Please feel free to quote part or all the contents of this blog with an acknowledgment to the source of the link.

10.3.12

Aceh, Banten, dan Mindanao

Artikel ini terbit di Republika, Jumat, 8 Maret 2012

Ilustrasi foto: halaman naskah rusak di Zawiyah Tanoh Abee Aceh.

Oman Fathurahman
Dosen FAH UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Ketua Umum Manassa (Masyarakat Pernaskahan Nusantara)

Siapa mengira bahwa seorang ulama penting Kesultanan Banten pada abad ke 18, Abdullah bin Abdul Qahhar al-Bantani, adalah ternyata guru intelektual bagi sejumlah ulama Mindanao, Filipina Selatan pada masa lalu? Dan siapa sangka bahwa bagi Muslim Mindanao, Aceh pernah menjadi kiblat keilmuan Islam sejak ratusan tahun lalu?

Nyatanya, begitulah yang terekam dalam beberapa manuskrip Islam Melayu di Marawi City, sebuah Kota berpenduduk 90% Muslim di Pulau Mindanao, yang baru terungkap setelah ratusan tahun terkubur dalam sejarah masyarakat Melayu di wilayah ini.

Perjalanan udara dan darat yang cukup melelahkan dari Manila ke Kota Marawi City pada Sabtu (25/2) lalu seakan terbayar ketika saya bersama Sejarawan Sophia University, Profesor KAWASHIMA Midori, dan Ervan Nurtawab dari STAIN Jurai Siwo Metro Lampung akhirnya dapat membuka-buka 12 manuskrip Islam berbahasa Melayu yang teronggok tak terawat dalam karung plastik di Shiek Ahmad Basher Memorial Research Library, Jamiat Muslim Mindanao di Matampay, Marawi City, Filipina.

Sehari sebelumnya, Alim Usman Imam membawa kami ke Maktabat al-Imam Assadiq, Masjid Karbala, tempat tersimpannya 49 manuskrip Islam Melayu dan Arab warisan Haji Muhammad Said, atau Sayyidna, seorang ulama pengembara abad 19 asal Magonaya Mindanao yang pernah singgah di Borneo, Lingga, Johor, dan Palembang, sebelum 7 tahun belajar di Haramayn.

Kondisi manuskrip di tempat ini sudah lebih tertata berkat ‘sentuhan’ filolog dari Universitas Indonesia, Tommy Christomy, yang berkunjung beberapa tahun sebelumnya bersama KAWASHIMA Midori.

Jaringan yang Terlupakan
Sejauh ini, Jaringan Ulama Azyumardi Azra (1994) dianggap sebagai kajian terlengkap saling silang hubungan keilmuan antarulama Melayu-Nusantara dengan Haramayn. Tapi, keterlibatan ulama Melayu-Mindanao ternyata masih luput dari pengamatannya, mungkin karena sulitnya akses terhadap khazanah naskah Melayu di wilayah konflik ini.

Menyimak lembar demi lembar manuskrip yang hampir seluruhnya berbahasa Melayu dan Arab tersebut, membawa saya pada satu asumsi bahwa hubungan keilmuan antara Muslim Mindanao dengan ulama-ulama Nusantara di Aceh dan Banten telah terjalin cukup kuat pada masa lalu.

Salah satu manuskrip tasawuf berjudul Sayyid al-Ma’arif karangan ulama Mindanao, Syekh Ihsan al-Din, misalnya menyebutkan “…bahwasanya Syekh kita, Syekh Haji Abdullah ibn Abdul Qahhar al-Syattari al-Syafi’i Banten telah mengambil Tarekat al-Syattari jalan kepada Allah…” Seperti kita mafhum, Abdul Qahhar al-Bantani yang disebut sebagai ‘Syekh kita” itu adalah mursyid Tarekat Syattariyah pada masa Sultan Zain al-Asyiqin, penguasa Kesultanan Banten abad ke-18.

Nama-nama guru yang disebut dalam silsilah ulama Mindanao ini ujung-ujungnya ternyata juga terhubungkan kepada Ahmad al-Qusyasyi, guru bagi ulama Aceh terkemuka abad ke-17, Abdurrauf al-Jawi al-Sinkili.

Bukti hubungan intelektual Muslim Maranaos dengan Aceh juga dapat ditemukan dalam beberapa manuskrip koleksi Shiek Ahmad Basher di Jamiat Muslim Mindanao, yang antara lain menyebut kitab tasawuf Umdat al-muhtajin karya al-Sinkili dan kitab hadis Hidayat al-Habib fi al-Targhib wa al-Tarhib karya Nuruddin al-Raniri sebagai rujukan dalam karya-karyanya.

Bahkan, di Perpustakaan Nasional Jakarta kita menjumpai sebuah naskah Melayu ML 361 berjudul Bidayat al-Mubadi ‘ala ‘Aqidat al-Mubtadi karangan “…Abdul Majid Mindanawi pada nama negerinya, Syafi’i pada mazhabnya..”. Di akhir halaman, Abdul Majid menjelaskan bahwa ia menulis karyanya ini fi balad al-Asyi (Aceh) pada hari Jumat, 6 Rajab masa Pemerintahan Sultan Mahmud Syah (1767-1787), pewaris tahta dari Sultan Johan Syah.
Bisa jadi, Abdul Majid pernah belajar langsung kepada ulama-ulama terkemuka di Aceh masa itu, dan cukup dekat dengan kalangan istana.

