Please feel free to quote part or all the contents of this blog with an acknowledgment to the source of the link.

27.6.08

My Forthcoming Book

This is the first posting since the end of April last, when I returned home to my homeland, Indonesia. I need to take a breath to readjust with my "new" milieu. It's not too easy actually, but it's going well, so far.

One of my current academic activities is to publish a book entitled "Tarekat Shattariyyah di Minangkabau" (The Shattariyyah Order in Minangkabau). This coming book is originated from my dissertation written in 2003 in the University of Indonesia, Depok. I have updated and completed the discussion with the newest findings, not only to cover the Shattariyyah manuscripts in West Sumatra, but also those in West Java and Jogjakarta as a comparison. This book will be published by the Ecole Francaise d'Extreme Orient (EFEO) Jakarta in collaboration with the Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) or the Center for the Study of Islam and Society, UIN Jakarta.

In this book, I focus on efforts to reveal meaning in religious manuscripts, in this case the manuscripts about Shattariyyah order that emerged in Minangkabau. Ten Shattariyyah manuscripts, written by three Shattariyyah ulama in Minangkabau —Imam Maulana Abdul Manaf Amin, H. K. Deram, and Tuanku Bagindo Abbas Ulakan— were primary sources for the discussion. Also, one Sundanese manuscript from Kuningan, and two Javanese manuscripts from Cirebon and Giriloyo, Jogjakarta, will be the secondary sources. All manuscripts contain both the intellectual genealogy and doctrines relating to the Shattariyyah order.

Besides, in order to measure the dynamics of the teachings of Shattariyyah order in Minangkabau, two Arabic sources related to Shattariyyah, which are considered to be reference sources for teaching Shattariyyah order in the Malay-Indonesian Islamic world, were consulted. The first is al-Simt al-Majid by Shaikh Ahmad al-Qushashi, and the second is Ithaf al-Dhaki bi Sharh al-Tuhfah al-Mursalah Ila Ruh al-Nabi by Ibrahim al-Kurani.

As a result of an analysis of these two manuscripts, we know that the Shattariyyah manuscripts in Minangkabau were an important intellectual link between the writers, starting with Ahmad al-Qushashi, Ibrahim al-Kurani, Abdurrauf ibn Ali al-Jawi, and reaching the writers in Minangkabau by way of Burhanuddin Ulakan, an eminent student of Abdurrauf.

After having contact with several local traditions and cultures, the teaching style of Shattariyyah order was laden with local nuances. Teachings about the relationship between the external body and the internal self, for example, were formulated in what was known as “pengajian tubuh” (teachings of body). Shattariyyah teachings, apart from via conventional methods such as the recitation of al-Qur’an, were also delivered through traditions that included local characteristics, such as salawat dulang. Followers of Shattariyyah order in Minangkabau also developed what is known as “Basapa”, a Shattariyyah order ritual in Ulakan each Safar month (2nd month of the Arabic calendar), a tradition that was strongly influenced by local culture.

Hopefully, this book will reach the audiences in next July 2008, insya Allah.

Print This Page

Read More......

13.4.08

Menjelang Akhir sebuah Perantauan...

Hari-hari ini, saya dan keluarga sedang "menghitung hari", karena pada akhir April nanti secara resmi saya akan menyelesaikan tugas penelitian di Jerman, dan kembali ke habitat asal di UIN Syarif Hidayatullah, Ciputat.

Saya tidak yakin setelah kembali beraktivitas nanti bisa menulis lagi secara rutin di blog ini, tapi saya berharap masih bisa melakukannya.

Sebagai hasil riset selama hampir dua tahun di Malaiologischer Apparat, des Orientalischen Seminars, Universität zu Köln, saya sudah mempersiapkan sebuah buku yang bertujuan untuk mempublikasikan hasil edisi teks Ithaf al-Dhaki, sebuah karya tasawwuf yang ditulis pada pertengahan abad 17 oleh Ibrahim al-Kurani (1616-1690). Rancangan buku ini juga akan memuat keterangan tentang profil pengarang, latar belakang pendidikannya, jaringan keilmuannya, serta karya-karya selengkapnya.

