Please feel free to quote part or all the contents of this blog with an acknowledgment to the source of the link.

13.7.09

Seperti yang pernah saya tulis di blog ini sebelumnya, The Islamic Manuscript Association (TIMA) akan menggelar konferensi internasional kelima tentang naskah-naskah Islam, dan bertempat di Christ's College, University of Cambridge, United Kingdom, mulai 24 hingga 26 Juli 2009. Kini, semua persiapan tampaknya telah selesai dilakukan, dan jadwal serta pembicara selengkapnya pun telah dipublikasikan (silahkan klik di sini).

Bagi dunia pernaskahan Nusantara, forum-forum internasional semacam TIMA ini sesungguhnya sangat penting untuk dicermati, syukur-syukur jika bisa selalu berpartisipasi di dalamnya, karena pengaruh ke-Islam-an dalam naskah-naskah Nusantara jelas sangat besar, dan jumlah naskah kategori keagamaan Islam pun sangat signifikan, sehingga topik-topik yang ditawarkan niscaya akan sering bersinggungan dengan dunia pernaskahan kita.

Penting, karena melalui forum semacam TIMA ini, kita bisa menempatkan kekayaan khazanah pernaskahan kita dalam konteks yang lebih besar, tidak sekedar dunia Islam Melayu-Indonesia atau Nusantara, melainkan, lebih dari itu, dunia Islam secara keseluruhan. Bukan rahasia lagi bahwa para penulis naskah ke-Islam-an Nusantara jelas sangat terpengaruh oleh para ulama dan penulis yang berasal dari dunia Islam lainnya, baik menyangkut substansi maupun bahasanya.

Dengan semakin terbukanya informasi tentang khazanah naskah Nusantara, dalam hal ini naskah ke-Islam-annya yang ditulis oleh para penulis dan ulama lokal, ke dunia luar, maka akan semakin terbuka pula mata dunia bahwa, sejauh menyangkut tradisi intelektualnya, Islam Indonesia tidak sekedar menjadi konsumen saja, melainkan juga telah berperan sebagai produsen, bahkan sejak abad 16 lalu. Hal ini penting ditegaskan mengingat bahwa selama ini, Islam Indonesia, atau lebih jauh Asia Tenggara, masih sering dianggap sebagai pinggiran (peripheral) dan bertindak sebagai konsumen saja, berbeda dari Islam yang ada di Timur Tengah, khususnya Makkah dan Madinah, yang dianggap sebagai pusatnya (center) yang telah memproduksi khazanah keilmuan Islam dalam skala besar.

Beruntung bahwa dalam konferensi kelima TIMA yang bertemakan "Access and Right" ini, saya berkesempatan menjadi salah seorang yang diundang sebagai pemrasaran, salah satu dari tiga pemrasaran asal Asia Tenggara (2 lainnya dari Malaysia), atau satu-satunya perwakilan dari Indonesia.

Melalui paper saya berjudul "Thesaurus of Indonesian Islamic Manuscripts (T2IM): An Effort to Develop A Comprehensive Database for Academic Purposes", saya ingin menunjukkan kepada dunia betapa tradisi intelektual Islam Indonesia masa lalu, sesungguhnya tidak kalah penting dari wilayah Islam lain selain Makkah dan Madinah, seperti Afrika, Asia Selatan, Turki, dan lainnya.

Paper ini akan menjelaskan soal Program penyusunan database naskah Islam Indonesia yang sedang dikembangkan oleh Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) dan Puslitbang Lektur Keagamaan, Badan Litbang dan Diklat, Departemen Agama RI, bekerja sama dengan Masyarakat Pernaskahan Nusantara (Manassa).

Kelak, database, yang lebih praktis disebut T2IM ini, akan mendaftarkan semua judul naskah Islam Nusantara yang pernah diketahui keberadaannya di dalam dan di luar Negeri, di lembaga maupun di masyarakat, baik fisik naskahnya masih ada atau sudah lenyap, serta dilengkapi dengan informasi kodikologis tentang pengarang, bahasa, aksara, kategori keilmuan, lembaga yang menyimpan, katalog yang menyebut, dan hasil-hasil penelitian yang pernah dilakukan atasnya, baik oleh penulis lokal maupun asing, dll.

