,&lt;br /&gt;saya ingin juga membandingkan pandangan penulis pribumi (satu-satunya&lt;br /&gt;itu) dengan penulis asing (Belanda/Eropa) terhadap letusan Gunung&lt;br /&gt;Krakatau," tutur Suryadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peneliti dan dosen Leiden University ini menambahkan, teks syair ini&lt;br /&gt;bisa direvitalisasi untuk berbagai kepentingan, misalnya di bidang&lt;br /&gt;akademik, budaya, dan pariwisata. Salah satunya adalah kemungkinan&lt;br /&gt;untuk mengemaskinikan teks &lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Syair Lampung Karam&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; itu dalam rangka agenda&lt;br /&gt;tahunan Festival Krakatau. Juga dapat direvitalisasi dan diperkenalkan&lt;br /&gt;untuk memperkaya dimensi kesejarahan dan penggalian khazanah budaya&lt;br /&gt;dan sastra daerah Lampung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="javascript:window.print()"&gt;Print This Page&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;next&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/470402320472773294-3611248451121981771?l=naskahkuno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://naskahkuno.blogspot.com/feeds/3611248451121981771/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=470402320472773294&amp;postID=3611248451121981771&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/470402320472773294/posts/default/3611248451121981771'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/470402320472773294/posts/default/3611248451121981771'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://naskahkuno.blogspot.com/2008/09/letusan-krakatau-di-mata-pribumi-kompas.html' title='Letusan Krakatau di Mata Pribumi: Kompas'/><author><name>Oman Fathurahman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12780420625889202262</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_JmYah9LAc-Y/TLnpONg6PXI/AAAAAAAASPI/COxh9AREd1Y/S220/close+up-OCIS.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_JmYah9LAc-Y/SM9NJPFg3JI/AAAAAAAAMrI/dOjabKc2yFI/s72-c/syair+lampung+karam.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-470402320472773294.post-4015943429053770119</id><published>2008-08-08T08:45:00.011+02:00</published><updated>2008-08-08T12:43:59.240+02:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Posting in Bahasa'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Activities'/><title type='text'>Apa sih Manassa?</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_JmYah9LAc-Y/SJv6K9mE1OI/AAAAAAAAMqI/ia7TkuIYG9o/s1600-h/logo%2Bmanassa.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 162px; height: 103px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_JmYah9LAc-Y/SJv6K9mE1OI/AAAAAAAAMqI/ia7TkuIYG9o/s200/logo%2Bmanassa.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5232050458360861922" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Saya tersenyum simpul ketika sahabat &lt;a href="http://nhosen.blogspot.com/"&gt;Nadirsyah Hosen&lt;/a&gt; (Wollongong, New South Wales, Australia) dan &lt;a href="http://muhamadali.blogspot.com/"&gt;Muhammad Ali&lt;/a&gt; (Riverside, California, United States) menyampaikan ucapan selamat atas terpilihnya saya menjadi Ketua Umum Manassa periode 2008-2011 dalam Musyawarah Nasional Manassa di Bandung beberapa hari lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa pasal? karena meskipun mereka memberikan apresiasinya, tapi ternyata mereka tidak tahu apa itu Manassa? dan bahkan Shaikh Nadir dan Prof. Ali mengaku tidak tahu bahwa di dunia ini ada organisasi yang disebut Manassa. Saya tidak heran, karena pasti banyak kawan-kawan saya yang memang tidak tahu, atau pura-pura tahu untuk menyenangkan hati saya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah faktanya. &lt;span class="fullpost"&gt;Manassa (Masyarakat Pernaskahan Nusantara), yang berdiri pada tahun 1996, memang tempat ngumpulnya orang-orang yang "tidak populer", tempat mereka yang senang bergelut dengan tumpukan manuskrip-manuskrip tulisan tangan berusia ratusan tahun yang sudah lapuk dan berdebu. Filologi, sebuah cabang keilmuan yang menjadi piranti penelitian atas manuskrip-manuskrip tersebut juga sangat tidak familiar bagi kebanyakan orang. Saya sering harus mendeskripsikan panjang lebar ketika orang bertanya, apa itu filologi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manassa juga "organisasi miskin", setidaknya hingga saat ini, punya dana pas-pasan, dan bahkan sekretariat pun numpang di &lt;a href="http://www.fib.ui.edu/yanassa.php"&gt;Yayasan Naskah Nusantara (Yanassa)&lt;/a&gt; di salah satu Gedung Fakultas Ilmu Budaya, UI Depok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Indonesia, Manassa sesungguhnya telah menjelma menjadi sebuah organisasi profesi yang paling berjasa dalam mengawal tetap terjaganya eksistensi warisan budaya dalam bentuk naskah-naskah tulisan tangan itu. Melalui cabang-cabangnya yang tersebar di hampir setiap propinsi di Indonesia, Manassa selalu terdepan dalam berbagai aktivitas berkaitan dengan pernaskahan Nusantara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejumlah sarjana terkemuka pun telah secara rutin menjadi narasumber Manassa, khususnya dalam Simposium Internasional yang digelar setiap tahun itu. Sebut saja M.C. Ricklefs, Henri Chambert-Loir, Edwin P Wieringa, Annabel Teh Gallop, Willem van der Molen, Jan van der Putten, Uli Kozok, dan masih banyak lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Potensi riset para aktivis dan peneliti Manassa juga sesungguhnya sangat strategis, karena bersentuhan langsung dengan sumber-sumber lokal yang jenuin berupa manuskrip-manuskrip tulisan tangan, dan mencakup berbagai aspek kehidupan: sosial, politik, agama, budaya, adat istiadat, dan lain-lain. Jelas, bahwa sumber-sumber lokal ini sangat patut dijadikan sebagai sumber primer penulisan sejarah lokal Nusantara. Masalahnya, potensi ini belum benar-benar secara maksimal diberdayakan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kita membuka-buka puluhan katalog naskah Nusantara yang pernah diterbitkan, mungkin baru kita akan "ngeuh" betapa kayanya sumber-sumber primer dalam bentuk manuskrip ini. Sebagai ilustrasi, baca misalnya &lt;a href="http://naskahkuno.blogspot.com/2006/11/introduction-of-book-of-khazanah-naskah.html"&gt;di sini&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya, di Indonesia, pada level Negara sekali pun, perhatian terhadap pentingnya memelihara artefak-artefak lama ini masih sangat memprihatinkan. Pada saat negara-negara lain, seperti Jepang, Jerman, Inggris, Malaysia, dan lain-lain, seolah berlomba untuk menawarkan kerja sama pemeliharaan, pelestarian, penelitian, serta penggalian berbagai kearifan lokal dalam naskah-naskah lama tersebut, nyaris tidak ada alokasi dana yang signifikan dari Negara untuk memikirkan hal tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ironisnya, ketika sebagian anggota masyarakat pemilik naskah, yang karena dorongan ekonomi misalnya, ketahuan menjual, secara bertahap tapi pasti, sebagian naskah-naskah Nusantara tersebut kepada pihak asing, hampir semua orang lantang berteriak kebakaran jenggot seraya menuduh para penjual naskah itu sebagai tidak memiliki nasionalisme. Bahkan, sebuah Majalah nasional terkemuka pada akhir 2007 lalu pernah memuat komentar sejumlah kalangan yang serta merta mencap para pembeli naskah kita itu sebagai "Pemburu" dan "Pencuri".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, di sinilah peran penting Manassa! Selama ini Manassa, melalui beragam aktivitasnya, telah menjadi semacam lembaga advokasi yang berusaha menumbuhkan kesadaran masyarakat atas pentingnya melakukan restorasi, preservasi, dan penelitian atas naskah-naskah Nusantara tersebut. Semakin tingginya minat penelitian naskah Nusantara di sejumlah perguruan tinggi juga tak lepas dari advokasi Manassa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, perguruan tinggi agama, seperti UIN, IAIN, dan STAIN, juga semakin memberikan ruang bagi berkembangnya aktivitas keilmuan dalam bidang pernaskahan. Bahkan, Departemen Agama, melalui Lektur di Balitbangnya, telah sejak 5 tahun lalu mengagendakan penelitian rutin terhadap naskah-naskah keagamaan Nusantara, berkat rajinnya sejumlah pengurus Manassa "bersilaturahmi" dengan para pengambil kebijakan di Institusi tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya, inilah kelemahan mendasar Manassa saya kira, hingga usianya yang ke-12 ini Manassa belum memiliki Homepage untuk lebih memperkenalkan kiprahnya selama ini ke khalayak yang lebih luas, saya tidak ingin mencari tahu mengapa, yang jelas, inilah yang saya janjikan untuk Manassa ke depan: &lt;span style="font-style: italic;"&gt;go international&lt;/span&gt;!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejauh ini, kolega saya dari Leipzig University di Jerman sudah menyatakan komitmennya untuk menjalin kerja sama dengan Manassa. Kebetulan, Universitas di sebelah Timur Jerman ini memang memiliki perhatian serius terhadap kajian naskah-naskah ketimuran. Konon, koleksi naskah di Perpustakaan Universitas Leipzig kini mencapai lebih dari 3000 buah, yang terdiri dari naskah berbahasa Arab, Persia, dan Turki. Sebanyak 55 naskah Arab dan Persia dari koleksinya itu kini dapat dibaca secara gratis melalui situsnya &lt;a href="http://www.islamic-manuscripts.net/content/below/index.xml;jsessionid=3643EB7B13F13B6C3A95A17AFD0814C9?lang=en"&gt;di sini&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah juga yang ingin dilakukan oleh Manassa, memfasilitasi para peneliti tentang Indonesia khususnya, dan Asia Tenggara umumnya, agar kelak dapat mudah mengakses sumber-sumber lokal yang selama ini sering "disembunyikan" oleh para pemilik naskah tersebut karena dianggap keramat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, saya dan kawan-kawan siap membentangkan tangan untuk menjalin kerja sama dengan pihak mana pun, demi masa depan kebudayaan yang lebih baik. Salam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="javascript:window.print()"&gt;Print This Page&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;next&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/470402320472773294-4015943429053770119?l=naskahkuno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://naskahkuno.blogspot.com/feeds/4015943429053770119/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=470402320472773294&amp;postID=4015943429053770119&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/470402320472773294/posts/default/4015943429053770119'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/470402320472773294/posts/default/4015943429053770119'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://naskahkuno.blogspot.com/2008/08/apa-sih-manassa.html' title='Apa sih Manassa?'/><author><name>Oman Fathurahman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12780420625889202262</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_JmYah9LAc-Y/TLnpONg6PXI/AAAAAAAASPI/COxh9AREd1Y/S220/close+up-OCIS.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_JmYah9LAc-Y/SJv6K9mE1OI/AAAAAAAAMqI/ia7TkuIYG9o/s72-c/logo%2Bmanassa.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-470402320472773294.post-1850889358096700088</id><published>2008-08-08T03:28:00.009+02:00</published><updated>2008-08-08T13:04:41.934+02:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Activities'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Manuscripts on News'/><title type='text'>International Symposium of Manassa 2008</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_JmYah9LAc-Y/SJwoQGroAdI/AAAAAAAAMqQ/7dttxp9Z--0/s1600-h/panel.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_JmYah9LAc-Y/SJwoQGroAdI/AAAAAAAAMqQ/7dttxp9Z--0/s200/panel.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5232101124234281426" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;The 12th international Symposium has been successfully held by the Indonesian Association for Nusantara Manuscripts (MANASSA) in Grha Sanusi Hardjadinata, University of Padjadjaran, Bandung, 4-7 August 2008 last.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Some international, national, and regional speakers had delivered their interesting presentation concerning Nusantara manuscripts. In addition, more than two hundreds participants attended this annual event organized by MANASSA, in collaboration with the local authorities and some other institutions.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In line with the Symposium, MANASSA has also carried out the National Assembly to appoint new Personnel of MANASSA. The Assembly has chosen me as the Chairperson of Manassa for the period 2008-2011. I sincerely thank all people that have given their trust to me, and I'll try to do my best.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;And, the full personnel of MANASSA for the period 2008-2011 are:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Board of Trustees&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dra. Tjiptaningrum Fuad Hasan (FIB-UI, Depok)&lt;br /&gt;Prof. Dr. Achadiati Ikram (ex. officio, Chairperson of Yanassa)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Advisory Board:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Prof. Dr. Partini Sardjono (Unpad, Bandung)&lt;br /&gt;Prof. Dr. Nabilah Lubis (UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta)&lt;br /&gt;Prof. Dr. Chamamah Soeratno (UGM, Jogjakarta)&lt;br /&gt;Dr. Titik Pudjiastuti (UI, Depok)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;The Executive Personnel:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dr. Oman Fathurahman (Chairperson)&lt;br /&gt;Dr. Tommy Christomy (Executive Secretary)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dr. Muhammad Abdullah (Deputy Chairperson)&lt;br /&gt;Dr. La Niampe (Deputy Chairperson)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amyrna Leandra Saleh, M.Hum (Finance Manager)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mamlahatun Buduroh, M.Hum (Secretary)&lt;br /&gt;M. Adib Misbachul Islam, M.Hum (Secretary)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;There are still some other positions in the Organization not decided yet, and will be announced later.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="javascript:window.print()"&gt;Print This Page&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;next&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/470402320472773294-1850889358096700088?l=naskahkuno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://naskahkuno.blogspot.com/feeds/1850889358096700088/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=470402320472773294&amp;postID=1850889358096700088&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/470402320472773294/posts/default/1850889358096700088'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/470402320472773294/posts/default/1850889358096700088'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://naskahkuno.blogspot.com/2008/08/international-symposium-of-manassa-2008.html' title='International Symposium of Manassa 2008'/><author><name>Oman Fathurahman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12780420625889202262</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_JmYah9LAc-Y/TLnpONg6PXI/AAAAAAAASPI/COxh9AREd1Y/S220/close+up-OCIS.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_JmYah9LAc-Y/SJwoQGroAdI/AAAAAAAAMqQ/7dttxp9Z--0/s72-c/panel.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-470402320472773294.post-2385149684859978202</id><published>2008-06-27T06:18:00.006+02:00</published><updated>2008-06-27T08:40:45.388+02:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Activities'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Minangkabau'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Book'/><title type='text'>My Forthcoming Book</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp1.blogger.com/_JmYah9LAc-Y/SGRxpd6OVnI/AAAAAAAAMpY/kUIbd4tIx6g/s1600-h/koleksi+naskah+bintungan+tinggi.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 152px; height: 132px;" src="http://bp1.blogger.com/_JmYah9LAc-Y/SGRxpd6OVnI/AAAAAAAAMpY/kUIbd4tIx6g/s200/koleksi+naskah+bintungan+tinggi.