Akses dan Konflik
Sulitnya akses terhadap bukti-bukti tertulis sejarah Melayu Islam di Mindanao memang menjadi masalah tersendiri. Konflik etnis dan politis yang berlarut-larut mengakibatkan setiap orang cenderung curiga dan hati-hati kepada setiap pendatang.

Andai tidak ditemani Alim Usman Imam, alumni Universitas Al-Azhar yang sangat mengagumi Soekarno itu, tak terbayangkan kami dengan mudah bisa melewati puluhan titik Checkpoint yang dikawal tentara dengan senjata berlaras panjang ini.

Akses terhadap jejak-jejak intelektual Muslim di bagian lain Melayu-Nusantara pun kini telah terbuka. Bukan hanya Koleksi Haji Muhammad Said dan Shiek Ahmad Basher saja, melainkan juga koleksi-koleksi lain yang mulai terkuak, seperti Koleksi Guro sa Masiu, Ismael Yahya, Nuska Alim, Abdulmajeed Ansano, Guro Alim Saromantang, dan Sheikh Abdul Ghani.

Manuskrip di Marawi City adalah representasi sejarah dan identitas Muslim Melayu Maranos. Jika tidak ada tindakan cepat untuk melestarikan dan kemudian mengkajiya, ia sangat rapuh dan akan segera musnah dari memori kolektif kita.

Irina Bokova, Direktur Jendral UNESCO saat terbakarnya hampir 70% koleksi Manuskrip the Institute of Egypt akibat konflik dan gejolak politik di Kairo mengatakan: “…this is an irreversible loss to Egypt and to the world…these manuscripts represent the history and identity of a people. I call for light to be shed on the causes of the fire, and for serious measures to be taken quickly to save what can be saved…” (UN News Centre, 20/12/11).

Masyarakat Muslim Maranaos kini sudah hampir tidak mengenal lagi bahasa Melayu yang 200 tahun lalu menjadi bahasa intelektual leluhurnya, padahal salah satu manuskrip dalam Koleksi Shiek Ahmad Basher berisi pernyataan penulisnya bahwa ia sangat bangga dan telah berusaha keras menulis menggunakan bahasa Melayu agar terhubungkan dengan masyarakat Muslim lain di Nusantara, meski bahasa ibunya sendiri adalah Maranao.

Print This Page

Read More......

16.1.12

Gempa, Manuskrip, dan Pemilukada di Aceh

Versi lebih ringkas tulisan ini terbit di Koran Republika, Sabtu 14 Januari 2012.

Foto oleh Tim TUFS-MANASSA-PKPM: catatan tentang gempa dahsyat kedua di Aceh pada Kamis 9 Jumadil akhir 1248 H/3 November 1832 M, MS Zawiyah Tanoh Abee No. 153/163/Fk-69/TA/2006.

---------------
Saya baru beberapa puluh menit saja memejamkan mata ketika gempa 7.1 skala Richter dan berpotensi tsunami di Aceh itu mengguncang pada Rabu (11/1-2012) pukul 01.36 WIB, dan membuat saya terbangun. Itu adalah malam pertama para tamu dari dalam dan luar negeri mendarat di Banda Aceh untuk sebuah international workshop bertemakan “From Anatolia to Aceh: Ottomants, Turks, and Southeast Asia” pada dua hari berikutnya. Workshop ini diselenggarakan oleh International Center for Aceh and India Ocean Studies (ICAIOS), bekerja sama dengan British Institute at Ankara, ASEASUK, dan Pemerintah NAD.

Topik gempa besar di Aceh yang sempat membuat kepanikan, terutama di Meulaboh, itu kemudian menghiasi obrolan kami saat sarapan pagi dan setiap coffee break, mulai dari obrolan ringan belaka sampai dikaitkan dengan kajian akademis. Fiona Kerlogue dari the Horniman Museum, Inggris, mengaku shock dan tidak bisa tidur sampai malam berikutnya, meski KAWASHIMA Midori dari Sophia University, Tokyo tampak tenang-tenang saja, mungkin karena di Jepang biasa terjadi gempa yang lebih besar…☺

Anthony Reid, sejarawan senior tentang Asia Tenggara dari Australian National University (ANU), adalah salah seorang yang paling bersemangat membicarakan sejarah dan antropologi gempa, terkait rencananya menulis artikel terkait topik tersebut. Menurutnya, berbeda dengan di Jepang, tradisi pencatatan dan dokumentasi sejarah gempa di Nusantara tidak terlalu baik, sehingga cukup sulit mengetahui siklus gempa yang terjadi di Nusantara ratusan tahun lalu.

Saya beruntung memiliki sejumlah informasi terkait gempa dari sumber primer berupa manuskrip-manuskrip tulisan tangan abad 18 dan 19, yang tercecer dan terhimpun secara tidak sengaja selama bertahun-tahun menekuni bidang kajian manuskrip Nusantara, dan atas kebaikan kawan-kawan Masyarakat Pernaskahan Nusantara (Manassa) di lapangan, terutama kawan-kawan di Aceh dan Minangkabau.

Bersama Azyumardi Azra dan teman-teman di Pusat Kajian Pendidikan dan Masyarakat (PKPM), saya membincangkan kejayaan plus kekayaan manuskrip Nusantara kita itu di warung kopi Banda Aceh, kaitannya dengan kajian Islam (Islamic studies).

Dari berbagai goresan tangan orang terdahulu di Nusantara, wilayah Nusantara, khususnya Aceh, Minangkabau, dan sekitarnya sepertinya memang menjadi wilayah langganan gempa.