Penelitian filologis, yang saya padukan dengan pendekatan sejarah sosial-intelektual Islam, atas teks Ithaf al-Dhaki ini saya lakukan antara bulan Agustus 2006 sampai April 2008, saat saya menerima beasiswa Post-doctoral Program dari Yayasan The Alexander von Humboldt (The AvH), Jerman. Program beasiswa itu sendiri tidak mungkin saya terima tanpa adanya undangan untuk melakukan penelitian dari Prof. Edwin Wieringa.

Kajian atas teks Ithaf al-Dhaki sebetulnya pernah diawali oleh A.H. Johns (Australian National University), yang ---bersama Nagah Mahmud al-Ghoneimy (Universitas Al-Azhar Kairo)--- pernah mempersiapkan sebuah edisi teks berdasarkan lima salinan naskah, yakni naskah koleksi Perpustakaan Masjid Al-Azhar, Kairo, yang diduga kuat adalah naskah yang saat ini terdaftar sebagai MS 288 di Perpustakaan Universitas Al-Azhar, Kairo, MS 684 koleksi Perpustakaan India Office, MS Or. 7050 koleksi Perpustakaan Universitas Leiden, serta MS 2578 dan MS 2954 koleksi Perpustakaan Dar al-Kutub, Kairo.

Sayangnya, edisi teks dan hasil kajian Johns dan koleganya itu belum sempat diselesaikan. Meskipun dalam artikelnya beberapa tahun kemudian (Johns 1981: 432-433) Johns menegaskan kembali bahwa ia sedang mempersiapkan edisi dan kritik teks Ithaf al-Dhaki, nyatanya telaah pentingnya itu tidak pernah sampai kepada pembaca. Setelah mengetahui maksud penelitian saya, Prof. Johns kemudian bermurah hati untuk ‘mewariskan’ draft yang telah ia buat itu, yang terdiri dari draft terjemahan teks ke dalam bahasa Inggris, serta sebagian kecil kritik teks yang pernah dibuatnya. Pada gilirannya, draft awal versi Johns ini banyak membantu penelitian lebih lanjut atas teks Ithaf al-Dhaki yang saya lakukan. Johns juga sempat menulis tentang pentingnya Ithaf al-Dhaki, serta mengutip beberapa bagian teks ---terutama berkaitan dengan latar belakang penulisannya --- dalam artikelnya yang ditulis sebagai salah satu dari kumpulan artikel persembahan untuk Sutan Takdir Alisjahbana (Johns 1978: 469-485).

Selain Johns, Ithaf al-Dhaki juga pernah menjadi salah satu sumber utama penelitian yang dilakukan oleh Azyumardi Azra. Dalam karyanya ---yang edisi bahasa Indonesianya terbit pada 1994, dan disusul kemudian dengan edisi Inggrisnya (2003)--- Azra menempatkan Ithaf al-Dhaki sebagai salah satu rujukan terpenting ajaran neo-Sufisme yang berkembang di dunia Islam pada umumnya, dan di dunia Melayu-Nusantara pada khususnya. Tentu saja Azra tidak bermaksud mempersiapkan sebuah edisi teks Ithaf al-Dhaki, karena penekanannya adalah pada pencitraan al-Kurani, melalui pemikiran-pemikiran sufistis dalam karya-karyanya, sebagai seorang Sufi moderat yang terlibat dalam saling silang hubungan antara para ulama di Haramayn dengan sejumlah ulama asal Melayu-Nusantara. Corak pemikiran seperti yang terekam dalam Ithaf al-Dhaki inilah yang ditegaskan Azra sebagai bibit-bibit pembaharuan Islam yang dilanjutkan, dikembangkan, serta dielaborasi oleh murid-murid al-Kurani di dunia Melayu-Nusantara, khususnya melalui Abdurrauf ibn Ali al-Jawi sebagai murid sekaligus kawan terdekatnya (Azra 1994).