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5216419225619289714" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;This is the first posting since the end of April last, when I returned home to my homeland, Indonesia. I need to take a breath to readjust with my "new" milieu. It's not too easy actually, but it's going well, so far.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;One of my current academic activities is to publish a book entitled "Tarekat Shattariyyah di Minangkabau" (The Shattariyyah Order in Minangkabau). This coming book is originated from my dissertation written in 2003 in the University of Indonesia, Depok. I have updated and completed the discussion with the newest findings, not only to cover the Shattariyyah manuscripts in West Sumatra, but also those in West Java and Jogjakarta as a comparison. This book will be published by the Ecole Francaise d'Extreme Orient (EFEO) Jakarta in collaboration with the Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) or the Center for the Study of Islam and Society, UIN Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;In this book, I focus on efforts to reveal meaning in religious manuscripts, in this case the manuscripts about Shattariyyah order that emerged in Minangkabau. Ten Shattariyyah manuscripts, written by three Shattariyyah ulama in Minangkabau —Imam Maulana Abdul Manaf Amin, H. K. Deram, and Tuanku Bagindo Abbas Ulakan— were primary sources for the discussion. Also, one Sundanese manuscript from Kuningan, and two Javanese manuscripts from Cirebon and Giriloyo, Jogjakarta, will be the secondary sources. All manuscripts contain both the intellectual genealogy and doctrines relating to the Shattariyyah order.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Besides, in order to measure the dynamics of the teachings of Shattariyyah order in Minangkabau, two Arabic sources related to Shattariyyah, which are considered to be reference sources for teaching Shattariyyah order in the Malay-Indonesian Islamic world, were consulted. The first is  &lt;span style="font-style: italic;"&gt;al-Simt al-Majid&lt;/span&gt; by Shaikh Ahmad al-Qushashi, and the second is &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ithaf al-Dhaki bi Sharh al-Tuhfah al-Mursalah Ila Ruh al-Nabi&lt;/span&gt; by Ibrahim al-Kurani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;As a result of an analysis of these two manuscripts, we know that the Shattariyyah manuscripts in Minangkabau were an important intellectual link between the writers, starting with Ahmad al-Qushashi, Ibrahim al-Kurani, Abdurrauf ibn Ali al-Jawi, and reaching the writers in Minangkabau by way of Burhanuddin Ulakan, an eminent student of Abdurrauf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;After having contact with several local traditions and cultures, the teaching style of Shattariyyah order was laden with local nuances. Teachings about the relationship between the external body and the internal self, for example, were formulated in what was known as “pengajian tubuh” (teachings of body). Shattariyyah teachings, apart from via conventional methods such as the recitation of al-Qur’an, were also delivered through traditions that included local characteristics, such as &lt;span style="font-style: italic;"&gt;salawat dulang&lt;/span&gt;. Followers of Shattariyyah order in Minangkabau also developed what is known as “&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Basapa&lt;/span&gt;”, a Shattariyyah order ritual in Ulakan each Safar month (2nd month of the Arabic calendar), a tradition that was strongly influenced by local culture.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hopefully, this book will reach the audiences in next July 2008, insya Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="javascript:window.print()"&gt;Print This Page&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;next&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/470402320472773294-2385149684859978202?l=naskahkuno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://naskahkuno.blogspot.com/feeds/2385149684859978202/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=470402320472773294&amp;postID=2385149684859978202&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/470402320472773294/posts/default/2385149684859978202'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/470402320472773294/posts/default/2385149684859978202'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://naskahkuno.blogspot.com/2008/06/my-forthcoming-book.html' title='My Forthcoming Book'/><author><name>Oman Fathurahman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12780420625889202262</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_JmYah9LAc-Y/TLnpONg6PXI/AAAAAAAASPI/COxh9AREd1Y/S220/close+up-OCIS.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp1.blogger.com/_JmYah9LAc-Y/SGRxpd6OVnI/AAAAAAAAMpY/kUIbd4tIx6g/s72-c/koleksi+naskah+bintungan+tinggi.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-470402320472773294.post-3502573637634391573</id><published>2008-04-13T22:38:00.006+02:00</published><updated>2008-06-24T02:21:34.854+02:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Posting in Bahasa'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Current Research'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Activities'/><title type='text'>Menjelang Akhir sebuah Perantauan...</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp1.blogger.com/_JmYah9LAc-Y/SAJzQp3LEuI/AAAAAAAAMnY/mBi8X9vuP_0/s1600-h/Arbeit.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://bp1.blogger.com/_JmYah9LAc-Y/SAJzQp3LEuI/AAAAAAAAMnY/mBi8X9vuP_0/s200/Arbeit.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5188836450636600034" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Hari-hari ini, saya dan keluarga sedang "menghitung hari", karena pada akhir April nanti secara resmi saya akan menyelesaikan tugas penelitian di Jerman, dan kembali ke habitat asal di UIN Syarif Hidayatullah, Ciputat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak yakin setelah kembali beraktivitas nanti bisa menulis lagi secara rutin di blog ini, tapi saya berharap masih bisa melakukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai hasil riset selama hampir dua tahun di Malaiologischer Apparat, des Orientalischen Seminars, Universität zu Köln, saya sudah mempersiapkan sebuah buku yang bertujuan untuk mempublikasikan hasil edisi teks &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ithaf al-Dhaki&lt;/span&gt;, sebuah karya tasawwuf yang ditulis pada pertengahan abad 17 oleh Ibrahim al-Kurani (1616-1690). Rancangan buku ini juga akan memuat keterangan tentang profil pengarang, latar belakang pendidikannya, jaringan keilmuannya, serta karya-karya selengkapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penelitian filologis, yang saya padukan dengan pendekatan sejarah sosial-intelektual Islam, atas teks &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ithaf al-Dhaki&lt;/span&gt; ini saya lakukan antara bulan Agustus 2006 sampai April 2008, saat saya menerima beasiswa Post-doctoral Program dari Yayasan The Alexander von Humboldt (The AvH), Jerman. Program beasiswa itu sendiri tidak mungkin saya terima tanpa adanya undangan untuk melakukan penelitian dari Prof. Edwin Wieringa.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Kajian atas teks &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ithaf al-Dhaki &lt;/span&gt;sebetulnya pernah diawali oleh A.H. Johns (Australian National University), yang ---bersama Nagah Mahmud al-Ghoneimy (Universitas Al-Azhar Kairo)--- pernah mempersiapkan sebuah edisi teks berdasarkan lima salinan naskah, yakni naskah koleksi Perpustakaan Masjid Al-Azhar, Kairo, yang diduga kuat adalah naskah yang saat ini terdaftar sebagai MS 288 di Perpustakaan Universitas Al-Azhar, Kairo, MS 684 koleksi Perpustakaan India Office, MS Or. 7050 koleksi Perpustakaan Universitas Leiden, serta MS 2578 dan MS 2954 koleksi Perpustakaan Dar al-Kutub, Kairo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya, edisi teks dan hasil kajian Johns dan koleganya itu belum sempat diselesaikan. Meskipun dalam artikelnya beberapa tahun kemudian (Johns 1981: 432-433) Johns menegaskan kembali bahwa ia sedang mempersiapkan edisi dan kritik teks &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ithaf al-Dhaki&lt;/span&gt;, nyatanya telaah pentingnya itu tidak pernah sampai kepada pembaca. Setelah mengetahui maksud penelitian saya, Prof. Johns kemudian bermurah hati untuk ‘mewariskan’ draft yang telah ia buat itu, yang terdiri dari draft terjemahan teks ke dalam bahasa Inggris, serta sebagian kecil kritik teks yang pernah dibuatnya. Pada gilirannya, draft awal versi Johns ini banyak membantu penelitian lebih lanjut atas teks &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ithaf al-Dhaki &lt;/span&gt;yang saya lakukan. Johns juga sempat menulis tentang pentingnya Ithaf al-Dhaki, serta mengutip beberapa bagian teks ---terutama berkaitan dengan latar belakang penulisannya --- dalam artikelnya yang ditulis sebagai salah satu dari kumpulan artikel persembahan untuk Sutan Takdir Alisjahbana (Johns 1978: 469-485).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain Johns, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ithaf al-Dhaki &lt;/span&gt;juga pernah menjadi salah satu sumber utama penelitian yang dilakukan oleh Azyumardi Azra. Dalam karyanya ---yang edisi bahasa Indonesianya terbit pada 1994, dan disusul kemudian dengan edisi Inggrisnya (2003)--- Azra menempatkan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ithaf al-Dhaki&lt;/span&gt; sebagai salah satu rujukan terpenting ajaran neo-Sufisme yang berkembang di dunia Islam pada umumnya, dan di dunia Melayu-Nusantara pada khususnya. Tentu saja Azra tidak bermaksud mempersiapkan sebuah edisi teks &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ithaf al-Dhaki&lt;/span&gt;, karena penekanannya adalah pada pencitraan al-Kurani, melalui pemikiran-pemikiran sufistis dalam karya-karyanya, sebagai seorang Sufi moderat yang terlibat dalam saling silang hubungan antara para ulama di Haramayn dengan sejumlah ulama asal Melayu-Nusantara. Corak pemikiran seperti yang terekam dalam &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ithaf al-Dhaki&lt;/span&gt; inilah yang ditegaskan Azra sebagai bibit-bibit pembaharuan Islam yang dilanjutkan, dikembangkan, serta dielaborasi oleh murid-murid al-Kurani di dunia Melayu-Nusantara, khususnya melalui Abdurrauf ibn Ali al-Jawi sebagai murid sekaligus kawan terdekatnya (Azra 1994).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampir senada dengan Azra ---meskipun sama sekali tidak mengutipnya---, artikel panjang yang ditulis Basheer M. Nafi (2002) juga patut disebut dalam konteks kajian atas pemikiran al-Kurani. Saat melakukan telaah atas kompleksitas hubungan antara tasawwuf dengan pemikiran-pemikiran pembaharuan sejumlah ulama pra-modern Islam akhir abad 17 dan awal abad 18 di Haramayn, Nafi banyak mengeksplorasi pemikiran mistiko-filosofis al-Kurani dalam &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ithaf al-Dhaki&lt;/span&gt;, dan juga dalam karya lainnya seperti &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Tanbih al-‘Uqul &lt;/span&gt;atau &lt;span style="font-style: italic;"&gt;al-Ilma‘ al-Muhit&lt;/span&gt;, yang dianggapnya memiliki pengaruh besar terhadap corak dan kecenderungan pemikiran pembaharuan sejumlah ulama berpengaruh berikutnya, terutama yang memang pernah menjadi murid-murid al-Kurani sendiri seperti Muhammad T{ahir (1081-1145/1670-1733), yang juga adalah putra kandungnya, dan Muhammad ibn ‘Abd al-Hadi al-Sindi (w. 1138/1726).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti tampak dalam keseluruhan pembahasan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ithaf al-Dhaki&lt;/span&gt;, al-Kurani jelas dapat dianggap sebagai salah satu di antara penafsir, sekaligus pembela, pemikiran-pemikiran tasawuf filosofisnya Ibn al-‘Arabi (560-638/1165-1240). Akan tetapi, sejauh menyangkut para penafsir pemikiran Ibn al-‘Arabi ini, umumnya para sarjana hanya menyebut ‘Abd al-Razzaq al-Kashani (w. 736/1335), ‘Abd al-Karim al-Jili (w. 832/1428), atau ‘Abd al-Rahman al-Jami (w. 898/1492), dan tidak pernah menyebut al-Kurani sebagai salah seorang di antaranya. Hal ini sangat mungkin dikarenakan pemikiran-pemikiran al-Kurani sendiri belum banyak diketahui. Memang, di antara hampir seratus buah pena al-Kurani, baru tiga di antaranya yang pernah diterbitkan, tidak termasuk &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ithaf al-Dhaki &lt;/span&gt;yang sesungguhnya mengandung pembahasan panjang serta mendalam berkaitan dengan doktrin mistiko-filosofis Ibn al-‘Arabi tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karenanya, penelitian saya ini antara lain dimaksudkan untuk memperkenalkan kontribusi pemikiran al-Kurani, khususnya berkaitan dengan konsep-konsep &lt;span style="font-style: italic;"&gt;wahdat al-wujud&lt;/span&gt;, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;wajib al-wujud&lt;/span&gt;, dan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;wujud mutlaq &lt;/span&gt;yang sering dikaitkan sebagai ajaran Ibn al-‘Arabi. Dalam konteks tradisi intelektual Islam di dunia Melayu-Indonesia pada pertengahan abad 17, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ithaf al-Dhaki&lt;/span&gt;, yang menjadi sumber utama penelitian saya, dapat dianggap sebagai salah satu sumber terpenting karena merupakan salah satu, kalau tidak satu-satunya, sumber Arab yang menyebut terjadinya kesalahpemahaman masyarakat Muslim di wilayah ini berkaitan dengan doktrin wahdat al-wujud pada saat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, berangkat dari hipotesis Johns bahwa Abdurrauf ibn Ali al-Jawi adalah salah seorang di antara &lt;span style="font-style: italic;"&gt;jama‘at al-jawiyin &lt;/span&gt;murid al-Kurani yang melaporkan situasi keagamaan di wilayah yang disebut sebagai “&lt;span style="font-style: italic;"&gt;bilad Jawah&lt;/span&gt;” tersebut, serta meminta al-Kurani untuk menulis sebuah penjelasan atas kitab &lt;span style="font-style: italic;"&gt;al-Tuhfah al-Mursalah &lt;/span&gt;yang menjadi sumber kesalahfahaman (Johns 1975: 48-54), maka kita patut menduga bahwa mereka yang dimaksud oleh al-Kurani terutama adalah masyarakat Muslim di Aceh, tempat terjadinya perdebatan intelektual mengenai doktrin &lt;span style="font-style: italic;"&gt;wahdat al-wujud &lt;/span&gt;antara para pengikut ajaran Hamzah Fansuri dan Shamsuddin al-Sumatra’i dengan kelompok Muslim ortodoks yang dimotori oleh Nuruddin al-Raniri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Telaah atas teks dan konteks &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ithaf al-Dhaki &lt;/span&gt;ini juga sekaligus menegaskan pentingnya memperluas cakupan kajian manuskrip Nusantara supaya tidak hanya terbatas pada karya-karya yang ditulis oleh pengarang, dan dalam bahasa, lokal saja, melainkan juga naskah-naskah berbahasa non-lokal, seperti Arab, karangan penulis non Melayu-Nusantara, tetapi memiliki keterkaitan kuat dengan wacana dan tradisi intelektual di wilayah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi saya sendiri, draft buku ini merupakan hasil ‘kontemplasi’ selama hampir dua tahun dalam sebuah lingkungan yang sangat memungkinkan untuk sebuah aktifitas penelitian. Melalui beasiswa penuh dari Yayasan The AvH dan dukungan maksimal dari Prof. Wieringa selaku “tuan rumah” di Institut Malaiologie, Universitas Cologne, saya beruntung memperoleh kesempatan berharga untuk menelusuri sumber-sumber primer berkaitan dengan karya-karya al-Kurani yang tersimpan secara terpisah di sejumlah perpustakaan Mancanegara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karenanya, ucapan terima kasih pertama ingin saya sampaikan kepada The AvH yang telah menerima proposal penelitian saya, serta menyetujui perpanjangan masa penelitian dari satu tahun menjadi 21 bulan akibat “membengkaknya” sumber-sumber penelitian yang dijumpai. Saya bersyukur bisa menjadi orang pertama dari kalangan UIN/IAIN, serta salah seorang di antara tidak lebih dari 35 an peneliti asal Indonesia dan puluhan ribu peneliti lainnya dari berbagai pelosok dunia, yang mereguk pengalaman sebagai penerima beasiswa penelitian dari salah satu Yayasan terkemuka di Jerman ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengalaman sebagai Humboldtian telah menarik saya ke dalam sebuah jejaring akademis lintas disiplin yang simpul-simpulnya niscaya akan menjadi potensi berharga dalam membangun dan mengembangkan tradisi akademik di kampus sendiri. Moto “&lt;span style="font-style: italic;"&gt;once an Humboldtian always an Humboldtian&lt;/span&gt;” dari The AvH sangat memungkinkan para alumninya untuk terus menjalin komunikasi dan kerja sama akademik, baik dengan The AvH sendiri maupun dengan sesama Humboldtian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian, Prof. Edwin Wieringa adalah salah satu kunci terpenting keberhasilan aktifitas penelitian saya. Tidak saja ia telah memberikan keleluasaan dalam melakukan tahap-tahap penelitian dan menyediakan fasilitas yang sangat maksimal di Institut Maliologie, tetapi lebih dari itu juga banyak memberikan saran agar penelitian saya dapat berjalan secara efisien serta menghasilkan sebuah karya tulis yang baik. Bagi saya, Prof. Wieringa adalah mitra diskusi yang sangat menyenangkan, rileks, dan bahkan sangat peduli dengan masalah-masalah pribadi atau keluarga yang saya hadapi selama tinggal di Jerman. Untuk itu, saya ingin mengucapkan terima kasih dan penghargaan setulus-tulusnya atas semua kebaikannya yang telah saya terima.