Dalam sebuah manuskrip asal abad 19 di Zawiyah Tanoh Abee, Aceh Besar, terdapat catatan dalam bahasa Arab berbunyi: “wa-kanat al-zalzalah al-syadidah al-tsaniyah fajr yawm al-khamis tis’ah ayyam min jumad al-akhir sanah 1248 min hijrah al-nabawiyah…”. Catatan tersebut menunjukkan pernah terjadi gempa besar untuk kedua kalinya pada pagi hari Kamis 9 Jumadil akhir 1248 H/3 November 1832 M (Fathurahman dkk 2010: xx).

Bukti lain seringnya terjadi gempa di bumi kita pada masa lalu adalah dijumpainya sejumlah manuskrip tentang “takwil gempa” dalam bahasa Melayu menggunakan aksara Jawi, seperti manuskrip Tabir Gempa di Perpustakaan Ali Hasjmy, Banda Aceh (Fathurahman & Holil 2007: 274-275), Ramalan Tentang Gempa di Perpustakaan Nasional Jakarta (Behrend [ed.] 1998: 291), dan Takwil Gempa di Surau Lubuk Ipuh, Padang Pariaman, Sumatra Barat.

Kearifan Lokal Takwil Gempa
Ternyata, menurut orang-orang tua terdahulu, setiap gempa yang terjadi sebetulnya membawa pesan tertentu bagi umat manusia, entah itu pesan menggembirakan atau sebaliknya.

Salah satu bagian dari manuskrip Takwil Gempa asal abad 19 Surau Lubuk Ipuh di atas, yang sudah dikaji oleh Zuriati dkk (2008), misalnya menjelaskan bahwa: “…dan jika pada bulan Dzulqadah…dan jika pada waktu duha, alamatnya bala [musibah] banyak akan datang ke dalam negeri itu…”. Seperti kita ketahui, gempa dan tsunami di Aceh, yang menewaskan hampir 200 ribu korban jiwa, terjadi pada Minggu pagi waktu duha, 26 Desember 2004, atau 14 Zulkadah 1425 Hijriah!

Saya meyakini bahwa itu bukan malapetaka, apalagi azab sang Pencipta, melainkan musibah kemanusiaan akibat peristiwa alam yang terjadi di luar kehendak dan kontrol manusia!

Dengan hati berdebar-debar, saya lalu mencoba menyimak bagian lain “ramalan” gempa dalam manuskrip tersebut, seraya menghubungkannya dengan gempa 7.1 SR pada Rabu, 16 Safar antara waktu Isya dan Subuh lalu di Nanggroe Aceh Darussalam.

Saya agak gemetaran karena takwil gempa pada bagian itu berbunyi: “…dan bergerak gempa pada bulan Safar…jika pada waktu Isya alamatnya bala [musibah] akan datang ke negeri itu…”! Apakah itu artinya akan ada bala baru di Aceh dan sekitarnya? Semoga tidak! Peringatan dini datangnya tsunami pun sudah dicabut dua jam setelah gempa.

Sekali lagi, semua yang tertulis dalam kertas Eropa berusia ratusan tahun tersebut memang bukan sebuah ramalan ilmiah yang dapat dipertanggung jawabkan. Saya sendiri ingin melihat takwil itu sebagai sebuah kearifan lokal (local wisdom) leluhur kita saja, yang ingin mengingatkan anak cucunya agar hidup lebih baik, bukan sebagai sesuatu yang niscaya terjadi.

Akan tetapi, kawan saya, Jajang Jahroni, mengingatkan bahwa tidak sepatutnya kita selalu menghadapkan secara dikotomis antara kearifan lokal tradisional dengan pengetahuan ilmiah modern (science) yang menurutnya terkadang juga mengandung pseudo-science. Ibarat cireng (Sunda: aci digoreng) yang sekarang ini bisa saja berdampingan dengan sphageti di Supermarket….!

Takwil Gempa dan Pemilukada Aceh
Masalahnya, terlepas dari adanya gempa atau tidak, situasi mutakhir menjelang Pemilukada di Aceh pun membuat kita was-was, apa yang akan terjadi jika penembakan misterius terus terjadi dan situasi politik terus memanas?

Mata saya pun terus bergerak mengamati transkripsi teks Takwil Gempa yang dibuat oleh Yusri Akhimudin, Dosen STAIN Batusangkar yang sedang studi lanjut di konsentrasi Filologi di Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta tersebut, untuk mencari tahu kearifan lokal apa yang mungkin “dititipkan” oleh nenek moyang kita agar terhindar dari bala yang “diramalkan” itu.

Sang pengarang ternyata menulis demikian: “…maka haruslah kita memakai pakaian yang suci-suci dan memakai bau-bauan yang harum-harum supaya dijauhkan Allah ta’ala akan bala daripada tubuh kita…”.

Kita bisa menafsirkan sendiri, apa yang tersirat dari “kesucian pakaian dan kebersihan badan” yang dipersyaratkan oleh leluhur kita agar terhindar dari bala yang mungkin terjadi tersebut. Mungkin mereka juga menginginkan agar pakaian dan tubuh kita tidak dikotori oleh pertengkaran, perebutan kekuasaan, korupsi, dan nafsu duniawi belaka. Wallahu a’lam.

Print This Page

Read More......