Hampir senada dengan Azra ---meskipun sama sekali tidak mengutipnya---, artikel panjang yang ditulis Basheer M. Nafi (2002) juga patut disebut dalam konteks kajian atas pemikiran al-Kurani. Saat melakukan telaah atas kompleksitas hubungan antara tasawwuf dengan pemikiran-pemikiran pembaharuan sejumlah ulama pra-modern Islam akhir abad 17 dan awal abad 18 di Haramayn, Nafi banyak mengeksplorasi pemikiran mistiko-filosofis al-Kurani dalam Ithaf al-Dhaki, dan juga dalam karya lainnya seperti Tanbih al-‘Uqul atau al-Ilma‘ al-Muhit, yang dianggapnya memiliki pengaruh besar terhadap corak dan kecenderungan pemikiran pembaharuan sejumlah ulama berpengaruh berikutnya, terutama yang memang pernah menjadi murid-murid al-Kurani sendiri seperti Muhammad T{ahir (1081-1145/1670-1733), yang juga adalah putra kandungnya, dan Muhammad ibn ‘Abd al-Hadi al-Sindi (w. 1138/1726).

Seperti tampak dalam keseluruhan pembahasan Ithaf al-Dhaki, al-Kurani jelas dapat dianggap sebagai salah satu di antara penafsir, sekaligus pembela, pemikiran-pemikiran tasawuf filosofisnya Ibn al-‘Arabi (560-638/1165-1240). Akan tetapi, sejauh menyangkut para penafsir pemikiran Ibn al-‘Arabi ini, umumnya para sarjana hanya menyebut ‘Abd al-Razzaq al-Kashani (w. 736/1335), ‘Abd al-Karim al-Jili (w. 832/1428), atau ‘Abd al-Rahman al-Jami (w. 898/1492), dan tidak pernah menyebut al-Kurani sebagai salah seorang di antaranya. Hal ini sangat mungkin dikarenakan pemikiran-pemikiran al-Kurani sendiri belum banyak diketahui. Memang, di antara hampir seratus buah pena al-Kurani, baru tiga di antaranya yang pernah diterbitkan, tidak termasuk Ithaf al-Dhaki yang sesungguhnya mengandung pembahasan panjang serta mendalam berkaitan dengan doktrin mistiko-filosofis Ibn al-‘Arabi tersebut.

Karenanya, penelitian saya ini antara lain dimaksudkan untuk memperkenalkan kontribusi pemikiran al-Kurani, khususnya berkaitan dengan konsep-konsep wahdat al-wujud, wajib al-wujud, dan wujud mutlaq yang sering dikaitkan sebagai ajaran Ibn al-‘Arabi. Dalam konteks tradisi intelektual Islam di dunia Melayu-Indonesia pada pertengahan abad 17, Ithaf al-Dhaki, yang menjadi sumber utama penelitian saya, dapat dianggap sebagai salah satu sumber terpenting karena merupakan salah satu, kalau tidak satu-satunya, sumber Arab yang menyebut terjadinya kesalahpemahaman masyarakat Muslim di wilayah ini berkaitan dengan doktrin wahdat al-wujud pada saat itu.

Dan, berangkat dari hipotesis Johns bahwa Abdurrauf ibn Ali al-Jawi adalah salah seorang di antara jama‘at al-jawiyin murid al-Kurani yang melaporkan situasi keagamaan di wilayah yang disebut sebagai “bilad Jawah” tersebut, serta meminta al-Kurani untuk menulis sebuah penjelasan atas kitab al-Tuhfah al-Mursalah yang menjadi sumber kesalahfahaman (Johns 1975: 48-54), maka kita patut menduga bahwa mereka yang dimaksud oleh al-Kurani terutama adalah masyarakat Muslim di Aceh, tempat terjadinya perdebatan intelektual mengenai doktrin wahdat al-wujud antara para pengikut ajaran Hamzah Fansuri dan Shamsuddin al-Sumatra’i dengan kelompok Muslim ortodoks yang dimotori oleh Nuruddin al-Raniri.