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Institut, saya juga berhutang budi kepada Frau Walburga Stork dan Joachim Niess serta kolega-kolega lain yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu, yang selama masa penelitian banyak membantu memfasilitasi kelancaran aktifitas saya. Untuk itu saya ucapkan terima kasih kepada mereka semuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti saya singgung di atas, pada pertengahan aktifitas penulisan buku ini, Prof. A.H. Johns “mewariskan” semua salinan hasil edisi teks &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ithaf al-Dhaki &lt;/span&gt;yang belum selesai kepada saya, dan kemudian saya sempurnakan dengan menyertakan dua belas salinan naskah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ithaf al-Dhaki &lt;/span&gt;yang belakangan saya jumpai. Untuk itu, ucapan terima kasih tak terhingga saya sampaikan atas kepercayaan Prof. Johns untuk “melanjutkan” penelitian atas salah satu karangan terpenting Ibrahim al-Kurani ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penelusuran salinan naskah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ithaf al-Dhaki &lt;/span&gt;di sejumlah perpustakaan juga telah melibatkan beberapa sahabat yang dengan tulus membantu dengan cara mereka masing-masing. Dr. Nursamad Kamba di Jeddah serta Amin Samad, M.A. di Cairo adalah dua orang yang kepadanya saya harus berterima kasih. Atas bantuan keduanya, serta kawan-kawan lain di Kairo, saya dapat memperoleh salinan naskah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ithaf al-Dhaki &lt;/span&gt;koleksi Perpustakaan Universitas Al-Azhar, yang oleh Johns pernah disebut sebagai salah satu salinan terbaik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, keleluasaan saya melakukan penelitian juga tidak lepas dari izin yang diberikan oleh Pimpinan Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, khususnya Pimpinan Fakultas Adab dan Humaniora, untuk meninggalkan tugas-tugas akademik selama masa penelitian ini. Saya hanya bisa berusaha agar masa waktu yang telah saya habiskan ini akhirnya dapat membuahkan sesuatu yang akan bermanfaat bagi lembaga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Last but not least&lt;/span&gt;, saya ingin mempersembahkan segalanya buat Ida, istri tercinta, juga Fadli, Alif, dan Jiddane, buah hati tersayang, yang telah mengorbankan semua pilihan pribadinya untuk menemani dan tinggal jauh dari keluarga di kampung halaman. Saya tahu persis, bukan hal yang mudah bagi mereka untuk beradaptasi, baik di lingkungan rumah maupun di sekolah; mereka tidak punya pilihan selain berusaha untuk menyesuaikan diri serta menghadapi berbagai masalah, mulai dari perkara bahasa sampai soal perbedaan adat istiadat dan budaya. Saya hanya berharap dan berdoa, semoga pilihan ini pada akhirnya dapat memberikan yang terbaik buat kita bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="javascript:window.print()"&gt;Print This Page&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;next&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/470402320472773294-3502573637634391573?l=naskahkuno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://naskahkuno.blogspot.com/feeds/3502573637634391573/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=470402320472773294&amp;postID=3502573637634391573&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/470402320472773294/posts/default/3502573637634391573'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/470402320472773294/posts/default/3502573637634391573'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://naskahkuno.blogspot.com/2008/04/akhir-sebuah-perantauan.html' title='Menjelang Akhir sebuah Perantauan...'/><author><name>Oman Fathurahman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12780420625889202262</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_JmYah9LAc-Y/TLnpONg6PXI/AAAAAAAASPI/COxh9AREd1Y/S220/close+up-OCIS.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp1.blogger.com/_JmYah9LAc-Y/SAJzQp3LEuI/AAAAAAAAMnY/mBi8X9vuP_0/s72-c/Arbeit.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-470402320472773294.post-3934346123439587567</id><published>2008-04-01T08:41:00.010+02:00</published><updated>2008-04-01T10:50:49.387+02:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='News'/><title type='text'>Job Opening: Assistant Professor, Malay Studies</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://www.fas.nus.edu.sg/malay/news.html" target="'_blank"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://bp2.blogger.com/_JmYah9LAc-Y/R_HcbjGZbKI/AAAAAAAAMDU/4cMqx3KEm3s/s200/National+University+of+Singapore_Page_1.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5184167011916803234" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Yesterday, Jan van der Putten, my colleague at the National University of Singapore (NUS), forwarded me an information about an application invitation for a new position &lt;/span&gt;of Assistant Professor specializing in both the areas of Malay literature and Malay society &lt;span class="fullpost"&gt;at the Department &lt;/span&gt;of Malay Studies of the Faculty of Arts and Social Sciences, National University of Singapore. I suppose it might be useful to put it here....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;----------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Job Opening: Assistant Professor, Malay Studies&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    The Department of Malay Studies of the Faculty of Arts and Social Sciences, National University of Singapore invites applications for the position of Assistant Professor specializing in both the areas of Malay literature and Malay society. Preference would be given to candidates whose research and teaching areas straddle the literary and sociological aspects of Malay society.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;    Candidates must have a PhD preferably in Malay Studies by the time of appointment as well as show promise for establishing a strong research programme. The successful candidate will be expected to teach and develop both undergraduate and postgraduate modules in the areas of classical and modern Malay/Indonesian literature as well as Malay society. Candidates must be able teach in both Malay and English and demonstrate versatility in their teaching experiences and research interest.&lt;br /&gt;  * Interested candidates must submit their applications together with the following:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    1. Full Curriculum Vitae together with the names and complete contact details of three academic referees.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    2. A statement (max. 2 pages) of teaching interests, teaching philosophy and methodology as well as past teaching evaluations.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    3. A statement (max 2 pages) detailing research interests and agenda.&lt;br /&gt;  * Please submit all documents by 30th April 2008 to:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Chair, Department of Malay Studies Search Committee&lt;br /&gt;    Faculty of Arts and Social Sciences&lt;br /&gt;    National University of Singapore&lt;br /&gt;    11, Arts Link&lt;br /&gt;    Singapore 117570&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Only short-listed candidates will be notified and invited for a campus visit. Enquiries about this position can be directed to the secretary of the Malay Studies Department at mlssec@nus.edu.sg; Fax: ++65-67732980.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Visit the University’s website at http://www.nus.edu.sg/ohr/ for details of benefits and terms and conditions of appointments. Further information about the Faculty of the Arts and Social Sciences and the Department of Malay Studies can be found at http://www.fas.nus.edu.sg/&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Please check &lt;a href="http://www.fas.nus.edu.sg/malay/news.html"&gt;here&lt;/a&gt; for the original link.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="javascript:window.print()"&gt;Print This Page&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;next&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/470402320472773294-3934346123439587567?l=naskahkuno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://naskahkuno.blogspot.com/feeds/3934346123439587567/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=470402320472773294&amp;postID=3934346123439587567&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/470402320472773294/posts/default/3934346123439587567'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/470402320472773294/posts/default/3934346123439587567'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://naskahkuno.blogspot.com/2008/04/job-opening-assistant-professor-malay.html' title='Job Opening: Assistant Professor, Malay Studies'/><author><name>Oman Fathurahman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12780420625889202262</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_JmYah9LAc-Y/TLnpONg6PXI/AAAAAAAASPI/COxh9AREd1Y/S220/close+up-OCIS.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp2.blogger.com/_JmYah9LAc-Y/R_HcbjGZbKI/AAAAAAAAMDU/4cMqx3KEm3s/s72-c/National+University+of+Singapore_Page_1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-470402320472773294.post-5550305363958335434</id><published>2008-02-28T11:33:00.019+01:00</published><updated>2008-03-05T13:34:07.310+01:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='News'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Activities'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Aceh'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Reflection'/><title type='text'>Digitising Manuscripts and Developing Online Digital Manuscript Library</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://www.zeutschel.com/products/grayscale_scanner_os12000_g.htm"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://bp3.blogger.com/_JmYah9LAc-Y/R8fYYz6rzxI/AAAAAAAAMDI/ihkhiYCe8_A/s200/grayscale_scanner_os12000_g.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5172340617823112978" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Yesterday, I visited the Department of Oriental Studies at Leipzig University to fulfill a gratifying invitation from Dr. Thoralf Hanstein and Prof Dr. Eckehard Schulz and discuss about a project for the cataloguing and digitising of Aceh manuscripts that will begin soon. This project is carried out thanks to a grant from the Ministry of Foreign Affairs, Germany.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dr. Thoralf Hanstein, as a Team coordinator, has explained to me that the main purpose of the project is to facilitate the people of Aceh, in particular, to save and back up their very wealthy manuscripts in case a natural disaster like the last tsunami destroy it. Of course this doesn't mean that we are hoping such natural disaster happens again, but a totally lost of all historical and highly important archives and documents preserved in the Center of Aceh Documents and Information (PDIA) without any copies in the last December 2004 should be a warning to anticipate any possibilities.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;At the Department, Dr. Hanstein showed me a fastest, most recently and modern scanner that the Team will work with to digitalize Aceh manuscripts. “It just needs two seconds to produce a ready published image from one folios of manuscripts with various formats and qualities and without destructing the manuscript itself, while the old one usually takes about two minutes to produce the same image with a little bit consequences of reducing the quality of manuscripts” he said.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;According to Dr. Hanstein, at present such scanner has already arrived in the Aceh Museum and ready to use as part of post-tsunami aids. Then, the Museum, currently headed by Nurdin, M.A., is the first institution in Indonesia, even the second in the world following the Leipzig University itself, who will has a very valuable experience to get benefit from this rather expensive equipment.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apparently the aim of this project will not limit only to restore poor condition manuscripts and digitalize it, but also to make them online, so that in the future the readers may no longer need to come or flight to Aceh if they just want to read the content of manuscripts. However, the quality of the online images itself may not be good enough to make a facsimile publication or even printed edition. This is to guarantee there are no third parties who misuse in publishing a certain manuscript without any permission from the owner institution.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Accordingly, Dr. Hanstein, on behalf of this project, will also provide all necessary software and hardware in order to develop an online digital manuscript library, and even allocated budgets to purchase sets of computer and will train certain local staffs to run this online digital library in a long term.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I highly appreciate what the "Orientalisches Institut" and the Data Processing Service Centre of the Leipzig University have already done. I am in opinion that any efforts to make old rare manuscripts online will help preserving the text contained in the manuscripts itself for a longer time. Besides, these efforts may urge the scholarly world to give much more attentions, and encourage doing research based on this kind of local sources.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;My dream is that the Government of Indonesia, through any related ministries, gives a fully and serious support for such this agenda, then we could preserve our cultural heritage with various modern ways. There are foreign institutions could be counterpart to carry out such agenda. Leipzig University is only one of them. Since the last three years, I, on behalf of Manassa and PPIM UIN Jakarta, have involved also in a mutual collaboration with C-DATS Tokyo University of Foreign Studies for catalouging Indonesian manuscripts.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I am so impressed when looking at, and surfing, the prototype of this online digital manuscript library developed by the Leipzig University which has displayed 55 Arabic and Persian manuscripts and provided three different languages, viz. German, English, and Arabic (see http://www.islamic-manuscripts.net/) . It is user &lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;friendly &lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;and fully informative. Dr. Hanstein said that in the future they will make the other more than 3200 manuscripts, currently preserved in the Library, online.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dr. Hanstein, and also Prof. Schulz as a team leader of this project, told me that the digitising of manuscripts in Aceh will end in next two years. After that, they will look for other institutions or places in Indonesia who are interested to collaborate and do such cataloguing and digitising manuscripts using this kind of technology, plus developing a digital online manuscript library for their own institutions.