18.11.11

Thesaurus of Indonesian Islamic Manuscripts

PPIM UIN Jakarta, on behalf of Puslitbang Lektur Keagamaan, Balitbang dan Diklat, Ministry of Religious Affairs proudly presents the 'trial version' of the Thesaurus of Indonesian Islamic Manuscripts (TIIM). The full version will be officially launched by the Ministry soon.

The TIIM is an online database designed by the Islamic Manuscript Unit (ILMU), Center for the Study of Islam and Society (PPIM), Syarif Hidayatullah State Islamic University (UIN) under supervision of Dr. Oman Fathurahman, and fully supported by the Center for Research and Development of Religious Literatures (Puslitbang Lektur Keagamaan), Indonesian Ministry of Religious Affairs (MORA).

The TIIM gets supports from experts and researchers specializing in Indonesian manuscripts officially affiliated with the Indonesian Association for Nusantara Manuscripts or Masyarakat Pernaskahan Nusantara (MANASSA).

The TIIM is mainly intended to provide information for both public and academic community on Indonesian Islamic manuscripts as complete as possible, written both in Arabic and local languages like Acehnese, Buginese, Javanase, Madurese, Malay, Minangkabau, Sasak, Sundanese, Wolio and others used in a written literary tradition in Indonesia.

The TIIM also provides some other useful information like the author names with their biographical accounts, number of copies kept in all libraries around the world, catalogues that list the related manuscripts including their pages and summaries, and all the articles and books about them.

The TIIM shows an even greater importance with the availability of information about the conducted, as well as the ongoing, philological works. If possible, these works are digitally available and could be downloaded. It is hoped that not only can it avoid unnecessary repetition in studying these texts but also fill the gaps found in the previous studies.

Considering a huge number of Indonesian Islamic manuscripts kept around the world, mounting to hundred thousand manuscripts or even more, as it is thought, the TIIM is definitely a lifetime project in which all data will be continuously revised and completed in accordance with the research findings in the future.

If you have any research data and information should be included in the database, please contact Dr. Oman Fathurahman (omanwae@gmail.com). Any comments and advices are welcome.

Here is the link:
http://tiim.ppim.or.id/


Print This Page

Read More......

21.10.11

Manuskrip dan Penguatan Kajian Islam Asia Tenggara

Manuskrip: Mozaik Islam Lokal Nusantara yang Terserak dan Terlupakan
Pada tanggal 13 hingga 17 September 2011 lalu, saya bersama sejumlah anggota tim peneliti gabungan dari Kajian Poetika Fakultas Sastra Universitas Andalas, Tokyo University of Foreign Studies (TUFS) Jepang, Masyarakat Pernaskahan Nusantara (Manassa), dan didampingi Tuanku Umar sebagai Buya tarekat Syattariyah Surau setempat, melakukan penelitian manuskrip Islam di Surau Calau, Sijunjung, Sumatra Barat.


Sehari sebelumnya, penelitian yang sama juga dilakukan di keluarga ahli waris Surau Tanjung Ampalu yang dengan sangat hangat menyambut kami. Seperti diketahui, Minangkabau dikenal sebagai salah satu wilayah di Nusantara yang menjadi ‘lumbung’ emas kekayaan manuskrip Islam Melayu Nusantara, berkat tradisi intelektual Islam masa lalu yang pernah mengalami masa keemasannya.

Mulai pagi hingga larut malam, satu persatu manuskrip Surau Calau yang tersimpan di sebuah bilik ‘rahasia’ pun dikeluarkan oleh Buya, untuk kemudian kami identifikasi judul-judul dan pengarangnya, lalu kami bersihkan, kami preservasi melalui digitalisasi, dan akhirnya kami rapihkan kembali ke tempat semula, dengan penataan yang lebih baik. Begitupun sekarung (benar-benar tersimpan dalam sebuah karung) manuskrip Islam lainnya yang semula teronggok di atap Surau, atas izin Tetua Surau diturunkan dan diidentifikasi.

Seperti pernah kami lakukan dalam Koleksi manuskrip Islam di Yayasan Ali Hasjmy dan Zawiyah Tanoh Abee Aceh beberapa tahun lalu, dalam lembar demi lembar setiap manuskrip itu, saya memperhatikan teks-teks yang berbahasa lokal khususnya, untuk mengetahui dan menyelami pengetahuan serta kearifan lokal Islam apa yang terkandung dalam manuskrip-manuskrip Surau Calau tersebut.

Saya meyakini sepenuh hati bahwa manuskrip Islam adalah salah satu mozaik Islam Nusantara yang banyak tercecer di lembaga-lembaga pendidikan Islam tradisional semacam surau di Minangkabau, zawiyah/dayah di Aceh, atau pesantren di Jawa. Bahkan dalam teks-teks berbahasa Arab, yang menggambarkan terbentuknya jaringan keilmuan dengan dunia Islam secara keseluruhan, pun seringkali terselip interpretasi (tafsiran) maupun pun interpolasi (sisipan) dari Muslim setempat sebagai bukti adanya resepsi budaya lokal terhadap unsur-unsur luar, yang pada gilirannya terbentuk sebagai bagian dari mozaik Islam Nusantara.

