Please feel free to quote part of information provided here, with an acknowledgment to the source.

21.1.14

Susahnya Mengurus Naskah Kuno

photo by PKPM Aceh
Pada akhir tahun lalu, kita disuguhi berita-berita di sejumlah media yang “ngeri-ngeri sedap” terkait pelestarian naskah kuno di Perpustakaan Nasional. “Ngeri” karena bukan berita baik, tapi “sedap” karena memberi inspirasi untuk semakin berbenah.

Di antara berita-berita tersebut antara lain tentang belum maksimalnya Perpustakaan Nasional dalam merawat ribuan naskah kuno, dan tentang pentingnya berbagai pihak mengupayakan beasiswa kuliah tingkat lanjut untuk bidang ilmu Filologi. Meski sebatas berita kecil yang “nyempil” di koran besar dan mungkin tidak terlalu mendapat perhatian dari pembaca, ada pesan penting terkait nasib warisan budaya kita.



Read More......

26.8.13

Aceh, Banten, dan Mindanao 2 (plus Cirebon)

a page of manuscript in SMS collection
Tulisan ini terbit di Koran Nasional Republika, Jumat 23 Agustus 2013.

Saya pernah menulis artikel tentang informasi awal jaringan keilmuan Islam antara Aceh, Banten, dan Mindanao (Republika, 8 Maret 2012). Tulisan itu saya sarikan setelah membaca sepintas beberapa manuskrip koleksi Sheik Muhammad Said bin Imam sa Bayang di Marawi City, Mindanao.

Ketika ngaji lebih rinci halaman per halaman keseluruhan 43 manuskrip yang menjadi inspirasi utama tulisan itu, ternyata lebih gamblang lagi betapa kokohnya jalinan Muslim Maranao dengan kedua wilayah di Indonesia masa lalu itu, dan ditambah Cirebon.

Tulisan ini saya anggap saja refleksi tentang Aceh, Banten, dan Mindanao (plus Cirebon) jilid dua, meski kali ini tidak akan ada ulasan terkait Aceh, tapi ingin bercerita lebih jauh betapa ilmu yang dipelajari dari Banten oleh Muslim Maranao ternyata tidak sebatas tasawuf dan tarekat ajaran Syekh Abdul Qohar atau Syekh Abdul Syakur, melainkan juga ilmu kebal dan debusnya.

Read More......

23.5.13

Memahami Pribumisasi Islam Melalui Kitab Seribu Masalah

Book Review

Ronit Ricci, Islam Translated: Literature, Conversion, and the Arabic Cosmopolis of South and Southeast Asia, Chicago and London: The University of Chicago Press, xxii + 316 halaman, 2011.

----------
Versi lengkap artikel ini terbit di Studia Islamika, Vol. 19 No. 3, 2012.
----------

Salah satu persoalan serius yang sering dihadapi oleh mahasiswa atau peneliti yang melakukan kajian tekstual atas sebuah teks adalah kekurangmampuan menempatkan teks yang dikajinya dalam sebuah kerangka teori dan perspektif tertentu yang cocok, serta menempatkan analisisnya dalam konteks yang lebih luas.

Padahal, kemampuan memilih kerangka teori yang tepat serta analisis kontekstual itulah salah satu yang dapat menuntun peneliti untuk sampai pada sebuah simpulan tajam dan kontributif dalam bidangnya.

Pada saat yang sama, para peneliti dan mahasiswa pribumi juga sering kurang memanfaatkan sumber-sumber tekstual berupa manuskrip dalam mengkaji fenomena Islam Indonesia. Padahal, sumber-sumber tersebut banyak tersedia dalam berbagai bahasa lokal seperti Melayu, Jawa, Sunda, Bugis-Makassar, Wolio, dan lainnya. Mereka niscaya tidak akan menemui kesulitan jika mau membaca manuskrip-manuskrip dalam bahasa-bahasa lokal tersebut.

Buku Islam Translated yang ditulis oleh Ronit Ricci dapat menjadi salah satu rujukan contoh ideal bagaimana seyogyanya kajian sebuah teks, dan kajian Islam lokal, dilakukan. Melalui telaah atas transformasi tekstual, konsep, citra, dan genre sebuah teks Arab Kitab Seribu Masalah ke dalam tiga tradisi bahasa, yakni: Jawa, Melayu, dan Tamil, Ricci berhasil menunjukkan bagaimana proses terjadinya metamorfosis bahasa Arab, dan karya sastra Arab, ke dalam tradisi bahasa dan budaya lain, serta membuktikan lahirnya sebuah tradisi Islam baru melalui penerimaan pembaca lokal terhadap teks-teks transformatif tersebut, tanpa mengurangi superioritas tradisi asalnya, Arab.

Read More......

20.2.13

Ahok, Betawi, Tionghoa, Islam, dan Rasa ke-Indonesia-an Kita

Silsilah Syatariyah Baba Jainan.
Courtesy: Cod. Or. 7274 ff.3v-r of Leiden University Library
Artikel ini terbit di Indonesia Media, edisi early March 2013.
----------
Tampilnya Basuki Tjahaja Purnama, atau Ahok, sebagai wakil Gubernur DKI Jakarta mendampingi Jokowi, mengembalikan sebagian memori saya atas sejarah warga Tionghoa keturunan Cina yang faktanya sudah mendarah daging dalam sejarah Betawi (dulu Batavia) sejak abad 17 lalu.

Mengutip Valentijn, Susan Abeyasekere (1987: 24) dalam Jakarta A History menyebut: “…if there were no Chinese here, Batavia would be very dead and deprived of many necessities…”. 

Antara 1619-1740, Batavia disebut oleh Leonard Blusse (1981: 160) sebagai a Chinese colonial town under Dutch protection, mungkin saking besarnya peran warga Tionghoa dalam perekonomian kota Batavia saat itu, meski pada akhir kurun waktu tersebut ada masa kelam dalam sejarah warga Tionghoa di Batavia khususnya.

Dalam bidang politik? Mungkin memang baru kali ini seorang Tionghoa “mengadu nasib” di kampung Bang Pitung. Waktulah yang akan menentukan, apakah kelak Betawi akan berhutang budi kepada seorang Ahok, atau lewat begitu saja seperti pejabat pribumi sebelumnya.

Read More......