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Of course, the first step is to sit together and build a mutual trust to get a same perception regarding the purpose and benefit of the program. This is so important to avoid any unproductive misunderstanding.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So, who's the next?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="javascript:window.print()"&gt;Print This Page&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;next&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/470402320472773294-5550305363958335434?l=naskahkuno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://naskahkuno.blogspot.com/feeds/5550305363958335434/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=470402320472773294&amp;postID=5550305363958335434&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/470402320472773294/posts/default/5550305363958335434'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/470402320472773294/posts/default/5550305363958335434'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://naskahkuno.blogspot.com/2008/02/digitising-manuscripts-and-developing.html' title='Digitising Manuscripts and Developing Online Digital Manuscript Library'/><author><name>Oman Fathurahman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12780420625889202262</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_JmYah9LAc-Y/TLnpONg6PXI/AAAAAAAASPI/COxh9AREd1Y/S220/close+up-OCIS.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp3.blogger.com/_JmYah9LAc-Y/R8fYYz6rzxI/AAAAAAAAMDI/ihkhiYCe8_A/s72-c/grayscale_scanner_os12000_g.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-470402320472773294.post-4110017282848210102</id><published>2008-02-12T21:58:00.000+01:00</published><updated>2008-02-12T22:27:02.488+01:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='News'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Activities'/><title type='text'>Manassa's International Symposium comes again!</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp2.blogger.com/_JmYah9LAc-Y/R7INcZrpO3I/AAAAAAAAMBY/Jxm-xnCvtiU/s1600-h/logo%2Bmanassa.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://bp2.blogger.com/_JmYah9LAc-Y/R7INcZrpO3I/AAAAAAAAMBY/Jxm-xnCvtiU/s200/logo%2Bmanassa.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5166206504128822130" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;The Society of Archipelago’s Manuscripts (Masyarakat Pernaskahan Nusantara) will carry on again a twelfth international symposium to share and discuss new findings on Indonesian manuscripts. This annual activity will take place in the University of Padjadjaran, Bandung in August 4-7, 2008.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The committee kindly calls you for paper, and the limit time to submit an abstract is March 31, 2008. Below is the more detail explanation of the Program in Bahasa.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;----------&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;SIMPOSIUM INTERNASIONAL PERNASKAHAN NUSANTARA XII&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;DAN MUSYAWARAH NASIONAL IV&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;MASYARAKAT PERNASKAHAN NUSANTARA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;PENDAHULUAN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Masyarakat internasional telah maklum atas hasil gemilang yang dicapai masyarakat Nusantara dalam kegiatan menuangkan hasil pemikiran melalui tulisan sejak berabad-abad silam. Lewat tulisan-tulisan itu mereka mengungkapkan ide-ide religiusnya beserta pandangan mereka mengenai manusia dan semesta alam. Semua hasil pemikiran tertulis tadi dapat ditemui kembali, antara lain, di dalam naskah-naskah yang merupakan warisan budaya masa lampau. Sebagian besar khazanah budaya tersebut belumlah terpelihara secara baik serta belum digali kandungan isinya secara sempurna sehingga upaya penelitian, pengkajian, dan penyebarluasannya perlu  makin  terus ditingkatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dewasa ini di kalangan masyarakat Indonesia nampak kerinduan akan bahan bacaan yang berisi uraian, pembahasan atau pembicaraan tentang kebudayaan mereka sendiri, baik yang bertalian dengan bahasa, sastra, sejarah, kesenian, ilmu pengetahuan, pandangan hidup, maupun unsur kebudayaan lainnya yang mereka atau leluhur mereka telah miliki. Kerinduan terhadap bahan bacaan tersebut terdorong oleh rasa ingin tahu akan pengetahuan mengenai peranan, milik, dan diri mereka sendiri. Pengetahuan tadi penting  guna memahami eksistensi dan identitas mereka serta merupakan bahan kebanggaan mereka guna membangkitkan semangat dalam rangka mencapai tujuan di masa mendatang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Simposium Internasional Pernaskahan Nusantara XII berupaya untuk menyajikan hasil-hasil penelitian, pelestarian, dan pengkajian terhadap khazanah naskah Nusantara guna menunjang pengembangan kebudayaan nasional. Di samping itu, Simposium Internasional Pernaskahan Nusantrara XII ini dapat dipandang sebagai salah satu wujud dalam rangka memenuhi kebutuhan bahan bacaan tersebut di atas bagi masyarakat Indonesia dan masyarakat lainnya yang memerlukan informasi dan pengetahuan tentang kebudayaan masa lampau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;MAKSUD DAN TUJUAN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Maksud dan Tujuan Simposium Internasional Pernaskahan Nusantara XII  adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Menjalin silaturahmi yang lebih akrab di antara sesama pencinta naskah Nusantara.&lt;br /&gt;2.  Sebagai sarana informasi mengenai hasil-hasil penelitian dan temuan baru naskah Nusantara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;TEMA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Tema Simposium Internasional Pernaskahan Nusantara XII ini adalah "Menyadarkan Masyarakat akan Manfaat Naskah Nusantara"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;WAKTU DAN TEMPAT&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kegiatan ini akan berlangsung di Aula SANUSI HARDJADINATA, Universitas Padjadjaran, Bandung pada 4-7 Agustus 2008.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;KEGIATAN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Simposium, Musyawarah Nasional, Pameran (Khazanah naskah Nusantara asal Jawa Barat), Pergelaran Kesenian Beluk (Seni membaca/tembang naskah-naskah Nusantara, a.l. wawacan), Workshop pembuatan Daluang (kertas tradisional Nusantara, dan Bandung City Tour.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;KEYNOTE SPEECH&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Keynote Speech dalam Simposium Internasional Pernaskahan Nusantara VI akan dibawakan oleh Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;PESERTA DAN PEMAKALAH&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Peserta Simposium Internasional Pernaskahan Nusantara VI adalah mereka yang berkecimpung dalam bidang yang berkaitan dengan dunia pernaskahan serta masyarakat peminat dan pecinta naskah-naskah Nusantara yang diperkirakan berjumlah 300 orang, terdiri dari para filolog (ahli naskah), anggota Manassa, permuseuman, Balai Bahasa, Balai Kajian Jarahnitra, Balai Arkeologi, termasuk lembaga maupun masyarakat perseorangan yang berkaitan dengan masalah pernaskahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemakalah terdiri dari tiga kategori, yaitu pemakalah utama sebanyak 3 orang, pemakalah undangan sebanyak 12 orang,  dan pemakalah hasil seleksi sebanyak 15 orang (baik dalam dan luar negeri), yang diharapkan bisa merepresentasikan keberadaan tradisi pernaskahan di Nusantara; mereka itu terdiri dari kalangan ahli dan peneliti naskah-naskah tradisi Melayu, Jawa, Sunda, Bali, Batak, Minangkabau, Bugis/Makasar, dan Wolio (Sulawesi Tenggara).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para pemakalah luar negeri, diharapkan datang dari Inggris, Amerika Serikat, Belanda, Prancis, Rusia, Selandia Baru, Jepang, Singapura, Malaysia, dan Brunei Darussalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jumlah makalah yang akan ditampilkan diperkirakan sebanyak 31 makalah dan disajikan dalam 11 sesi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para pemakalah hendaknya sudah mengirimkan abstraknya ke sekretariat panitia (berikut soft copy dalam format Microsoft Word) paling lambat tanggal 31 Maret 2008, dan makalah yang diterima akan diumumkan pada tanggal 30 April 2008. Makalah Adapun makalah diharapkan sudah dapat diterima oleh panitia paling lambat tanggal 17 Juli 2008 (berikut soft copy dalam format Microsoft Word)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;BIAYA PENDAFTARAN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Mahasiswa Rp. 400.000,-&lt;br /&gt;Dosen/Mahasiswa S-2/S-3/Umum Rp. 500.000,-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biaya Pendaftaran ditransfer a.n. Satria Yanuar Akbar&lt;br /&gt;ke BNI Kantor Cabang UNPAD&lt;br /&gt;Norek 0055783430&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Copy transfer + Formulir Pendaftaran&lt;br /&gt;di faks ke (+62.22) 720 1587&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendaftaran sudah termasuk: penginapan 4 hari 3 malam,&lt;br /&gt;konsumsi (makan siang dan kudapan), seminar kit, sertifikat,&lt;br /&gt;dan Bandung City Tour.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="javascript:window.print()"&gt;Print This Page&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;next&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/470402320472773294-4110017282848210102?l=naskahkuno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://naskahkuno.blogspot.com/feeds/4110017282848210102/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=470402320472773294&amp;postID=4110017282848210102&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/470402320472773294/posts/default/4110017282848210102'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/470402320472773294/posts/default/4110017282848210102'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://naskahkuno.blogspot.com/2008/02/manassas-international-symposium-comes.html' title='Manassa&apos;s International Symposium comes again!'/><author><name>Oman Fathurahman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12780420625889202262</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_JmYah9LAc-Y/TLnpONg6PXI/AAAAAAAASPI/COxh9AREd1Y/S220/close+up-OCIS.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp2.blogger.com/_JmYah9LAc-Y/R7INcZrpO3I/AAAAAAAAMBY/Jxm-xnCvtiU/s72-c/logo%2Bmanassa.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-470402320472773294.post-147635158877286265</id><published>2008-01-21T23:12:00.000+01:00</published><updated>2008-01-24T08:48:36.564+01:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Posting in Bahasa'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Reflection'/><title type='text'>Kajian Islam Indonesia di Cairo: Sebuah Refleksi</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp3.blogger.com/_JmYah9LAc-Y/R5YL1c4aAuI/AAAAAAAAMA4/E8Kpl8QraTs/s1600-h/Maktabah+al-Azhar01.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://bp3.blogger.com/_JmYah9LAc-Y/R5YL1c4aAuI/AAAAAAAAMA4/E8Kpl8QraTs/s200/Maktabah+al-Azhar01.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5158323436113232610" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Pada kurun abad ke 19 khususnya, Cairo telah menjadi salah satu pusat keilmuan Islam yang memiliki pengaruh dan hubungan kuat dengan dunia Melayu-Indonesia. Hal ini juga terkait dengan terciptanya hubungan intelektual keagamaan antara dunia Melayu-Indonesia dengan Makkah dan Madinah sejak abad ke 17 sebelumnya. Ulama Melayu-Indonesia seperti Shaykh Nawawi al-Bantani, yang belajar dan mengajar di Mekkah, sedemikian disegani dan dihormati pula di kalangan cendekiawan Cairo saat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga awal abad ke 20, mahasiswa-mahasiswa Indonesia yang belajar di Universitas Al-Azhar Cairo pun memiliki pengaruh signifikan terhadap perkembangan tradisi intelektual keagamaan di Tanah Air. Nama seperti Mahmud Yunus, yang turut menggagas terbitnya Jurnal &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Seruan Azhar&lt;/span&gt; pada tahun 1925, tidak asing lagi terdengar dan memiliki kontribusi sedemikian besar, khususnya terhadap perkembangan dunia pendidikan Islam Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Kontribusi alumni Al-Azhar terhadap perkembangan dan wacana keilmuan Islam Indonesia pada masa lalu ini sedemikian besar, dan terwujud karena tetap terpeliharanya ikatan emosional intelektual antara mahasiswa-mahasiswanya yang belajar di Al-Azhar dengan tradisi dan wacana keilmuan yang berkembang di Indonesia sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Slogan yang dikumandangkan Mahmud Yunus dalam &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Seruan Azhar &lt;/span&gt;bulan Oktober 1927 kiranya menggambarkan persepsi dan sikap mahasiswa-mahasiswa Indonesia di Universitas Al-Azhar saat itu. Slogan tersebut menegaskan bahwa Jurnal &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Seruan Azhar &lt;/span&gt;dimaksudkan: &lt;span style="font-style: italic;"&gt;”... for our homeland because we recognize Indonesia and the Peninsula as one community, one people, with one adat, one way of life, and what is more, virtually one religion...“&lt;/span&gt; (Roff 1970).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya, sejak era Mahmud Yunus, Djanan Thaib, Muchtar Lutfi, Iljas Ja’kub, Raden Fathurrahman Kafrawi, Muhammad Idris Marbawi, Abdul Wahab Abdullah, dan aktivis-aktivis lainnya pada paruh pertama abad 20 tersebut, tidak terdengar lagi alumni-alumni Universitas Al-Azhar Cairo yang memberikan pengaruh cukup signifikan terhadap perkembangan tradisi dan wacana sosial-intelektual keagamaan di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu faktor tidak terciptanya hubungan emosional intelektual yang kuat antara alumni-alumni Al-Azhar Cairo periode belakangan, dengan tradisi keilmuan di Indonesia adalah karena saat ini, dengan alasan tidak ada profesor "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Indonesian Islam&lt;/span&gt;" yang bisa membimbing, di kalangan mahasiswa Indonesia di Cairo tidak tercipta iklim kajian Islam yang secara langsung terhubungkan dengan wacana keislaman Indonesia, padahal sumber-sumber primer yang berkaitan dengan sejarah Islam Indonesia sendiri cukup banyak dijumpai, termasuk di Perpustakaan Darul Kutub dan Perpustakaan Universitas Al-Azhar, Cairo, yang untuk konteks dunia Arab memang menjadi pusat penyimpanan khazanah keislaman klasik, termasuk khazanah keislaman Nusantara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara bentuk sumber primer tentang kajian Islam Indonesia yang dapat dijumpai di dua perpustakaan di Cairo adalah naskah-naskah kuno (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;manuscript&lt;/span&gt;) keagamaan yang ditulis khususnya oleh ulama-ulama Melayu-Nusantara sejak abad ke 17, yang belajar, berguru, dan kemudian beberapa di antaranya mengajar, di Mekkah dan Madinah (Haramayn), baik memiliki, atau tidak memiliki, hubungan keilmuan langsung dengan Cairo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya, belum ada upaya sistematis untuk menginventarisasi naskah-naskah Nusantara keagamaan yang berada di dua perpustakaan tersebut, padahal jika semua naskahnya sudah terinventarisasi, maka penelitian-penelitian atasnya juga akan semakin mudah dilakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Telaah awal dan acak yang saya lakukan atas koleksi naskah keagamaan di Perpustakaan Dar al-Kutub dan Perpustakaan Al-Azhar beberapa waktu lalu menunjukkan bahwa dua perpustakaan ini menyimpan potensi khazanah naskah keagamaan yang "bernuansa Nusantara". Tentu ini juga tergantung dari batasan yang dibuat, apa yang dimaksud dengan naskah Nusantara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah-langkah praktis perlu segera dilakukan untuk menghidupkan kembali minat kajian Islam Indonesia di kalangan mahasiswa-mahasiswa Indonesia di Cairo tersebut, dan inventarisasi sumber-sumber yang berkaitan dengan dunia Melayu-Indonesia di perpustakaan-perpustakaan di Cairo adalah hanya salah satu upaya saja di antaranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="javascript:window.print()"&gt;Print This Page&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;next&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/470402320472773294-147635158877286265?l=naskahkuno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://naskahkuno.blogspot.com/feeds/147635158877286265/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=470402320472773294&amp;postID=147635158877286265&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/470402320472773294/posts/default/147635158877286265'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/470402320472773294/posts/default/147635158877286265'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://naskahkuno.blogspot.com/2008/01/inventarisasi-naskah-keagamaan.html' title='Kajian Islam Indonesia di Cairo: Sebuah Refleksi'/><author><name>Oman Fathurahman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12780420625889202262</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_JmYah9LAc-Y/TLnpONg6PXI/AAAAAAAASPI/COxh9AREd1Y/S220/close+up-OCIS.