Terbukti bahwa dari 99 bundel manuskrip Islam di Surau Calau, Sijunjung Sumatra Barat, sejumlah teks penting berbahasa Melayu Minang, yang beberapa di antaranya sangat lokal dan sulit dijumpai di wilayah lain yang berbeda konteksnya, berhasil kami identifikasi, seperti Nazam Ulakan, Silsilah Syattariyah Surau Tinggi di Calau, Ajaran Tuanku Abdurrahman al-Syattari, Hikayat Sijunjung, Kaji Tubuh, Syair Johan Perkasa Syah Alam dari Paninjauan, Surat Tuanku Pamansiangan, dan beberapa lainnya, di samping tentu saja teks-teks Melayu asal wilayah lain, terutama Aceh, yang menggambarkan kuatnya jaringan keilmuan Minangkabau dengan para ulama Aceh abad sebelumnya.

Beberapa teks yang dijumpai dalam kategori ini antara lain Syair Dagang karya Hamzah Fansuri, Jawhar al-Haqa’iq karya Syamsuddin al-Sumatra’i, Tanbih al-Masyi al-Mansub ila Tariq al-Qusyasyi karya Abdurrauf ibn ‘Ali al-Jawi al-Fansuri, dan beberapa lainnya.

Bahkan, lebih dari itu, teks-teks dari Surau warisan Syaikh Abdul Wahab Calau, yang sesungguhnya terletak jauh di pelosok Minangkabau dan terletak di perbatasan Jambi, ini membuktikan ketidakterasingannya dari tradisi intelektual di dunia Islam secara keseluruhan. Sebut saja teks al-Tuhfah al-Mursalah ila Ruh al-Nabi karya ulama India Fadlullah al-Burhanpuri dan komentarnya, al-Haqiqah al-Muwafiqah li al-Shari’ah oleh pengarang yang sama. Ajaran martabat tujuh dan wahdat al-wujud dalam teks ini ini pernah menyulut kontroversi tak berkesudahan sejak abad ke-17, mulai dari Aceh zaman al-Raniri, hingga ke Jawa pada masa kemudian seperti tergambar dalam perdebatan antara Syaikh Mutamakkin dan Ketib Anom Kudus dalam Serat Cebolek karangan Yasadipura I.

Tersingkapnya ‘harta karun’ berupa manuskrip kuno warisan peradaban Islam Nusantara masa lalu di Surau Calau Minangkabau sesungguhnya merupakan salah satu saja dari sejumlah bukti peradaban Islam Nusantara berupa manuskrip tulisan tangan yang masih dapat ditemukan terserak di lembaga-lembaga pendidikan Islam tradisional, ataupun di tangan-tangan masyarakat sebagai properti pribadi, karena selain Minangkabau, kita juga dapat menemukan mozaik Islam Nusantara berupa manuskrip tersebut di berbagai wilayah lain di Sumatra, Sulawesi, Jawa, Kalimantan, maupun wilayah lainnya.

Beberapa waktu sebelumnya, saya bersama tim Masyarakat Pernaskahan Nusantara dan Dosen Fakultas Adab Sunan Ampel Surabaya, juga melakukan penelusuran manuskrip Islam di Kampus Pesantren Sabilil Muttaqien, Takeran Magetan, Jawa Timur. Meski Pesantren ini tergolong cukup muda, yakni didirikan pada paruh pertama abad ke-20, tapi PSM Takeran ternyata juga menyimpan sekitar 60 manuskrip Islam, yang kebanyakan berbahasa Arab dan diberikan terjemah gantung dalam bahasa Jawa setempat.

Jejak-jejak sejarah intelektual Islam PSM Takeran juga dapat ditemukan dalam sejumlah manuskrip koleksinya, yang semula teronggok begitu saja bersama buku-buku lain di sudut Perpustakaan. Salah satu manuskrip dari Kertas Dluwang yang sudah sangat rapuh misalnya, berjudul Tafsir al-Jalalayn, mengandung sebuah catatan dalam aksara Latin berbunyi: “Tulisan Kj. Imam Murshid Pendiri “P.S.M.” Diwaktu mereorganiseer Pesantren Takeran. Sajang beliau meninggalkan Pesantren Sedjak Tgl. 19 Sept. 1948.”

Selain itu, sebuah hasil fotokopi manuskrip berbahasa Jawa tentang silsilah guru-murid Tarekat Syattariyah membuktikan adanya jaringan guru-murid pendiri PSM Takeran dengan Syaikh Abdul Muhyi di Pamijahan, yang kemudian terhubungkan ke Syaikh Abdurrauf ibn Ali al-Jawi di Aceh, dan Syaikh Ahmad al-Qusyasyi di Madinah. Meski sekarang ini orientasi PSM Takeran tidak lagi mengembangkan tradisi Tarekat, akan tetapi saksi sejarah berupa manuskrip, yang kini sudah tersimpan rapi dalam rak kaca, jelas menjadi petunjuk sejarah afiliasi dan kecenderungan tokoh-tokoh lembaga pendidikan ini di era sebelumnya.

Khazanah manuskrip Islam pesantren lain yang belum terjamah juga terdapat di wilayah Cirebon. Dalam sebuah workshop “Revitalisasi Tradisi Tahqiq di Pesantren” yang diselenggarakan oleh santri-santri Kampus al-Biruni Pesantren Ciwaringin dan sekitarnya di Cirebon, terungkap adanya puluhan manuskrip di Pesantren Ciwaringin dan Pesantren Buntet yang masih teronggok sebagai pusaka kuno belaka. Identifikasi ‘dadakan’ atas sebuah manuskrip, yang ternyata berjudul Sabil al-muhtadin karya Syaikh Arsyad al-Banjari, telah memberikan stimulus kepada sejumlah santri untuk segera melakukan preservasi dan sekaligus pengkajian secara sistematis terhadap manuskrip-manuskrip lainnya yang tersimpan.