Telaah atas teks dan konteks Ithaf al-Dhaki ini juga sekaligus menegaskan pentingnya memperluas cakupan kajian manuskrip Nusantara supaya tidak hanya terbatas pada karya-karya yang ditulis oleh pengarang, dan dalam bahasa, lokal saja, melainkan juga naskah-naskah berbahasa non-lokal, seperti Arab, karangan penulis non Melayu-Nusantara, tetapi memiliki keterkaitan kuat dengan wacana dan tradisi intelektual di wilayah ini.

Bagi saya sendiri, draft buku ini merupakan hasil ‘kontemplasi’ selama hampir dua tahun dalam sebuah lingkungan yang sangat memungkinkan untuk sebuah aktifitas penelitian. Melalui beasiswa penuh dari Yayasan The AvH dan dukungan maksimal dari Prof. Wieringa selaku “tuan rumah” di Institut Malaiologie, Universitas Cologne, saya beruntung memperoleh kesempatan berharga untuk menelusuri sumber-sumber primer berkaitan dengan karya-karya al-Kurani yang tersimpan secara terpisah di sejumlah perpustakaan Mancanegara.

Karenanya, ucapan terima kasih pertama ingin saya sampaikan kepada The AvH yang telah menerima proposal penelitian saya, serta menyetujui perpanjangan masa penelitian dari satu tahun menjadi 21 bulan akibat “membengkaknya” sumber-sumber penelitian yang dijumpai. Saya bersyukur bisa menjadi orang pertama dari kalangan UIN/IAIN, serta salah seorang di antara tidak lebih dari 35 an peneliti asal Indonesia dan puluhan ribu peneliti lainnya dari berbagai pelosok dunia, yang mereguk pengalaman sebagai penerima beasiswa penelitian dari salah satu Yayasan terkemuka di Jerman ini.

Pengalaman sebagai Humboldtian telah menarik saya ke dalam sebuah jejaring akademis lintas disiplin yang simpul-simpulnya niscaya akan menjadi potensi berharga dalam membangun dan mengembangkan tradisi akademik di kampus sendiri. Moto “once an Humboldtian always an Humboldtian” dari The AvH sangat memungkinkan para alumninya untuk terus menjalin komunikasi dan kerja sama akademik, baik dengan The AvH sendiri maupun dengan sesama Humboldtian.

Kemudian, Prof. Edwin Wieringa adalah salah satu kunci terpenting keberhasilan aktifitas penelitian saya. Tidak saja ia telah memberikan keleluasaan dalam melakukan tahap-tahap penelitian dan menyediakan fasilitas yang sangat maksimal di Institut Maliologie, tetapi lebih dari itu juga banyak memberikan saran agar penelitian saya dapat berjalan secara efisien serta menghasilkan sebuah karya tulis yang baik. Bagi saya, Prof. Wieringa adalah mitra diskusi yang sangat menyenangkan, rileks, dan bahkan sangat peduli dengan masalah-masalah pribadi atau keluarga yang saya hadapi selama tinggal di Jerman. Untuk itu, saya ingin mengucapkan terima kasih dan penghargaan setulus-tulusnya atas semua kebaikannya yang telah saya terima.

Di Institut, saya juga berhutang budi kepada Frau Walburga Stork dan Joachim Niess serta kolega-kolega lain yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu, yang selama masa penelitian banyak membantu memfasilitasi kelancaran aktifitas saya. Untuk itu saya ucapkan terima kasih kepada mereka semuanya.

Seperti saya singgung di atas, pada pertengahan aktifitas penulisan buku ini, Prof. A.H. Johns “mewariskan” semua salinan hasil edisi teks Ithaf al-Dhaki yang belum selesai kepada saya, dan kemudian saya sempurnakan dengan menyertakan dua belas salinan naskah Ithaf al-Dhaki yang belakangan saya jumpai. Untuk itu, ucapan terima kasih tak terhingga saya sampaikan atas kepercayaan Prof. Johns untuk “melanjutkan” penelitian atas salah satu karangan terpenting Ibrahim al-Kurani ini.