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp3.blogger.com/_JmYah9LAc-Y/R5YL1c4aAuI/AAAAAAAAMA4/E8Kpl8QraTs/s72-c/Maktabah+al-Azhar01.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-470402320472773294.post-2829482148330689810</id><published>2008-01-17T15:15:00.000+01:00</published><updated>2008-01-24T12:22:34.741+01:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Current Research'/><title type='text'>List of al-Kurani's Works</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp1.blogger.com/_JmYah9LAc-Y/R49oWs4aAsI/AAAAAAAAMAo/xq-YFMFLGis/s1600-h/Hamidiye+1440_033.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://bp1.blogger.com/_JmYah9LAc-Y/R49oWs4aAsI/AAAAAAAAMAo/xq-YFMFLGis/s200/Hamidiye+1440_033.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5156454837576663746" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Just to refresh our memory, Ibrahim al-Kurani is one of the prominent Kurdish Muslim scholars, and  became a grand Shaykh in Medina, in the seventeenth century, whose intellectual thoughts on Sufism have strongly influenced a number of his Malay-Indonesian students, especially Abdurrauf ibn Ali al-Jawi from Aceh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;It’s mentioned in several sources that al-Kurani was a Sufi 'alim, an apologist of &lt;span style="font-style: italic;"&gt;wahdat al-wujud&lt;/span&gt; of Ibn 'Arabi, and also a prolific writer, who mastered both of esoteric and exoteric Islamic knowledge. His works include various Islamic fields such as Tafsir, Hadith, Fiqh, Theology, and especially Sufism.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Some scholars, such as al-Baghdadi (1951) and Brockelmann (1949), have brought forward a different number of al-Kurani's works up to 100 &lt;span style="font-style: italic;"&gt;kitab&lt;/span&gt;s. Until now, however&lt;span class="fullpost"&gt;, I have listed only 95 works. Some of them are long &lt;span style="font-style: italic;"&gt;risalah&lt;/span&gt;s, and another is short.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;It’s important to note here that among all of his works, only two of them have been published, namely &lt;span style="font-style: italic;"&gt;al-Amam li-Iqaz al-Himam&lt;/span&gt; and &lt;span style="font-style: italic;"&gt;al-Lum‘ah al-Saniyah fi Tahqiq al-Ilqa’ fi al-Umniyah&lt;/span&gt;. Thus, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ithaf al-Dhaki&lt;/span&gt;, which is al-Kurani's work I am working on, will be the third.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Here is the complete list of al-Kurani’s works, found as manuscripts, compiled from scattered sources:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Please scroll down the right bar to see all photos, and click photo to enlarge view... )&lt;br /&gt;&lt;div style="overflow: auto; height: 300px; width: 400px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;table style="width: 250px;" cellpadding="0" cellspacing="0"&gt;&lt;br /&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp1.blogger.com/_JmYah9LAc-Y/R49mWs4aApI/AAAAAAAAMAQ/qaHRJ9VpOOI/s1600-h/list+of+al-kurani%27s+works_Page_1.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer;" src="http://bp1.blogger.com/_JmYah9LAc-Y/R49mWs4aApI/AAAAAAAAMAQ/qaHRJ9VpOOI/s400/list+of+al-kurani%27s+works_Page_1.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5156452638553408146" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp3.blogger.com/_JmYah9LAc-Y/R49mkM4aAqI/AAAAAAAAMAY/9YFHnqSQP1o/s1600-h/list+of+al-kurani%27s+works_Page_2.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer;" src="http://bp3.blogger.com/_JmYah9LAc-Y/R49mkM4aAqI/AAAAAAAAMAY/9YFHnqSQP1o/s400/list+of+al-kurani%27s+works_Page_2.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5156452870481642146" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/tr&gt;&lt;br /&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="javascript:window.print()"&gt;Print This Page&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;next&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/470402320472773294-2829482148330689810?l=naskahkuno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://naskahkuno.blogspot.com/feeds/2829482148330689810/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=470402320472773294&amp;postID=2829482148330689810&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/470402320472773294/posts/default/2829482148330689810'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/470402320472773294/posts/default/2829482148330689810'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://naskahkuno.blogspot.com/2008/01/list-of-al-kuranis-works.html' title='List of al-Kurani&apos;s Works'/><author><name>Oman Fathurahman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12780420625889202262</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_JmYah9LAc-Y/TLnpONg6PXI/AAAAAAAASPI/COxh9AREd1Y/S220/close+up-OCIS.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp1.blogger.com/_JmYah9LAc-Y/R49oWs4aAsI/AAAAAAAAMAo/xq-YFMFLGis/s72-c/Hamidiye+1440_033.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-470402320472773294.post-4490142964304186907</id><published>2008-01-06T19:10:00.000+01:00</published><updated>2008-01-12T13:42:00.086+01:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='News'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Activities'/><title type='text'>Fatih's Appreciation of this Blog</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp0.blogger.com/_JmYah9LAc-Y/R4EaIM4Z_cI/AAAAAAAALz8/-KVdcWbl-cg/s1600-h/fatih.thumbnail.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://bp0.blogger.com/_JmYah9LAc-Y/R4EaIM4Z_cI/AAAAAAAALz8/-KVdcWbl-cg/s200/fatih.thumbnail.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5152428176887643586" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;I didn’t update this blog for more than a month. It’s not because of no mood or loss of ideas, but since my last posting about &lt;a href="http://naskahkuno.blogspot.com/2007/12/belajar-tasawuf-dari-von-goethe.html" target="'_blank"&gt;a book of Goethe’s poetries&lt;/a&gt;, I made a long journey to Cairo and other Arab countries, to do some academic and private activities.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Now, when I do blog walking and visit my friend, A. Fatih Syuhud (I never meet him, actually), I am surprised that he has announced me as one of the &lt;a href="http://fatihsyuhud.com/2007/12/31/top-ten-blogger-indonesia-2007/#more-388" target="'_blank"&gt;Top Ten Blogger Indonesia 2007&lt;/a&gt;! This is his second appreciation regarding my blogging activities after he notified me as &lt;a href="http://fatihsyuhud.com/2007/09/03/blogger-indonesia-of-the-week-71-oman-fathurahman/" target="'_blank"&gt;Blogger Indonesia of the Week (71)&lt;/a&gt; in September 2007 last.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;To be honest, I have started blogging not to be listed by this most famous Indonesian blogger, or by anyone anywhere, since the writing is just a need for me. However, what Fatih done is a kind of appreciation that very valuable and has encouraged me to always do my best in everything.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;I also believe that Fatih’s dedication by motivating and urging others to start blogging will have great influences in transforming the culture of communication among Indonesian people, from an oral conventional culture to writing-and-reading one, as Fatih said.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I really experience how useful this blogging to communicate any ideas, support research activities, and even build a scholarship network. One of the most important experiences I ever got is when Husain Kadodia from South Africa put &lt;a href="http://naskahkuno.blogspot.com/2007/07/daiber-collection-database-makes.html" target="'_blank"&gt;a comment&lt;/a&gt; informing about the existence of several copies of Ithaf al-Dhaki manuscripts in different libraries. In fact, further contact with him has brought me to get one of the oldest copies, written in 1665, preserved in Koprulu Library, in Istanbul, and currently become the most important source of my research.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;It’s clear, therefore, that blogging could not be a medium to write a daily notes only, but also to support an academic activities.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Thanks Mas Fatih for your respect and appreciation, I highly appreciate your nice words about me.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="javascript:window.print()"&gt;Print This Page&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;next&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/470402320472773294-4490142964304186907?l=naskahkuno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://naskahkuno.blogspot.com/feeds/4490142964304186907/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=470402320472773294&amp;postID=4490142964304186907&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/470402320472773294/posts/default/4490142964304186907'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/470402320472773294/posts/default/4490142964304186907'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://naskahkuno.blogspot.com/2008/01/fatihs-appreciation-of-this-blog.html' title='Fatih&apos;s Appreciation of this Blog'/><author><name>Oman Fathurahman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12780420625889202262</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_JmYah9LAc-Y/TLnpONg6PXI/AAAAAAAASPI/COxh9AREd1Y/S220/close+up-OCIS.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp0.blogger.com/_JmYah9LAc-Y/R4EaIM4Z_cI/AAAAAAAALz8/-KVdcWbl-cg/s72-c/fatih.thumbnail.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-470402320472773294.post-4659454602935546052</id><published>2007-12-06T16:03:00.000+01:00</published><updated>2008-01-30T16:50:03.689+01:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Posting in Bahasa'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Book Review'/><title type='text'>Memungut Kearifan Johann Wolfgang von Goethe</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp2.blogger.com/_JmYah9LAc-Y/R1gR66ahwiI/AAAAAAAAKtM/SkI_gvl_Gpo/s1600-h/goethe.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://bp2.blogger.com/_JmYah9LAc-Y/R1gR66ahwiI/AAAAAAAAKtM/SkI_gvl_Gpo/s200/goethe.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5140878678454026786" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Suatu ketika, Berthold Damshäuser, Ketua Jurusan Sastra  Indonesia Universitas Bonn,  menghadiahi saya sebuah buku yang pada tahun 2007 ini ia publikasikan bersama sastrawan Indonesia Agus R. Sarjono. Buku yang diberi judul &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Johann Wolfgang von Goethe: Satu dan Segalanya&lt;/span&gt; ini berisi terjemahan kurang lebih 70 puisi pujangga Jerman terbesar yang namanya menjadi judul buku itu. Terjemahan ini adalah hasil kerja sama antara kedua penyunting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jujur, saya bukan seorang peminat dan pembaca puisi yang tekun. Saya biasanya hanya membaca puisi-puisi tertentu yang ‘tiba-tiba’ menarik perhatian saya, itu pun hanya sekilas dan kemudian selesai! Tapi, membaca buku yang diterbitkan dalam rangka meningkatkan minat baca dan apresiasi sastra ini, saya banyak tertegun dan ‘terpaksa’ membaca serta merenungkan berulang-ulang pemikiran besar Goethe (1749-1832) dalam puisi-puisinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa tidak? &lt;span class="fullpost"&gt;Selama ini yang menjadi fokus perhatian keilmuan saya selama bertahun-tahun adalah tentang konsep-konsep ontologis soal keilahian serta hubungannya dengan makhluk dan alam, dalam perspektif tasawuf. Saya tidak pernah berfikir untuk membandingkannya dengan pemikiran-pemikiran sastrawan Eropa semisal Goethe. Tapi kini, saya ‘tiba-tiba’ menemukan inti pemikiran para Sufi yang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;adiluhung &lt;/span&gt;itu teruntai dalam beberapa puisi Goethe. Saya tentunya tidak mungkin memahami dan mengambil pelajaran sebagian kecil inti pemikiran Goethe ini kalau saja Agus R. Sarjono dan Berthold Damshäuser tidak menyediakan versi terjemahan bahasa Indonesia yang sangat puitis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejauh yang saya pelajari, para Sufi misalnya meyakini bahwa alam ini hanyalah manifestasi (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;mazhar&lt;/span&gt;) Tuhan, dan bahwa Dia bisa mewujud (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;tajalli&lt;/span&gt;) dalam berbagai bentuk apa saja, karena Dia Mahamutlak dalam berkehendak (Q.S. 11: 107), meskipun ia tetap kokoh dengan Sifat Transenden-Nya. Ibn al-‘Arabi, yang pemikiran tasawuf filosofisnya abadi sepanjang masa, adalah seorang Sufi besar berjuluk &lt;span style="font-style: italic;"&gt;al-Shaykh al-Akbar &lt;/span&gt;yang paling getol medakwahkan konsep &lt;span style="font-style: italic;"&gt;tashbih &lt;/span&gt;(penyerupaan) dan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;tanzih &lt;/span&gt;(transendensi) Tuhan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah Goethe. Seperti dipaparkan Damshäuser dalam pengantarnya berjudul “Goethe – Tokoh Jerman Terbesar” (h. 9-33), dalam puisi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Im Namen desssen &lt;/span&gt;(&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Atas Nama Dia&lt;/span&gt;) Goethe bertutur bahwa seluruh alam hanyalah merupakan variasi dari Sang Satu atau keilahian belaka, bahwa alam tidak pernah terpisah dari penciptanya, dan bahwa Diri-Nya senantiasa mewujudkan diri dalam ciptaan-Nya, sehingga segala sesuatu menjadi serba teratur dan bermakna, tidak ada yang kebetulan (h. 30).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memperhatikan puisi-puisinya yang lain dalam buku ini, jelas bahwa Goethe tidak hanya sedang ‘meminjam’ popularitas pandangan-pandangan para Sufi besar tersebut untuk menghasilkan sebuah karya, melainkan menceburkan diri dan menjadikan itu sebagai bagian dari pandangan-pandangan hidupnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihat saja puisi Goethe dalam kumpulan  &lt;span style="font-style: italic;"&gt;West-Östlicher Diwan&lt;/span&gt;, atau yang dalam sebuah halaman beriluminasi indah tertulis sebagai &lt;span style="font-style: italic;"&gt;al-Diwan al-Sharq li al-Muallif al-Garbi&lt;/span&gt;, dan yang diterjemahkan oleh kedua penyunting sebagai &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Diwan Barat-Timur &lt;/span&gt;(h. 89-114). Di sini jelas bahwa pandangan-pandangan Sufi besar Persia semisal Jalaluddin Rumi, Shamsuddin Muhammad Hafiz Shirazi, dan Hakim Abul Qasim Ferdowsi sedemikian kuat mempengaruhi cara pandang Goethe. Dalam &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Offenbar Geheimnis &lt;/span&gt;(&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bukan Rahasia&lt;/span&gt;), Goethe bahkan menunjukkan pembelaan, dan sekaligus kedekatannya, terhadap Sufi Hafiz dari serangan para ulama Kalam yang sering mengharamkan sebuah interpretasi keagamaan yang dianggap melebihi batas-batas kata. Goethe berujar untuk Hafiz (h. 103):&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Namun dalam mistik kau murni &lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;Karena mereka tak memahamimu,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Meski tak shalih,&lt;br /&gt;engkau suci!