Penelusuran manuskrip Islam Nusantara yang paling mutakhir, saya lakukan di wilayah Pontianak, Kalimantan Barat. Berdasarkan informasi awal yang telah dihimpun oleh sejumlah dosen dan peneliti muda yang tergabung dalam “Malay Corner” di STAIN Pontianak, wilayah ini ternyata juga menyimpan khazanah mozaik Islam dalam bentuk manuskrip tulisan tangan.

Sebuah manuskrip berbahan kertas Dluwang yang tersimpan, dan awalnya bercampur dengan kitab cetak litograf, di Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional (BPSNT) misalnya, mengandung teks-teks Islam berbahasa Arab yang kemudian diberikan terjemah antarbaris menggunakan aksara Pegon berbahasa Jawa. Digunakannya kertas Dluwang asal Jawa, berikut terjemah Pegon bersama aneka catatan Pegon lain yang “mengotori” manuskrip ini menggiring saya kepada sebuah pertanyaan: “Sejauhmana Jawa berpengaruh dalam tradisi intelektual Islam di Kalimantan Barat?”

Memang, manuskrip ‘Jawa’ di Pontianak itu bisa saja tidak ada kaitan apa-apa dengan tradisi intelektual Islam, hanya kajian lebih mendalam yang dapat secara pasti menjawabnya. Tentu ini menjadi sebuah pekerjaan rumah tersendiri, apalagi dalam hal pemetaan serta kajian manuskrip Islam Nusantara, Pontianak dapat dianggap masih relatif tertinggal, terutama dibanding wilayah lain seperti Aceh, Minangkabau, Riau, Palembang, Bima, Surakarta, Jogjakarta, Bandung, serta beberapa wilayah di Jawa lainnya.

Manuskrip dan Jaringan ‘Ingatan Kolektif’ Muslim Nusantara
Demikianlah, jika di antara kita ada yang mencurahkan dedikasinya untuk terus-menerus melakukan penelusuran dan pengkajian terhadap manuskrip Islam Nusantara yang masih tercecer di tangan-tangan masyarakat, niscaya hal itu dapat memberikan kontribusi terhadap upaya rekonstruksi sejarah sosial intelektual Islam yang pernah berkembang pada masa lalu, yang kemudian diharapkan pula dapat mengetahui karakter asal Muslim di wilayah ini, sebagai cermin untuk membangun peradaban Islam Indonesia dan Asia Tenggara di masa depan.

Saya sangat yakin, mozaik Islam Nusantara yang berupa manuskrip ini dapat dijumpai secara merata sebagai identitas kultural berbagai kelompok masyarakat etnik besar Nusantara. Dan, jika dirangkai satu persatu melalui sebuah aktifitas riset akademis yang sistematis dan terukur, niscaya mozaik manuskrip tersebut dapat membentuk sebuah jaringan ‘ingatan kolektif’ yang menghubungkan satu dengan yang lain.

Manuskrip Sabil al-muhtadin karya Arsyad al-Banjari dari etnis Banjar, misalnya, ditulis atas ‘inspirasi’ dari Sirat al-mustaqimnya Nuruddin al-Raniri dari etnis Aceh, pun sebuah manuskrip berbahasa Maranao di Filipina menyebut ‘berhutang budi’ pada Mir’at al-tullab karangan Abdurrauf al-Fansuri di Aceh, Serat Menak dari etnis Jawa lahir sebagai resepsi atas Hikayat Amir Hamzah dari etnis Melayu, Serat Tasawuf di Sunda juga mencantumkan Siyar al-salikin karya al-Palimbani sebagai rujukannya, manuskrip dalam tradisi Bugis-Makassar pun sering ‘mengingat’ peranan tiga ulama Minangkabau, Minangkabau ingat pada Aceh, Ternate ingat pada Makassar dan Gresik, Patani ingat pada Banjarmasin dan Palembang, Palembang ingat pada Demak, dan demikian seterusnya pola kemunculan manuskrip Nusantara ini terbentuk, transetnis dan transdaerah, sehingga khazanah manuskrip Nusantara layak dilihat sebagai cermin kesatuan dalam keragaman (unity in diversity) etnis masyarakat yang sebagian besar wilayahnya kini bernama Indonesia!

Apalagi jika pengamatan tersebut kita tujukan pada manuskrip-manuskrip silsilah guru-murid dalam sebuah tarekat, seperti yang dijumpai di Surau Calau dan Tanjung Ampalu Minangkabau, di PSM Takeran Magetan, di Zawiyah Tanoh Abee Aceh, di Pamijahan, di Cirebon, dan di tempat-tempat lainnya, niscaya proses merangkai mozaik-mozaik Islam Nusantara tersebut akan lebih mudah dilakukan, karena sebagai sebuah organisasi dalam tasawuf, tarekat menyediakan informasi yang terpercaya sejauh menyangkut hubungan seorang guru dan murid-muridnya, meski terkadang masing-masing antarmereka saling berjauhan, baik dari segi jarak maupun rentang hidupnya.

Manuskrip Islam Nusantara: Kesinambungan dan Pribumisasi Ajaran Islam
Secara umum, manuskrip Nusantara, yang ditulis dalam puluhan bahasa lokal, mengandung kekayaan informasi yang berlimpah. Isi manuskrip itu tidak terbatas pada kesusastraan tetapi mencakup berbagai bidang lain seperti agama, sejarah, hukum, adat, obat-obatan, azimat, astronomi, kedokteran, dan lain-lain.

