Catalogue of Aceh Manuscripts: Ali Hasjmy's Collection
Tokyo University of Foreign Studies, PPIM UIN Jakarta, and Manassa (2007)
This book is a result of the catalogization project, which has been conducted in 2005 by C-DATS TUFS, PPIM UIN Jakarta, Manassa, and PKPM Banda Aceh. Below is a foreword from Prof. Dr. Edwin Wieringa which is included in the book.
Kata Pengantar
Prof. Dr. Edwin Wieringa
Katalog naskah-naskah Yayasan Pendidikan dan Museum Ali Hasjmy (selanjutnya disebut YPAH) yang hadir di hadapan Anda ini mengenangkan saya pada kalimat pembukaan seri Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia. Kata pengantar setiap jilid dari seri tersebut yang sudah terdiri dari ratusan buku selalu dimulai dengan ucapan yang berbunyi: “...Bahagia kita, bangsa Indonesia bahwa hampir di setiap daerah di seluruh tanah air hingga kini masih tersimpan karya-karya sastra lama, yang pada hakikatnya adalah cagar budaya nasional kita...”.
Kekayaan tulisan lama di Indonesia terbukti sekali lagi dengan terbitnya katalog ini yang mencatat tidak kurang dari sekitar tiga ratus teks. Katalog naskah merupakan kunci yang gunanya dapat diuraikan sebagai pembuka, yaitu sebuah alat akses ke dalam khazanah naskah. Berkat hasil penelitian Tim Proyek Katalogisasi Naskah-naskah YPAH, khalayak ramai untuk pertama kalinya dapat menyimak secara terperinci dokumen yang berharga dari masa lalu koleksi ini.
Goresan pena para leluhur patut dianggap sebagai warisan budaya yang mewakili sebuah sumber penting jati-diri suatu bangsa. Musibah akibat gempa bumi dan tsunami pada tanggal 26 Desember 2004 yang masih segar dalam ingatan menyadarkan kita betapa mudah warisan itu dapat ikut menjadi korban pemusnahan total.
Kita bisa bercermin dari hilangnya semua dokumen koleksi Pusat Dokumentasi dan Informasi Aceh (PDIA) akibat musibah tersebut. Maka pekerjaan yang dilakukan Tim Proyek Katalogisasi Naskah-naskah YPAH sangat penting, karena pendokumentasian itu membantu untuk melestarikan peninggalan sejarah. Katalogisasi merupakan langkah pertama dalam penyimpanan naskah-naskah. Kemudian deskripsi seharusnya ditindaklanjuti oleh pemotretan.
Beberapa tahun yang lalu cara rekaman naskah yang paling umum adalah mikrofilm, tetapi baru-baru ini ada kemungkinan yang jauh lebih efisien, yaitu penggunaan kamera digital. Melalui proses digitalisasi, akses terhadap koleksi perpustakaan dibuat mudah sekali.
Sejak sekitar tiga dasawarsa terakhir kegiatan penyusunan katalog naskah Nusantara sangat pesat dan mengesankan. Hasil-hasil deskripsi naskah itu yang kini tersebar di seluruh dunia sudah mengisi beberapa papan rak buku. “Katalognya katalog” yang berjudul Panduan Koleksi Naskah-naskah Indonesia atau World Guide to Indonesian Manuscript Collections yang disusun oleh Henri Chambert-Loir dan Oman Fathurahman pada tahun 1999 mendaftarkan semua katalog yang pernah tersusun dalam bidang pernaskahan Nusantara pada abad keduapuluh. Namun pada milenium ketiga ini proses katalogisasi tentu saja tidak berhenti. Jika membatasi pembahasan kita pada Indonesia saja, sudah dapat disebutkan Katalog Naskah Buton koleksi Abdul Mulku Zahari (2001), Katalog Naskah Merapi-Merbabu (2002), Katalog Naskah Sulawesi Selatan (2003), Katalog Naskah Palembang (2004), Katalog Naskah-naskah Perpustakaan Pura Pakualaman (2004), dan Katalog Minangkabau (2006).
Kalau kita membandingkan penyusunan katalog-katalog terbaru tersebut, termasuk katalog naskah YPAH ini, dapat kita ambil kesimpulan bahwa ada keseragaman tertentu dalam cara mendeskripsi naskah. Dewasa ini suatu katalog jauh lebih terperinci daripada suatu daftar naskah. Boleh dikatakan bahwa katalog naskah YPAH ini tergolong “tradisi baru” yang dipengaruhi ilmu kodikologi.
Beberapa tambahan pendataan yang dulunya tidak pernah dibicarakan ialah antara lain informasi mengenai penjilidan, penjelasan mengenai kondisi naskah (khususnya kalau tidak bagus), penyebutan cap kertas (kalau menggunakan kertas Eropa), identifikasi nama pengarang, penyalin dan/atau pemilik yang disebut di dalam naskah dan catatan lain seperti jumlah halaman atau penghitungan jumlah baris perhalaman.
Untuk seorang kodikolog tentu saja hanya bentuk yang paling panjang-lebar dianggapnya yang cocok, supaya dapat menjaring sebanyak mungkin data. Namun demikian, deskripsi yang bersifat agak ringkas seperti dalam katalog naskah YPAH ini sudah cukup mendetil dan sangat berguna bagi peneliti. Lagi pula, katalog ini dilengkapi dengan ilustrasi foto-foto yang, selain memperindah sisi perwajahan, juga memberikan gambaran kondisi beberapa naskahnya.
Akhir kata, saya salut kepada kedua penyusun, Oman Fathurahman dan Munawar Holil, yang bersama dengan semua anggota Tim Katalogisasi dan peneliti lainnya telah menghasilkan buku ini. Saya sungguh berharap, agar kegiatan penyusunan katalog naskah Indonesia akan terus berlangsung, khususnya untuk naskah-naskah yang tersimpan di dalam koleksi pribadi dan yayasan yang belum diketahui umum.
* Guru besar dalam bidang Bahasa dan Sastra Indonesia dan Pengkajian Islam
dari Universitas Cologne di Jerman.
0 Kommentare:
Post a Comment