&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;Itu tak rela mereka akui&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, seperti berkali-kali diingatkan Damshäuser (h. 27), yang ingin ditunjukkan oleh Goethe melalui karya-karya ‘sufistis’nya adalah bukan berarti ia seorang penganut agama tertentu, Islam misalnya. Alih-alih, dia sedang mempertontonkan sebuah apresiasi sepatutnya terhadap sebuah kepercayaan agama, dan sekaligus menunjukkan terbukanya pergaulan Goethe terhadap dunia Timur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini bisa terlihat misalnya dalam puisi-puisinya yang lain yang juga memberikan apresiasi sangat besar terhadap budaya Yunani dan Kristen. Menurut Damshäuser, “&lt;span style="font-style: italic;"&gt;… pemisahan antara Timur dan Barat, antara Nasrani dan Islam, dan seterusnya dan sebagainya, tidak berlaku bagi Goethe…&lt;/span&gt;”. Goethe lebih suka menciptakan Weltliteratur (sastra dunia), sebuah istilah yang diperkenalkan oleh Goethe sendiri (h. 29).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja buku ini tidak hanya mengandung puisi-puisi Goethe bernafaskan sufistis seperti yang saya contohkan, karena secara keseluruhan terdapat lima bagian, yakni ‘Batas-batas Manusia’, ‘Keping-keping Kebijaksanaan’, ‘Merindu Mati di Kobaran Api’, ‘Tak Berkulit Tak Berbiji’, dan ‘Wasiat’.  Masing-masing bagian tersebut mengandung puisi pilihan yang menurut pertimbangan kedua penyunting dapat mewakili keanekaan bentuk dan tema perpuisian karya Goethe (h. 23).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karenanya, membaca puisi-puisi Goethe dalam buku ini secara keseluruhan, seakan kita diajak napak tilas bagi munculnya secara bertahap teks-teks yang melambungkan Goethe menjadi penyair Jerman terbesar di samping Hölderlin, Heine, Rilke atau Brecht. Apalagi, Damshäuser melengkapi buku ini dengan sebuah paparan riwayat hidup Goethe, latar belakang keluarganya yang borjuis Protestan, pendidikan awalnya, karir politiknya, hingga kisah-kasih cintanya (h. 9-21).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jelas, puisi-puisi Goethe adalah produk dari sebuah pergulatan intelektual dan spiritualnya sebagai seorang pujangga besar yang sejak kecil tidak pernah puas dengan karya yang telah dihasilkannya sendiri, sehingga ia terus menulis, menulis, dan menulis hingga masa tuanya masih menghasilkan karya-karya agung semisal &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Faust II &lt;/span&gt;(1831) dan sebelumnya, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;West-Östlicher Diwan &lt;/span&gt;(1819) yang telah saya sebut di atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semakin larut membaca buku terbitan Horison ini, semakin kita diajak menuju sebuah kesadaran bahwa dalam sejarah dan tradisi sastra, seperti telah ditunjukkan Goethe melalui puisi-puisinya, tidak tampak tercipta sekat-sekat agama, suku, keyakinan, kepercayaan yang terkadang menghalangi kita untuk saling menunjukkan apresiasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi masyarakat Indonesia yang memiliki keragaman etnis, suku, budaya, dan agama dengan berbagai ragam corak pemahaman dan interpretasinya, butir-butir mutiara pemikiran seperti ditonjolkan Goethe dalam buku ini, tidak saja dapat menumbuhkan sikap saling menghargai karya sastra dan budaya lain, tapi lebih penting dari itu dapat menjadi pelajaran berharga bagaimana semua perbedaan itu dikelola.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalahnya, upaya-upaya sosialisasi keragaman sastra dan budaya lain seperti yang dilakukan oleh Agus R. Sarjono dan Berthold Damshäuser ini seringkali tidak mendapat apresiasi sewajarnya, dan hanya dianggap kerjaan sampingan saja yang tidak terlalu berguna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karenanya, tidak berlebihan jika kita menganggap bahwa Horison bukan saja telah memberikan kontribusi besar terhadap geliat sastra di Indonesia dengan menerbitkan Seri Puisi Jerman ini, melainkan juga telah memberikan pembelajaran berharga tentang sebuah kearifan bagi masyarakat pada umumnya. Selamat membaca bukunya, dan salam sastra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="javascript:window.print()"&gt;Print This Page&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;next&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/470402320472773294-4659454602935546052?l=naskahkuno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://naskahkuno.blogspot.com/feeds/4659454602935546052/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=470402320472773294&amp;postID=4659454602935546052&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/470402320472773294/posts/default/4659454602935546052'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/470402320472773294/posts/default/4659454602935546052'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://naskahkuno.blogspot.com/2007/12/belajar-tasawuf-dari-von-goethe.html' title='Memungut Kearifan Johann Wolfgang von Goethe'/><author><name>Oman Fathurahman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12780420625889202262</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_JmYah9LAc-Y/TLnpONg6PXI/AAAAAAAASPI/COxh9AREd1Y/S220/close+up-OCIS.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp2.blogger.com/_JmYah9LAc-Y/R1gR66ahwiI/AAAAAAAAKtM/SkI_gvl_Gpo/s72-c/goethe.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-470402320472773294.post-2779213464264940747</id><published>2007-11-26T19:34:00.000+01:00</published><updated>2007-11-26T19:32:00.806+01:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Posting in Bahasa'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Expert&apos;s Articles'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Minangkabau'/><title type='text'>Tuanku Imam Bonjol: Dikenang Sekaligus Digugat</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp0.blogger.com/_JmYah9LAc-Y/R0nAk-4WmAI/AAAAAAAAKk0/gI3IsPhPLOA/s1600-h/Rp.5000.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 231px; height: 102px;" src="http://bp0.blogger.com/_JmYah9LAc-Y/R0nAk-4WmAI/AAAAAAAAKk0/gI3IsPhPLOA/s200/Rp.5000.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5136848591579944962" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;*Catatan:  Versi pendek artikel ini dimuat di harian &lt;a href="http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0711/10/opini/3982078.htm" target="'_blank"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kompas&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;, 10 November 2007.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suryadi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:85%;" &gt;Instead, Tuanku Imam Bonjol is remembered, a man who was ultimately a military failure, who was ideologically disillusioned, and for whom a shift  from violent action to conciliatory discourse was rewarded with exile and misery&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; (Jeffrey Hadler).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepanjang 62 tahun kemerdekaan Indonesia, nama Tuanku Imam Bonjol (TIB) hadir di ruang publik bangsa ini—sebagai nama jalan di banyak kota, nama stadion, nama universitas, bahkan di lembaran 5000-an rupiah keluaran Bank Indonesia 6 November 2001 (lihat ilustrasi). TIB (1772-1864), yang diangkat sebagai pahlawan nasional berdasarkan Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia No.087/TK/Tahun 1973, tanggal 6 November 1973, adalah salah seorang pemimpin utama Perang Paderi di Sumatra Barat (1803-1837) yang gigih melawan kolonialis Belanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, baru-baru ini muncul petisi yang menggugat gelar kepahlawanan TIB. &lt;span class="fullpost"&gt;Menurut petisi itu sosok TIB tak layak jadi Pahlawan Nasional Indonesia. Beliau dituduh melanggar hak azasi manusia (HAM) karena pasukan Paderi menginvasi Tanah Batak (1816-1833) yang menewaskan “jutaan” orang di daerah itu (lihat &lt;a href="http://www.petitiononline.com/bonjol/petition.html" target="'_blank"&gt;di sini&lt;/a&gt;; dikunjungi 18 November 2007). Kekejaman Kaum Paderi disorot lagi dengan diterbitkannya kembali buku M.O. Parlindungan, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Pongkinangolngolan Sinamabela Gelar Tuanku Rao: Teror Agama Islam Mazhab Hambali di Tanah Batak, 1816-1833 &lt;/span&gt;(2006) (edisi pertama terbit 1964, yang telah dikritisi oleh Hamka, 1974), menyusul kemudian karya Basyral Hamidy Harahap, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Greget Tuanku Rao &lt;/span&gt;(2007). Kedua penulisnya, yang kebetulan berasal dari Tanah Batak, menceritakan penderitaan nenek moyang mereka dan orang Batak pada umumnya selama serangan tentara Paderi antara 1816-1833 di daerah Mandailing, Bakkara, Angkola, Sipirok, Padang Lawas, dan sekitarnya (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Tempo &lt;/span&gt;edisi 34/36/15-21 Oktober 2007).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Mitos Kepahlawanan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Munculnya koreksi terhadap wacana sejarah Indonesia belakangan ini, yang juga mencuatkan kritisisme terhadap konsep pahlawan nasional, seharusnya menjadi renungan semua komponen bangsa. Kaum intelektual dan akademis, khususnya sejarawan, adalah pihak yang paling bertanggung jawab jika evaluasi wacana historis itu hanya akan mengakibatkan munculnya friksi di tingkat dasar (masyarakat umum) yang berpotensi memecah-belah bangsa ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ujung pena kaum akademis harus tajam, tapi teks-teks hasil torehannya seyogianya tidak mengandung ‘hawa panas’.  Itulah sebabnya dalam tradisi akademis, kata-kata yang bernuansa subjektif dalam teks ilmiah – yang sayangnya diumbar tanpa kontrol dalam buku M.O. Parlidungan (2006 [1964]) – mesti disingkirkan sekuat tenaga oleh para penulis akademis. Kaum akademis dan intelektual adalah palang pintu terakhir untuk menjaga keutuhan bangsa ini di tengah langkanya politikus dan birokrat kita yang layak dijadikan panutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap generasi berhak menafsirkan sejarah- (bangsa)nya sendiri. Namun, generasi baru bangsa ini—yang hidup dalam imaji globalisme—harus menyadari juga bahwa negara-bangsa (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;nation-state&lt;/span&gt;) apapun di dunia ini memerlukan mitos-mitos pengukuhan (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;myth of concern&lt;/span&gt;). Sebuah mitos pengukuhan tidaklah buruk. Ia adalah unsur penting yang di-ada-kan sebagai “lem perekat” bangsa. Sosok pahlawan nasional seperti Pangeran Diponegoro, Sultan Hasanuddin, Sisingamangaraja XII,…., juga TIB, adalah bagian dari mitos pengukuhan bangsa Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jeffrey Hadler dalam "An History of Violence and Secular State in Indonesia: Tuanku Imam Bondjol and Uses of History" (akan terbit dalam &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Journal of Asian Studies&lt;/span&gt;, 2008) menunjukkan, kepahlawanan TIB telah dibentuk sejak awal kemerdekaan hingga zaman Orde Baru, dan hal itu setidaknya terkait tiga kepentingan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Pertama&lt;/span&gt;, menciptakan mitos tokoh hero yang gigih melawan Belanda sebagai bagian wacana historis pemersatu bangsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kedua&lt;/span&gt;, mengeliminasi wacana radikalisme Islam dalam upaya menciptakan negara-bangsa yang toleran terhadap keragaman agama dan budaya.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;Ketiga&lt;/span&gt;, "merangkul" kembali etnis Minang ke haribaan Indonesia yang telah mendapat stigma negatif dalam pandangan pusat akibat peristiwa PRRI (Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita tak yakin, sudah adakah biji &lt;span style="font-style: italic;"&gt;zarah &lt;/span&gt;keindonesiaan di zaman perjuangan TIB dan tokoh lokal lain yang hidup sezaman dengannya, yang kini dikenal sebagai pahlawan nasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita juga tahu bahwa pada zaman itu perbudakan adalah bagian dari sistem sosial dan beberapa kerajaan tradisional Nusantara melakukan ekspansi teritorial dengan menyerang beberapa kerajaan tetangganya. Para pemimpin lokal berperang melawan Belanda karena didorong semangat kedaerahan, bahkan mungkin dilatarbelakangi keinginan untuk mempertahankan hegemoni sebagai penguasa yang mendapat saingan akibat kedatangan bangsa Barat. Namun, mereka akhirnya menjadi pahlawan nasional karena bangsa memerlukan mitos pemersatu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Bukan Manusia Sempurna&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Tak dapat dimungkiri bahwa Perang Paderi telah meninggalkan kenangan heroik sekaligus traumatik dalam memori kolektif bangsa Indonesia. Selama kurang lebih 20 tahun pertama perang itu (1803-1821) praktis yang saling berbunuhan adalah sesama saudara sendiri—antara sesama orang Minangkabau dan orang Mandailing atau Batak pada umumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Campur tangan Belanda dalam perang itu ditandai dengan penyerangan Simawang dan Sulit Air oleh  pasukan Kapten Goffinet dan Kapten Dienema pada awal April 1821 atas perintah Residen James du Puy di Padang. Kompeni melibatkan diri dalam perang itu karena ‘diundang’ oleh Kaum Adat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada 21 Februari 1821 Kaum Adat secara resmi menyerahkan wilayah Luhak Nan Tigo (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;darek&lt;/span&gt;) kepada Belanda yang bersedia membantu mereka memerangi Kaum Paderi. Perjanjian itu diadakan di Padang di bawah sumpah menjunjung al-Qur’an dan disaksikan oleh Panglima Padang, Sutan Raja Mansyur Alamsyah, dan wakilnya, Tuanku Bandaro Rajo Johan (Rusli Amran, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sumatra Barat hingga Plakat Panjang&lt;/span&gt;. Jakarta: Sinar Harapan, 1981, hlm. 409). Ikut ‘mengundang’ sisa keluarga Dinasti Pagaruyung di bawah pimpinan Sultan Muningsyah yang selamat dari pembunuhan oleh pasukan Paderi yang dipimpin oleh Tuanku Pasaman di Koto Tangah, dekat Batu Sangkar, pada 1815—bukan 1803 seperti disebutkan oleh Parlindungan, 2007:136-41—(H.M.Lange, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Het Nederlandsch Oost-Indisch leger ter Westkust van Sumatra (1819-1845)&lt;/span&gt;. ‘s Hertogenbosch: Gebroeder Muller,1852: I, hlm. 20-1).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada 25 April Sulit Air jauh ke tangan Kompeni setelah mereka sendiri menderita kerugian besar. “&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Aldus begon onze oorlog met de Padries&lt;/span&gt;” (Dengan demikian, peperangan kita dengan Kaum Paderi telah dimulai), demikian tulis seorang opsir Belanda yang tidak menyebutkan namanya (lihat: anonim, “Episoden uit geschiedenis der Nederlandsche krigsverrigtingen op Sumatra’s Westkus”, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Indisch Magazijn  &lt;/span&gt;12/1, no.7, 1844:116).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, sejak awal 1833, perang itu berubah menjadi perang antara Kaum Adat dan Kaum Agama melawan Belanda. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Memorie Tuanku Imam Bonjol &lt;/span&gt;(MTIB)—lihat transliterasinya oleh Sjafnir Aboe Nain (Padang: PPIM, 2004), sebuah sumber pribumi yang penting mengenai Perang Paderi yang cenderung diabaikan para sejarawan selama ini—mencatat bagaimana kedua pihak bahu-membahu melawan  Belanda. Pihak-pihak yang dulunya bertentangan akhirnya bersatu melawan musuh bersama: Kompeni Belanda. Di ujung penyesalan muncul kesadaran bahwa mengundang Kompeni ke dalam konflik itu telah semakin menyengsarakan masyarakat Minangkabau sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam &lt;span style="font-style: italic;"&gt;MTIB &lt;/span&gt;terefleksi rasa penyesalan TIB atas tindakan Kaum Paderi terhadap sesama orang Minang dan Mandailing. TIB sadar bahwa perjuangannya sudah melenceng dari ajaran agama. “Adapun hukum Kitabullah banyaklah yang terlampau dek oleh kita. Bagaimana pikiran kita?” (Adapun banyak hukum Kitabullah yang sudah terlangkahi oleh  kita. Bagaimana pikiran kalian?), demikian tulis TIB dalam &lt;span style="font-style: italic;"&gt;MTIB &lt;/span&gt;(hlm.39).