Dalam hal manuskrip Islam Nusantara, tema-tema yang terkandung pun banyak didominasi oleh teks-teks yang sangat menggambarkan adanya pertemuan serta pribumisasi Islam dengan budaya-budaya lokal, di samping mencakup hampir semua bidang keilmuan yang pernah berkembang di dunia Islam.

Berdasarkan infomasi dalam Thesaurus of Indonesian Islamic Manuscripts yang sedang dikembangkan oleh Puslitbang Lektur Keagamaan, Balitbang dan Diklat, Kementerian Agama, bekerja sama dengan Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, dari 2.088 teks yang sudah berhasil dientri, tema hagiografi tradisional menempati urutan teratas sebanyak 442 teks (21%), disusul kemudian lima tema terbanyak berikutnya berturut-turut adalah tasawuf sebanyak 322 teks (15%), tale and folklor sebanyak 266 teks (13%), hadis Nabi sebanyak 206 teks (10%), teologi sebanyak 146 teks (7%), dan tema ethics atau akhlak sebanyak 128 teks (6%).

Manuskrip dan Penguatan Tradisi Riset Islam Indonesia: Peluang dan Tantangan
Dengan memperhatikan peta di atas, manuskrip Islam Nusantara, melalui Filologi sebagai perangkat keilmuan utama untuk mengkajinya, sangat potensial untuk dijadikan sebagai salah satu entri point pengembangan dan penguatan tradisi riset tentang Islam Indonesia khususnya dan Asia Tenggara umumnya, baik secara perorangan oleh dosen dan peneliti, maupun secara kelembagaan oleh perguruan tinggi agama Islam, seperti UIN, IAIN, STAIN, dan perguruan tinggi agama Islam lainnya.

Bahkan, mengingat potensinya yang cukup signifikan, manuskrip Islam Nusantara juga dapat menjadi pintu masuk untuk menghidupkan kembali tradisi dan aktifitas keilmuan di lembaga-lembaga pendidikan Islam tradisional, semacam pesantren, yang pada masa lalu memang pernah menjadi center of excellence keilmuan Islam Nusantara.

Jika dirumuskan dan diorganisasi secara lebih sistematis, kajian terhadap manuskrip Islam Nusantara ini memiliki beberapa keuntungan strategis sekaligus:

Pertama, dapat menggali kekhasan serta dinamika Islam dan masyarakat Muslim Indonesia dan Asia Tenggara, karena manuskrip Islam Nusantara, selain menggunakan bahasa Arab, ditulis dalam berbagai bahasa lokal seperti Aceh, Bali, Batak, Belanda, Bugis-Makasar-Mandar, Jawa & Jawa Kuna, Madura, Melayu, Minangkabau, Sanskerta, Sasak, Sunda dan Sunda Kuna, Ternate, dan Wolio, sehingga mengkajinya berarti akan menjadi semacam ‘jalan pintas’ untuk mengetahui pola-pola hasil interaksi dan pertemuan Islam dengan budaya-budaya lokal di Asia Tenggara, yang tentunya menjadi kekayaan intelektual tersendiri.

Kedua, kajian atas manuskrip-manuskrip Islam Nusantara dengan sendirinya akan menjadi bagian dari upaya pelestarian benda cagar budaya Indonesia demi menjaga identitas kemajemukan, kebangsaan, dan menjamin keberlangsungan transmisi pengetahuan yang telah diwariskan sejak ratusan tahun lalu.

Ketiga, keberhasilan memetakan kejayaan tradisi intelektual Islam Nusantara pada gilirannya dapat menunjukkan kepada dunia internasional bahwa wilayah ini tidak dapat dianggap sebagai Islam pinggiran (peripheral), melainkan bagian tak terpisahkan (integral), dari dunia Islam secara keseluruhan.

Dalam konteks masyarakat akademik internasional, manuskrip Islam telah mendapatkan perhatian besar, baik untuk bidang pelestariannya sebagai benda cagar budaya, maupun sebagai sumber primer penelitian dan kajian. The Islamic Manuscript Association (TIMA) yang bermarkas di Cambridge University, UK, misalnya, merupakan salah satu asosiasi akademik terkemuka yang menyelenggarakan berbagai aktifitas akademik, seperti konferensi internasional, scholarship, grant, penelitian, penerbitan, dan berbagai aktifitas lainnya.

Sayangnya, manuskrip Islam Nusantara masih sedikit dikenal karakteristik dan kandungan isinya oleh kalangan masyarakat akademik internasional tersebut karena kurangnya informasi dan publikasi internasional berkaitan dengan kekayaan warisan peradaban Islam Nusantara kita. Ada beberapa kemungkinan mengapa hal itu terjadi:

Pertama, kurangnya penelitian-penelitian yang mendalam tentang kekayaan khasanah manuskrip Islam Nusantara oleh sarjana-sarjana Indonesia sendiri yang sesungguhnya memiliki pengetahuan memadai, baik berkaitan dengan bahasa lokal yang digunakan maupun substansi keilmuan di dalamnya;

Kedua, mungkin saja sudah ada sejumlah kajian yang telah dilakukan, namun hasil kajian tersebut tidak dipublikasikan dan kemudian dikomunikaiskan dengan dunia akademik internasional;

Ketiga, belum adanya sebuah pusat kajian Islam khusus yang memberikan perhatian pada kajian manuskrip Islam Nusantara secara komprehensif, dikelola secara profesional, serta melakukan kajian terus menerus, dan akhirnya dapat dijadikan sebagai rujukan para sarjana dalam mengkaji manuskrip Islam Nusantara;

Keempat, masih minimnya dukungan finansial untuk upaya-upaya pengkajian dan sekaligus pelestarian khasanah manuskrip Islam Nusantara semacam ini, sehingga minat masyarakat akademik untuk menekuninya pun masih rendah dibanding bidang keilmuan lain.