Saya berharap bahwa suatu saat dunia akademik, khususnya para pengkaji Islam Nusantara, baik filologis, sejarawan, antropolog, sosiolog, atau lainnya, akan menjadikan T2IM ini sebagai sumber rujukan utama dalam aktivitas penelitiannya. Apalagi, database ini akan terus menerus diperbaharui dari waktu ke waktu, dan akan senantiasa mendaftarkan hasil-hasil penelitian sekecil apapun tingkatannya, sehingga tidak akan ada lagi tumpang tindih penelitian, karena semua hasil penelitian yang pernah dilakukan atas sebuah naskah akan dapat diketahui melalui T2IM ini.

Nah, jadi, jika anda merasa pernah menulis sebuah karya yang mendasarkan pada naskah-naskah Islam Nusantara, khususnya jika terbit dalam skala terbatas, atau tidak pernah terbit sama sekali, silahkan informasikan kepada kami untuk didaftarkan, dan agar diketahui oleh khalayak banyak, siapa tahu kami belum mengetahuinya.

Akhirnya, saya berjanji untuk berbagi kembali setelah selesai mengikuti konferensi TIMA tersebut, siapa tahu ada sejumlah makalah yang bermanfaat buat kita semua. Salam

Print This Page

Read More......

18.5.09

Pelatihan Digitalisasi Naskah di Solo

Sumber:
http://www.manassa.org/main/berita/index.php?detail=20090518182633

Solo, 24-27 Juni 2009

Berdasarkan hasil penelitian yang pernah dilakukan, diketahui bahwa naskah-naskah tertulis (manuscripts) Nusantara terdapat dalam jumlah yang sangat besar, mencapai angka puluhan ribu, baik yang tersimpan di dalam maupun di luar negeri. Naskah-naskah tersebut ditulis dalam berbagai bahasa, seperti Arab, Melayu, Jawa, Sunda, Sasak, Bali, Wolio, dan lain-lain.

Mengingat bahan kertasnya yang rentan, dan usianya yang telah mencapai ratusan tahun, maka pada umumnya kondisi fisik naskah-naskah tersebut sangat mengkhawatirkan, sehingga jika tidak segera dilakukan upaya-upaya pemeliharaan (preservasi), bukan tidak mungkin kalau suatu saat naskah-naskah berserta kandungan pengetahuan yang terdapat di dalamnya itu hilang dimakan zaman.

Pemeliharaan naskah sendiri dapat dikategorikan menjadi dua jenis: pertama, pemeliharaan fisik naskahnya; dan kedua, pemeliharaan teks-teks yang terdapat di dalamnya. Jenis pemeliharaan model pertama dapat dilakukan melalui restorasi, yakni merawat dan mengembalikan keutuhan kertas dan jilidannya sehingga diharapkan bisa bertahan lebih lama.

Adapun jenis pemeliharaan kedua adalah berupaya melestarikan teks-teks yang terkandung di dalamnya melalui pembuatan salinan (backup) dalam media lain, sehingga paling tidak kandungan isi khazanah naskah itu tetap dapat dilestarikan meskipun seandainya fisik naskahnya musnah akibat rusak atau bencana.

Pada masa lalu, hingga tahun 80-an, pembuatan salinan teks-teks tersebut dilakukan melalui teknologi mikrofilm. Akan tetapi, saat ini, teknologi tersebut jelas sudah tidak tepat lagi digunakan. Bahkan, teknologi mikrofilm terbukti telah tidak efisien lagi dalam hal pemanfaatannya oleh para pembaca.

Kini, pilihan yang paling mungkin adalah memanfaatkan teknologi digital, baik dalam bentuk kamera maupun mesin scanner. Melalui teknologi digitalisasi ini, kandungan isi puluhan ribu naskah akan dapat dibuatkan salinannya, sebagai cadangan jika naskah aslinya sudah tidak dapat dipergunakan lagi.

Yang menjadi tantangan adalah belum banyak tersedianya tenaga-tenaga yang memiliki keterampilan melakukan digitalisasi naskah secara profesional, dan sekaligus mengelolanya dalam sebuah portal naskah Nusantara, padahal, jika portal naskah Nusantara tersebut bisa terwujud, maka akan banyak pihak-pihak yang dapat merasakan manfaatnya untuk berbagai penelitian, termasuk penelitian masalah-masalah keagamaan.

Untuk itulah, Puslitbang Lektur Keagamaan, Depag RI, bekerja sama dengan Masyarakat Pernaskahan Nusantara (Manassa), berinisiatif menyelenggarakan kegiatan Pelatihan Digitalisasi Naskah dan Pengembangan Portal Naskah Nusantara. Dalam pelaksanaan program ini, Manassa Pusat melibatkan teman-teman dari Manassa Cabang Solo.