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sadar akan kekeliruan itu, TIB lalu mengirim kemenakannya, Fakih Muhammad, dan Tuanku Tambusai ke Mekah untuk belajar mengenai “kitabullah nan adil” (Hukum Kitabullah yang sebenarnya). Ikut juga kemenakan Tuanku Rao bernama Pakih Sialu, dan Kemenakan Tuanku Kadi (salah seorang rekan TIB) bernama Pakih Malano (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;MTIB&lt;/span&gt;, hlm. 36-40). Kemudian keempat orang itu pulang membawa berita yang kurang menggembirakan: Gerakan Wahabi di Mekah ternyata sudah dikalahkan dan yang berkembang di sana justru Islam yang lebih moderat. Oleh karenanya ide Haji Miskin yang telah membuat sesama orang Minangkabau dan tetangga Bataknya berbunuh-bunuhan telah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;invalid &lt;/span&gt;atau kadaluarsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;MITB &lt;/span&gt;(hlm. 53-55) selanjutnya mencatat bahwa setelah itu TIB kelihatan ingin lengser dari kepemimpinan Gerakan Paderi. Dalam sebuah rapat di Mesjid Bonjol TIB berkata kepada para  hakim dan penghulu bahwa beliau ingin mengundurkan diri. TIB juga menginstruksikan supaya mengembalikan harta rampasan dan para tawanan perang. Namun rakyat yang sudah menganggap beliau sebagai pemimpin mereka mengharapkan TIB tetap memimpin perjuangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tampaknya  berita yang dibawa oleh Fakih Muhammad dan Tuanku Tambusai dari Mekah telah mempengaruhi semangat TIB, yang pada gilirannya ikut menentukan akhir Perang Paderi. Narasi dalam &lt;span style="font-style: italic;"&gt;MTIB &lt;/span&gt;memberikan kesan bahwa TIB menyesal telah menjerumuskan rakyat Minangkabau dalam perang berdarah. Sekarang, dengan keterlibatan Belanda dengan persenjataannya yang lebih modern, perang itu telah sampai ke tahap yang paling kritis, yang kalau dilanjutkan hanya akan memakan korban orang Minangkabau lebih banyak lagi. TIB berada dalam dilemma. Ketika TIB menerima surat dari Kolonel Elout yang meminta Bonjol menyerah tanpa syarat, muncul perpecahan di kalangan pemimpin Paderi di benteng itu. Ada yang suka menyerah dan berdamai dengan Kompeni. Yang lain, seperti Datuk Sati, ingin melanjutkan peperangan. TIB sedih melihat perpecahan itu dan beliau serta keluarganya sempat mundur ke Lubuk Sikaping (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;MTIB&lt;/span&gt;, hlm. 61-4).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada 16 Agustus 1837 Benteng Bonjol berhasil direbut Kompeni setelah dikepung selama 6 bulan. Sebelum benteng itu jatuh, TIB dan keluarganya dibawa pergi oleh pengikut setianya masuk rimba. Proses pengepungan Benteng Bonjol pada bulan-bulan terakhir sebelum jatuh dicatat dengan detil, dilengkapi ilustrasi, oleh Kapten de Salis yang ikut  dalam pasukan Mayor Jendral Cochius dalam “Journaal van de expeditie naar Padang onder de Generaal-Majoor Cochius in 1837 gehouden door de Majoor Sous-Chief van den Generaal-Staf Jonkher C.P.A. de Salis”, yang diterbitkan  bersama tiga sumber pertama lainnya dalam buku Gerke Teitler, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Het einde Padri Oorlog: Het beleg en de vermeestering van Bondjol 1834-1837: Een bronnenpublicatie &lt;/span&gt;[&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Akhir Perang Paderi. Pengepungan dan Perampasan Bonjol 1834-1837; Sebuah Publikasi Sumber&lt;/span&gt;]. Amsterdam: De Bataafsche Leeuw, 2004), hlm.59-183.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah ada jaminan dari Kolonel Elout bahwa penduduk Bonjol akan dihormati, TIB lalu menyerahkan diri kepada pasukan Kompeni. Ia menghadap Kapten Steinmetz di Bukittinggi, yang kemudian mengirimnya ke Padang. Sesampai di Padang, kapal yang akan membawa beliau ke tanah pembuangan telah lego jangkar di Pulau Cingkuk. Gubernur Francis tak memberi kesempatan kepada TIB untuk sekedar mengambil pakaian pengganti. Kapal berlayar menuju Jawa: TIB tinggal di Cianjur, sebelum kemudian dipindahkan ke Ambon, selanjutnya ke Menado di mana beliau wafat pada 1864.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Api peperangan di Minangakabau belum sepenuhnya padam ketika TIB berlayar ke tanah pembuangan. Sisa pasukan Paderi yang tidak mau menyerah kepada Kompeni melanjutkan perjuangan. Begitu Bonjol direbut Kompeni, pasukan Eropa dan prajurit pribuminya sudah langsung melakukan tindakan yang membuat orang Bonjol berang dan merasa terhina: tentara Kompeni dan pasukan Jawanya mengubah “&lt;span style="font-style: italic;"&gt;mesjid jadi tangsi tempat serdadu diam dan dibawanya anjing dan membikin kotor sajo &lt;/span&gt;[saja; Suryadi] &lt;span style="font-style: italic;"&gt;di dalam mesjid&lt;/span&gt;”. Tentara Kompeni juga mengambil dari penduduk segala bahan makanan yang mereka perlukan tanpa mau membayar, dan menyuruh orang bekerja mengangkat segala perlatan militernya tanpa diberi upah. Pada puncak kemarahan orang Bonjol, mesjid itu diserang oleh penduduk yang mengakibatkan banyak kematian di antara 139 tentara Kompeni yang bermarkas di sana (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;MITB&lt;/span&gt;, hlm.69-70). Rupanya Kompeni tidak menepati janjinya untuk menghormati adat dan agama penduduk Bonjol, sebagaimana diminta oleh TIB kepada Kolonel Elout sebelum beliau menyerahkan diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyesalan TIB itu, dan perjuangan heroik beliau bersama pengikutinya melawan Belanda yang mengepung Bonjol dari segala jurusan selama kurang lebih enam bulan (16 Maret – 17 Agustus 1837)—seperti dilaporkan rinci oleh  De Salis (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;op cit&lt;/span&gt;.)— mungkin dapat dijadikan pertimbangan untuk memberi maaf bagi kesalahan dan kekhilafan yang telah diperbuat TIB.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam bukunya, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Greget Tuanku Rao &lt;/span&gt;(Jakarta: Komunitas Bambu, 2007), Basyral Hamidi Harahap mempertanyakan kadar patriotisme TIB [dan Tuanku Tambusai] yang telah ditetapkan oleh Pemerintah Republik Indonesia sebagai Pahlawan Nasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Kita bertanya di manakah jiwa kepahlawanan seorang yang telah banyak membunuh, menculik kaum perempuan untuk dijual sebagai budak atau dijadikan gundik di kalangan bangsa sendiri? […] Apakah seorang yang […] tidak [mampu] mempertahankan tanah tumpah darah sampai titik darah penghabisan […] dan  menginjak-injak harkat dan martabat bangsa sendiri pantas menjadi pahlawan? […] Seorang patriot sejati, sekalipun terpojok pastilah tetap berjuang mempertahankan bumi persada sampai titik darah penghabisan. Tetapi yang dilakukan Tuanku Imam Bonjol adalah ikut merekayasa penyerahan dirinya kepada Belanda (Harahap 2007:106).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, menurut interpretasi Basyral, TIB merekayasa penyerahan dirinya sendiri kepada Belanda. Ia menganggap TIB tidak patriotis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, berbeda dengan Basyral, Jeffrey Hadler—seperti terefleksi dalam kutipan di awal tulisan ini—mencoba ‘membaca’ lebih dalam dilemma psikologis yang dialami TIB lebih 170 tahun yang lalu. Apalagi yang membuat seorang pemimpin agama menjadi lemah tulang persendiannya apabila akhirnya sadar bahwa semua yang telah dilakukannya ternyata telah menyalahi dogma-dogma agama yang begitu diyakininya selama ini, dan bahwa jika ia tetap ngotot dengan prinsipnya, maka hal itu hanya akan menumpahkan lebih banyak lagi darah bangsanya sendiri. Memang agak sulit untuk menilai dari jarak lebih satu setengah abad kemudian apakah tindakan TIB itu tidak patriotis atau malah bijaksana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pengungsiannya selama kurang-lebih empat bulan dalam rimba di luar Bonjol, bersama TIB dan keluarganya ikut delapan orang Jawa, sementara antara sesama orang Minang sendiri bersibak paham dalam menghadapi Belanda (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;MTIB&lt;/span&gt;, hlm. 151-53). Episode akhir Perang Paderi penuh dengan kisah tragis sekaligus mengharukan. Akan kita lihat nanti apakah sutradara film kolosal mengenai TIB yang akan diproduksi PT. Salsa Cemerlang Abadi Film (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Republika&lt;/span&gt;, 27 Oktober 2007) mampu merefeksikan konflik batin yang dialami TIB itu? Perang, dimanapun terjadinya di dunia ini, adalah ranah dimana kelembutan hati dan kebengisan jiwa makhluk yang bernama manusia sering menampakkan wujudnya secara berbarengan. Mungkin karena itulah perang sering dikenang sekaligus dikutuk, dan untuk itulah monumen-menumen didirikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;MTIB&lt;/span&gt;, menurut Hadler, merefleksikan […] &lt;span style="font-style: italic;"&gt;the Tuanku’s &lt;/span&gt;[TIB] &lt;span style="font-style: italic;"&gt;renunciation of Wahhabism in the face of matriarchal opposition &lt;/span&gt;[…]”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;In his memoir the Tuanku Imam’s will to fight his fellow Minangkabau crumbles when he learns that Wahhabi teachings have been discredited. In an act of great moral bravery the Tuanku publicly renounces his ideology, makes reparations, and apologizes for the suffering his war has caused. In his memoir Imam Bonjol’s enemies respond formulaically, looking to him as a patron. But there remains some ambiguity and even anger in their reported language. They demand that the Tuanku Imam replace their elders, people likely killed by the Padri in their war against traditional authority, and it unclear whether the Tuanku Imam is to appoint replacements or to personally take the place of the people he was responsible for killing. In his wish for peace the Tuanku uses the term &lt;span style="font-style: italic;"&gt;dituahnya&lt;/span&gt;. This is a form of royal blessing usually delivered by the sorts of nobles that the Padri had hoped to eliminate. The Tuanku Imam restores the status quo ante bellum, confining religious authority to matters of shariah and allowing customary leaders to adjudicate social issues. He proclaims that ‘adat basandi syarak”—hariah will be fundamental, even in questions of social custom (Hadler, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;op cit&lt;/span&gt;.: 1, 16-17).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang tokoh seperti TIB muncul, eksis, dan kemudian ‘runtuh’ oleh kombinasi antara keinginan, takdir, dan kehendak zaman. Ada yang menganggap beliau telah “berkhianat pada Kerajaan Islam Minangkabau Pagaruyung, […] memimpin invasi ke Tanah Batak yang menewaskan” banyak orang, “[…] menyerang Kerajaan Batak Bakkara dan menewaskan Sisingamangaraja X”, seperti yang dituduhkan si pembuat petisi yang telah disebutkan di atas. Tapi mungkin ada juga yang melihat  beliau, yang dalam &lt;span style="font-style: italic;"&gt;MTIB &lt;/span&gt;menunjukkan rasa penyesalan, sebagai ikon perlawanan masyarakat Minangkabau yang belakangan baru sadar akan buruknya akibat yang ditimbulkan oleh penjajahan Belanda di negeri mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejarah adalah cermin perbandingan dan iktibar. Dengan mempelajari dan mengenang peristiwa-peristiwa masa lalu, baik dan buruk, manusia dapat memetik hikmah supaya mereka dapat menata hidupnya yang lebih baik di masa depan. Dalam konteks perjuangan dan kesilapan yang dialami TIB dalam hidupnya, kiranya relevan penulis kutipkan di sini kata-kata intelektual Minang, Prof. Dr. Bahder Djohan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Tiada hadjat kita akan mengembang kitab tambo jang ditoelis dengan darah itoe [&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Perang Paderi; Suryadi&lt;/span&gt;], tiada bermaksoed kita akan menoeroeti djedjaknja sendjata api jang bertahoen-tahoen lamanja itoe bergemoeroeh didalam lembah dan dataran [&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Minangkabau&lt;/span&gt;], hanja disini kita mengenangkan sedikit meréka-meréka jang bertjahaja sebentar didalam zaman Paderi, jang seperti sinar dilangit meroepakan [&lt;span style="font-style: italic;"&gt;memperlihatkan; Suryadi&lt;/span&gt;] diri dimata kita jang sedang memandangi koeblat jang hidjau itoe soepaja dapatlah poela kita mengetahoeï[,] masja allah, jang terdjadi diabad jang lepas, jang selama-lamanja akan mendjadi ‘ibarat  kesesatan kemanoesiaan (Djohan, “Zaman Paderi”, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Jong Sumatra&lt;/span&gt;, No.1, 2de Jrg., 15 Djanuari 1919: 113)&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di hari-hari terakhirnya di Minangkabau, TIB diusung di atas tandu oleh rakyat dalam perjalanannya dari Bukittinggi ke Padang menuju tanah pembuangan (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;MTIB&lt;/span&gt;, hlm.176-78). Walau sudah dalam tawanan Belanda keyakinan agama TIB tak goyah: “Jikalau tidak boleh berhenti sembahyang apa gunanya hidup, lebih baik mati”, demikian kata beliau kepada tentara Belanda yang melarangnya berhenti untuk shalat Zuhur ketika tandu usungan sampai di Kayu Tanam (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;MTIB &lt;/span&gt;hlm.176).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini terserah kepada Bangsa Indonesia—bangsa-bangsa lain jelas tak ambil pusing—apakah TIB akan tetap ditempatkan atau diturunkan dari “tandu kepahlawanan nasional” yang telah “diarak” oleh generasi-gerasi terdahulu bangsa ini dalam kolektif memori mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;------------------------&lt;br /&gt;Suryadi&lt;br /&gt;Dosen dan peneliti pada Opleiding Talen en Culturen van Zuidoost-Azië en Oceanië, Universiteit Leiden, Belanda&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="javascript:window.print()"&gt;Print This Page&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;next&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/470402320472773294-2779213464264940747?l=naskahkuno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://naskahkuno.blogspot.com/feeds/2779213464264940747/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=470402320472773294&amp;postID=2779213464264940747&amp;isPopup=true' title='8 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/470402320472773294/posts/default/2779213464264940747'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/470402320472773294/posts/default/2779213464264940747'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://naskahkuno.blogspot.com/2007/11/tuanku-imam-bonjol-dikenang-sekaligus.html' title='Tuanku Imam Bonjol: Dikenang Sekaligus Digugat'/><author><name>Oman Fathurahman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12780420625889202262</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_JmYah9LAc-Y/TLnpONg6PXI/AAAAAAAASPI/COxh9AREd1Y/S220/close+up-OCIS.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp0.blogger.com/_JmYah9LAc-Y/R0nAk-4WmAI/AAAAAAAAKk0/gI3IsPhPLOA/s72-c/Rp.5000.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>8</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-470402320472773294.post-3691545775243075297</id><published>2007-11-24T19:20:00.000+01:00</published><updated>2007-12-10T08:37:13.624+01:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='News'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Book'/><title type='text'>Digital "Kitab Kuning"</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://www.almeshkat.com/" target="'_blank"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://bp2.blogger.com/_JmYah9LAc-Y/R0sPC-4Wm7I/AAAAAAAAKtA/HUNYzcRKEuE/s200/logo.