Dalam hal ini, civitas akademika di perguruan tinggi Agama Islam (PTAI) di bawah naungan Kementerian Agama, sesungguhnya memiliki potensi untuk masuk dalam kajian Islam Nusantara yang berbasiskan pada manuskrip tersebut, setidaknya karena dua alasan:

Pertama, PTAI memiliki sumber daya manusia (human resources) yang memiliki potensi besar dalam memadukan kajian bidang-bidang keislaman dengan bidang umum termasuk Budaya dan Humaniora. Potensi tersebut ditunjang oleh kenyataan bahwa civitas akademika PTAI sebagian besar memiliki akar keilmuan Islam di pesantren-pesantren dan madrasah, sehingga sangat menguasai topik-topik yang dibahas dalam literatur Islam klasik, termasuk dalam manuskrip-manuskrip Islam Nusantara.

Kedua, PTAI memiliki SDM yang kuat dalam penguasaan bahasa yang banyak digunakan dalam manuskrip, yakni bahasa Arab. Apalagi berbagai manuskrip dalam bahasa daerah pun umumnya ditulis dengan aksara Arab (Jawi dan Pegon), sehingga penguasaan atas aksara dan bahasa tersebut menjadi sangat penting. Sejauh ini, minimnya penguasaan para filolog —yang umumnya berlatar belakang pendidikan umum— terhadap bahasa Arab seringkali menjadi faktor penghambat dilakukannya penelitian atas manuskrip-manuskrip Islam tersebut, sehingga tidak mengherankan jika ribuan manuskrip Nusantara berbahasa Arab lebih banyak “ditelantarkan”.

Manuskrip dan Pengembangan Infrastruktur Tradisi Riset Islam Indonesia
Jika boleh dibandingkan dengan kajian Islam Timur Tengah, para peneliti dalam kajian Islam Asia Tenggara, khususnya dalam konteks ini kajian manuskrip Islam, ibarat masuk ke dalam sebuah hutan belantara yang masih perawan, kaya dengan sumber daya, tetapi kondisinya belum tertata dengan baik.

Jika dalam konteks tradisi dan kajian Islam Timur Tengah misalnya, yang memang telah berusia jauh lebih tua, seorang peneliti akan dengan mudah bisa mencari dan mengetahui judul sebuah kitab berikut biografi pengarangnya melalui aneka tabaqat, faharis, atau ma’ajim yang telah disusun, maka tidak demikian halnya dengan kajian manuskrip Islam Nusantara. Meski sejumlah katalog (faharis) telah diterbitkan, akan tetapi kebutuhan terhadap perangkat penelitian semacam tabaqat, faharis, atau ma’ajim, yang menyediakan data-data lengkap dan komprehensif, tentang manuskrip Islam Nusantara, berikut biografi masing-masing pengarangnya, masih belum terpenuhi, sehingga seringkali menyulitkan para peneliti untuk melakukan kajian atasnya.

Masalah lain adalah bahwa hingga saat ini belum ada satu pun referensi komprehensif yang dapat menjadi rujukan tentang manuskrip Islam Nusantara apa saja yang pernah diteliti, baik dalam bentuk skripsi, tesis, disertasi, maupun laporan penelitian biasa. Akibatnya, tidak jarang sebuah penelitian saling tumpang tindih satu dengan yang lain, dan sering terjadi bahwa satu judul teks yang sama dalam naskah Nusantara dikaji oleh dua atau lebih peneliti, tanpa saling merujuk satu dengan yang lain.

Nah, jika mimpi-mimpi untuk mengembangkan tradisi riset Islam Indonesia ingin kita wujudkan, dan jika perguruan-perguruan tinggi agama Islam berminat memperkuat tradisi riset dan akademik di kampusnya, maka infrastruktur yang dibutuhkan tersebut sudah seyogyanya dibangun terlebih dahulu. Dalam hal ini, manuskrip sebagai salah satu mozaik Islam Nusantara, merupakan salah satu aset yang sangat potensial dan patut dipertimbangkan untuk dijadikan sebagai pintu masuk penguatan tradisi riset Islam Indonesia dan Asia Tenggara.

Seperti pernyataan Anthony Johns yang sering saya kutip, manuskrip Islam, yang ditulis oleh elit Muslim Nusantara sendiri, dan untuk dikonsumsi oleh komunitas lokal setempat, dapat menjadi sumber kajian otentik untuk memahami karakter yang sesungguhnya dari Islam dan Muslim di wilayah ini. Semoga.

-----------
Tulisan ini pernah dipresentasikan dalam “The 11th
Annual Conference on Islamic Studies (ACIS)”, yang diselenggarakan oleh Direktorat Pendidikan Tinggi Islam Ditjen Pendidikan Islam Kementerian Agama RI, bekerja sama dengan STAIN Syaikh Abdurahman Siddiq Bangka Belitung di Bangka Belitung, 10-13 Oktober 2011.

Read More......