Penelusuran salinan naskah Ithaf al-Dhaki di sejumlah perpustakaan juga telah melibatkan beberapa sahabat yang dengan tulus membantu dengan cara mereka masing-masing. Dr. Nursamad Kamba di Jeddah serta Amin Samad, M.A. di Cairo adalah dua orang yang kepadanya saya harus berterima kasih. Atas bantuan keduanya, serta kawan-kawan lain di Kairo, saya dapat memperoleh salinan naskah Ithaf al-Dhaki koleksi Perpustakaan Universitas Al-Azhar, yang oleh Johns pernah disebut sebagai salah satu salinan terbaik.

Selanjutnya, keleluasaan saya melakukan penelitian juga tidak lepas dari izin yang diberikan oleh Pimpinan Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, khususnya Pimpinan Fakultas Adab dan Humaniora, untuk meninggalkan tugas-tugas akademik selama masa penelitian ini. Saya hanya bisa berusaha agar masa waktu yang telah saya habiskan ini akhirnya dapat membuahkan sesuatu yang akan bermanfaat bagi lembaga.

Last but not least, saya ingin mempersembahkan segalanya buat Ida, istri tercinta, juga Fadli, Alif, dan Jiddane, buah hati tersayang, yang telah mengorbankan semua pilihan pribadinya untuk menemani dan tinggal jauh dari keluarga di kampung halaman. Saya tahu persis, bukan hal yang mudah bagi mereka untuk beradaptasi, baik di lingkungan rumah maupun di sekolah; mereka tidak punya pilihan selain berusaha untuk menyesuaikan diri serta menghadapi berbagai masalah, mulai dari perkara bahasa sampai soal perbedaan adat istiadat dan budaya. Saya hanya berharap dan berdoa, semoga pilihan ini pada akhirnya dapat memberikan yang terbaik buat kita bersama.


Print This Page

Read More......

1.4.08

Job Opening: Assistant Professor, Malay Studies

Yesterday, Jan van der Putten, my colleague at the National University of Singapore (NUS), forwarded me an information about an application invitation for a new position of Assistant Professor specializing in both the areas of Malay literature and Malay society at the Department of Malay Studies of the Faculty of Arts and Social Sciences, National University of Singapore. I suppose it might be useful to put it here....

----------

Job Opening: Assistant Professor, Malay Studies

The Department of Malay Studies of the Faculty of Arts and Social Sciences, National University of Singapore invites applications for the position of Assistant Professor specializing in both the areas of Malay literature and Malay society. Preference would be given to candidates whose research and teaching areas straddle the literary and sociological aspects of Malay society.

Candidates must have a PhD preferably in Malay Studies by the time of appointment as well as show promise for establishing a strong research programme. The successful candidate will be expected to teach and develop both undergraduate and postgraduate modules in the areas of classical and modern Malay/Indonesian literature as well as Malay society. Candidates must be able teach in both Malay and English and demonstrate versatility in their teaching experiences and research interest.
* Interested candidates must submit their applications together with the following:

1. Full Curriculum Vitae together with the names and complete contact details of three academic referees.

2. A statement (max. 2 pages) of teaching interests, teaching philosophy and methodology as well as past teaching evaluations.

3. A statement (max 2 pages) detailing research interests and agenda.
* Please submit all documents by 30th April 2008 to:

Chair, Department of Malay Studies Search Committee
Faculty of Arts and Social Sciences
National University of Singapore
11, Arts Link
Singapore 117570

Only short-listed candidates will be notified and invited for a campus visit. Enquiries about this position can be directed to the secretary of the Malay Studies Department at mlssec@nus.edu.sg; Fax: ++65-67732980.

Visit the University’s website at http://www.nus.edu.sg/ohr/ for details of benefits and terms and conditions of appointments. Further information about the Faculty of the Arts and Social Sciences and the Department of Malay Studies can be found at http://www.fas.nus.edu.sg/

Please check here for the original link.