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5137216343859698610" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Once, an internet searching has brought me to find a fantastically free Arabic Islamic software called “&lt;a href="http://www.almeshkat.net/books/open.php?cat=37&amp;amp;book=2287" target="'_blank"&gt;al-Mawsu'a al-Shamila&lt;/a&gt;” which literally means a comprehensive encyclopedia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;This software, which is developed and published by the &lt;a href="http://www.almeshkat.com/" target="'_blank"&gt;Shabaka Mishkat al-Islamiyya&lt;/a&gt; (Network of Islamic Lantern), contains and provides 1800 Arabic Islamic books, or what well-known in Indonesia as &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kitab Kuning&lt;/span&gt;, categorized in 29 fields, such as &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Tafsir&lt;/span&gt;, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Hadith&lt;/span&gt;, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Fiqh&lt;/span&gt;, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ushul al-Fiqh&lt;/span&gt;, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kutub al-Sirah&lt;/span&gt;, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Tarajim wa Tabaqat&lt;/span&gt;, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kutub al-Tarikh&lt;/span&gt;, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;‘Ulum Lugah wa Ma’ajim&lt;/span&gt;, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Faharis al-Kutub&lt;/span&gt;, etc..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;It seems that this software has circulated around Muslim societies in the globe, including Indonesia since years ago. The traditional Islamic education institutions such as &lt;span style="font-style: italic;"&gt;pesantren&lt;/span&gt; have used and distributed this software for their learning activities.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Thanks to this awfully useful software, now we need no longer a large and wide room to place hundreds or even thousands of Arabic &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kitab&lt;/span&gt;s. What we need is only a PC with at least 4,2 GB hard disk space and 128 MB or higher.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;However, to run this program well&lt;span class="fullpost"&gt;, the first step you have to do is to enable the Arabic feature of your Windows. The Indonesian readers should thank to the &lt;a href="http://www.nunihon.org/DownloadNU/CDKitab1/"&gt;NU Nihon&lt;/a&gt; Administrator who has splited the original file into the two separated one to make it portable as CD files, and thoroughly explained how to install this Software step by step.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;As far as I utilize, this software will greatly help not only Islamic preachers, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;kyai&lt;/span&gt;s or &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ustadh&lt;/span&gt;s, but also researchers in any Islamic fields, to easily find explanations and &lt;span style="font-style: italic;"&gt;fatwa&lt;/span&gt;s of any Islamic issues based on the traditional Islamic literatures, and according to various Islamic Schools (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;madhhab&lt;/span&gt;s).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Among those Kitabs, which, in the printed versions, comprise several volumes are &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Lisan al-Arab &lt;/span&gt;&lt;span&gt;(15 volumes)&lt;/span&gt;, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;al-Umm &lt;/span&gt;&lt;span&gt;(11 volumes), &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Tafsir ibn Kathir &lt;/span&gt;&lt;span&gt;(8 volumes)&lt;/span&gt;, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Tafsir al-Tabari &lt;/span&gt;&lt;span&gt;(24 volumes)&lt;/span&gt;, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Abjad al-'Ulum &lt;/span&gt;(3 volumes), &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Fihris al-Faharis &lt;/span&gt;(2 volumes), and many others.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="javascript:window.print()"&gt;Print This Page&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;next&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/470402320472773294-3691545775243075297?l=naskahkuno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://naskahkuno.blogspot.com/feeds/3691545775243075297/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=470402320472773294&amp;postID=3691545775243075297&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/470402320472773294/posts/default/3691545775243075297'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/470402320472773294/posts/default/3691545775243075297'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://naskahkuno.blogspot.com/2007/11/kitab-kuning-digital.html' title='Digital &quot;Kitab Kuning&quot;'/><author><name>Oman Fathurahman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12780420625889202262</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_JmYah9LAc-Y/TLnpONg6PXI/AAAAAAAASPI/COxh9AREd1Y/S220/close+up-OCIS.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp2.blogger.com/_JmYah9LAc-Y/R0sPC-4Wm7I/AAAAAAAAKtA/HUNYzcRKEuE/s72-c/logo.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-470402320472773294.post-3793648847905986981</id><published>2007-11-22T21:03:00.000+01:00</published><updated>2007-11-22T22:03:16.295+01:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Expert&apos;s Articles'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Malay Islam'/><title type='text'>A Brief Mapping of Islamic Education in Indonesia</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp2.blogger.com/_JmYah9LAc-Y/R0Xkbe4Wl_I/AAAAAAAAKks/jCldEazNeeo/s1600-h/kenangan+manis+021.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://bp2.blogger.com/_JmYah9LAc-Y/R0Xkbe4Wl_I/AAAAAAAAKks/jCldEazNeeo/s200/kenangan+manis+021.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5135762110882945010" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;Photo caption: a student in Pesantren Haurkuning, Tasikmalaya, West Java, is learning how to present a speech, while the Kyai looks at him.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jamhari and Jajat Burhanudin&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.ppim.or.id/"&gt;PPIM UIN Jakarta&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;The recent development of Indonesian Islam indicates that Islamic educational institutions survive amidst changes within Muslim communities. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Pesantren&lt;/span&gt;, the oldest Islamic educational institution, is evidence of this. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Pesantren&lt;/span&gt;, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;madrasah&lt;/span&gt;, and Islamic schools continue to grow and parental interest in sending their children to Islamic education institution is even stronger today than in the past.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Data from the Department of Religious Affairs shows a steady increase in the number of &lt;span style="font-style: italic;"&gt;pesantren&lt;/span&gt; and students enrolled in them. In 1977, there were 4,195 pesantren with 677,384 students. This number skyrocketed in 1981 with &lt;span style="font-style: italic;"&gt;pesantren&lt;/span&gt; numbering 5,661 with a total of 938,397 students. In 1985, this number increased to 6,239 &lt;span style="font-style: italic;"&gt;pesantren&lt;/span&gt; with 1,084,801 students. In 1997, the Department reported 9,388 &lt;span style="font-style: italic;"&gt;pesantren&lt;/span&gt; a total of 1,770,768 students. And finally, 2003-04, the number of &lt;span style="font-style: italic;"&gt;pesantren&lt;/span&gt; reached 14,647. A similar trend is also evident with &lt;span style="font-style: italic;"&gt;madrasah&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Madrasah&lt;/span&gt;, managed by the Department of Religious Affairs, also experienced rapid quality and quantity development. Development trends are also evident in Islamic schools. For example, Al-Azhar School in Jakarta, Insan Cendikia and Madania in West Java, and Mutahhari in Bandung have grown significantly in urban regions of the country. Similar developments are also found in Yogyakarta, Surabaya, and Makassar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;These data raise some important questions concerning the development and survival of Islamic educational institutions, as well as their changing roles amid transitions taking place in the Muslim community. Islamic educational institutions face complex challenges. They not only strive to educate Muslims in religious knowledge, but are also expected to participate in creating a new socio-cultural and political system of Indonesia. Based on the characteristics of Islamic educational institutions, there are at least four types of Islamic educational institutions: (1) NU-based Islamic boarding schools, (2) modern Islamic boarding schools whose orientation are Islamic reformism, (3) independent pesantrens, and (4) Islamic schools.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;NU-based &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Pesantren&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Strong waves of Islamic education reform, which occurred along with Islamic reformism, touched &lt;span style="font-style: italic;"&gt;pesantren&lt;/span&gt;. While maintaining the traditional aspects of the education system, a number of &lt;span style="font-style: italic;"&gt;pesantren&lt;/span&gt; in Java have, at the same time, begun to adopt the &lt;span style="font-style: italic;"&gt;madrasah&lt;/span&gt; system. The experience of Pesantren Tebuireng Jombang East Java is important to note. Founded by a charismatic and outstanding ulama of the 20th century, Kyai Hasyim Asy’ari (1871–1947), Pesantren Tebuireng set the model for &lt;span style="font-style: italic;"&gt;pesantren&lt;/span&gt; and ulama, especially in Java. Almost all of the important &lt;span style="font-style: italic;"&gt;pesantren&lt;/span&gt; in Java have been founded by disciples of Kyai Hasim Asy’ari, therefore following the Tebuireng model. Together with the NU, which he founded in 1926, Kyai Hasyim had a central and strategic position in the legacies of ulama in Java. As such, he is known as the Hadratus Syaikh (Big Master) for ulama in Java.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Attempts to reform the educational system of &lt;span style="font-style: italic;"&gt;pesantren&lt;/span&gt; began during the 1930s. The NU-based &lt;span style="font-style: italic;"&gt;pesantren&lt;/span&gt; adopted the &lt;span style="font-style: italic;"&gt;madrasah&lt;/span&gt; system by opening a six-grade system consisting of a preparatory grade for one year followed by a &lt;span style="font-style: italic;"&gt;madrasah&lt;/span&gt; grade for six additional years. Furthermore the &lt;span style="font-style: italic;"&gt;pesantren&lt;/span&gt; also included non-Islamic sciences in its curriculum such as Dutch language, history, geography, and math. This process continued as the &lt;span style="font-style: italic;"&gt;pesantren&lt;/span&gt; was managed by his son Kyai Abdul Wahid Hasyim (1914– 53), whose concerns were to bring the legacies of &lt;span style="font-style: italic;"&gt;pesantren&lt;/span&gt; into modernity. During the 1950s, he made &lt;span style="font-style: italic;"&gt;madrasah&lt;/span&gt; system the main model of education in Tebuireng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tebuireng was not the only &lt;span style="font-style: italic;"&gt;pesantren&lt;/span&gt; to make changes to its system. Pesantren Krapyak of Yogyakarta also became part of the reformist movement in the early 20th century. Kyai Ali Maksum (1915–89), the founder and the &lt;span style="font-style: italic;"&gt;pesantren&lt;/span&gt; leader of Krapyak was recognized as a figure with a “modernist spirit.” Like Kyai Wahid Hasyim of Tebuireng, he also combined the &lt;span style="font-style: italic;"&gt;madrasah&lt;/span&gt; into &lt;span style="font-style: italic;"&gt;pesantren&lt;/span&gt; systems. In addition, Pesantren Tambak Beras and Pesantren Rejoso, both in Jombang, also adopted reformist agenda by implementing the &lt;span style="font-style: italic;"&gt;madrasah&lt;/span&gt; system by introducing non-Islamic knowledge into their curriculum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;It can be concluded that, along with socio-religious changes following modernization and Islamic reformism, the transformation of Islamic education became a part of general discourse within Indonesian Islam at the beginning of the 20th century. The &lt;span style="font-style: italic;"&gt;pesantren&lt;/span&gt; ulama, strictly holding the traditional legacies of Islam, gradually transformed the educational sytem by adopting the modern system of &lt;span style="font-style: italic;"&gt;madrasah&lt;/span&gt;s. In addition, the main orientation of &lt;span style="font-style: italic;"&gt;pesantren&lt;/span&gt; also changed form a focus on producing ulama. Instead, like other modern Muslim groups, the learning system of Pesantren Tebuireng is directed toward a larger agenda, “to educate students to be able to develop themselves to be ‘intellectual ulama’ (ulama mastering secular knowledge) and ‘ulama intellectual’ (scholars mastering secular as well as religious knowledge.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;This type of &lt;span style="font-style: italic;"&gt;pesantren&lt;/span&gt;, culturally based on the NU tradition, has been growing steadily and can be found in almost every city in Java. In West Sumatra, this type of &lt;span style="font-style: italic;"&gt;pesantren&lt;/span&gt; is affiliated with Perti (Persatuan Tarbiyah Islamiyah), a kaum tua-affiliated organization like the NU in Java. In Lombok, West Nusa Tenggara, the position of NU is assumed by the local Nahdhatul Watan (NW). Like NU and Perti, NW has become the cultural bases for traditional Islamic education institutions in Lombok as well as religious bases in the region. Similarly, As’adiyah in South Sulawesi has also played an important role like that of NU in Java, NW in NTB, and Perti in West Sumatra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Modern &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Pesantren&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;In the history of Islamic education in Indonesia, this type of &lt;span style="font-style: italic;"&gt;pesantren&lt;/span&gt; is said to be the first institution to create the principles for reforming Islamic education within the &lt;span style="font-style: italic;"&gt;pesantren&lt;/span&gt; system. Pesantren Darussalam Gontor Ponorogo, founded on September 20, 1926 by three brothers (KH. Ahmad Sahal, KH. Zainuddin Fannani, and KH. Imam Zarkasyi) was the first modern &lt;span style="font-style: italic;"&gt;pesantren&lt;/span&gt; designed to provide education able to respond to challenges faced by the Muslim community amidst changes in the socio-cultural life in Indonesia in the modern-day period.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pesantren Gontor was founded during a period of important development for Indonesian Muslims. Forced by modernization by the Dutch colonial government (also known as “ethical politics”) and affected by changes in international networks centering Islamic reformism in Cairo, Egypt, Islamic education in Indonesia underwent fundamental changes. These changes were evident in the emergence of new Islamic educational institutions, especially those established by the first modern Muslim organization, Muhammadiyah, that adopted a modern system aimed at reforming the traditional educational system. As such, Islamic educational institutions became important parts of the Islamic reformism movement since the early 20th century.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In addition to introducing a new system and learning method—grade system, textbook, and non-religious subjects in the curriculum—&lt;span style="font-style: italic;"&gt;pesantren&lt;/span&gt; also functioned as the medium to disseminate the ideas of Islamic reformism. It became the basis of creating new Muslims familiar with the spirit of modernism and progress, which had become a dominant discourse in Indonesia. Here the socio and religious dimension of &lt;span style="font-style: italic;"&gt;madrasah&lt;/span