Tujuan

Secara umum, pelatihan ini bertujuan untuk:

a. Mensosialisasikan pentingnya pemeliharaan naskah-naskah tertulis (manuscritps) Nusantara;

b. Memperluas wawasan pengetahuan tentang digitalisasi naskah dan pengembangan perpustakaan digital.

Adapun tujuan khusus yang ingin dicapai adalah:

a. Melatih peserta agar memiliki keterampilan praktik digitalisasi naskah tulisan tangan (manuscripts) Nusantara;

b. Melatih peserta agar mampu mengelola teks-teks digital menjadi sebuah koleksi perpustakaan naskah digital yang bersifat online.

Sebagai bagian dari upaya mencapai tujuan di atas, Pelatihan ini juga akan mensosialisasikan sebuah open source software untuk mengelola portal naskah Nusantara, yang disiapkan oleh tim ahli dari Leipzig University.



Waktu dan Tempat Kegiatan

Pelatihan ini akan diselenggarakan pada tanggal 24-27 Juni 2009 di Hotel Sahid Jaya, Solo.



Narasumber

Narasumber Pelatihan ini melibatkan para praktisi di bidang digitalisasi naskah, dari luar negeri, yakni: Dr. Thoralf Hanstein (Kepala Program digitalisasi Naskah Nusantara, Leipzig University); Ir. Jens Kupferschmidt (Ahli Informatika dan Komputer, Leipzig University); Joerg Graf (Ahli Restorasi, Leipzig University); Johns Paterson (Konsultan digitalisasi naskah Jawa) di Yayasan Sastra Solo); dan para pakar pernaskahan dari dalam negeri.



Kriteria Peserta

Peserta Pelatihan ini berasal dari berbagai daerah yang dipilih berdasarkan sejumlah kriteria yang ditentukan, yaitu:

a. Memiliki pengetahuan dasar tentang khazanah naskah Nusantara;

b. Memiliki pengetahuan dasar teknologi fotografi dan internet;

c. Memiliki akses yang baik terhadap koleksi naskah di daerah asalnya, baik koleksi pribadi maupun koleksi lembaga;

d. Memiliki visi untuk mengembangkan perpustakaan digital naskah Nusantara;

e. Diutamakan telah, sedang, atau berencana menyelenggarakan program digitalisasi naskah di daerah asalnya;



Target dan Sasaran

Target utama Kegiatan Pelatihan ini, antara lain, adalah:

a. Terhimpunnya sejumlah peserta yang memiliki wawasan dan keterampilan tentang tata cara digitalisasi naskah yang berstandar internasional;

b. Terhimpunnya sejumlah peserta yang mampu menjalankan program pengembangan perpustakaan naskah digital;

c. Terkoordinasinya kegiatan digitalisasi naskah Nusantara melalui Portal Naskah Nusantara yang akan dikelola oleh Manassa.


Mudah-mudahan kegiatan ini bisa berlangsung dengan lancar dan sukses sehingga bisa melahirkan tenaga-tenaga terampil sekaligus profesional dalam bidang digitalisasi naskah dan pengelolaan portal naskah Nusantara. Harapannya, di masa depan naskah-naskah Nusantara bisa terselamatkan dan para peneliti naskah Nusantara bisa dengan mudah mengakses dengan mudah bahan-bahan penelitiannya yang berupa naskah.

Semoga.

Print This Page

Read More......

6.4.09

ForumOnline Manassa

Masyarakat Pernaskahan Nusantara (Manassa), melalui Pengurus Pusatnya, kini telah menyediakan sebuah ForumOnline untuk memfasilitasi terjalinnya komunikasi antar peminat kajian naskah Nusantara.

ForumOnline Manassa ini tidak terbatas bagi para pengurus atau anggota Manassa saja, juga tidak hanya untuk para filolog atau pengkaji naskah saja, melainkan untuk semua kalangan yang ingin urun rembug dalam pengembangan, pelestarian, dan pengkajian naskah-naskah Nusantara, baik sarjana, pelajar, wartawan, birokrat, budayawan, ekonom, atau apa saja.

Forum tersebut dapat diakses melalui menu Forum di situs Manassa, dan diperlukan pendaftaran terlebih dahulu sebelum dapat terlibat aktiv berdiskusi.