Print This Page

Read More......

28.2.08

Digitising Manuscripts and Developing Online Digital Manuscript Library

Yesterday, I visited the Department of Oriental Studies at Leipzig University to fulfill a gratifying invitation from Dr. Thoralf Hanstein and Prof Dr. Eckehard Schulz and discuss about a project for the cataloguing and digitising of Aceh manuscripts that will begin soon. This project is carried out thanks to a grant from the Ministry of Foreign Affairs, Germany.

Dr. Thoralf Hanstein, as a Team coordinator, has explained to me that the main purpose of the project is to facilitate the people of Aceh, in particular, to save and back up their very wealthy manuscripts in case a natural disaster like the last tsunami destroy it. Of course this doesn't mean that we are hoping such natural disaster happens again, but a totally lost of all historical and highly important archives and documents preserved in the Center of Aceh Documents and Information (PDIA) without any copies in the last December 2004 should be a warning to anticipate any possibilities.

At the Department, Dr. Hanstein showed me a fastest, most recently and modern scanner that the Team will work with to digitalize Aceh manuscripts. “It just needs two seconds to produce a ready published image from one folios of manuscripts with various formats and qualities and without destructing the manuscript itself, while the old one usually takes about two minutes to produce the same image with a little bit consequences of reducing the quality of manuscripts” he said.

According to Dr. Hanstein, at present such scanner has already arrived in the Aceh Museum and ready to use as part of post-tsunami aids. Then, the Museum, currently headed by Nurdin, M.A., is the first institution in Indonesia, even the second in the world following the Leipzig University itself, who will has a very valuable experience to get benefit from this rather expensive equipment.

Apparently the aim of this project will not limit only to restore poor condition manuscripts and digitalize it, but also to make them online, so that in the future the readers may no longer need to come or flight to Aceh if they just want to read the content of manuscripts. However, the quality of the online images itself may not be good enough to make a facsimile publication or even printed edition. This is to guarantee there are no third parties who misuse in publishing a certain manuscript without any permission from the owner institution.

Accordingly, Dr. Hanstein, on behalf of this project, will also provide all necessary software and hardware in order to develop an online digital manuscript library, and even allocated budgets to purchase sets of computer and will train certain local staffs to run this online digital library in a long term.

I highly appreciate what the "Orientalisches Institut" and the Data Processing Service Centre of the Leipzig University have already done. I am in opinion that any efforts to make old rare manuscripts online will help preserving the text contained in the manuscripts itself for a longer time. Besides, these efforts may urge the scholarly world to give much more attentions, and encourage doing research based on this kind of local sources.

My dream is that the Government of Indonesia, through any related ministries, gives a fully and serious support for such this agenda, then we could preserve our cultural heritage with various modern ways. There are foreign institutions could be counterpart to carry out such agenda. Leipzig University is only one of them. Since the last three years, I, on behalf of Manassa and PPIM UIN Jakarta, have involved also in a mutual collaboration with C-DATS Tokyo University of Foreign Studies for catalouging Indonesian manuscripts.

I am so impressed when looking at, and surfing, the prototype of this online digital manuscript library developed by the Leipzig University which has displayed 55 Arabic and Persian manuscripts and provided three different languages, viz. German, English, and Arabic (see http://www.islamic-manuscripts.net/) . It is user
friendly and fully informative. Dr. Hanstein said that in the future they will make the other more than 3200 manuscripts, currently preserved in the Library, online.

Dr. Hanstein, and also Prof. Schulz as a team leader of this project, told me that the digitising of manuscripts in Aceh will end in next two years. After that, they will look for other institutions or places in Indonesia who are interested to collaborate and do such cataloguing and digitising manuscripts using this kind of technology, plus developing a digital online manuscript library for their own institutions.

Of course, the first step is to sit together and build a mutual trust to get a same perception regarding the purpose and benefit of the program. This is so important to avoid any unproductive misunderstanding.

So, who's the next?


Print This Page

Read More......