Salah satu pertimbangan disediakannya ForumOnline Manassa tersebut adalah karena saat ini berbagai program yang berkaitan dengan dunia pernaskahan Nusantara sesungguhnya banyak dilakukan oleh berbagai pihak, baik dalam maupun luar negeri. Tapi, sayangnya seringkali terjadi tumpang tindih, dan atau bahkan pengulangan dari apa yang sudah dilakukan sebelumnya oleh pihak lain.

Melalui ForumOnline Manassa ini diharapkan bahwa upaya-upaya pemeliharaan, pelestarian, dan pengkajian naskah-naskah Nusantara dapat dilakukan secara efisien, simultan, berkesinambungan, dan memberikan manfaat yang lebih besar terhadap pelestarian dan pengembangan khazanah budaya bangsa Indonesia. Selain itu, informasi tentang berbagai kegiatan tersebut, berikut informasi tentang biaya penelitian dan beasiswa kuliah, juga bisa lebih tersosialisasi.

Setidaknya dari perkembangan yang saya ikuti, minat dan perhatian terhadap kajian naskah-naskah (manuscripts) Nusantara saat ini, baik dari dalam maupun luar negeri, sudah lebih semarak, meski tentu saja belum maksimal.

Sejumlah lembaga maupun perorangan mulai memberikan perhatian khusus pada upaya-upaya pemeliharaan, pelestarian, dan pengkajian manuskrip Indonesia yang seyogyanya dianggap sebagai benda cagar budaya ini. Perkembangan teknologi digital pun tak ayal mempengaruhi bentuk-bentuk pelestarian naskah-naskah kuno. Jika dulu bentuk pelestariannya melalui pembuatan mikofilm, kini beralih melalui mesin scanner atau kamera digital.

Dari luar negeri, setidaknya Tokyo University of Foreign Studies dan Leipzig University, sejak beberapa tahun lalu telah bekerja sama dengan lembaga-lembaga pemerhati naskah kuno di dalam negeri, untuk bersama-sama melakukan berbagai program pelestarian tersebut.

Di dalam negeri sendiri, selain Perpustakaan Nasional yang mulai membangun perpustakaan manuskrip digitalnya, Lektur Keagamaan Balitbang Departemen Agama termasuk lembaga Departemen yang memberikan perhatian besar terhadap upaya penelitian naskah-naskah kuno tersebut, khususnya yang bernuansa keagamaan.

Tentu saja, selain lembaga-lembaga di atas, kini ternyata banyak juga lembaga-lembaga penelitian di kampus-kampus, termasuk di kampus perguruan tinggi Islam (UIN/IAIN/STAIN), yang memfokuskan pada kajian naskah-naskah Nusantara. Tentu saja ini perkembangan yang sangat positif.

Bahkan, daerah-daerah yang mengajukan pembentukan cabang Manassa pun kini semakin bertambah, sehingga sudah saatnya dilakukan koordinasi antarberbagai lembaga dan organisasi tersebut.

Selamat bergabung dan berdiskusi. Mari maju bersama khazanah budaya kita!

Print This Page

Read More......

22.3.09

Islam dan Barat dalam Lirik-lirik Goethe: Acara di FAH UIN Jakarta

Pemberitahuan dan Undangan:

Fakultas Adab dan Humaniora (FAH) UIN Jakarta
bekerja sama dengan
Goethe Institut Jakarta
Majalah Sastra Horison, dan
Center for the Study of Religion and Culture (CSRC) UIN Jakarta

menyelenggarakan seminar dan pembacaan sajak-sajak Johann Wolfgang von Goethe, dengan tema: "Islam dan Barat dalam Lirik-lirik Goethe", pada Selasa, 24 Maret 2009, pukul 10.00 - 12.30.

Narasumber:

Berthold Damshäuser (Penerjemah dan Pengamat Sastra, Universitas Bonn, Jerman)
Agus Sarjono (Redaktur Majalah Sastra Horison)
Mulyadhi Kartanegara (Guru Besar Filsafat Islam, UIN Jakarta)

Moderator:
Oman Fathurahman

lihat juga informasi singkatnya di sini dalam website Goethe-Insitut di sini:

Catatan:
Buku terjemahan Sajak-sajak Goethe yang menggambarkan pikiran2nya tentang Barat dan Timur (Islam) memang telah lama terbit (2007), tapi temanya mudah2an masih relevan, terutama bagi komunitas mahasiswa Sastra UIN yang belum mengenalpikiran-pikiran "sufistis" Goethe.

Saya pernah menulis ulasan ringan tentang buku tersebut pada 2007, di sini:
"Memungut Kearifan Johann Wolfgang von Goethe"


Print This Page

Read More......